
“Kenapa
kamu kesini?” kata Xiao Bai ketika melihat Jin Xia datang mendekat sembari
membersihkan ikan dengan pisau di tangannya.
“Aku
tidak ada keperluan di sana. Jadi aku kesini saja membantu kalian” Jin Xia
berjongkok di depan Xiao Bai berniat untuk membantunya. Sementara Xiao An
mempersiapkan kayu bakar untuk membakar ikan yang sedang di bersihkan
saudaranya.
“Oh
ya sudah. Kalau begitu tolong bantu cuci ikannya kemudian taruh saja di atas
panggangan yang sudah di siapkan Xiao An” kata Xiao Bai sembari terus melakukan
bagiannya.
“Baiklah”
Jin Xia bersedia. Diapun kemudian mengambil satu demi satu ikan yang sudah di
bersihkan Xiao Bai untuk di cuci. Setelah itu dia menaruh ikan yang telah
dicucinya ke atas panggangan sederhana yang terbuat dari batang-batang besi
yang tertata di atas kayu bakar.
“Tolong
kamu jaga apinya. Aku akan persiapkan bumbunya dan juga sayurannya.” Kata Xiao
An kemudian menyerahkan bagian membakar ikan kepada Jin Xia. Dia beralih ke hal
lain yang lebih inti, yaitu bumbu masakan. Meskipun bumbu yang ada di dalam
pondok itu tidak terlalu lengkap karena secara personal tabib merupakan seorang
laki-laki yang memungkinkannya tidak
terlalu mengerti bagaimana cara memasak, namun Xiao An masih bisa
mempergunakannya dengan maksimal untuk bisa mendapatkan rasa yang maksimal
dengan bumbu seadanya.
Dengan
mahirnya, Xiao An meracik bumbu-bumu itu hingga mengeluarkan bau yang memikat
penciuman bahkan Jin Xia pun sempat memalingkan perhatiannya dari kayu bakarnya
menuju Xiao An dan berkata “Harum…”
“Benar,
Xiao An memang ahli dalam memasak.” Sahut Xiao Bai yang merasa bangga dengan
kemampuan saudaranya.
“Suaminya
nanti pasti beruntung.” kata Jin Xia spontan.
“Apa
kamu bisa memasak?” tanya Xiao Bai.
“Aku?
Jangan bercanda. Setiap kali keluar dengan Tuan Muda, Tuan Muda yang lebih
sering mencarikan makan. Ketika di Xihua, Yue Qi yang akan mengomel menyuruh
makan” jelas Jin Xia sembari mengingat saat dimana dia begitu diperhatikan.
“Benarkah?”
kata Xiao An dengan keraguan yang tampak jelas di wajahnya.
“Kenapa?”
Jin Xia tidak mengerti.
“Ah
bukan. Hanya saja, apa benar semua laki-laki menginginkan istri yang bisa
memasak untuknya?”
“Tentu.
Bukankah laki-laki menginginkan istrinya mampu membuatkan masakan untuknya
setiap hari. Menjadi ibu rumah tangga yang baik” jawab Jin Xia dengan
__ADS_1
keyakinannya.
Xiao
Bai memperhatikan dalam diam.
“Lalu
kenapa sepertinya orang itu tidak seperti itu” Xiao An mencermati perkataan Jin
Xia. Di sana tersirat makna bahwa Xia Yue memperhatikan Jin Xia. Dari sana dia
tidak mengerti.
Xiao
An memandangi Jin Xia penuh tanda tanya dengan pandangan matanya yang linglung.
Hal itu sontak membuat Jin Xia tidak mengerti “Ada apa?”
“Tidak
apa-apa” Xiao An enggan menjawab kemudian melanjutkan bagiannya.
Sementara
Xiao Bai menyelesaikan ikan terakhirnya setelah itu membersihkan tangannya
untuk beralih ke yang lainnya, yaitu mempersiapkan sayuran “Pemuda itu?” kata
Xiao Bai ketika melihat pemuda yang datang dengan gerobak tengah mengambil air
di sungai dari tempatnya memilah sayuran yang akan dimasaknya.
Jin
Xia mengikuti arah Xiao Bai memandang. Dia pun mendapati pemuda itu. “Kenapa
dengannya?”
“Pemuda
itu sungguh berhati baik” kata Xiao Bai sembari memetik daun dari batangnya.
“Benar.
Jika itu aku, aku sudah pasti akan membiarkannya atau mungkin aku akan
menambahkan sebuah tusukan tepat di dadanya untuk mempercepat kematiannya”
sahut Jin Xia dengan ringannya.
