
Keadaan
kini menegang. Meskipun semua pedang mengacung pada Jin Xia, namun tidak tampak
di wajahnya sebuah kata gentar untuk menyerah. Dia justru berkata
“Menyingkirlah”
Lin
Yuan berkata dengan begitu angkuhnya “Lihatlah posisimu sebelum berkata”
Jin
Xia tampak melihat sekelilingnya sesuai perkataan Lin Yuan padanya. Namun hal
itu tidak meruntuhkannya “Sudah”
Xia
Yue memperhatikan.
“Jangan
berlagak” Lin Yuan geram. Dia pun membuka pedangnya dari sarung pedangnya.
Namun ketika pedang itu sudah setengah terlepas dari sarungnya, Xia Yue
menahannya. Tatapan mereka saling bertemu tajam. Dari tatapannya, Xia Yue seolah
berkata ‘jangan usik dia’.
Melihat
Lin Yuan tertahan oleh Xia Yue, para bawahannya pun seketika mengambil
tindakan. Salah satu dari bawahan Lin Yuan yang berada di posisi paling dekat
dengannya memulai gerakannya untuk menyerang, namun Jin Xia menghalanginya
sembari berkata ‘biarkan mereka berdua’ dengan pedang yang diacungkannya dengan
tajam.
“Kamu
sendirian? Jangan berlagak?” polisi itu tidak terima dengan kata-kata Jin Xia
yang seolah merendahkan kemampuannya. Terlebih dia melihat luka di bahu Jin
Xia. Apakah kemampuannya tidak cukup untuk mengalahkan seorang gadis kecil
dengan luka. Apakah para polisi yang jumlahnya melebihi seorang gadis ini tidak
cukup untuk mengalahkannya. “Jangan berlagak” seru polisi itu kemudian memulai gerakannya dengan
mengelak pedang yang mengarah padanya terlebih dahulu. Disusul dengan
teman-temannya yang lain, mereka mengepung Jin Xia seorang diri.
Benar
saja, mereka tidak sanggup untuk di hadapi Jin Xia seorang diri apalagi dengan
luka yang di alaminya masih belum kering. Dari setiap gerakannya, darah
merembes keluar.
Jin
Xia masih berusaha untuk menyingkirkan masalah yang datang kepada Tuannya. Kini
dari satu lawan yang tumbang, dia merampas kembali pedang darinya. Kini lengkap
dua pedang di tangannya. terlalu banyak kekuatan yang dikeluarkan membuat darah
yang keluar juga cukup banyak.
“Dua..?”
gumam seorang polisi yang masih berdiri.
“Hal
itu tidak akan mengubah keadaan” sahut polisi yang lain.
Xia
Yue melihat kalau Jin Xia memang cukup terdesak termasuk lukanya yang terbuka.
Ketika dia hendak membantu, Lin Yuan giliran menahannya untuk tetap diam
sembari berkata “biarkan saja mereka” dengan sebuah tawa penghinaan. Kata yang
dia katakana adalah pengulangan dari kata-kata Jin Xia yang sebelumnya di lontarkannya.
__ADS_1
“Pengawal kecilmu sungguh tangguh dan perhatian memberikan kesempatan untukku
berhadapan denganmu satu lawan satu. Sebagai gantinya dia harus menahan sesuatu
yang diluar kemampuannya. Sungguh aku kagum padanya”
“Satu
helai rambut darinya yang hilang, kamu tidak akan sanggup menanggungnya” ancam
Xia Yue tetap dengan nada suaranya yang rendah.
“Benarkah?
Mari kita lihat jika nyawanya yang hilang seberapa besar tanggunganku” Lin Yuan
menantang balik dengan berkata cukup keras hingga mampu terdengar oleh
bawahannya. Hal ini memacu gairah dari dalam diri bawahannya untuk semakin
bersungguh-sungguh dalam menghadapi Jin Xia. Xia Yue bisa melihat itu dari
gerakan mereka yang semakin agresif.
“Lihatlah”
Lin Yuan serasa di atas angin meskipun beberapa bawahan sudah tumbang, namun
dia hanya melihat hasil akhirnya tanpa melihat prosesnya. Meskipun Jin Xia
mampu menumbangkan 90% bawahannya, namun tidak akan sepenuhnya.
Lima
orang tersisa dari pertarungan sengit Jin Xia, kini dia sudah tampak tidak
sanggup. Darahnya mengalir keluar cukup banyak. Xia Yue semakin tidak mampu
menahan dirinya. Dia pun mencoba melepaskan diri dari Lin Yuan bagaimanapun
caranya.”Kenapa terburu-buru” Lin Yuan memprovokasi. Ketika seorang yang tenang
kehilangan ketenangannya, maka dia akan kehilangan kendali akan dirinya
termasuk juga mengurangi kemampuannya.
