Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 76 - "Tiga Gadis"


__ADS_3

“Kenapa


kamu kesini?” kata Xiao Bai ketika melihat Jin Xia datang mendekat sembari


membersihkan ikan dengan pisau di tangannya.


“Aku


tidak ada keperluan di sana. Jadi aku kesini saja membantu kalian” Jin Xia


berjongkok di depan Xiao Bai berniat untuk membantunya. Sementara Xiao An


mempersiapkan kayu bakar untuk membakar ikan yang sedang di bersihkan


saudaranya.


“Oh


ya sudah. Kalau begitu tolong bantu cuci ikannya kemudian taruh saja di atas


panggangan yang sudah di siapkan Xiao An” kata Xiao Bai sembari terus melakukan


bagiannya.


“Baiklah”


Jin Xia bersedia. Diapun kemudian mengambil satu demi satu ikan yang sudah di


bersihkan Xiao Bai untuk di cuci. Setelah itu dia menaruh ikan yang telah


dicucinya ke atas panggangan sederhana yang terbuat dari batang-batang besi


yang tertata di atas kayu bakar.


“Tolong


kamu jaga apinya. Aku akan persiapkan bumbunya dan juga sayurannya.” Kata Xiao


An kemudian menyerahkan bagian membakar ikan kepada Jin Xia. Dia beralih ke hal


lain yang lebih inti, yaitu bumbu masakan. Meskipun bumbu yang ada di dalam


pondok itu tidak terlalu lengkap karena secara personal tabib merupakan seorang


laki-laki  yang memungkinkannya tidak


terlalu mengerti bagaimana cara memasak, namun Xiao An masih bisa


mempergunakannya dengan maksimal untuk bisa mendapatkan rasa yang maksimal


dengan bumbu seadanya.


Dengan


mahirnya, Xiao An meracik bumbu-bumu itu hingga mengeluarkan bau yang memikat


penciuman bahkan Jin Xia pun sempat memalingkan perhatiannya dari kayu bakarnya


menuju Xiao An dan berkata “Harum…”


“Benar,


Xiao An memang ahli dalam memasak.” Sahut Xiao Bai yang merasa bangga dengan


kemampuan saudaranya.


“Suaminya


nanti pasti beruntung.” kata Jin Xia spontan.


“Apa


kamu bisa memasak?” tanya Xiao Bai.


“Aku?


Jangan bercanda. Setiap kali keluar dengan Tuan Muda, Tuan Muda yang lebih


sering mencarikan makan. Ketika di Xihua, Yue Qi yang akan mengomel menyuruh


makan” jelas Jin Xia sembari mengingat saat dimana dia begitu diperhatikan.


“Benarkah?”


kata Xiao An dengan keraguan yang tampak jelas di wajahnya.


“Kenapa?”


Jin Xia tidak mengerti.


“Ah


bukan. Hanya saja, apa benar semua laki-laki menginginkan istri yang bisa


memasak untuknya?”


“Tentu.


Bukankah laki-laki menginginkan istrinya mampu membuatkan masakan untuknya


setiap hari. Menjadi ibu rumah tangga yang baik” jawab Jin Xia dengan

__ADS_1


keyakinannya.


Xiao


Bai memperhatikan dalam diam.


“Lalu


kenapa sepertinya orang itu tidak seperti itu” Xiao An mencermati perkataan Jin


Xia. Di sana tersirat makna bahwa Xia Yue memperhatikan Jin Xia. Dari sana dia


tidak mengerti.


Xiao


An memandangi Jin Xia penuh tanda tanya dengan pandangan matanya yang linglung.


Hal itu sontak membuat Jin Xia tidak mengerti “Ada apa?”


“Tidak


apa-apa” Xiao An enggan menjawab kemudian melanjutkan bagiannya.


Sementara


Xiao Bai menyelesaikan ikan terakhirnya setelah itu membersihkan tangannya


untuk beralih ke yang lainnya, yaitu mempersiapkan sayuran “Pemuda itu?” kata


Xiao Bai ketika melihat pemuda yang datang dengan gerobak tengah mengambil air


di sungai dari tempatnya memilah sayuran yang akan dimasaknya.


Jin


Xia mengikuti arah Xiao Bai memandang. Dia pun mendapati pemuda itu. “Kenapa


dengannya?”


“Pemuda


itu sungguh berhati baik” kata Xiao Bai sembari memetik daun dari batangnya.


“Benar.


Jika itu aku, aku sudah pasti akan membiarkannya atau mungkin aku akan


menambahkan sebuah tusukan tepat di dadanya untuk mempercepat kematiannya”


sahut Jin Xia dengan ringannya.


