Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 65 - "Putus Asa"


__ADS_3

“Bunuh


mereka tanpa tersisa” perintahnya pada Yue Qi. Meskipun pelan, namun di


dalamnya terdapat amarah yang meluap. “Baik Yang Mulia” sahut Yue Qi.


“Yang


Mulia” ulang semua orang yang ada di sana. Mereka terkejut dan terheran. Siapa


pemuda yang dipanggil ‘Yang Mulia’ sementara mereka tahu kalau panggilan


tersebut hanyalah untuk anggota keluarga kerajaan.


Yue


Qi langsung menyerang para pembunuh itu. Sesuai dengan perintah dan juga sesuai


dengan keinginannya, dia akan membunuh mereka semua tanpa terkecuali.


Tujuh


orang maju menghadapi Yue Qi , sementara satu dari mereka terdiam sembari


memikirkan semuanya. Menggabungkan beberapa hal terkait Xia Yue. Melihat dari


pakaian, cara bertarung, dan juga panggilan ‘Yang Mulia’ dia tampak tidak


asing. Setelah beberapa saat berfikir dia akhirnya tersadar kalau yang mereka


hadapi adalah Xia Yue, Pangeran ketiga sekaligus Tuan Muda Xihua.


Sementara


Yue Qi bertarung seorang diri, Xia Yue mengambil Jin Xia membawanya ke dalam


pelukannya setelah menarik panah yang menancap di dada Jin Xia. Ketika panah


dicabut, Jin Xia merintih kesakitan dan berkata “Tuan, bisa sedikit lebih


halus” pintanya dengan nada lemah. Namun Xia Yue tidak menanggapinya dan justru


mengabaikannya.


“Kalian


dari desa sebelah?” tanya Xia Yue pada Xiao Bai. “Benar” sahutnya cepat.


“Tunjukan


pada ku tabib terdekat” kata Xia Yue dengan menimbang kalau wanita yang


ditanyainya mampu menunggangi kuda karena wanita itu mampu menggunakan pedang


dan ilmu bela diri.


“Baik”


jawab Xiao Bai tanpa ragu. “Dengan apa kita kesana?”


Xia


Yue belum menjawab. Dia mengangkat Jin Xia dalam gendongannya. Menggendongnya


bagai seorang putri. Jin Xia meletakkan kepalanya di dada Xia Yue yang bidang


dan lebar. “Dengan kuda” katanya sembari berjalan menuju kudanya. “Bertahanlah”


katanya pada Jin Xia.


Dari


tempatnya, Jin Xia merasakan detak jantung Xia Yue yang berdetak secara tidak


wajar. Jin Xia bertanya-tanya, kenapa detak jantung Tuannya bisa begitu cepat. “Baik”


sahut nya patuh.


“Lalu


bagaimana dengan ku” Xiao An memotong percakapan mereka. Dia merasa kalau dia


akan ditinggalkan di tempat itu. dia merasa khawatir. Karena Xia Yue tidak


menjawab kunjung menjawab pertanyaan darinya, dia pun mengulangnya dengan


sedikit keras “kalian tidak akan meninggalkanku kan..?” di dalam pertanyaannya


tersirat keputus asaan.


Xiao

__ADS_1


Bai tidak bisa menjawab. Karena hak untuk memutuskan ada pada Xia Yue sebagai


yang berkepentingan.


“Terserah”


kata Xia Yue setelah mendudukkan Jin Xia di kuda yang akan ditungganginya


bersama setelah itu dia melompat ke atas kuda, mendarat dengan sempurna di


belakang Jin Xia. Setelahnya, dia merapikan posisi Jin Xia dengan


menyandarkannya kembali di dadanya.


Xiao


Bai tersenyum. Jawaban Xia Yue bisa diartikan sebagai persetujuan. “Ayo”


katanya pada saudaranya sembari menuju salah satu kuda yang lainnya.


Ketika


mereka menuju kuda yang lainnya, para pembunuh bayaran itu tidak merelakan


kalau ada yang meninggalkan tempat itu, terlebih dengan seseorang yang telah


membunuh temanya “Aku tidak akan membiarkan kalian lari”katanya kemudian beralih


dari Yue Qi menuju Xia Yue. Dengan cepat, Yue Qi mampu membuatnya terhenti dan


tersungkur di tanah. Ketika Yue Qi hendak memberikan sentuhan terakhirnya pada


laki-laki itu, seorang laki-laki yang mengenal siapa Xia Yue sebenarnya


berteriak “Jangan!!!” namun hal itu tidak menghentikan Yue Qi untuk menusuknya


dengan telak.


