Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 63 -"Nyanyian Jin Xia"


__ADS_3

“Hh,


benarkah? Padahal matahari pagi ini begitu hangat” Yue Qi berpura-pura tidak


mengerti. Karenanya, Yue Qi langsung mendapatkan tatapan maut dari Jin Xia.


“Hhh, sudahlah”


“Kenapa


dua?” tanya Xia Yue pada Yue Qi.


“Ah…


maafkan saya. Di kota ini hanya satu penjual kuda dan kebetulan kuda miliknya


hanya tinggal satu. Yang Mulia, anda bisa menungganggi nya sementara Jin Xia


akan berbagi kuda dengan saya” jelas Yue Qi dengan perasaan sedikit menyesal.


Untuk


sesaat, Xia Yue terdiam dan tampak sedang berfikir. Akhirnya dia hanya


mengucapkan ‘hm’ kemudian menaiki kuda yang sudah dipersiapkan untuknya.


Jin


Xia memahami keadaan yang ada. Dia berfikir tentang posisinya. Apakah dia akan


di depan atau di belakang ketika berkuda satu kuda dengan Yue Qi.


“Ayo”


ajak Yue Qi sehingga menyadarkannya dari fikirannya. “Ah~” sahut Jin Xia dengan


sedikit terkejut.


“Ada


apa?” tanya Yue Qi yang menangkap ketidakfokusan Jin Xia.


“Ah


ini, aku hanya berfikir, aku harus di belakang atau di depan. Haruskah aku di


depan? Biar terlihat mesra” Jin Xia menggoda saudara sesumpahnya dengan tanpa


sungkan.


Sementara


itu Yue Qi hanya tersenyum kecil kemudian berkata “Jangan menyukaiku”


“Masih


lama?” Xia Yue memotong percakapan diantara kedua saudara sesumpah itu. seketika


itu juga  mereka menunduk, memahami


kesalahan mereka sembari berkata “Maafkan kami” kemudian segera menaiki kuda


mereka.


Jin


Xia menyenggol Yue Qi, memberikannya isyarat untuk naik terlebih dahulu. Tanpa membalasnya,


Yue Qi pun segera menaiki kuda bagiannya barulah disusul Jin Xia yang duduk di


belakang Yue Qi.


Xia


Yue pun memberikan perintah pada kuda tunggangannya untuk segera berlari ketika


mendapati kalau Jin Xia dan Yue Qi sudah berada di atas kudanya.


Dengan


tendangan ringan, kuda itu langsung berlari menelusuri jalan di kota itu. Berlari


sesuai arahan dari penunggangnya.


“Ne,


Yue Qi” Jin Xia memulai obrolan santai dengan Yue Qi ketika berkuda untuk menghindari


jenuh.


“Kenapa?”


sahut Yue Qi sembari tetap fokus pada medan perjalanan mereka yang tengah


memasuki hutan.


“Bicaralah

__ADS_1


sesuatu atau aku akan mengantuk karena bosan” keluh Jin Xia sembari


menyandarkan kepalanya pada punggung Yue Qi yang cukup lebar.


“Menyanyilah


untuk menghibur dirimu. Atau kamu bisa berbicara sendiri” Yue Qi tidak tahu


harus berbicara apa padanya untuk menemaninya melewati jalanan panjang mereka.


Jin


Xia menguap, kemudian berkata “kamu mau dengar lagu apa?” tawarnya dengan


sedikit malas. Karena tidak tahu harus bagaimana, dia pun menyetujui saran dari


Yue Qi.


“Terserah


kamu saja” jawab Yue Qi.


Dengan


air mata yang keluar dari matanya karena rasa kantuk dan bosan yang


menyerangnya, Jin Xia pun mulai menyanyikan sebuah lagu. Menyanyikan lagu “Wuji


– oleh Xiao Zhan dan Wang Yibo” dengan sekadarnya sembari melihat lambaian daun


di tengah hutan yang terkoyak oleh angin.


“Kenapa


lagu itu?” Yue Qi asal bertanya untuk menemani saudaranya agar tidak terlalu


jenuh.


Jin


Xia menghentikan sejenak nyanyiannya untuk menjawab pertanyaan Yue Qi “Karena


aku menyukai cerita mereka. Lagu itu di ciptakan khusus untuk seseorang yang


dicintainya. Karena lagu itu juga mereka dapat bertemu bahkan setelah maut


memisahkan” Jin Xia menjelaskannya dengan perasaan penuh penghayatan kemudian


melanjutkan lagi di baris selanjutnya.


Xia


kesalahan pada vocal dan dan nadanya. Meskipun demikian, dia tetap


menikmatinya.