“Dia


“Sepertinya


kamu memiliki luka dengan hal serupa” tebak Xiao Bai dengan benar.


“Apakah


itu terlihat jelas?” kata Jin Xia sembari tersenyum.


“Sangat


jelas” kata Xiao Bai.


Sementara


itu dari arah jalan desa yang menghadap pondok tabib, Lin Yuan telah sampai


bersama dengan beberapa pasukannya. Mata Lin Yuan tajam dan dingin. Dia


menunjukan senyum menyeringai kemudian berkata “Ayo!”


Sesuai


dengan perintahnya, pasuknya menuju ke pondok secara serentak di belakang


langkahnya. Mengiringinya kemanapun dia ingin.


Saat


Lin Yuan dan pasukannya berada di depan pondok tabib, saat itu Xia Yue dan


tabib tengah bercakap dengan anak perempuan pemilik kios sementara pasien yang


lain di biarkan sembari menunggu air yang sedang diambil oleh pemuda baik hati


dari sungai.


Mata


Xia Yue begitu serius menatap ke luar pondok. Sementara tabib bersikap begitu


tenang seolah tidak akan terjadi apa-apa dan berkata “Tidak apa-apa. Kamu


tenang saja” pada anak perempuan pemilik kios.


“Keluarlah”


kata Lin Yuan dengan suaranya yang lantang. Dari belakang, Xiao An terkejut

__ADS_1


mendengar suara Lin Yuan yang tentu saja tidak asing di telinganya. Begitu juga


Xiao Bai. Mereka nampak sangat terkejut. sementara Jin Xia, karena dia tidak


mengenali siapa yang berteriak dari luar pondok, dia bergegas merapikan dirinya


untuk segera menuju ke depan.


“Apa


yang mereka lakukan” pemuda baik hati membawa airnya menuju pondok melalui Lin


Yuan dan pasukannya begitu saja tanpa memperdulikan mereka yang tengah berdiri


dengan mata berselisih.


“Apa


yang kamu lakukan” kata salah satu bawahan Lin Yuan dengan suaranya yang


terdengar membentak.


“Aku


tidak memiliki urusan dengan kalian.” Kata pemuda itu dengan ringannya kemudian


berlalu begitu saja. Ketika pemuda itu berlalu begitu saja, bawahan Lin Yuan


hendak mengambil tindakan padanya, namun Lin Yuan mencegahnya dan berkata “Dia


benar. Abaikan saja dia”


Mendengar


perintah keluar dari mulut Tuannya, bawahan Lin Yuan pun seketika memundurkan


langkahnya kemudian berdiri dengan tenang di belakang Tuannya sembari menunggu


intruksi selanjutnya.


“Tabib,


anda memiliki tamu dari kepolisian” kata pemuda itu ketika baru saja melewati


pintu pondok kemudian menaruh wadah yang berisikan air ke atas meja di dekat


pasien laki-laki yang di bawanya.


Xia


Yue merasa kalau mereka datang mencarinya. Dia pun kemudian berdiri untuk


menemui mereka yang menunggunya di luar pondok “Kalian tenang lah dan tetap


disini apapun yang terjadi” pesannya pada semua yang ada di dalam pondok.


Semuanya


mengangguk paham.


Ketika


kakinya keluar dari pintu pondok, dia melihat sekelompok orang dengan seragam


Kepolisian Donghua berada di depan pondok. dia menatap mereka datar. Sementara


Lin Yuan memperhatikannya dengan seksama dari atas hingga kaki. Dari sejauh


pengamatannya, dia tidak mengenali sosok pemuda yang tengah berdiri di depan


pintu pondok.


“Kamu


mengenalnya?” tanya Lin Yuan kepada salah satu bawahannya.


“Tidak,


Tuan”


Xia


Yue melanjutkan langkahnya hingga kini dia berada di depan pintu luar pondok.


di sana dia berdiri tenang sembari menatap para polisi di hadapannya.


“Apakah


kamu yang melakukannya?” tanya Lin Yuan langsung tanpa berbasa-basi.


Xia


Yue pun tanpa berbasa-basi langsung menjawab “Iya” karena dia mengerti kemana


arah pertanyaan yang tengah di ajukan padanya.


“Apakah


tindakanmu bisa di benarkan?” Lin Yuan bertanya dengan gayanya yang


mengintimidasi. Bagaimanapun statusnya adalah sebagai Kepala Polisi, dan dia

__ADS_1


tengah melakukan tugasnya mencari pelaku kekerasan yang terjadi di desanya.


__ADS_2