
Setelah
mengetahui kebenaran tentang Xia Yue, Xiao An semakin bersemangat. Kini dia
memantapkan dirinya untuk mendekati Xia Yue yang tengah menyendiri di sungai.
Xiao
An merapikan pakaian serta dandanannya sebelum melangkahkan kakinya. Ketika dia
sudah yakin dengan penampilannya, dia melangkah tanpa ragu. Disepanjang
langkahnya, dia memikirkan banyak hal untuk memulai percakapan dan bagaimana
untuk menarik perhatiannya.
Jika
dia membandingkan Xia Yue dengan Kepala Kepolisian, mereka berdua jelas
berbeda. Pesona serta wibawa yang ditunjukan berbeda. Dia juga menilai kalau
Xia Yue cukup sulit untuk digoyahkan dengan rayuan wanita cantik pada umumnya.
Untuk itu dia tengah berfikir keras.
Jalanan
bebatuan seketika memberinya ide. “Ah~” Xiao An merintih sakit karena terjatuh
di bebatuan. Lebih tepatnya berpura-pura kesakitan dan berpura-pura lemah untuk
menarik perhatian Xia Yue. Jika dia bukan tipe laki-laki yang tergoda dengan
kecantikan mungkin dia tipe laki-laki yang berhati lembut sehingga bertingkah
lemah mungkin bisa menarik perhatiannya.
Xia
Yue melihat ke arah Xiao An. Kali itu dia tidak bisa mengabaikannya karena
sebuah perasaan timbal balik. Saudaranya tengah merawat Jin Xia, jadi dia kali
itu harus memberikan bantuannya meskipun hanya sekedar pertanyaan basi ‘kamu
tidak apa-apa’
Xia
Yue melompat dari batu tempatnya duduk kemudian menuju Xiao An. Sembari
mengulurkan tangannya dia berkata “kamu tidak apa-apa?”
Saat
itu Xiao An tampak begitu senang. Dia merasa kalau langkahnya tepat. Untuk
melanjutkan drama selanjutnya yaitu dia harus bersikap kuat “Tuan Muda, aku
tidak apa-apa” dengan harapan kalau Xia Yue akan memaksa memberikan bantuan
padanya. “Benarkah? Mari ku bantu berdiri”
Xiao
An kembali tersenyum. Selanjutnya dia harus menerima bantuan yang ditawarkan
namun kemudian menambah tingkat kelemahannya sehingga Xia Yue akan merasa
khawatir dengan keadaannya.
Xiao
An mengulurkan tangannya untuk meraih tangan besar Xia Yue. Ketika dia
meraihnya diapun menggenggamnya sembari merasakan betapa besar dan hangat
tangan itu. “Ah~” Xiao An kembali menjatuhkan dirinya ketika dia setengah
berdiri. Xia Yue pun berkata “Apa kakimu terkilir?’
Senyum
Xiao An semakin lebar. Kini yang harus dia lakukan adalah bergantung padanya.
“Entahlah, sepertinya iya”
“Aku
panggilkan saudaramu” perkataan Xia Yue kali ini mematahkan seluruh tahapan
yang akan dilakukan oleh Xiao An padanya. Xia Yue meninggalkan Xiao An yang
tengah duduk di atas bebatuan kecil dekat sungai.
“Ada
__ADS_1
apa dengannya” Xiao An merasa kesal karena Xia Yue tidak melakukan seperti yang
diinginkannya. Dia menggigit bibirnya sembari memukul mukul tanah untuk
melampiaskan rasa kesalnya.
Xia
Yue sebenarnya menyadari kalau Xiao An hanya berpura-pura. Karena perasaan
sungkannya, dia berpura-pura peduli meskipun sebenarnya dia bahkan tidak ingin
untuk berbicara dengannya apalagi memperdulikannya.
Xia
Yue mengetuk pintu pondok terlebih dahulu untuk memastikan kalau perawatan di
dalam sudah aman sehingga dia tidak akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya
dilihatnya. “Nona, apakah sudah selesai” tanyanya dengan sopan.
Xiao
Bai terkejut mendengar suara dari luar “Sudah” jawab Xiao Bai sembari menutup
pakaian Jin Xia kemudian merapikan barang-barang yang sebelumnya dia gunakan
untuk merawat.
Setelah
mendengar jawaban dari dalam, Xia Yue membuka pintu pondok yang terbuat dari
kayu. Ketika dia membuka pintu itu, Jin Xia tengah menatap ke arahnya “Tuan
Muda”
“Ah~”
sesaat Xia Yue tampak ragu kemudian berkata “Aku akan keluar sebentar”
“Hati-hati,
Tuan Muda” pesan Jin Xia.
“Hm”
sahut Xia Yue kemudian berbalik untuk meninggalkan mereka.
