
“Hh,
benarkah? Padahal matahari pagi ini begitu hangat” Yue Qi berpura-pura tidak
mengerti. Karenanya, Yue Qi langsung mendapatkan tatapan maut dari Jin Xia.
“Hhh, sudahlah”
“Kenapa
dua?” tanya Xia Yue pada Yue Qi.
“Ah…
maafkan saya. Di kota ini hanya satu penjual kuda dan kebetulan kuda miliknya
hanya tinggal satu. Yang Mulia, anda bisa menungganggi nya sementara Jin Xia
akan berbagi kuda dengan saya” jelas Yue Qi dengan perasaan sedikit menyesal.
Untuk
sesaat, Xia Yue terdiam dan tampak sedang berfikir. Akhirnya dia hanya
mengucapkan ‘hm’ kemudian menaiki kuda yang sudah dipersiapkan untuknya.
Jin
Xia memahami keadaan yang ada. Dia berfikir tentang posisinya. Apakah dia akan
di depan atau di belakang ketika berkuda satu kuda dengan Yue Qi.
“Ayo”
ajak Yue Qi sehingga menyadarkannya dari fikirannya. “Ah~” sahut Jin Xia dengan
sedikit terkejut.
“Ada
apa?” tanya Yue Qi yang menangkap ketidakfokusan Jin Xia.
“Ah
ini, aku hanya berfikir, aku harus di belakang atau di depan. Haruskah aku di
depan? Biar terlihat mesra” Jin Xia menggoda saudara sesumpahnya dengan tanpa
sungkan.
Sementara
itu Yue Qi hanya tersenyum kecil kemudian berkata “Jangan menyukaiku”
“Masih
lama?” Xia Yue memotong percakapan diantara kedua saudara sesumpah itu. seketika
itu juga mereka menunduk, memahami
kesalahan mereka sembari berkata “Maafkan kami” kemudian segera menaiki kuda
mereka.
Jin
Xia menyenggol Yue Qi, memberikannya isyarat untuk naik terlebih dahulu. Tanpa membalasnya,
Yue Qi pun segera menaiki kuda bagiannya barulah disusul Jin Xia yang duduk di
belakang Yue Qi.
Xia
Yue pun memberikan perintah pada kuda tunggangannya untuk segera berlari ketika
mendapati kalau Jin Xia dan Yue Qi sudah berada di atas kudanya.
Dengan
tendangan ringan, kuda itu langsung berlari menelusuri jalan di kota itu. Berlari
sesuai arahan dari penunggangnya.
“Ne,
Yue Qi” Jin Xia memulai obrolan santai dengan Yue Qi ketika berkuda untuk menghindari
jenuh.
“Kenapa?”
sahut Yue Qi sembari tetap fokus pada medan perjalanan mereka yang tengah
memasuki hutan.
“Bicaralah
__ADS_1
sesuatu atau aku akan mengantuk karena bosan” keluh Jin Xia sembari
menyandarkan kepalanya pada punggung Yue Qi yang cukup lebar.
“Menyanyilah
untuk menghibur dirimu. Atau kamu bisa berbicara sendiri” Yue Qi tidak tahu
harus berbicara apa padanya untuk menemaninya melewati jalanan panjang mereka.
Jin
Xia menguap, kemudian berkata “kamu mau dengar lagu apa?” tawarnya dengan
sedikit malas. Karena tidak tahu harus bagaimana, dia pun menyetujui saran dari
Yue Qi.
“Terserah
kamu saja” jawab Yue Qi.
Dengan
air mata yang keluar dari matanya karena rasa kantuk dan bosan yang
menyerangnya, Jin Xia pun mulai menyanyikan sebuah lagu. Menyanyikan lagu “Wuji
– oleh Xiao Zhan dan Wang Yibo” dengan sekadarnya sembari melihat lambaian daun
di tengah hutan yang terkoyak oleh angin.
“Kenapa
lagu itu?” Yue Qi asal bertanya untuk menemani saudaranya agar tidak terlalu
jenuh.
Jin
Xia menghentikan sejenak nyanyiannya untuk menjawab pertanyaan Yue Qi “Karena
aku menyukai cerita mereka. Lagu itu di ciptakan khusus untuk seseorang yang
dicintainya. Karena lagu itu juga mereka dapat bertemu bahkan setelah maut
memisahkan” Jin Xia menjelaskannya dengan perasaan penuh penghayatan kemudian
melanjutkan lagi di baris selanjutnya.
Xia
kesalahan pada vocal dan dan nadanya. Meskipun demikian, dia tetap
menikmatinya.
