Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 78 - "Terungkap"


__ADS_3

Keadaan


kini menegang. Meskipun semua pedang mengacung pada Jin Xia, namun tidak tampak


di wajahnya sebuah kata gentar untuk menyerah. Dia justru berkata


“Menyingkirlah”


Lin


Yuan berkata dengan begitu angkuhnya “Lihatlah posisimu sebelum berkata”


Jin


Xia tampak melihat sekelilingnya sesuai perkataan Lin Yuan padanya. Namun hal


itu tidak meruntuhkannya “Sudah”


Xia


Yue memperhatikan.


“Jangan


berlagak” Lin Yuan geram. Dia pun membuka pedangnya dari sarung pedangnya.


Namun ketika pedang itu sudah setengah terlepas dari sarungnya, Xia Yue


menahannya. Tatapan mereka saling bertemu tajam. Dari tatapannya, Xia Yue seolah


berkata ‘jangan usik dia’.


Melihat


Lin Yuan tertahan oleh Xia Yue, para bawahannya pun seketika mengambil


tindakan. Salah satu dari bawahan Lin Yuan yang berada di posisi paling dekat


dengannya memulai gerakannya untuk menyerang, namun Jin Xia menghalanginya


sembari berkata ‘biarkan mereka berdua’ dengan pedang yang diacungkannya dengan


tajam.


“Kamu


sendirian? Jangan berlagak?” polisi itu tidak terima dengan kata-kata Jin Xia


yang seolah merendahkan kemampuannya. Terlebih dia melihat luka di bahu Jin


Xia. Apakah kemampuannya tidak cukup untuk mengalahkan seorang gadis kecil


dengan luka. Apakah para polisi yang jumlahnya melebihi seorang gadis ini tidak


cukup untuk mengalahkannya. “Jangan berlagak” seru polisi  itu kemudian memulai gerakannya dengan


mengelak pedang yang mengarah padanya terlebih dahulu. Disusul dengan


teman-temannya yang lain, mereka mengepung Jin Xia seorang diri.


Benar


saja, mereka tidak sanggup untuk di hadapi Jin Xia seorang diri apalagi dengan


luka yang di alaminya masih belum kering. Dari setiap gerakannya, darah


merembes keluar.


Jin


Xia masih berusaha untuk menyingkirkan masalah yang datang kepada Tuannya. Kini


dari satu lawan yang tumbang, dia merampas kembali pedang darinya. Kini lengkap


dua pedang di tangannya. terlalu banyak kekuatan yang dikeluarkan membuat darah


yang keluar juga cukup banyak.


“Dua..?”


gumam seorang polisi yang masih berdiri.


“Hal


itu tidak akan mengubah keadaan” sahut polisi yang lain.


Xia


Yue melihat kalau Jin Xia memang cukup terdesak termasuk lukanya yang terbuka.


Ketika dia hendak membantu, Lin Yuan giliran menahannya untuk tetap diam


sembari berkata “biarkan saja mereka” dengan sebuah tawa penghinaan. Kata yang


dia katakana adalah pengulangan dari kata-kata Jin Xia yang sebelumnya di lontarkannya.

__ADS_1


“Pengawal kecilmu sungguh tangguh dan perhatian memberikan kesempatan untukku


berhadapan denganmu satu lawan satu. Sebagai gantinya dia harus menahan sesuatu


yang diluar kemampuannya. Sungguh aku kagum padanya”


“Satu


helai rambut darinya yang hilang, kamu tidak akan sanggup menanggungnya” ancam


Xia Yue tetap dengan nada suaranya yang rendah.


“Benarkah?


Mari kita lihat jika nyawanya yang hilang seberapa besar tanggunganku” Lin Yuan


menantang balik dengan berkata cukup keras hingga mampu terdengar oleh


bawahannya. Hal ini memacu gairah dari dalam diri bawahannya untuk semakin


bersungguh-sungguh dalam menghadapi Jin Xia. Xia Yue bisa melihat itu dari


gerakan mereka yang semakin agresif.


“Lihatlah”


Lin Yuan serasa di atas angin meskipun beberapa bawahan sudah tumbang, namun


dia hanya melihat hasil akhirnya tanpa melihat prosesnya. Meskipun Jin Xia


mampu menumbangkan 90% bawahannya, namun tidak akan sepenuhnya.


Lima


orang tersisa dari pertarungan sengit Jin Xia, kini dia sudah tampak tidak


sanggup. Darahnya mengalir keluar cukup banyak. Xia Yue semakin tidak mampu


menahan dirinya. Dia pun mencoba melepaskan diri dari Lin Yuan bagaimanapun


caranya.”Kenapa terburu-buru” Lin Yuan memprovokasi. Ketika seorang yang tenang


kehilangan ketenangannya, maka dia akan kehilangan kendali akan dirinya


termasuk juga mengurangi kemampuannya.