Xiao
Sementara
Xiao An masih terduduk kesal di bebatuan. Ketika dia hendak berdiri, dia
melihat Xia Yue keluar dari dalam pondok. Diapun kemudian mengurungkan niatnya
untuk berdiri. Ternyata tidak sedikitpun Xia Yue melirik ke tempatnya.
“Apa-apaan orang itu” gerutu nya kesal kemudian berdiri. Dengan menepuk-nepuk
pakaiannya, dia berusaha membersihkan pakaiannya dari debu yang mungkin
tertempel. “Bagaimana bisa ada orang seperti itu” gerutunya sembari berjalan
dengan kesal menuju pondok “Kira-kira apa yang dikatakannya di dalam sana”
fikirnya selama berjalan menuju pondok. Fikirannya menebak berbagai hal hingga
berfikir kalau saudaranya berkata yang tidak-tidak tentangnya di hadapan Xia
Yue. Hal itu membuatnya semakin kesal.
“Xiao
An” panggil Jin Xia lirih ketika melihat Xiao An memasuki pondok.
Tanpa
berkata sepatah katapun, Xiao An duduk di kursi tamu di dalam pondok. Sembari memangku
salah satu kakinya dan menyandarkan punggungnya ke kursi, dia berdecak kesal.
“Kenapa
dengan mu” tanya Xiao Bai yang hafal dengan tingkah laku saudaranya ketika dia
sedang kesal “Apa yang mengganggumu”
“Tidak
ada” Xiao An enggan membahas hal yang membuatnya kesal.
Xia
Yue berjalan keluar tanpa tujuan. Kakinya hanya melangkah. Hingga tanpa sadar,
__ADS_1
dia sampai di pasar desa itu. Pasar disana tidak terlalu ramai. Hanya ada
beberapa penjaja makanan yang menggunakan gerobak dan sebagian sebuah kios. Langkahnya
terhenti di depan sebuah kios pakaian. Dia teringat kalau pakaian Jin Xia
mungkin robek karena panah yang menembus dadanya dan juga sudah kotor karena
ceceran darah. Dia pun kemudian masuk ke dalam sana untuk melihat-lihat.
“Tuan
Muda,” sapa pemilik kios pakaian itu dengan senyum ramahnya. Meskipun wajahnya
cukup sangar dengan kumisnya yang lebat, namun hal itu tidak bisa menutupi
keramahan yang tersurat dalam senyumannya.
“Yang
paling bagus untuk wanita dengan tinggi segini “ Xia Yue menggunakan tanggannya
untuk mengira-ngira tinggi badan Jin Xia agar memudahkan pemiliki kios
memilihkan pakaian yang pas untuknya.
“Ah~
segitu” pemilik kios mengerti “Apa dia adikmu Tuan?” lanjutnya sembari
melihat-lihat barang-barangnya sendiri.
“Adik?”
ulangnya lirih.
Setelah
beberapa saat menelusur, mata pemilik kios tertuju ke sebuah rak. Diapun kemudian
menuju rak itu dan mengambilkan sebuah gaun yang cukup cantik dengan warna
biru. “Ini dia” katanya sembari mengambilnya kemudian membawanya kepada Xia Yue
untuk diperlihatkan apakah cocok dengan itu ataukah perlu mencari yang lainnya.
“Tuan, lihat lah ini”
Xia
Yue menerimanya kemudian merentangkannya. Menilai dari warnanya, Jin Xia sering
memakai warna biru. Jadi meskipun dia tidak tahu warna kesukaannya, setidaknya
mungkin Jin Xia akan suka. Menilai dari bahannya, bahannya cukup bagus jika
menimbang kios yang menjual. Tidak bisa untuk menuntut lebih. “Baiklah, tolong
di bungkus” kata Xia Yue tanpa melihat-lihat yang lainnya.
Tiba-tiba
di luar kios terjadi keributan. Keributan itu berasal dari para pemalak yang
meminta uang keamanan pasar. Pemilik kios menjelaskan pada Xia Yue karena
melihatnya bukan dari desa itu “Tuan jangan khawatir, mereka akan segera pergi
setelah aku membayar”
“Begitukah?”
Xia Yue tampak tidak tertarik dengan hal seperti itu. namun semuanya menjadi
berbeda ketika para pemalak itu masuk ke kios pakaian. Dengan seragam resmi
Donghua, mereka melakukan pemalakan terang-terangan. Xia Yue memicingkan
alisnya tanda tidak percaya. Meskipun dia mengetahui kalau Donghua melakukan
sesuatu terkait uang dan kekuasaan namun dia tidak pernah berfikir hingga
sejauh itu.
Pemilik
kios pun segera memberikan uang pada para pemalak agar membuat mereka segera
pergi dari kiosnya.
Setelah
menerima uang, para pemalak itu segera keluar dari kios tanpa memperdulikan Xia
Yue yang tengah melihat ke arahnya. Mereka justru berdecak dan tertawa geli
melihat Xia Yue yang melihat mereka dengan dingin.
__ADS_1