
“Kalian
mau tanya apa?” sahut salah seorang prajurit dengan perawakan yang tampak lebih
berwibawa dibanding yang lainnya.
Dua
bersaudara itu saling melihat satu sama lain sebelum akhirnya mengajukan sebuah
pertanyaan “Apakah tamu undangan sudah pada kembali?” tanya Chu Long sedikit
ragu setelah berfikir beberapa saat. Mendengar pertanyaan tidak masuk akal yang
diajukan saudaranya, Chu Chu menghela nafas panjang sekaligus membuang muka
seolah berkata ‘aku kecewa menjadi saudaranya’
“Tamu
undangan? Maksut kalian tamu undangan acara Ulang tahun Putri Xia Mei?” tanya
sang prajurit.
“Iya”
jawab Chu Long seketika.
“Sepertinya
sebagian besar sudah kembali. Namun setahuku wakil dari Donghua dan Yehua belum
kembali. Pangeran yang melamar Tuan Putri juga sudah kembali beberapa saat
sebelum kedatangan kalian bersama rombongannya.” Jelas sang prajurit.
Chu
Long tampak tidak percaya. Dia merasa kagum dengan prajurit yang menjawab
pertanyaannya. “Apakah kamu mengingat semua orang yang melewati gerbang ini?”
tanya Chu Long tanpa sadar dengan tatapan tidak wajarnya. Tatapan itu membuat
prajurit itu merasa aneh sehingga bertanya kepada Chu Chu “Nona, apakah Tuan
Muda ini selalu seperti ini?”
Mendengar
pertanyaan itu, Chu chu kembali menghela nafas panjang dengan sesaat tampak
memainkan bola matanya yang menandakan kalau dirinya tengah malas “Abaikan saja
kalau kamu tidak nyaman dengan itu”
“Ah~”
prajurit itu mengangguk seolah paham apa yang dimaksudkan oleh Chu Chu padanya.
“Menjawab Tuan Muda, “prajurit itu beralih kepada Chu Long “kebetulan sebelum
datang kesini untuk menghampiri kalian berdua, saya sempat membaca buku besar
keluar masuk gerbang Istana yang sebelumnya dipersiapkan untuk acara Tuan Putri”
“Oh~”
Chu Long tampak kecewa karena sempat berfikir kalau prajurit itu berbeda.
Melihat
ekspresi Chu Long yang dengan jelas terlihat kekecewaan disana, prajurit itu
tertawa sungkan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Lalu
kalian siapa? Apakah kalian ingin keluar gerbang?” ulang prajurit itu.
“Bukankah
sudah aku jawab sebelumnya kalau kami Cuma ingin bertanya.” Jawab Chu Long
dengan malas. Meskipun awalnya dia asal bertanya, namun kini dengan jawaban
yang didapatnya, Chu Long mengerti satu hal bahwa kemungkinan pelakunya memang
seperti yang di rumorkan.
“Lalu
__ADS_1
apakah kalian akan keluar?” tanya prajurit yang lainnya.
“Kenapa
mengulang-ulang pertanyaan itu. apakah kalian ingin kami untuk segera keluar
dari Istana? Baiklah, kami akan keluar” Chu Long mendrama. Di tengah dramanya,
Chu Chu menarik tangan saudaranya membawanya menuju gerbang untuk segera keluar
sembari berkata “Kamu wakil dari Yehua. Aku akan membawa keluar orang ini.”
Para
prajurit tampak terheran dengan tingkah laku mereka. Bagaimanapun juga mereka
adalah saudara dari keluarga yang merupakan pemimpin sekte Yehua.
“Menurutmu,
apakah para Tuan Muda kaya dan berkemampuan itu selalu memiliki tingkah aneh?”
tanya salah seorang prajurit kepada prajurit yang menjawab pertanyaan Chu Long.
“Mungkin
saja. Mereka memiliki cerita mereka masing-masing yang membentuk mereka hingga
menjadi seperti itu” kata prajurit itu dengan penuh bijaksana.
Teman
sesame prajurtinya memandangnya dengan penuh kesan. Dia baru menyadari kalau
temannya begitu dalam memberikan penjelasan.
Sementara
itu Chu Long berusaha melepaskan tangannya dari tarikan saudaranya. Namun Chu
Chu tidak membiarkannya terlepas begitu saja dan malah mendorongnya ke dinding
luar gerbang Istana kemudian menaruh salah satu tangannya di sebelah Chu Long
yang terlempar di dinding.