Jin
Xia terengah sembari menahan sakit di bahunya. Pandangannya pun semakin memudar
pedang sesekali bergetar.
“Keras
kepala” kata salah seorang polisi yang dari lima yang tersisa.
“Kalianlah
yang harus pergi” kata Jin Xia dengan tekadnya. Dia tidak akan membiarkan
mereka membawa Tuan Mudanya apalagi mengadilinya.
“Lihatlah
darah dari tubuhmu sendiri.” Kata polisi yang lain.
“Setidaknya
darah kalian lebih banyak dari darahku. Bukankah itu sepadan” kata Jin Xia
berusaha tetap kuat.
Salah
seorang polisi tersenyum kemudian berkata “Sesuai dengan yang ku dengar kalau
kamu memang hebat.”
“Kamu
mengenalnya?” tanya polisi yang lain. Polisi yang semula berkata mengenal Jin
Xia pun mengingat-ingat kemudian berkata “Dia gadis dari Xihua. Dia terkenal
dengan kemampuannya dalam menggunakan dua pedang.” Kemudian tiba-tiba berhenti
melanjutkan pertarungan.
“Ada
apa?” tanya polisi yang lain.
Uhkk…
Tiga
__ADS_1
polisi terlempar kebelakang polisi yang berhenti. Seorang polisi yang bertanya
terkejut melihat ketiga temannya terlempar “ke-kenapa?” kemudian berbalik.
Ketika dia berbalik dia melihat Xia Yue tengah menggendong Jin Xia yang sebelumnya
hampir terjatuh dan terluka oleh ketiga polisi yang menyerangnya.
“Dia!”
Lin Yuan terluka cukup dalam dalam pertarungan satu lawan satunya dengan Xia
Yue. Dia merasa geram ketika melihat Xia Yue masih sempat menyelamatkan Jin Xia
di detik-detik yang cukup fatal sekaligus memberikan serangan telak padanya.
“Tuan,
aku tidak cukup baik sehingga belum mampu mengusir mereka” kata Jin Xia di
dalam gendongan Xia Yue.
“Jika
dia memang gadis itu, itu berarti…” polisi itu teringat dan mengingat dengan
jelas. Ketika ingatannya secara jelas mengenali Jin Xia dan Xia Yue, dia tidak
berani melanjutkan kata-katanya apalagi memegang pedangnya. Tangannya bergetar
lemas kemudian menjatuhkan pedangnya ke tanah dan kakinya pun mundur beberapa
langkah.
“Ada
apa denganmu?” tanya teman polisinya yang melihat ketakutan dalam diri polisi
itu.
Ketiga
polisi yang terlempar kini mulai berdiri dan bersiap dengan pedangnya kembali.
Salah satu dari mereka berkata “Kalau kamu takut, mundurlah”
“Jangan~”
kata polisi itu. Dia semakin ketakutan ketika melihat mata Xia Yue yang
menunjukan amarah. “Jangan usik gadis itu” nada suaranya bergetar.
“Apa
maksutmu?” tanya Lin Yuan yang menuju ke tempat polisi yang mengenali Jin Xia.
“Tuan,
jika gadis itu sungguh Jin Xia dari Xihua, maka pemuda yang dia sebut Tuannya
itu adalah Yang Mulia Xia Yue, Pangeran ketiga” polisi itu berkata dengan suara
parau beserta matanya yang menunjukan kefrustasian.
Mendengar
bawahannya menyebut ‘Pangeran ketiga’ Lin Yuan tampak tidak percaya. Matanya
tiba-tiba linglung. “Kamu bilang apa?”
Sementara
keempat temannya yang masih selamat, mereka juga terkejut. mereka seketika
melepas pedang di tangan mereka. Raut wajah mereka berubah suram. ‘apa yang ku
lakukan’ batin mereka. Mereka hanya melaksanakan tugas dari atasan karena
pekerjaan. Namun kenapa tugas yang mereka laksanakan justru menjatuhkan mereka
ke jurang.
Lin
Yuan berbalik dengan ragu-ragu. Suaranya tertahan di dalam tenggorokannya
sembari mengingat peringatan yang sebelumnya dikatakan oleh Xia Yue
padanya.”kamu bukan Pangeran ketiga, kan?”
“Bukan”
jawab Xia Yue secara serta merta. Matanya masih dipenuhi amarah meskipun dia
masih tetap terlihat tenang.
__ADS_1