“Yang


Mulia, hentikan! Tuan Muda hentikan!” pintanya dengan bertekuk lutut memohon di


tanah. Hal ini menarik perhatian Xia Yue termasuk menghentikan pergerakan Yue


Qi dan teman-temannya. “Jangan bunuh kami”


“Apa


Xia


Yue tidak tertarik dengan apapun yang akan di katakan oleh mereka sehingga


meninggalkan mereka begitu saja tanpa menunggu Xiao Bai untuk menuntun


jalannya.


“Yang


Mulia” panggil laki-laki itu lagi sembari melihat punggung Xia Yue yang semakin


jauh darinya.


Xiao


Bai pun menyuruh Xiao An untuk bergegas menaiki kudanya kemudian bergegas


menyusul posisi Xia Yue dan menunjukan jalan padanya.


Xiao


An memikirkan panggilan ‘Yang Mulia’ yang ditujukan pada Xia Yue. Dia merasa


tertarik dengan itu. sejauh dia memikirkan dan menebak siapa Xia Yue


sebenarnya, dia tidak bisa mengetahuinya.


“Kalian


fikir aku akan melepaskan kalian? Yang Mulia sudah membuat perintah dan tidak


menariknya” kata Yue Qi dengan tatapannya yang masih tajam.


“Kamu


mengenal mereka?” tanya salah satu teman laki-laki itu.


“Pemuda


yang pergi dengan kudanya itu, dia Pangeran ketiga sekaligus Tuan Muda Xihua.


Dan pemuda yang ada di depan kita mungkin bawahannya dia Xihua” tebak laki-laki

__ADS_1


itu dengan menimbang pakaian yang dikenakan Yue Qi merupakan seragam Xihua.


Namun dia tidak bisa menebak siapa Jin Xia sebenarnya. Tebakannya hanya


mengarah kalau Jin Xia adalah gadis yang penting bagi Xia Yue.


Mendengar


penjelasan singkat dari temannya, para pembunuh bayaran itu pun bergidik ngeri.


Mereka sontak merasa takut sehingga membuat langkah mereka mundur selangkah dan


mereka pun ragu untuk mengangkat pedang mereka.


“Kenapa?”


tanya Yue Qi ketika melihat segerombolan pembunuh di depannya mundur dari


posisinya “aku tidak akan melepaskan kalian”


“Tuan,


kami hanya dibayar untuk membunuh kedua perempuan tadi. Kami tidak berniat


untuk membunuh Nona itu. Kami hanya melukainya karena dia menolong kedua


perempuan tadi.”


Yue


Qi terdiam. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia tertarik dengan cerita


dibaliknya. Laki-laki itu pun mengerti dan kemudian menceritakan semuanya kalau


mereka adalah pembunuh bayaran yang dibayar untuk memburu Xiao An, wanita yang


telah menggoda suami dari orang yang membayar mereka. Selain Xiao An, mereka


hanya mengincar Xiao Bai sebagai saudara kandung yang berusaha untuk melindungi


Xiao An. “Mohon ampuni kami”


“Menarik.”


Kata Yue Qi kemudian bergerak untuk kembali menyerang para pembunuh bayaran


itu. Dia mengabaikan fakta bahwa dia ditinggal seorang diri di dalam hutan itu.


tidak masalah. Dia bisa menuju desa terdekat, desa yang akan dituju oleh Xia


Yue untuk memberikan pertolongan pada Jin Xia.


Setelah


beberapa saat, Yue Qi menyelesaikan perintah yang diberikan. Semua yang ada


terbunuh tanpa terkecuali. Setelah itu dia berjalan santai menuju desa terdekat


sembari memasukan pedangnya yang penuh darah kembali ke sarungnya tanpa


membersihkannya terlebih dahulu. Darah itu akan sulit untuk di bersihkan


kecuali dengan air.“Semoga saja tidak terlalu jauh”


Sementara


itu, Jin Xia tampak begitu pucat menahan lukanya yang cukup dalam. “Tuan”


“Jangan


bicara” sahut Xia Yue cepat. Jin Xia tersenyum mendengar jawaban Xia Yue yang


tergolong cepat. Tidak seperti biasanya yang bahkan tidak menjawab panggilan


maupun pertanyaannya. Satu tangan besar Xia Yue memeluknya dengan erat untuk


menjaganya agar tetap aman dan tidak terjatuh dari atas kuda. Saat itu dia


merasa sedikit bahagia. Meskipun bukan pertama kalinya, namun pelukan itu


adalah pelukan setelah pengumuman pertunangan Xia Yue dengan Gu Xie.


Ketika


dia mengingat kenyataan tentang pengumuman pertunangan itu, wajah Jin Xia


tiba-tiba berubah muram kemudian bertanya “Apakah lebih baik kalau aku tidak


ada”. Saat itu dia mengatakan semua yang terlintas di hati dan fikirannya tanpa


menyaringnya terlebih dahulu. Perasaan frustasinya mendorongnya untuk

__ADS_1


mengatakan kata-kata putus asa.


__ADS_2