“Baiklah-baiklah,
terserah. Tapi bisakah kamu bernyanyi sedikit lebih baik” celetuk Yue Qi yang
sukses membuatnya mendapat pukulan dari belakang. “Kenapa kamu memukulku”
keluh Yue Qi.
“Terima
dan dengar saja” paksa Jin Xia kemudian melanjutkan nyanyiannya tanpa
memperdulikan komentar dari luar bahkan jika saat itu Xia Yue berkomentar sekalipun.
Di
tengah perjalanan mereka, dari kejauhan mereka melihat sebuah pertarungan
kecil. Xia Yue yang berkuda di depan pun mengalihkan laju kudanya untuk
mengambil jalan memutar agar menghindari pertarungan. Tanpa bertanya, Yue Qi
mengikuti jejak Xia Yue. Dia mengenal Xia Yue sebagai seseorang yang tidak
ingin ikut campur urusan siapapun bahkan jika hal itu ada di depan matanya. Kenyataan
bahwa dia mengabaikan untuk turun tangan perihal Donghua adalah salah satu
bentuk ketidak peduliannya. Dia menolak untuk menjadi pahlawan bagi banyak
orang. Dia tidak bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan.
Namun
Jin Xia tiba-tiba melompat dari kudanya menggunakan teknik meringankan tubuhnya
lalu melesat ke tempat pertarungan itu berlangsung. Jin Xia melakukannya karena
dia melihat seorang perempuan yang tengah di tindas. Sebagai perempuan,
nuraninya terluka jika dia tidak menolongnya.
__ADS_1
“Jin
Xia” panggil Yue Qi mencoba untuk menghentikannya. Namun sayangnya, jarak Jin
Xia sudah cukup jauh darinya.
Sementara
Xia Yue hanya diam kemudian menghentikan kudanya. Ketika dia memperhatikan
lebih jelas, dia menyadari apa yang hendak dilakukan oleh Jin Xia. Dia tidak
melarangnya. Dia bahkan menghentikan Yue Qi yang hendak menyusul Jin Xia “Biarkan
saja”
“Baik”
Yue Qi mematuhi setiap perkataan Xia Yue tanpa bertanya.
Sementara
itu, Jin Xia baru saja sampai di tempat pertarungan. Dia langsung menendang
salah satu dari beberapa laki-laki yang berkerumun menyerang seorang wanita. Namun
wanita itu tidak tampak seperti wanita lemah. Wanita itu memegang sebuah pedang
di tangannya dan melakukan pembelaan dengan teknik pedangnya. “Kamu tidak
apa-apa?” tanya Jin Xia pada wanita itu.
“Terima
kasih banyak. Aku tidak apa-apa” jawab wanita itu dengan tetap siaga menghadapi
laki-laki yang datang padanya dengan membawa senjata.
“Kamu
temannya?”tamya salah satu laki-laki dari lima yang ada.
“Benar”
jawab Jin Xia dengan tatapan tajam.
“Kalau
begitu kamu juga harus mati bersamanya” kata laki-laki itu kemudian menyerang
Jin Xia dengan pedang di tangannya. Jin Xia yang saat itu tidak membawa pedang
pun hanya bisa menghadapinya dengan teknik tangan kosong.
Tanpa
menunggu, keempat yang lainnya pun turut menyerang. Satu laki-laki datang untuk
membantu temannya menghadapi Jin Xia sementara yang lainnya menghadapi yang
satunya.
Cukup
lama hingga akhirnya Jin Xia mampu membunuh satu laki-laki yang menyerangnya
dengan bantuan cincin di kedua tangannya.
Laki-laki
yang sebelumnya menyerang Jin Xia pun mengambil jarak darinya sembari berfikir
bagaimana cara Jin Xia membunuh temannya sementara dia mengetahui kalau Jin Xia
tidak membawa sebuah senjata.
Ketiga
laki-laki yang menyerang wanita satunya pun turut merasa heran. Bagaimana temannya
bisa terbunuh tanpa sebuah senjata. Akhirnya, mereka pun mundur dan melarikan
diri dari hadapan Jin Xia.
“Terima
kasih” kata wanita itu dengan senyum ramahnya.
“Tidak
masalah” jawab Jin Xia. “Tapi, kenapa mereka menyerangmu?”
“Itu~”
wanita itu tampak berfikir. Jin Xia menangkap reaksi yang ditunjukan wanita itu
dan bergegas berkata “Ah lupakan saja pertanyaan itu” karena dia tidak ingin
__ADS_1
memaksa seseorang untuk mengatakan sebenarnya. Terlebih hal yang menjadi alasan
penyerangan itu bukanlah urusannya.