Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 81 - 'Percakapan di Gerbang Istana"


__ADS_3

“Kalian


mau tanya apa?” sahut salah seorang prajurit dengan perawakan yang tampak lebih


berwibawa dibanding yang lainnya.


Dua


bersaudara itu saling melihat satu sama lain sebelum akhirnya mengajukan sebuah


pertanyaan “Apakah tamu undangan sudah pada kembali?” tanya Chu Long sedikit


ragu setelah berfikir beberapa saat. Mendengar pertanyaan tidak masuk akal yang


diajukan saudaranya, Chu Chu menghela nafas panjang sekaligus membuang muka


seolah berkata ‘aku kecewa menjadi saudaranya’


“Tamu


undangan? Maksut kalian tamu undangan acara Ulang tahun Putri Xia Mei?” tanya


sang prajurit.


“Iya”


jawab Chu Long seketika.


“Sepertinya


sebagian besar sudah kembali. Namun setahuku wakil dari Donghua dan Yehua belum


kembali. Pangeran yang melamar Tuan Putri juga sudah kembali beberapa saat


sebelum kedatangan kalian bersama rombongannya.” Jelas sang prajurit.


Chu


Long tampak tidak percaya. Dia merasa kagum dengan prajurit yang menjawab


pertanyaannya. “Apakah kamu mengingat semua orang yang melewati gerbang ini?”


tanya Chu Long tanpa sadar dengan tatapan tidak wajarnya. Tatapan itu membuat


prajurit itu merasa aneh sehingga bertanya kepada Chu Chu “Nona, apakah Tuan


Muda ini selalu seperti ini?”


Mendengar


pertanyaan itu, Chu chu kembali menghela nafas panjang dengan sesaat tampak


memainkan bola matanya yang menandakan kalau dirinya tengah malas “Abaikan saja


kalau kamu tidak nyaman dengan itu”


“Ah~”


prajurit itu mengangguk seolah paham apa yang dimaksudkan oleh Chu Chu padanya.


“Menjawab Tuan Muda, “prajurit itu beralih kepada Chu Long “kebetulan sebelum


datang kesini untuk menghampiri kalian berdua, saya sempat membaca buku besar


keluar masuk gerbang Istana yang sebelumnya dipersiapkan untuk acara Tuan Putri”


“Oh~”


Chu Long tampak kecewa karena sempat berfikir kalau prajurit itu berbeda.


Melihat


ekspresi Chu Long yang dengan jelas terlihat kekecewaan disana, prajurit itu


tertawa sungkan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


“Lalu


kalian siapa? Apakah kalian ingin keluar gerbang?” ulang prajurit itu.


“Bukankah


sudah aku jawab sebelumnya kalau kami Cuma ingin bertanya.” Jawab Chu Long


dengan malas. Meskipun awalnya dia asal bertanya, namun kini dengan jawaban


yang didapatnya, Chu Long mengerti satu hal bahwa kemungkinan pelakunya memang


seperti yang di rumorkan.


“Lalu

__ADS_1


apakah kalian akan keluar?” tanya prajurit yang lainnya.


“Kenapa


mengulang-ulang pertanyaan itu. apakah kalian ingin kami untuk segera keluar


dari Istana? Baiklah, kami akan keluar” Chu Long mendrama. Di tengah dramanya,


Chu Chu menarik tangan saudaranya membawanya menuju gerbang untuk segera keluar


sembari berkata “Kamu wakil dari Yehua. Aku akan membawa keluar orang ini.”


Para


prajurit tampak terheran dengan tingkah laku mereka. Bagaimanapun juga mereka


adalah saudara dari keluarga yang merupakan pemimpin sekte Yehua.


“Menurutmu,


apakah para Tuan Muda kaya dan berkemampuan itu selalu memiliki tingkah aneh?”


tanya salah seorang prajurit kepada prajurit yang menjawab pertanyaan Chu Long.


“Mungkin


saja. Mereka memiliki cerita mereka masing-masing yang membentuk mereka hingga


menjadi seperti itu” kata prajurit itu dengan penuh bijaksana.


Teman


sesame prajurtinya memandangnya dengan penuh kesan. Dia baru menyadari kalau


temannya begitu dalam memberikan penjelasan.


Sementara


itu Chu Long berusaha melepaskan tangannya dari tarikan saudaranya. Namun Chu


Chu tidak membiarkannya terlepas begitu saja dan malah mendorongnya ke dinding


luar gerbang Istana kemudian menaruh salah satu tangannya di sebelah Chu Long


yang terlempar di dinding.


