
“Jangan
bicara” Xia Yue mengulangi perintahnya. Kali ini kata-katanya tersirat luka di
dalamnya. Sebagai seseorang yang tidak pandai dalam mengungkapkan emosionalnya,
dia merasa tertekan karena ketidakmampuan itu.
Jin
Xia tersenyum getir. Bahkan dengan keadaannya yang seperti itu, Xia Yue bahkan
tidak sedikitpun bersikap lunak dengannya. Terlintas sebuah penyesalan atas
cintanya pada Xia Yue yang menjadikannya sebagai satu-satunya.
Xia
Yue memacu kudanya lebih cepat untuk bisa segera mencapai desa terdekat.
Dari
belakang, Xiao Bai berusaha menyamai kecepatan Xia Yue. Sementara Xiao An sibuk
dengan fikirannya yang memikirkan Xia Yue. Dia merasa tertarik dengannya yang
tampan dengan postur tubuh sempurna, tinggi kekar.
Setelah
beberapa saat akhirnya mereka sampai di pintu masuk desa. Desa itu tidak
terlalu besar namun dari luar sudah terlihat kalau desa itu cukup makmur. Desa
itu berada dalam wilayah Donghua sehingga sebagian besar penduduknya seorang
pedagang ataupun nelayan.
Sesampainya
di depan desa, Xia Yue menghentikan kudanya untuk menunggu Xiao Bai mengambil
alih posisi depan sebagai penuntun jalan. Xiao Bai mengerti tujuan Xia Yue
berhenti. Tanpa bertanya, Xiao Bai terus memacu kudanya menuju tabib di desa
itu.
Xia
Yue mengikuti Xiao Bai menuju hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah pondok
di pinggir desa. Dengan pemandangan hutan serta sungai yang mengalir jernih di
belakangnya. Bebatuan kecil menjadi alas setapak pondok tersebut. Pondok
tersebut dari luar terlihat begitu hangat.
Xiao
Bai turun dari kudanya kemudian membantu Xiao An turun dari kuda. Setelah
memantu saudaranya, dia beralih kepada Xia Yue untuk menawarkan bantuan “Yang
Mulia, apakah anda perlu bantuan?” melihat Jin Xia yang tampak begitu pucat.
“Siapa
yang kamu panggil?” Xia Yue mengelak panggilan ‘Yang Mulia’ dari Xiao Bai.
Menurutnya, Xiao Bai hanya mengikuti Yue Qi tanpa mengetahui identitasnya yang
sebenarnya.
Mendapat
pertanyaan pengelakan tersebut, Xiao Bai salah tingkah “Maafkan saya, Tuan
Muda”
Ketika
itu, Xia Yue tengah turun dari kuda sembari mempertahankan posisi Jin Xia agar
tidak jatuh. Setelah dia berada di tanah, dia kemudian membawa Jin Xia dari
kuda tersebut, menggendongnya menuju pondok tersebut.
Xiao
An hanya diam. Dia memperhatikan dengan cermat setiap tindakan Xia Yue. Semakin
dia memperhatikannya, semakin dia terpesona dengan pesonanya. Mukanya memerah
karena malu tanpa sebab.
__ADS_1
Xiao
Bai bergegas menyusul Xia Yue yang berjalan menuju pondok.
Sesampainya
di depan pondok, Xiao Bai mengambil alih posisi di depan dengan Xiao An
menyertainya. Dia mengetuk pintu pondok yang saat itu sedang tertutup.
“permisi” beberapa kali dia mengetuk dan memanggil namun tidak kunjung mendapat
jawaban dari dalam. “Sepertinya tidak ada orang” kata Xiao Bai dengan tidak
enak hati.
Dari
kejauhan, Xiao An melihat sosok tabib yang dikenalnya tengah menuju pondok
tersebut. “Itu tabibnya”
Mendengar
kata-kata Xiao An, Xia Yue langsung menuju arah Xiao An menunjuk. Ketika dia
melihat seseorang yang di sebut sebagai tabib, dia merasa sedikit lega dan
berkata “Bertahanlah”
Sementara
laki-laki paruh baya yang di sebut-sebut sebagai tabib di desa itu merasa
bingung dan terheran ketika melihat pondok kecilnya berdiri beberapa orang
sembari menatap ke arahnya.
“Aku
akan panggil tabib itu” Xiao An menawarkan diri dengan nada cerianya. Xia Yue
tidak merespon dan hanya fokus pada keadaan Jin Xia yang sudah memucat. Melihat
pengabaian dari Xia Yue, Xiao An pun melanjutkan niatnya dan bergegas berlari
menuju tabib yang berada di kejauhan.