“Baiklah-baiklah,


terserah. Tapi bisakah kamu bernyanyi sedikit lebih baik” celetuk Yue Qi yang


sukses membuatnya mendapat pukulan dari belakang. “Kenapa kamu memukulku”


keluh  Yue Qi.


“Terima


dan dengar saja” paksa Jin Xia kemudian melanjutkan nyanyiannya tanpa


memperdulikan komentar dari luar bahkan jika saat itu Xia Yue berkomentar sekalipun.


Di


tengah perjalanan mereka, dari kejauhan mereka melihat sebuah pertarungan


kecil. Xia Yue yang berkuda di depan pun mengalihkan laju kudanya untuk


mengambil jalan memutar agar menghindari pertarungan. Tanpa bertanya, Yue Qi


mengikuti jejak Xia Yue. Dia mengenal Xia Yue sebagai seseorang yang tidak


ingin ikut campur urusan siapapun bahkan jika hal itu ada di depan matanya. Kenyataan


bahwa dia mengabaikan untuk turun tangan perihal Donghua adalah salah satu


bentuk ketidak peduliannya. Dia menolak untuk menjadi pahlawan bagi banyak


orang. Dia tidak bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan.


Namun


Jin Xia tiba-tiba melompat dari kudanya menggunakan teknik meringankan tubuhnya


lalu melesat ke tempat pertarungan itu berlangsung. Jin Xia melakukannya karena


dia melihat seorang perempuan yang tengah di tindas. Sebagai perempuan,


nuraninya terluka jika dia tidak menolongnya.

__ADS_1


“Jin


Xia” panggil Yue Qi mencoba untuk menghentikannya. Namun sayangnya, jarak Jin


Xia sudah cukup jauh darinya.


Sementara


Xia Yue hanya diam kemudian menghentikan kudanya. Ketika dia memperhatikan


lebih jelas, dia menyadari apa yang hendak dilakukan oleh Jin Xia. Dia tidak


melarangnya. Dia bahkan menghentikan Yue Qi yang hendak menyusul Jin Xia “Biarkan


saja”


“Baik”


Yue Qi mematuhi setiap perkataan Xia Yue tanpa bertanya.


Sementara


itu, Jin Xia baru saja sampai di tempat pertarungan. Dia langsung menendang


salah satu dari beberapa laki-laki yang berkerumun menyerang seorang wanita. Namun


wanita itu tidak tampak seperti wanita lemah. Wanita itu memegang sebuah pedang


di tangannya dan melakukan pembelaan dengan teknik pedangnya. “Kamu tidak


apa-apa?” tanya Jin Xia pada wanita itu.


“Terima


kasih banyak. Aku tidak apa-apa” jawab wanita itu dengan tetap siaga menghadapi


laki-laki yang datang padanya dengan membawa senjata.


“Kamu


temannya?”tamya salah satu laki-laki dari lima yang ada.


“Benar”


jawab Jin Xia dengan tatapan tajam.


“Kalau


begitu kamu juga harus mati bersamanya” kata laki-laki itu kemudian menyerang


Jin Xia dengan pedang di tangannya. Jin Xia yang saat itu tidak membawa pedang


pun hanya bisa menghadapinya dengan teknik tangan kosong.


Tanpa


menunggu, keempat yang lainnya pun turut menyerang. Satu laki-laki datang untuk


membantu temannya menghadapi Jin Xia sementara yang lainnya menghadapi yang


satunya.


Cukup


lama hingga akhirnya Jin Xia mampu membunuh satu laki-laki yang menyerangnya


dengan bantuan cincin di kedua tangannya.


Laki-laki


yang sebelumnya menyerang Jin Xia pun mengambil jarak darinya sembari berfikir


bagaimana cara Jin Xia membunuh temannya sementara dia mengetahui kalau Jin Xia


tidak membawa sebuah senjata.


Ketiga


laki-laki yang menyerang wanita satunya pun turut merasa heran. Bagaimana temannya


bisa terbunuh tanpa sebuah senjata. Akhirnya, mereka pun mundur dan melarikan


diri dari hadapan Jin Xia.


“Terima


kasih” kata wanita itu dengan senyum ramahnya.


“Tidak


masalah” jawab Jin Xia. “Tapi, kenapa mereka menyerangmu?”


“Itu~”


wanita itu tampak berfikir. Jin Xia menangkap reaksi yang ditunjukan wanita itu


dan bergegas berkata “Ah lupakan saja pertanyaan itu” karena dia tidak ingin

__ADS_1


memaksa seseorang untuk mengatakan sebenarnya. Terlebih hal yang menjadi alasan


penyerangan itu bukanlah urusannya.


__ADS_2