Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 73 - "Lin Yuan"


__ADS_3

Pemandangan


jalan desa hari itu sangat mencekam dengan banyaknya mayat tergeletak secara


tragis. Para warga bergotong royong memindahkan mereka dengan layak untuk


menghormati mereka.


Ketika


para warga tengah memindahkan para mayat dari kelompok pemalak, satu dari


mereka yang masih selamat berkata “Selamatkan aku” dengan penuh harap aka nada


salah satu dari mereka yang akan membawakan tabib padanya untuk


menyelamatkannya.


“Disini


masih ada yang hidup” teriak salah seorang warga yang menyadari keberadaannya.


“Selamatkan


aku” dengan suara tertahan, dia berusaha mengeluarkan suaranya sembari menggerakan


tanggannya yang penuh dengan darah.


“Selamatkan


dia! Panggil tabib atau siapa saja yang bisa menyelamatkannya” ucap warga yang


menemukan.


“Untuk


apa.? Biarkan saja dia mati. Dia sudah banyak menyusahkan kita” ujar warga yang


lain.


“Benar”


sahut yang lain.


Warga


yang menemukannya pun ragu, namun nuraninya tidak bisa melepaskan seorang nyawa


yang ingin bertahan hidup begitu saja “Tidak bisa. Bagaimanapun juga aku tidak


bisa membiarkannya mati di depanku dengan sengaja”


“Apa


untungnya bagimu jika menyelematkannya. Yang ada dia akan kembali dan memeras


hartamu” kata warga lain dengan penuh kekecewaan.


“Tidak


ada” sahut warga itu cepat. Dia tampak berdiri dengan tegang. Keringat dingin


mengalir dari pelipisnya. Dia tengah berfikir tentang apa yang harus


dilakukannya. “Tapi, aku tidak sama dengannya. Jadi aku akan berusaha”


“Hentikan


omong kosongmu” sahut seorang laki-laki paruh baya. “jika kamu memanggil


seorang tabib untuk kesini, belum tentu dia mau. Jikapun dia mau, waktu yang


dibutuhkan mungkin orang itu tidak bisa menunggunya”


Perkataan


laki-laki paruh baya itu benar adanya. Secara logika memang itu tidak


memungkinkan baginya. Namun secara nurani, dia tidak bisa diam begitu saja.


“Anak


muda, selamatkan aku” kata pemalak yang masih hidup.


Tanpa


mengatakan apapun, pemuda itu diam dengan keringat dingin yang mengucur di


pelipisnya. Tiba-tiba, dia berlari menuju sebuah gerobak sayur yang berada di


salah satu kios disana sembari berkata “Aku pinjam gerobaknya sebentar” ijinya


pada pemilik kios yang ada di dekatnya. Entah siapa pemilik gerobak sayur itu,


setidaknya dia sudah meminta ijin pada seseorang yang melihatnya mengambil


gerobak kemudian membawanya menuju pemalak yang masih hidup.


“Bertahanlah”


katanya sembari berusaha mengangkat pemalak itu ke atas gerobak sayur. Dengan


sempoyongan dia berusaha sehingga menggunggah nurani warga lain yang

__ADS_1


melihatnya. Mereka yang nuraninya tergugah pun ikut membantunya untuk


mengangkat pemalak itu dan menempatkannya di atas gerobak sayur dengan


semestinya. “Terima kasih” kata pemuda itu dengan haru.


“Selamatkanlah


dia. Karena kamu tidak sama dengannya” kata warga yang turut membantunya.


Pemalak


itu menitikan air matanya. Dia merasa terharu atas pertolongan yang diberikan


padanya. Ketika beberapa orang memandangnya tidak berarti karena semua


perbuatannya, masih ada orang yang dengan naifnya mau menolongnya bahkan


menentang orang lain untuk menyelamatkannya. “Terima kasih” ucap pemalak itu


lirih.


Pemuda


itu mendengar perkataan itu meskipun amat lirih. Dia tersenyum kemudian


berpamitan “Aku pergi dulu”


“Hati-hati”


Pemuda


itu kemudian mendorong gerobak sayur itu dengan kekuatan penuhnya. Membawanya


dengan penuh harap kalau dia akan bisa menyelamatkannya.


Tidak


lama setelah pemuda itu membawa pemalak yang masih hidup itu, beberapa orang


berpakaian seragam Kepolisian datang. Satu diantara mereka adalah Lin Yuan,


Kepala Polisi di desa itu. Dia menjadi Kepala Polisi ketika usianya masih


relatif muda yang terpilih karena bakat dan kemampuannya yang diluar wajar.