Dengan
dia sedang terengah-engah. “Tabib, kami butuh bantuanmu. Teman kami terkena
panah di dadanya dan butu pertolongan”
Tabib
itu menangkap kekhawatiran dibaliknya. “Cepat” tabib itu bergegas sembari
menggendong keranjang berisi sayuran yang baru saja dibelinya dari pasar.
“Tabib,
tolong gadis ini” kata Xia Yue ketika tabib itu sampai di depannya. Sejenak,
tabib itu tertegun sekaligus terheran ketika melihat Xia Yue. “Tabib” panggilan
Xiao Bai menyadarkan tabib itu dari lamunannya.
“Bawa
dia masuk” tabib itu membukakan pintu pondoknya. Dengan segera, Xia Yue membawa
Jin Xia masuk kemudian menidurkannya di atas ranjang yang ada di sana.
Tabib
itu melihat kondisi Jin Xia dengan cermat kemudian meminta yang lainnya untuk
keluar. Ketika Xia Yue hendak keluar dan meninggalkannya terbaring disana
sendirian, Jin Xia menahan tangan Xia Yue sembari menggelengkan kepalanya,
memintanya untuk tetap tinggal.
Tabib
itu mengerti kemudian berkata “Tuan Muda, mungkin gadis ini malu. Mungkin Tuan
Muda bisa membantu saya untuk mengobatinya”
Xiao
An merasa sedikit kesal melihat pemandangan yang menyakitkan mata dan hatinya.
Terbesit di benaknya sebuah pertanyaan ‘apakah gadis itu kekasihnya?’
__ADS_1
“Baik”
sahut Xia Yue menyanggupi.
“Kalau
begitu kami keluar dulu” Xiao Bai menarik tangan Xiao An untuk segera keluar
dari dalam pondok itu, memberikan ruang untuk tabib melakukan tugasnya dalam
mengobati pasien.
“Tuan
Muda silahkan buka pakaian Nona itu kemudian bersihkan lukanya dengan air”
tabib itu menuangkan air ke dalam wadah kemudian memberikannya kepada Xia Yue
beserta sebuah handuk kecil. “Saya akan menyiapkan ramuan untuk mengeringkan
lukanya termasuk membuatkannya obat untuk membantunya sembuh dari dalam”
pamitnya.
Wajah
Jin Xia memerah ketika mendengar intruksi tabib yang meminta Xia Yue untuk
membuka pakaiannya. Dia sedikit menyesal telah menahannya untuk tinggal. Dia mengutuk
dirinya sendiri.
Xia
Yue menaruh wadah berisi air itu di atas meja di sebelah ranjang sementara dia
duduk di ranjang berhadapan dengan Jin Xia.
“Tuan,
kamu tidak perlu melakukannya.” Jin Xia semakin merah padam. Jantungnya berdegup
semakin cepat.
Xia
Yue memeras handuk dan mengangkatnya dari dalam wadah kemudian beralih kepada
Jin Xia “Lalu siapa?”
Jin
Xia terdiam. Matanya bertemu dengan tatapan mata Xia Yue. Bola matanya bergerak
ke kanan dan kiri menunjukan kalau dia tengah gugup. “Mungkin Nona Xiao mau
melakukannya” jawabnya ketika mampu mengendalikan dirinya.
“Baiklah”
Xia Yue menyerahkan handuk yang ada ditangannya ke tangan Jin Xia kemudian
berdiri dan berjalan menuju pintu untuk memanggil salah satu dari kedua Xiao.
Jin
Xia mengeluarkan nafas panjang. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya.
Xia
Yue tersenyum.
Sementara
itu, Xiao bersaudara tengah duduk di teras sambil bermain lempar batu. Suara pintu
kayu mengejutkan mereka sehingga membuat mereka menengok ke belakang. Di sana
mereka mendapati Xia Yue tengah berdiri di depan pintu. Pesonanya membuat kedua
Xiao bersaudara terpesona. “Nona Xiao, tolong
gantikan saya” kata-kata Xia Yue mengejutkan mereka sehingga menyeret mereka
kembali ke dunia.
“Eh,
ba-baik” Xiao Bai gugup. Sementara Xiao An hanya diam karena Xiao Bai telah
menjawab lebih dahulu. Lagipula jika difikirkan lebih jauh lagi, lebih baik dia
berada di luar daripada masuk ke dalam untuk merawat Jin Xia. Karena ketika
Xiao Bai menggantikan Xia Yue di dalam, maka Xia Yue akan berada di luar. Saat itu,
__ADS_1
dia memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Xia Yue.