“Dia
“Sepertinya
kamu memiliki luka dengan hal serupa” tebak Xiao Bai dengan benar.
“Apakah
itu terlihat jelas?” kata Jin Xia sembari tersenyum.
“Sangat
jelas” kata Xiao Bai.
Sementara
itu dari arah jalan desa yang menghadap pondok tabib, Lin Yuan telah sampai
bersama dengan beberapa pasukannya. Mata Lin Yuan tajam dan dingin. Dia
menunjukan senyum menyeringai kemudian berkata “Ayo!”
Sesuai
dengan perintahnya, pasuknya menuju ke pondok secara serentak di belakang
langkahnya. Mengiringinya kemanapun dia ingin.
Saat
Lin Yuan dan pasukannya berada di depan pondok tabib, saat itu Xia Yue dan
tabib tengah bercakap dengan anak perempuan pemilik kios sementara pasien yang
lain di biarkan sembari menunggu air yang sedang diambil oleh pemuda baik hati
dari sungai.
Mata
Xia Yue begitu serius menatap ke luar pondok. Sementara tabib bersikap begitu
tenang seolah tidak akan terjadi apa-apa dan berkata “Tidak apa-apa. Kamu
tenang saja” pada anak perempuan pemilik kios.
“Keluarlah”
kata Lin Yuan dengan suaranya yang lantang. Dari belakang, Xiao An terkejut
__ADS_1
mendengar suara Lin Yuan yang tentu saja tidak asing di telinganya. Begitu juga
Xiao Bai. Mereka nampak sangat terkejut. sementara Jin Xia, karena dia tidak
mengenali siapa yang berteriak dari luar pondok, dia bergegas merapikan dirinya
untuk segera menuju ke depan.
“Apa
yang mereka lakukan” pemuda baik hati membawa airnya menuju pondok melalui Lin
Yuan dan pasukannya begitu saja tanpa memperdulikan mereka yang tengah berdiri
dengan mata berselisih.
“Apa
yang kamu lakukan” kata salah satu bawahan Lin Yuan dengan suaranya yang
terdengar membentak.
“Aku
tidak memiliki urusan dengan kalian.” Kata pemuda itu dengan ringannya kemudian
berlalu begitu saja. Ketika pemuda itu berlalu begitu saja, bawahan Lin Yuan
hendak mengambil tindakan padanya, namun Lin Yuan mencegahnya dan berkata “Dia
benar. Abaikan saja dia”
Mendengar
perintah keluar dari mulut Tuannya, bawahan Lin Yuan pun seketika memundurkan
langkahnya kemudian berdiri dengan tenang di belakang Tuannya sembari menunggu
intruksi selanjutnya.
“Tabib,
anda memiliki tamu dari kepolisian” kata pemuda itu ketika baru saja melewati
pintu pondok kemudian menaruh wadah yang berisikan air ke atas meja di dekat
pasien laki-laki yang di bawanya.
Xia
Yue merasa kalau mereka datang mencarinya. Dia pun kemudian berdiri untuk
menemui mereka yang menunggunya di luar pondok “Kalian tenang lah dan tetap
disini apapun yang terjadi” pesannya pada semua yang ada di dalam pondok.
Semuanya
mengangguk paham.
Ketika
kakinya keluar dari pintu pondok, dia melihat sekelompok orang dengan seragam
Kepolisian Donghua berada di depan pondok. dia menatap mereka datar. Sementara
Lin Yuan memperhatikannya dengan seksama dari atas hingga kaki. Dari sejauh
pengamatannya, dia tidak mengenali sosok pemuda yang tengah berdiri di depan
pintu pondok.
“Kamu
mengenalnya?” tanya Lin Yuan kepada salah satu bawahannya.
“Tidak,
Tuan”
Xia
Yue melanjutkan langkahnya hingga kini dia berada di depan pintu luar pondok.
di sana dia berdiri tenang sembari menatap para polisi di hadapannya.
“Apakah
kamu yang melakukannya?” tanya Lin Yuan langsung tanpa berbasa-basi.
Xia
Yue pun tanpa berbasa-basi langsung menjawab “Iya” karena dia mengerti kemana
arah pertanyaan yang tengah di ajukan padanya.
“Apakah
tindakanmu bisa di benarkan?” Lin Yuan bertanya dengan gayanya yang
mengintimidasi. Bagaimanapun statusnya adalah sebagai Kepala Polisi, dan dia
__ADS_1
tengah melakukan tugasnya mencari pelaku kekerasan yang terjadi di desanya.