Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 68 - "Belanja Pakaian"


__ADS_3

Setelah


mengetahui kebenaran tentang Xia Yue, Xiao An semakin bersemangat. Kini dia


memantapkan dirinya untuk mendekati Xia Yue yang tengah menyendiri di sungai.


Xiao


An merapikan pakaian serta dandanannya sebelum melangkahkan kakinya. Ketika dia


sudah yakin dengan penampilannya, dia melangkah tanpa ragu. Disepanjang


langkahnya, dia memikirkan banyak hal untuk memulai percakapan dan bagaimana


untuk menarik perhatiannya.


Jika


dia membandingkan Xia Yue dengan Kepala Kepolisian, mereka berdua jelas


berbeda. Pesona serta wibawa yang ditunjukan berbeda. Dia juga menilai kalau


Xia Yue cukup sulit untuk digoyahkan dengan rayuan wanita cantik pada umumnya.


Untuk itu dia tengah berfikir keras.


Jalanan


bebatuan seketika memberinya ide. “Ah~” Xiao An merintih sakit karena terjatuh


di bebatuan. Lebih tepatnya berpura-pura kesakitan dan berpura-pura lemah untuk


menarik perhatian Xia Yue. Jika dia bukan tipe laki-laki yang tergoda dengan


kecantikan mungkin dia tipe laki-laki yang berhati lembut sehingga bertingkah


lemah mungkin bisa menarik perhatiannya.


Xia


Yue melihat ke arah Xiao An. Kali itu dia tidak bisa mengabaikannya karena


sebuah perasaan timbal balik. Saudaranya tengah merawat Jin Xia, jadi dia kali


itu harus memberikan bantuannya meskipun hanya sekedar pertanyaan basi ‘kamu


tidak apa-apa’


Xia


Yue melompat dari batu tempatnya duduk kemudian menuju Xiao An. Sembari


mengulurkan tangannya dia berkata “kamu tidak apa-apa?”


Saat


itu Xiao An tampak begitu senang. Dia merasa kalau langkahnya tepat. Untuk


melanjutkan drama selanjutnya yaitu dia harus bersikap kuat “Tuan Muda, aku


tidak apa-apa” dengan harapan kalau Xia Yue akan memaksa memberikan bantuan


padanya. “Benarkah? Mari ku bantu berdiri”


Xiao


An kembali tersenyum. Selanjutnya dia harus menerima bantuan yang ditawarkan


namun kemudian menambah tingkat kelemahannya sehingga Xia Yue akan merasa


khawatir dengan keadaannya.


Xiao


An mengulurkan tangannya untuk meraih tangan besar Xia Yue. Ketika dia


meraihnya diapun menggenggamnya sembari merasakan betapa besar dan hangat


tangan itu. “Ah~” Xiao An kembali menjatuhkan dirinya ketika dia setengah


berdiri. Xia Yue pun berkata “Apa kakimu terkilir?’


Senyum


Xiao An semakin lebar. Kini yang harus dia lakukan adalah bergantung padanya.


“Entahlah, sepertinya iya”


“Aku


panggilkan saudaramu” perkataan Xia Yue kali ini mematahkan seluruh tahapan


yang akan dilakukan oleh Xiao An padanya. Xia Yue meninggalkan Xiao An yang


tengah duduk di atas bebatuan kecil dekat sungai.


“Ada

__ADS_1


apa dengannya” Xiao An merasa kesal karena Xia Yue tidak melakukan seperti yang


diinginkannya. Dia menggigit bibirnya sembari memukul mukul tanah untuk


melampiaskan rasa kesalnya.


Xia


Yue sebenarnya menyadari kalau Xiao An hanya berpura-pura. Karena perasaan


sungkannya, dia berpura-pura peduli meskipun sebenarnya dia bahkan tidak ingin


untuk berbicara dengannya apalagi memperdulikannya.


Xia


Yue mengetuk pintu pondok terlebih dahulu untuk memastikan kalau perawatan di


dalam sudah aman sehingga dia tidak akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya


dilihatnya. “Nona, apakah sudah selesai” tanyanya dengan sopan.


Xiao


Bai terkejut mendengar suara dari luar “Sudah” jawab Xiao Bai sembari menutup


pakaian Jin Xia kemudian merapikan barang-barang yang sebelumnya dia gunakan


untuk merawat.


Setelah


mendengar jawaban dari dalam, Xia Yue membuka pintu pondok yang terbuat dari


kayu. Ketika dia membuka pintu itu, Jin Xia tengah menatap ke arahnya “Tuan


Muda”


“Ah~”


sesaat Xia Yue tampak ragu kemudian berkata “Aku akan keluar sebentar”


“Hati-hati,


Tuan Muda” pesan Jin Xia.


“Hm”


sahut Xia Yue kemudian berbalik untuk meninggalkan mereka.


