
Setelah
beberapa saat berlalu, Xia Yue mampu menumbangkan semua yang menantangnya tanpa
terkecuali.
Xia
Yue menuju ke laki-laki yang dirasanya sebagai yang terkuat diantara yang lain.
Laki-laki itu masih sadar meskipun terluka cukup parah. Dia berjongkok di
hadapan laki-laki itu yang tengah terkapar di atas tanah dengan luka tebas di
dadanya. Darahnya membasahi tanah tempatnya berbaring. “nandeshou!!” matanya
berwarna merah.
Xia
Yue tersenyum kemudian berkata “Wakarimashita! Jissai ni, anata ni watashi no
gengo o wakarimasu ka?” dengan kata-kata yang formal. Meskipun demikian, Xia
Yue juga mengerti sedikit dialek tidak formal. Orang jepang itu pun terbelalak.
Dengan ketidak mampuannya untuk mengendalikan dirinya, dia tetap memiliki niat
yang besar untuk membunuh Xia Yue “kamu!!!”
“Bangunlah.
Aku tahu kamu mampu” bisik Xia Yue di telinga orang jepang itu “aku menunggu
kedatanganmu” lanjut Xia Yue untuk memprovokasinya. Dia ingin mengetahui lebih,
bukan hanya sekedar tahu kalau orang Jepang telah masuk ke Xia dengan bantuan
orang dalam. Dia ingin tahu, kekuatan siapa yang mampu membungkan kenyataan
dari Kaisar.
“Apa
yang kamu mau” kata orang Jepang itu dengan mulut penuh darah.
“Temani
aku bermain lebih dari ini” kata Xia Yue kemudian berdiri. Dia tidak ingin
berkata lebih dari itu. setelah dia berdiri, dia juga menendang jauh-jauh
pedang yang berada di dekat tangan orang Jepang itu. Bunyi benturan pedang pada
dinding menandakan keberadaan pedang itu.
“Jangan
berlagak”orang Jepang itu tidak bisa menerima kekalahannya.
Xia
Yue tidak menanggapinya. Dia berlalu begitu saja menuju pemilik kios mie yang
bersembunyi di kios bunga yang berada tidak jauh dari sana. Ketika dia
melangkah, sorakan dari para warga bersahutan. Mereka kagum, mereka senang,
mereka merasakan kemenangan meskipun bukan dari tangannya para kelompok pemalak
itu di kalahkan dan dipermalukan.
“Horeee!!!!”
Sekelompok
gadis berlari dan mengerumuni Xia Yue. “Tuan Muda~ anda tidak apa-apa? Apakah ada
yang terluka” kata-kata mereka hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Namun
Xia Yue tidak menanggapi satupun dari mereka dan terus berlalu menuju pemilik
kios mie. Ketika berada di hadapan pemilik kios itu dia berkata “Nyonya, mari”
Pemilik
kios itu tiba-tiba saja memeluk Xia Yue dengan erat sembari berkata “Tuan Muda,
syukurlah kamu tidak apa-apa”air matanya pun jatuh membasahi pipinya yang
sedikit keriput dimakan usia.
__ADS_1
“Tuan,
ibu mencemaskan anda. Begitu juga saya” anak dari pemilik kios menggenggam erat
tangan Xia Yue.
Mendapat
perlakuan hangat itu, Xia Yue tersenyum hangat. Kehangatan itu mengingatkannya
pada kenangannya bersama Ibundanya dan juga mengingatkannya pada Jin Xia. Benar
Jin Xia. Setelah kematian Ibundanya, Jin Xia lah perempuan kedua yang mungkin
akan datang padanya untuk mengomel padanya dan mengatakan kalau dia khawatir.
Suara
berisik Jin Xia yang akan berbicara sepanjang waktu jika dia ingin,
menghancurkan ketenangan dan kesunyian hari-harinya. Tangan mungil Jin Xia juga
lah yang meraihnya dan menuntunya untuk pergi dari kegelapan yang sunyi.
“Jin
Xia” panggil Xia Yue lirih ketika teringat pada Jin Xia. “aku tidak apa-apa. Mari
kita lanjutkan menuju tabib” Xia Yue melepaskan pelukan pemilik kios. Ketika itu,
dia mendapati air mata pemilik kios jatuh karenannya. Sekali lagi, Xia Yue
merasa tersentuh karenanya kemudian menghapus air mata itu sembari berkata “Terima
kasih telah menangis dan mengkhawatirkan ku”
Pemilik
kios terkejut mendengar kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut seorang
pemuda tampan dengan segala kemampuannya yang luar biasa itu. Dia ingin
bertanya namun tidak sampai hati kalau harus membuka luka pemuda yang telah
membelanya mati-matian. Dari kata-kata itu, pemilik kios menebak kalau pemuda
itu kehilangan keluarganya dan melihat dari bagaimana pemuda itu
pemilik kios itu hanya meraih wajah Xia Yue sembari berkata “Selalu ada tempat
dimana mereka akan merasa khawatir dan dikhawatirkan. Tempat itu adalah tempat
dimana cinta berada. Ketika kamu mengetahui tempat itu ada padamu, tersenyumlah.”