“Ada
“Menurutmu,
mungkinkah ini rencananya atau ini jebakan?” tanya Chu Chu dengan tatapan
serius. Chu Long menangkap raut wajah serius saudaranya sekaligus kemana arah
pembicaraannya. Kini Chu Long pun berubah serius kemudian berkata “Entahlah. Ku
harap semuanya tetap baik-baik saja”
“Haruskah
kita ikut campur?” tanya Chu Chu.
“Untuk
saat ini lebih baik kita melihat saja. Jika keadaan memburuk, baru aku akan
bertindak. Aku tidak akan membiarkannya, karena aku juga harus melindungi
seseorang”
Chu
Chu tersenyum, dia terkagum melihat saudaranya yang terlihat keren untuk sesaat
“Baiklah, seperti apa katamu”
“Mari
jalan-jalan dan membeli sesuatu untuk para murid Yehua” kata Chu Long sembari
menyingkirkan tangan Chu Chu yang menghalangi jalannya. Chu Chu kemudian
mengikutinya dari belakang sembari berkata “Kenapa kamu terkadang terlihat
keren tapi lebih seringnya kamu terlihat menyebalkan”
“Apa
maksudmu? Saudaramu ini selalu keren. Hitung saja berapa banyak perempuan yang
mengantri menunggu jalan bersamaku” Chu Long menyombongkan dirinya.
__ADS_1
“Benarkah?
Lalu kenapa pelayan itu mengabaikanmu” ledek Chu Chu langsung membuat Chu Long
tidak mampu berkata. Dia mendapat skak mat dari itu. Chu Chu menunggu jawaban
saudaranya namun tidak kunjung mendengar jawaban sepatah katapun sehingga
membuatnya tertawa geli kemudian memukul bahu Chu Long dengan tidak keras “Entah
apa istimewanya pelayan itu bahkan pesona saudaraku pun redup di hadapannya”
“Kamu
mendukungku.?” Chu Long antusias.
“Tidak”
jawaban singkat Chu Chu menghancurkan harapan Chu Long seketika. Saat itu juga,
Chu Long memasang wajah masam.
“Bagaimanapun
kamu berusaha, kamu tidak akan sebanding dengan Pangeran Xia Yue. Jika itu aku,
aku juga akan memlihnya daripada kamu” komentar jujur Chu Chu bukan dimaksudkan
untuk merendahkan saudaranya melainkan untuk menyadarkannya.
“Aku
tahu itu. Tapi aku masih ingin berusaha. Lagipula Pangeran sudah diumumkan akan
bertunangan kan..”
“Sudahlah,
mari pulang” Chu Chu enggan melanjutkan pembicaraan mereka. Dia merasa tidak
nyaman dengan ekspresi saudarany yang tampak lesu ketika membahas hal itu. Sembari
menggandeng dan menggenggam erat tangan saudaranya, Chu Chu tersenyum hangat
kepada saudaranya yang kemudian mendapat balasan dari Chu Long berupa senyuman
hangat,
Bagaimanapun
mereka berselisih, itu hanyalah cara mereka untuk saling menyayangi satu sama
lainnya.
Sementara
itu Xia Mei baru saja sampai di depan Istana tempat Xia Lan tinggal. Kereta kuda
yang mengantarnya berhenti tepat di depan pintu gerbang Istana milik Xia Lan.
Xia Mei turun dari kereta kudanya setelah pelayannya keluar dan turun terlebih
dahulu untuk kemudian menunggunya dan membantunya untuk turun dari kereta.
“Yang
Mulia, hati-hati” kata pelayan Xia Mei sembari mengulurkan tangannya untuk
meraih tangan Xia Mei yang tengah turun dari kereta kudanya.
“Terima
kasih” kata Xia Mei setelah kakinya mendarat sempurna di tanah. Setelah itu dia
merapikan pakaiannya dengan beberapa kali menepuk-nepuk pakaiannya yang
kemungkinan terkena debu di sepanjang pejalanan sebelum masuk ke Istana Xia
Lan. “Ayo”
“Baik,
Yang Mulia” pelayan itu mengikuti langkah Xia Mei dari belakang kemanapun
Tuannya menuju. Pintu demi pintu dilewati dengan begitu saja. Tanpa bertanya,
Xia Mei langsung menuju ke halaman tengah Istana Xia Lan yang merupakan tempat
favoritnya untuk bersantai dan menikmati waktu senggangnya.
Di tengah langkahnya seseorang pelayan
__ADS_1
menghadang Xia Mei.