Sebagai anak muda, dia cukup berkompeten dan bertalenta.


 “Dia?” kata salah seorang warga yang mengenali


Lin Yuan.


“Benar,


“Kamu


tahu kabar yang beredar tentangnya?” bisik yang lain.


“Tentu


saja. Sungguh sangat disayangkan” celetuk yang lain.


“Apanya


yang sayang” tanya salah seorang warga.


“Hidupnya


penuh drama. Padahal dia cukup tampan dan berbakat.” Setelah berkata demikian,


warga itu melanjutkan memindahakn jasad yang lainnya.


“Sudah


jangan menggosipkannya. Kalau dia dengar. Kita bisa dalam masalah besar” sahut


yang lain. Karena takut, mereka yang bergosip pun berhenti dan kembali


melanjutkan pekerjaan gotong royong mereka.


“Siapa


yang melakukan semua ini?” tanya Lin Yuan kepada salah satu bawahannya.


“Entahlah


Tuan. Saya akan bertanya kepada warga” sahut bawahan yang di tanya oleh Lin


Yuan.


“Pelakunya


adalah seorang pemuda yang sekarang telah menuju ke pondok tabib di pinggir


desa. Katanya pemuda itu melindungi seorang wanita paruh baya hingga terjadi


seperti ini” kata polisi yang lain.


“Sssstt”


polisi yang sebelumnya tidak bisa menjawab pertanyaan Lin Yuan berdesis kesal


karena temannya telah mencuri perhatian Lin Yuan darinya dengan memberikan

__ADS_1


informasi itu.


“Seorang


katamu?” Lin Yuan mengulang.


“Benar


Tuan”


Tatapan


Lin Yuan berubah serius. Dia merasa tertarik. Siapakah pemuda itu yang mampu


membantai duapuluh orang pemalak dan perompak itu. Darahnya mendidih penuh rasa


ingin tahu. Tangannya mengepal menggenggam erat pedang di tangannya. “Menarik”


Lin Yuan berfikir kalau dia tengah menemukan lawan yang akan menemaninya


bermain sembari melampiaskan kekesalannya karena beberapa masalah yang


bertumpuk belakangan. “ayo kesana”


“Tuan


begitu bersemangat” kata bawahan Lin Yuan yang tampak dekat dengannya.


“Tentu


saja” jawab Lin Yuan dengan ringannya. Tanpa berlama-lama di tempat itu, Lin


Yuan dan kelompoknya segera menuju pondok tabib di pinggir sungai. Dia tidak


memperdulikan para mayat yang tergeletak. Dia juga tidak memperdulikan tentang


pertanyaan yang mungkin akan jatuh kepadanya.


“Mereka


mau kemana?” tanya salah seorang warga yang tidak paham dengan cara berfikir


Lin Yuan. “Entahlah”


“Bukankah


dia seharusnya mengurus mayat-mayat ini” gerutu salah seorang warga,


Sebagian


berfikir kalau seharusnya dia harus mengurus para mayat itu tapi sebagian yang


lain mengabaikannya. Terserah dia mau melakukan apa.


“Sepertinya


dia menuju ke pondok tabib” tebak salah seorang warga.


“Kenapa?”


“Entahlah.


Hanya sebuah naluri dari seorang yang berbakat” katanya dengan gaya elegan.


“Lupakan


saja” warga yang lain tidak lagi ingin mendengarkan ocehannya kemudian


melanjutkan kegiatannya.


“Menurutmu


apakah Kepala Polisi Lin akan membiarkan pemuda yang sebelumnya begitu saja


setelah melihat semuanya?”


“Bukan


urusan ku untuk memperdulikan apa yang Kepala Polisi Lin fikirkan dan apa yang


akan dia lakukan”


Sementara


itu di pondok masih begitu tenang dengan iringan seruling dari permainan Jin


Xia.


Sementara pemuda yang datang


dengan gerobak sayurnya masih berjuang sepenuh kemampuannya. Di tengah


perjalanannya dia mendengar permainan seruling Jin Xia “Seruling?” dia tampak


heran, siapakah yang memainkan seruling itu di ujung desa itu. sejauh


sepengetahuannya, di desa itu tidak ada orang yang bisa memainkan musik kecuali


para pemain opera yang akan datang sesekali dalam beberapa bulan.


Tidak lagi memperdulikan, dia


melanjutkan membawa gerobak sayur beserta pemalak yang ada di sana tanpa

__ADS_1


keraguan.


__ADS_2