Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 66 - "Kesempatan"


__ADS_3

“Jangan


bicara” Xia Yue mengulangi perintahnya. Kali ini kata-katanya tersirat luka di


dalamnya. Sebagai seseorang yang tidak pandai dalam mengungkapkan emosionalnya,


dia merasa tertekan karena ketidakmampuan itu.


Jin


Xia tersenyum getir. Bahkan dengan keadaannya yang seperti itu, Xia Yue bahkan


tidak sedikitpun bersikap lunak dengannya. Terlintas sebuah penyesalan atas


cintanya pada Xia Yue yang menjadikannya sebagai satu-satunya.


Xia


Yue memacu kudanya lebih cepat untuk bisa segera mencapai desa terdekat.


Dari


belakang, Xiao Bai berusaha menyamai kecepatan Xia Yue. Sementara Xiao An sibuk


dengan fikirannya yang memikirkan Xia Yue. Dia merasa tertarik dengannya yang


tampan dengan postur tubuh sempurna, tinggi kekar.


Setelah


beberapa saat akhirnya mereka sampai di pintu masuk desa. Desa itu tidak


terlalu besar namun dari luar sudah terlihat kalau desa itu cukup makmur. Desa


itu berada dalam wilayah Donghua sehingga sebagian besar penduduknya seorang


pedagang ataupun nelayan.


Sesampainya


di depan desa, Xia Yue menghentikan kudanya untuk menunggu Xiao Bai mengambil


alih posisi depan sebagai penuntun jalan. Xiao Bai mengerti tujuan Xia Yue


berhenti. Tanpa bertanya, Xiao Bai terus memacu kudanya menuju tabib di desa


itu.


Xia


Yue mengikuti Xiao Bai menuju hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah pondok


di pinggir desa. Dengan pemandangan hutan serta sungai yang mengalir jernih di


belakangnya. Bebatuan kecil menjadi alas setapak pondok tersebut. Pondok


tersebut dari luar terlihat begitu hangat.


Xiao


Bai turun dari kudanya kemudian membantu Xiao An turun dari kuda. Setelah


memantu saudaranya, dia beralih kepada Xia Yue untuk menawarkan bantuan “Yang


Mulia, apakah anda perlu bantuan?” melihat Jin Xia yang tampak begitu pucat.


“Siapa


yang kamu panggil?” Xia Yue mengelak panggilan ‘Yang Mulia’ dari Xiao Bai.


Menurutnya, Xiao Bai hanya mengikuti Yue Qi tanpa mengetahui identitasnya yang


sebenarnya.


Mendapat


pertanyaan pengelakan tersebut, Xiao Bai salah tingkah “Maafkan saya, Tuan


Muda”


Ketika


itu, Xia Yue tengah turun dari kuda sembari mempertahankan posisi Jin Xia agar


tidak jatuh. Setelah dia berada di tanah, dia kemudian membawa Jin Xia dari


kuda tersebut, menggendongnya menuju pondok tersebut.


Xiao


An hanya diam. Dia memperhatikan dengan cermat setiap tindakan Xia Yue. Semakin


dia memperhatikannya, semakin dia terpesona dengan pesonanya. Mukanya memerah


karena malu tanpa sebab.

__ADS_1


Xiao


Bai bergegas menyusul Xia Yue yang berjalan menuju pondok.


Sesampainya


di depan pondok, Xiao Bai mengambil alih posisi di depan dengan Xiao An


menyertainya. Dia mengetuk pintu pondok yang saat itu sedang tertutup.


“permisi” beberapa kali dia mengetuk dan memanggil namun tidak kunjung mendapat


jawaban dari dalam. “Sepertinya tidak ada orang” kata Xiao Bai dengan tidak


enak hati.


Dari


kejauhan, Xiao An melihat sosok tabib yang dikenalnya tengah menuju pondok


tersebut. “Itu tabibnya”


Mendengar


kata-kata Xiao An, Xia Yue langsung menuju arah Xiao An menunjuk. Ketika dia


melihat seseorang yang di sebut sebagai tabib, dia merasa sedikit lega dan


berkata “Bertahanlah”


Sementara


laki-laki paruh baya yang di sebut-sebut sebagai tabib di desa itu merasa


bingung dan terheran ketika melihat pondok kecilnya berdiri beberapa orang


sembari menatap ke arahnya.


“Aku


akan panggil tabib itu” Xiao An menawarkan diri dengan nada cerianya. Xia Yue


tidak merespon dan hanya fokus pada keadaan Jin Xia yang sudah memucat. Melihat


pengabaian dari Xia Yue, Xiao An pun melanjutkan niatnya dan bergegas berlari


menuju tabib yang berada di kejauhan.


