
Pemandangan
jalan desa hari itu sangat mencekam dengan banyaknya mayat tergeletak secara
tragis. Para warga bergotong royong memindahkan mereka dengan layak untuk
menghormati mereka.
Ketika
para warga tengah memindahkan para mayat dari kelompok pemalak, satu dari
mereka yang masih selamat berkata “Selamatkan aku” dengan penuh harap aka nada
salah satu dari mereka yang akan membawakan tabib padanya untuk
menyelamatkannya.
“Disini
masih ada yang hidup” teriak salah seorang warga yang menyadari keberadaannya.
“Selamatkan
aku” dengan suara tertahan, dia berusaha mengeluarkan suaranya sembari menggerakan
tanggannya yang penuh dengan darah.
“Selamatkan
dia! Panggil tabib atau siapa saja yang bisa menyelamatkannya” ucap warga yang
menemukan.
“Untuk
apa.? Biarkan saja dia mati. Dia sudah banyak menyusahkan kita” ujar warga yang
lain.
“Benar”
sahut yang lain.
Warga
yang menemukannya pun ragu, namun nuraninya tidak bisa melepaskan seorang nyawa
yang ingin bertahan hidup begitu saja “Tidak bisa. Bagaimanapun juga aku tidak
bisa membiarkannya mati di depanku dengan sengaja”
“Apa
untungnya bagimu jika menyelematkannya. Yang ada dia akan kembali dan memeras
hartamu” kata warga lain dengan penuh kekecewaan.
“Tidak
ada” sahut warga itu cepat. Dia tampak berdiri dengan tegang. Keringat dingin
mengalir dari pelipisnya. Dia tengah berfikir tentang apa yang harus
dilakukannya. “Tapi, aku tidak sama dengannya. Jadi aku akan berusaha”
“Hentikan
omong kosongmu” sahut seorang laki-laki paruh baya. “jika kamu memanggil
seorang tabib untuk kesini, belum tentu dia mau. Jikapun dia mau, waktu yang
dibutuhkan mungkin orang itu tidak bisa menunggunya”
Perkataan
laki-laki paruh baya itu benar adanya. Secara logika memang itu tidak
memungkinkan baginya. Namun secara nurani, dia tidak bisa diam begitu saja.
“Anak
muda, selamatkan aku” kata pemalak yang masih hidup.
Tanpa
mengatakan apapun, pemuda itu diam dengan keringat dingin yang mengucur di
pelipisnya. Tiba-tiba, dia berlari menuju sebuah gerobak sayur yang berada di
salah satu kios disana sembari berkata “Aku pinjam gerobaknya sebentar” ijinya
pada pemilik kios yang ada di dekatnya. Entah siapa pemilik gerobak sayur itu,
setidaknya dia sudah meminta ijin pada seseorang yang melihatnya mengambil
gerobak kemudian membawanya menuju pemalak yang masih hidup.
“Bertahanlah”
katanya sembari berusaha mengangkat pemalak itu ke atas gerobak sayur. Dengan
sempoyongan dia berusaha sehingga menggunggah nurani warga lain yang
__ADS_1
melihatnya. Mereka yang nuraninya tergugah pun ikut membantunya untuk
mengangkat pemalak itu dan menempatkannya di atas gerobak sayur dengan
semestinya. “Terima kasih” kata pemuda itu dengan haru.
“Selamatkanlah
dia. Karena kamu tidak sama dengannya” kata warga yang turut membantunya.
Pemalak
itu menitikan air matanya. Dia merasa terharu atas pertolongan yang diberikan
padanya. Ketika beberapa orang memandangnya tidak berarti karena semua
perbuatannya, masih ada orang yang dengan naifnya mau menolongnya bahkan
menentang orang lain untuk menyelamatkannya. “Terima kasih” ucap pemalak itu
lirih.
Pemuda
itu mendengar perkataan itu meskipun amat lirih. Dia tersenyum kemudian
berpamitan “Aku pergi dulu”
“Hati-hati”
Pemuda
itu kemudian mendorong gerobak sayur itu dengan kekuatan penuhnya. Membawanya
dengan penuh harap kalau dia akan bisa menyelamatkannya.
Tidak
lama setelah pemuda itu membawa pemalak yang masih hidup itu, beberapa orang
berpakaian seragam Kepolisian datang. Satu diantara mereka adalah Lin Yuan,
Kepala Polisi di desa itu. Dia menjadi Kepala Polisi ketika usianya masih
relatif muda yang terpilih karena bakat dan kemampuannya yang diluar wajar.
