
“Bunuh
mereka tanpa tersisa” perintahnya pada Yue Qi. Meskipun pelan, namun di
dalamnya terdapat amarah yang meluap. “Baik Yang Mulia” sahut Yue Qi.
“Yang
Mulia” ulang semua orang yang ada di sana. Mereka terkejut dan terheran. Siapa
pemuda yang dipanggil ‘Yang Mulia’ sementara mereka tahu kalau panggilan
tersebut hanyalah untuk anggota keluarga kerajaan.
Yue
Qi langsung menyerang para pembunuh itu. Sesuai dengan perintah dan juga sesuai
dengan keinginannya, dia akan membunuh mereka semua tanpa terkecuali.
Tujuh
orang maju menghadapi Yue Qi , sementara satu dari mereka terdiam sembari
memikirkan semuanya. Menggabungkan beberapa hal terkait Xia Yue. Melihat dari
pakaian, cara bertarung, dan juga panggilan ‘Yang Mulia’ dia tampak tidak
asing. Setelah beberapa saat berfikir dia akhirnya tersadar kalau yang mereka
hadapi adalah Xia Yue, Pangeran ketiga sekaligus Tuan Muda Xihua.
Sementara
Yue Qi bertarung seorang diri, Xia Yue mengambil Jin Xia membawanya ke dalam
pelukannya setelah menarik panah yang menancap di dada Jin Xia. Ketika panah
dicabut, Jin Xia merintih kesakitan dan berkata “Tuan, bisa sedikit lebih
halus” pintanya dengan nada lemah. Namun Xia Yue tidak menanggapinya dan justru
mengabaikannya.
“Kalian
dari desa sebelah?” tanya Xia Yue pada Xiao Bai. “Benar” sahutnya cepat.
“Tunjukan
pada ku tabib terdekat” kata Xia Yue dengan menimbang kalau wanita yang
ditanyainya mampu menunggangi kuda karena wanita itu mampu menggunakan pedang
dan ilmu bela diri.
“Baik”
jawab Xiao Bai tanpa ragu. “Dengan apa kita kesana?”
Xia
Yue belum menjawab. Dia mengangkat Jin Xia dalam gendongannya. Menggendongnya
bagai seorang putri. Jin Xia meletakkan kepalanya di dada Xia Yue yang bidang
dan lebar. “Dengan kuda” katanya sembari berjalan menuju kudanya. “Bertahanlah”
katanya pada Jin Xia.
Dari
tempatnya, Jin Xia merasakan detak jantung Xia Yue yang berdetak secara tidak
wajar. Jin Xia bertanya-tanya, kenapa detak jantung Tuannya bisa begitu cepat. “Baik”
sahut nya patuh.
“Lalu
bagaimana dengan ku” Xiao An memotong percakapan mereka. Dia merasa kalau dia
akan ditinggalkan di tempat itu. dia merasa khawatir. Karena Xia Yue tidak
menjawab kunjung menjawab pertanyaan darinya, dia pun mengulangnya dengan
sedikit keras “kalian tidak akan meninggalkanku kan..?” di dalam pertanyaannya
tersirat keputus asaan.
Xiao
__ADS_1
Bai tidak bisa menjawab. Karena hak untuk memutuskan ada pada Xia Yue sebagai
yang berkepentingan.
“Terserah”
kata Xia Yue setelah mendudukkan Jin Xia di kuda yang akan ditungganginya
bersama setelah itu dia melompat ke atas kuda, mendarat dengan sempurna di
belakang Jin Xia. Setelahnya, dia merapikan posisi Jin Xia dengan
menyandarkannya kembali di dadanya.
Xiao
Bai tersenyum. Jawaban Xia Yue bisa diartikan sebagai persetujuan. “Ayo”
katanya pada saudaranya sembari menuju salah satu kuda yang lainnya.
Ketika
mereka menuju kuda yang lainnya, para pembunuh bayaran itu tidak merelakan
kalau ada yang meninggalkan tempat itu, terlebih dengan seseorang yang telah
membunuh temanya “Aku tidak akan membiarkan kalian lari”katanya kemudian beralih
dari Yue Qi menuju Xia Yue. Dengan cepat, Yue Qi mampu membuatnya terhenti dan
tersungkur di tanah. Ketika Yue Qi hendak memberikan sentuhan terakhirnya pada
laki-laki itu, seorang laki-laki yang mengenal siapa Xia Yue sebenarnya
berteriak “Jangan!!!” namun hal itu tidak menghentikan Yue Qi untuk menusuknya
dengan telak.