Xiao


Sementara


Xiao An masih terduduk kesal di bebatuan. Ketika dia hendak berdiri, dia


melihat Xia Yue keluar dari dalam pondok. Diapun kemudian mengurungkan niatnya


untuk berdiri. Ternyata tidak sedikitpun Xia Yue melirik ke tempatnya.


“Apa-apaan orang itu” gerutu nya kesal kemudian berdiri. Dengan menepuk-nepuk


pakaiannya, dia berusaha membersihkan pakaiannya dari debu yang mungkin


tertempel. “Bagaimana bisa ada orang seperti itu” gerutunya sembari berjalan


dengan kesal menuju pondok “Kira-kira apa yang dikatakannya di dalam sana”


fikirnya selama berjalan menuju pondok. Fikirannya menebak berbagai hal hingga


berfikir kalau saudaranya berkata yang tidak-tidak tentangnya di hadapan Xia


Yue. Hal itu membuatnya semakin kesal.


“Xiao


An” panggil Jin Xia lirih ketika melihat Xiao An memasuki pondok.


Tanpa


berkata sepatah katapun, Xiao An duduk di kursi tamu di dalam pondok. Sembari memangku


salah satu kakinya dan menyandarkan punggungnya ke kursi, dia berdecak kesal.


“Kenapa


dengan mu” tanya Xiao Bai yang hafal dengan tingkah laku saudaranya ketika dia


sedang kesal “Apa yang mengganggumu”


“Tidak


ada” Xiao An enggan membahas hal yang membuatnya kesal.


Xia


Yue berjalan keluar tanpa tujuan. Kakinya hanya melangkah. Hingga tanpa sadar,

__ADS_1


dia sampai di pasar desa itu. Pasar disana tidak terlalu ramai. Hanya ada


beberapa penjaja makanan yang menggunakan gerobak dan sebagian sebuah kios. Langkahnya


terhenti di depan sebuah kios pakaian. Dia teringat kalau pakaian Jin Xia


mungkin robek karena panah yang menembus dadanya dan juga sudah kotor karena


ceceran darah. Dia pun kemudian masuk ke dalam sana untuk melihat-lihat.


“Tuan


Muda,” sapa pemilik kios pakaian itu dengan senyum ramahnya. Meskipun wajahnya


cukup sangar dengan kumisnya yang lebat, namun hal itu tidak bisa menutupi


keramahan yang tersurat dalam senyumannya.


“Yang


paling bagus untuk wanita dengan tinggi segini “ Xia Yue menggunakan tanggannya


untuk mengira-ngira tinggi badan Jin Xia agar memudahkan pemiliki kios


memilihkan pakaian yang pas untuknya.


“Ah~


segitu” pemilik kios mengerti “Apa dia adikmu Tuan?” lanjutnya sembari


melihat-lihat barang-barangnya sendiri.


“Adik?”


ulangnya lirih.


Setelah


beberapa saat menelusur, mata pemilik kios tertuju ke sebuah rak. Diapun kemudian


menuju rak itu dan mengambilkan sebuah gaun yang cukup cantik dengan warna


biru. “Ini dia” katanya sembari mengambilnya kemudian membawanya kepada Xia Yue


untuk diperlihatkan apakah cocok dengan itu ataukah perlu mencari yang lainnya.


“Tuan, lihat lah ini”


Xia


Yue menerimanya kemudian merentangkannya. Menilai dari warnanya, Jin Xia sering


memakai warna biru. Jadi meskipun dia tidak tahu warna kesukaannya, setidaknya


mungkin Jin Xia akan suka. Menilai dari bahannya, bahannya cukup bagus jika


menimbang kios yang menjual. Tidak bisa untuk menuntut lebih. “Baiklah, tolong


di bungkus” kata Xia Yue tanpa melihat-lihat yang lainnya.


Tiba-tiba


di luar kios terjadi keributan. Keributan itu berasal dari para pemalak yang


meminta uang keamanan pasar. Pemilik kios menjelaskan pada Xia Yue karena


melihatnya bukan dari desa itu “Tuan jangan khawatir, mereka akan segera pergi


setelah aku membayar”


“Begitukah?”


Xia Yue tampak tidak tertarik dengan hal seperti itu. namun semuanya menjadi


berbeda ketika para pemalak itu masuk ke kios pakaian. Dengan seragam resmi


Donghua, mereka melakukan pemalakan terang-terangan. Xia Yue memicingkan


alisnya tanda tidak percaya. Meskipun dia mengetahui kalau Donghua melakukan


sesuatu terkait uang dan kekuasaan namun dia tidak pernah berfikir hingga


sejauh itu.


Pemilik


kios pun segera memberikan uang pada para pemalak agar membuat mereka segera


pergi dari kiosnya.


Setelah


menerima uang, para pemalak itu segera keluar dari kios tanpa memperdulikan Xia


Yue yang tengah melihat ke arahnya. Mereka justru berdecak dan tertawa geli


melihat Xia Yue yang melihat mereka dengan dingin.

__ADS_1


__ADS_2