Sebagai anak muda, dia cukup berkompeten dan bertalenta.
“Dia?” kata salah seorang warga yang mengenali
Lin Yuan.
“Benar,
“Kamu
tahu kabar yang beredar tentangnya?” bisik yang lain.
“Tentu
saja. Sungguh sangat disayangkan” celetuk yang lain.
“Apanya
yang sayang” tanya salah seorang warga.
“Hidupnya
penuh drama. Padahal dia cukup tampan dan berbakat.” Setelah berkata demikian,
warga itu melanjutkan memindahakn jasad yang lainnya.
“Sudah
jangan menggosipkannya. Kalau dia dengar. Kita bisa dalam masalah besar” sahut
yang lain. Karena takut, mereka yang bergosip pun berhenti dan kembali
melanjutkan pekerjaan gotong royong mereka.
“Siapa
yang melakukan semua ini?” tanya Lin Yuan kepada salah satu bawahannya.
“Entahlah
Tuan. Saya akan bertanya kepada warga” sahut bawahan yang di tanya oleh Lin
Yuan.
“Pelakunya
adalah seorang pemuda yang sekarang telah menuju ke pondok tabib di pinggir
desa. Katanya pemuda itu melindungi seorang wanita paruh baya hingga terjadi
seperti ini” kata polisi yang lain.
“Sssstt”
polisi yang sebelumnya tidak bisa menjawab pertanyaan Lin Yuan berdesis kesal
karena temannya telah mencuri perhatian Lin Yuan darinya dengan memberikan
__ADS_1
informasi itu.
“Seorang
katamu?” Lin Yuan mengulang.
“Benar
Tuan”
Tatapan
Lin Yuan berubah serius. Dia merasa tertarik. Siapakah pemuda itu yang mampu
membantai duapuluh orang pemalak dan perompak itu. Darahnya mendidih penuh rasa
ingin tahu. Tangannya mengepal menggenggam erat pedang di tangannya. “Menarik”
Lin Yuan berfikir kalau dia tengah menemukan lawan yang akan menemaninya
bermain sembari melampiaskan kekesalannya karena beberapa masalah yang
bertumpuk belakangan. “ayo kesana”
“Tuan
begitu bersemangat” kata bawahan Lin Yuan yang tampak dekat dengannya.
“Tentu
saja” jawab Lin Yuan dengan ringannya. Tanpa berlama-lama di tempat itu, Lin
Yuan dan kelompoknya segera menuju pondok tabib di pinggir sungai. Dia tidak
memperdulikan para mayat yang tergeletak. Dia juga tidak memperdulikan tentang
pertanyaan yang mungkin akan jatuh kepadanya.
“Mereka
mau kemana?” tanya salah seorang warga yang tidak paham dengan cara berfikir
Lin Yuan. “Entahlah”
“Bukankah
dia seharusnya mengurus mayat-mayat ini” gerutu salah seorang warga,
Sebagian
berfikir kalau seharusnya dia harus mengurus para mayat itu tapi sebagian yang
lain mengabaikannya. Terserah dia mau melakukan apa.
“Sepertinya
dia menuju ke pondok tabib” tebak salah seorang warga.
“Kenapa?”
“Entahlah.
Hanya sebuah naluri dari seorang yang berbakat” katanya dengan gaya elegan.
“Lupakan
saja” warga yang lain tidak lagi ingin mendengarkan ocehannya kemudian
melanjutkan kegiatannya.
“Menurutmu
apakah Kepala Polisi Lin akan membiarkan pemuda yang sebelumnya begitu saja
setelah melihat semuanya?”
“Bukan
urusan ku untuk memperdulikan apa yang Kepala Polisi Lin fikirkan dan apa yang
akan dia lakukan”
Sementara
itu di pondok masih begitu tenang dengan iringan seruling dari permainan Jin
Xia.
Sementara pemuda yang datang
dengan gerobak sayurnya masih berjuang sepenuh kemampuannya. Di tengah
perjalanannya dia mendengar permainan seruling Jin Xia “Seruling?” dia tampak
heran, siapakah yang memainkan seruling itu di ujung desa itu. sejauh
sepengetahuannya, di desa itu tidak ada orang yang bisa memainkan musik kecuali
para pemain opera yang akan datang sesekali dalam beberapa bulan.
Tidak lagi memperdulikan, dia
melanjutkan membawa gerobak sayur beserta pemalak yang ada di sana tanpa
__ADS_1
keraguan.