“Yang
Mulia, hentikan! Tuan Muda hentikan!” pintanya dengan bertekuk lutut memohon di
tanah. Hal ini menarik perhatian Xia Yue termasuk menghentikan pergerakan Yue
Qi dan teman-temannya. “Jangan bunuh kami”
“Apa
Xia
Yue tidak tertarik dengan apapun yang akan di katakan oleh mereka sehingga
meninggalkan mereka begitu saja tanpa menunggu Xiao Bai untuk menuntun
jalannya.
“Yang
Mulia” panggil laki-laki itu lagi sembari melihat punggung Xia Yue yang semakin
jauh darinya.
Xiao
Bai pun menyuruh Xiao An untuk bergegas menaiki kudanya kemudian bergegas
menyusul posisi Xia Yue dan menunjukan jalan padanya.
Xiao
An memikirkan panggilan ‘Yang Mulia’ yang ditujukan pada Xia Yue. Dia merasa
tertarik dengan itu. sejauh dia memikirkan dan menebak siapa Xia Yue
sebenarnya, dia tidak bisa mengetahuinya.
“Kalian
fikir aku akan melepaskan kalian? Yang Mulia sudah membuat perintah dan tidak
menariknya” kata Yue Qi dengan tatapannya yang masih tajam.
“Kamu
mengenal mereka?” tanya salah satu teman laki-laki itu.
“Pemuda
yang pergi dengan kudanya itu, dia Pangeran ketiga sekaligus Tuan Muda Xihua.
Dan pemuda yang ada di depan kita mungkin bawahannya dia Xihua” tebak laki-laki
__ADS_1
itu dengan menimbang pakaian yang dikenakan Yue Qi merupakan seragam Xihua.
Namun dia tidak bisa menebak siapa Jin Xia sebenarnya. Tebakannya hanya
mengarah kalau Jin Xia adalah gadis yang penting bagi Xia Yue.
Mendengar
penjelasan singkat dari temannya, para pembunuh bayaran itu pun bergidik ngeri.
Mereka sontak merasa takut sehingga membuat langkah mereka mundur selangkah dan
mereka pun ragu untuk mengangkat pedang mereka.
“Kenapa?”
tanya Yue Qi ketika melihat segerombolan pembunuh di depannya mundur dari
posisinya “aku tidak akan melepaskan kalian”
“Tuan,
kami hanya dibayar untuk membunuh kedua perempuan tadi. Kami tidak berniat
untuk membunuh Nona itu. Kami hanya melukainya karena dia menolong kedua
perempuan tadi.”
Yue
Qi terdiam. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia tertarik dengan cerita
dibaliknya. Laki-laki itu pun mengerti dan kemudian menceritakan semuanya kalau
mereka adalah pembunuh bayaran yang dibayar untuk memburu Xiao An, wanita yang
telah menggoda suami dari orang yang membayar mereka. Selain Xiao An, mereka
hanya mengincar Xiao Bai sebagai saudara kandung yang berusaha untuk melindungi
Xiao An. “Mohon ampuni kami”
“Menarik.”
Kata Yue Qi kemudian bergerak untuk kembali menyerang para pembunuh bayaran
itu. Dia mengabaikan fakta bahwa dia ditinggal seorang diri di dalam hutan itu.
tidak masalah. Dia bisa menuju desa terdekat, desa yang akan dituju oleh Xia
Yue untuk memberikan pertolongan pada Jin Xia.
Setelah
beberapa saat, Yue Qi menyelesaikan perintah yang diberikan. Semua yang ada
terbunuh tanpa terkecuali. Setelah itu dia berjalan santai menuju desa terdekat
sembari memasukan pedangnya yang penuh darah kembali ke sarungnya tanpa
membersihkannya terlebih dahulu. Darah itu akan sulit untuk di bersihkan
kecuali dengan air.“Semoga saja tidak terlalu jauh”
Sementara
itu, Jin Xia tampak begitu pucat menahan lukanya yang cukup dalam. “Tuan”
“Jangan
bicara” sahut Xia Yue cepat. Jin Xia tersenyum mendengar jawaban Xia Yue yang
tergolong cepat. Tidak seperti biasanya yang bahkan tidak menjawab panggilan
maupun pertanyaannya. Satu tangan besar Xia Yue memeluknya dengan erat untuk
menjaganya agar tetap aman dan tidak terjatuh dari atas kuda. Saat itu dia
merasa sedikit bahagia. Meskipun bukan pertama kalinya, namun pelukan itu
adalah pelukan setelah pengumuman pertunangan Xia Yue dengan Gu Xie.
Ketika
dia mengingat kenyataan tentang pengumuman pertunangan itu, wajah Jin Xia
tiba-tiba berubah muram kemudian bertanya “Apakah lebih baik kalau aku tidak
ada”. Saat itu dia mengatakan semua yang terlintas di hati dan fikirannya tanpa
menyaringnya terlebih dahulu. Perasaan frustasinya mendorongnya untuk
__ADS_1
mengatakan kata-kata putus asa.