“Ada


“Menurutmu,


mungkinkah ini rencananya atau ini jebakan?” tanya Chu Chu dengan tatapan


serius. Chu Long menangkap raut wajah serius saudaranya sekaligus kemana arah


pembicaraannya. Kini Chu Long pun berubah serius kemudian berkata “Entahlah. Ku


harap semuanya tetap baik-baik saja”


“Haruskah


kita ikut campur?” tanya Chu Chu.


“Untuk


saat ini lebih baik kita melihat saja. Jika keadaan memburuk, baru aku akan


bertindak. Aku tidak akan membiarkannya, karena aku juga harus melindungi


seseorang”


Chu


Chu tersenyum, dia terkagum melihat saudaranya yang terlihat keren untuk sesaat


“Baiklah, seperti apa katamu”


“Mari


jalan-jalan dan membeli sesuatu untuk para murid Yehua” kata Chu Long sembari


menyingkirkan tangan Chu Chu yang menghalangi jalannya. Chu Chu kemudian


mengikutinya dari belakang sembari berkata “Kenapa kamu terkadang terlihat


keren tapi lebih seringnya kamu terlihat menyebalkan”


“Apa


maksudmu? Saudaramu ini selalu keren. Hitung saja berapa banyak perempuan yang


mengantri menunggu jalan bersamaku” Chu Long menyombongkan dirinya.

__ADS_1


“Benarkah?


Lalu kenapa pelayan itu mengabaikanmu” ledek Chu Chu langsung membuat Chu Long


tidak mampu berkata. Dia mendapat skak mat dari itu. Chu Chu menunggu jawaban


saudaranya namun tidak kunjung mendengar jawaban sepatah katapun sehingga


membuatnya tertawa geli kemudian memukul bahu Chu Long dengan tidak keras “Entah


apa istimewanya pelayan itu bahkan pesona saudaraku pun redup di hadapannya”


“Kamu


mendukungku.?” Chu Long antusias.


“Tidak”


jawaban singkat Chu Chu menghancurkan harapan Chu Long seketika. Saat itu juga,


Chu Long memasang wajah masam.


“Bagaimanapun


kamu berusaha, kamu tidak akan sebanding dengan Pangeran Xia Yue. Jika itu aku,


aku juga akan memlihnya daripada kamu” komentar jujur Chu Chu bukan dimaksudkan


untuk merendahkan saudaranya melainkan untuk menyadarkannya.


“Aku


tahu itu. Tapi aku masih ingin berusaha. Lagipula Pangeran sudah diumumkan akan


bertunangan kan..”


“Sudahlah,


mari pulang” Chu Chu enggan melanjutkan pembicaraan mereka. Dia merasa tidak


nyaman dengan ekspresi saudarany yang tampak lesu ketika membahas hal itu. Sembari


menggandeng dan menggenggam erat tangan saudaranya, Chu Chu tersenyum hangat


kepada saudaranya yang kemudian mendapat balasan dari Chu Long berupa senyuman


hangat,


Bagaimanapun


mereka berselisih, itu hanyalah cara mereka untuk saling menyayangi satu sama


lainnya.


Sementara


itu Xia Mei baru saja sampai di depan Istana tempat Xia Lan tinggal. Kereta kuda


yang mengantarnya berhenti tepat di depan pintu gerbang Istana milik Xia Lan.


Xia Mei turun dari kereta kudanya setelah pelayannya keluar dan turun terlebih


dahulu untuk kemudian menunggunya dan membantunya untuk turun dari kereta.


“Yang


Mulia, hati-hati” kata pelayan Xia Mei sembari mengulurkan tangannya untuk


meraih tangan Xia Mei yang tengah turun dari kereta kudanya.


“Terima


kasih” kata Xia Mei setelah kakinya mendarat sempurna di tanah. Setelah itu dia


merapikan pakaiannya dengan beberapa kali menepuk-nepuk pakaiannya yang


kemungkinan terkena debu di sepanjang pejalanan sebelum masuk ke Istana Xia


Lan. “Ayo”


“Baik,


Yang Mulia” pelayan itu mengikuti langkah Xia Mei dari belakang kemanapun


Tuannya menuju. Pintu demi pintu dilewati dengan begitu saja. Tanpa bertanya,


Xia Mei langsung menuju ke halaman tengah Istana Xia Lan yang merupakan tempat


favoritnya untuk bersantai dan menikmati waktu senggangnya.


Di tengah langkahnya seseorang pelayan

__ADS_1


menghadang Xia Mei.


__ADS_2