Xia
Yue mengangguk pelan di tengah rasa harunya.
“Anak
malang” komentar warga yang melihat adegan mengharukan yang dipertunjukan di
hadapan mereka. Para gadis itu berteriak dari tempatnya “Tuan Muda, lihatlah
aku. Aku pasti akan melayanimu dan membuatmu nyaman dan bahagia”
Xia
Yue mengacuhkan. Dia kemudian meraih tangan pemilik kios, membawanya menuju
tempat yang di janjikannya “Mari”
Pemilik
kios tersenyum sebagai jawaban persetujuannya. Dia kemudian meraih tangan anak
perempuannya. Menggenggamnya erat.
Mereka
pun bersama-sama pergi menuju pondok milik tabib yang merawat Jin Xia.
Sementara
itu, tabib telah selesai memasak obatnya untuk di Jin Xia. Dia pun
membawakannya untuk Jin Xia yang tengah duduk di ranjang dengan ditemani dua
orang perempuan di sekitarnya.
“Nona,
__ADS_1
ini obatmu. Habiskanlah. Setelah ini, kamu masih harus meminumnya lagi nanti
malam dan besok pagi untuk mempercepat pengeringan lukamu” jelas tabib itu
sembari menaruh sebuah mangkuk berisi obat cair di meja dekat Jin Xia berada.
“Terima
kasih banyak, tabib”
“Sudah
menjadi tugasku” jawab tabib itu dengan formal. Tabib itu lalu duduk di ranjang
yang sama dengan Jin Xia kemudian meraih tangannya untuk memeriksa nadi dan
memperkirakan keadaannya. Tabib itu mengangguk-angguk.
“Bagaimana?”
tanya Jin Xia penasaran.
“Tidak
masalah. Istirahatlah selagi kamu menjadi pasien.” Kata tabib itu dengan sebuah
senyum terpajang jelas disana. “aku tahu, hidupmu pasti sulit dan melelahkan”
Jin
Xia terkejut namun dia merasa kalau tabib itu memahaminya “Tabib, anda yang terbaik” tabib itu kembali tersenyu
kemudian berkata “Sudahlah. Aku akan memasak untuk kalian. Tunggulah sedikit
agak lama”
“Tabib,
biarkan aku saja yang memasak makanan untuk anda dan semuanya.” Tawar Xiao Bai yang merasa sungkan dan enggan untuk
merepotkan. Meskipun akhirnnya nanti mereka akan membayar tagihan yang
ditunjukan, namun tetap saja dia tidak ingin merepotkan.
“Baiklah,
terserah saja. Bahannya ada di belakang. Kalau kalian kurang dengan itu, kalian
bisa mengambil ikan di sungai”
“Baik”
sahut Xiao Bai.
“Aku
akan membantumu” kata Jin Xia setelah meneguk obatnya yang terasa amat sangat
pahit hingga membuatnya hampir memuntahkannya kembali. Namun dia tidak
melakukannya karena menghormati tabib itu beserta Xiao Bai.
“Kamu
kan masih pasien” tolak Xiao Bai.
“Lalu,
haruskah aku duduk di sini seperti ini seharian tanpa melakukan apapun? Oh yan
benar saja” keluh Jin Xia. Dia tidak bisa membayangkan dirinya harus seperti
itu seharian.
“Baiklah
ayo. Tapi pelan saja. Jangan sampai lukamu terbuka sebelum kering” Xiao Bai
memastikan. Kata-katanya terdengar seperti seorang kakak yang menasehati
adiknya. Hal itu membuat Jin Xia tersenyum dan teringat dengan Yue Qi. “Baik,”
“Aku
tetap disini, kalian saja yang mencari ikan dan memasak” Xiao An enggan untuk
ikut campur dalam memasak. Awalnya Jin Xia merasa aneh dengan sikap yang
ditunjukan oleh Xiao An yang berbeda dengan saudaranya, namun akhirnya dia
mengabaikannya ketika Xiao Bai berjalan keluar dari pintu pondok dan berkata “Ayo
__ADS_1
Jin Xia”