Dengan


dia sedang terengah-engah. “Tabib, kami butuh bantuanmu. Teman kami terkena


panah di dadanya dan butu pertolongan”


Tabib


itu menangkap kekhawatiran dibaliknya. “Cepat” tabib itu bergegas sembari


menggendong keranjang berisi sayuran yang baru saja dibelinya dari pasar.


“Tabib,


tolong gadis ini” kata Xia Yue ketika tabib itu sampai di depannya. Sejenak,


tabib itu tertegun sekaligus terheran ketika melihat Xia Yue. “Tabib” panggilan


Xiao Bai menyadarkan tabib itu dari lamunannya.


“Bawa


dia masuk” tabib itu membukakan pintu pondoknya. Dengan segera, Xia Yue membawa


Jin Xia masuk kemudian menidurkannya di atas ranjang yang ada di sana.


Tabib


itu melihat kondisi Jin Xia dengan cermat kemudian meminta yang lainnya untuk


keluar. Ketika Xia Yue hendak keluar dan meninggalkannya terbaring disana


sendirian, Jin Xia menahan tangan Xia Yue sembari menggelengkan kepalanya,


memintanya untuk tetap tinggal.


Tabib


itu mengerti kemudian berkata “Tuan Muda, mungkin gadis ini malu. Mungkin Tuan


Muda bisa membantu saya untuk mengobatinya”


Xiao


An merasa sedikit kesal melihat pemandangan yang menyakitkan mata dan hatinya.


Terbesit di benaknya sebuah pertanyaan ‘apakah gadis itu kekasihnya?’

__ADS_1


“Baik”


sahut Xia Yue menyanggupi.


“Kalau


begitu kami keluar dulu” Xiao Bai menarik tangan Xiao An untuk segera keluar


dari dalam pondok itu, memberikan ruang untuk tabib melakukan tugasnya dalam


mengobati pasien.


“Tuan


Muda silahkan buka pakaian Nona itu kemudian bersihkan lukanya dengan air”


tabib itu menuangkan air ke dalam wadah kemudian memberikannya kepada Xia Yue


beserta sebuah handuk kecil. “Saya akan menyiapkan ramuan untuk mengeringkan


lukanya termasuk membuatkannya obat untuk membantunya sembuh dari dalam”


pamitnya.


Wajah


Jin Xia memerah ketika mendengar intruksi tabib yang meminta Xia Yue untuk


membuka pakaiannya. Dia sedikit menyesal telah menahannya untuk tinggal. Dia mengutuk


dirinya sendiri.


Xia


Yue menaruh wadah berisi air itu di atas meja di sebelah ranjang sementara dia


duduk di ranjang berhadapan dengan Jin Xia.


“Tuan,


kamu tidak perlu melakukannya.” Jin Xia semakin merah padam. Jantungnya berdegup


semakin cepat.


Xia


Yue memeras handuk dan mengangkatnya dari dalam wadah kemudian beralih kepada


Jin Xia “Lalu siapa?”


Jin


Xia terdiam. Matanya bertemu dengan tatapan mata Xia Yue. Bola matanya bergerak


ke kanan dan kiri menunjukan kalau dia tengah gugup. “Mungkin Nona Xiao mau


melakukannya” jawabnya ketika mampu mengendalikan dirinya.


“Baiklah”


Xia Yue menyerahkan handuk yang ada ditangannya ke tangan Jin Xia kemudian


berdiri dan berjalan menuju pintu untuk memanggil salah satu dari kedua Xiao.


Jin


Xia mengeluarkan nafas panjang. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya.


Xia


Yue tersenyum.


Sementara


itu, Xiao bersaudara tengah duduk di teras sambil bermain lempar batu. Suara pintu


kayu mengejutkan mereka sehingga membuat mereka menengok ke belakang. Di sana


mereka mendapati Xia Yue tengah berdiri di depan pintu. Pesonanya membuat kedua


Xiao bersaudara terpesona.  “Nona Xiao, tolong


gantikan saya” kata-kata Xia Yue mengejutkan mereka sehingga menyeret mereka


kembali ke dunia.


“Eh,


ba-baik” Xiao Bai gugup. Sementara Xiao An hanya diam karena Xiao Bai telah


menjawab lebih dahulu. Lagipula jika difikirkan lebih jauh lagi, lebih baik dia


berada di luar daripada masuk ke dalam untuk merawat Jin Xia. Karena ketika


Xiao Bai menggantikan Xia Yue di dalam, maka Xia Yue akan berada di luar. Saat itu,

__ADS_1


dia memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Xia Yue.


__ADS_2