Jin


Xia terengah sembari menahan sakit di bahunya. Pandangannya pun semakin memudar


pedang sesekali bergetar.


“Keras


kepala” kata salah seorang polisi yang dari lima yang tersisa.


“Kalianlah


yang harus pergi” kata Jin Xia dengan tekadnya. Dia tidak akan membiarkan


mereka membawa Tuan Mudanya apalagi mengadilinya.


“Lihatlah


darah dari tubuhmu sendiri.” Kata polisi yang lain.


“Setidaknya


darah kalian lebih banyak dari darahku. Bukankah itu sepadan” kata Jin Xia


berusaha tetap kuat.


Salah


seorang polisi tersenyum kemudian berkata “Sesuai dengan yang ku dengar kalau


kamu memang hebat.”


“Kamu


mengenalnya?” tanya polisi yang lain. Polisi yang semula berkata mengenal Jin


Xia pun mengingat-ingat kemudian berkata “Dia gadis dari Xihua. Dia terkenal


dengan kemampuannya dalam menggunakan dua pedang.” Kemudian tiba-tiba berhenti


melanjutkan pertarungan.


“Ada


apa?” tanya polisi yang lain.


Uhkk…


Tiga

__ADS_1


polisi terlempar kebelakang polisi yang berhenti. Seorang polisi yang bertanya


terkejut melihat ketiga temannya terlempar “ke-kenapa?” kemudian berbalik.


Ketika dia berbalik dia melihat Xia Yue tengah menggendong Jin Xia yang sebelumnya


hampir terjatuh dan terluka oleh ketiga polisi yang menyerangnya.


“Dia!”


Lin Yuan terluka cukup dalam dalam pertarungan satu lawan satunya dengan Xia


Yue. Dia merasa geram ketika melihat Xia Yue masih sempat menyelamatkan Jin Xia


di detik-detik yang cukup fatal sekaligus memberikan serangan telak padanya.


“Tuan,


aku tidak cukup baik sehingga belum mampu mengusir mereka” kata Jin Xia di


dalam gendongan Xia Yue.


“Jika


dia memang gadis itu, itu berarti…” polisi itu teringat dan mengingat dengan


jelas. Ketika ingatannya secara jelas mengenali Jin Xia dan Xia Yue, dia tidak


berani melanjutkan kata-katanya apalagi memegang pedangnya. Tangannya bergetar


lemas kemudian menjatuhkan pedangnya ke tanah dan kakinya pun mundur beberapa


langkah.


“Ada


apa denganmu?” tanya teman polisinya yang melihat ketakutan dalam diri polisi


itu.


Ketiga


polisi yang terlempar kini mulai berdiri dan bersiap dengan pedangnya kembali.


Salah satu dari mereka berkata “Kalau kamu takut, mundurlah”


“Jangan~”


kata polisi itu. Dia semakin ketakutan ketika melihat mata Xia Yue yang


menunjukan amarah. “Jangan usik gadis itu” nada suaranya bergetar.


“Apa


maksutmu?” tanya Lin Yuan yang menuju ke tempat polisi yang mengenali Jin Xia.


“Tuan,


jika gadis itu sungguh Jin Xia dari Xihua, maka pemuda yang dia sebut Tuannya


itu adalah Yang Mulia Xia Yue, Pangeran ketiga” polisi itu berkata dengan suara


parau beserta matanya yang menunjukan kefrustasian.


Mendengar


bawahannya menyebut ‘Pangeran ketiga’ Lin Yuan tampak tidak percaya. Matanya


tiba-tiba linglung. “Kamu bilang apa?”


Sementara


keempat temannya yang masih selamat, mereka juga terkejut. mereka seketika


melepas pedang di tangan mereka. Raut wajah mereka berubah suram. ‘apa yang ku


lakukan’ batin mereka. Mereka hanya melaksanakan tugas dari atasan karena


pekerjaan. Namun kenapa tugas yang mereka laksanakan justru menjatuhkan mereka


ke jurang.


Lin


Yuan berbalik dengan ragu-ragu. Suaranya tertahan di dalam tenggorokannya


sembari mengingat peringatan yang sebelumnya dikatakan oleh Xia Yue


padanya.”kamu bukan Pangeran ketiga, kan?”


“Bukan”


jawab Xia Yue secara serta merta. Matanya masih dipenuhi amarah meskipun dia


masih tetap terlihat tenang.

__ADS_1


__ADS_2