Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 71 - "Tempat Cinta Berada"


__ADS_3

Setelah


beberapa saat berlalu, Xia Yue mampu menumbangkan semua yang menantangnya tanpa


terkecuali.


Xia


Yue menuju ke laki-laki yang dirasanya sebagai yang terkuat diantara yang lain.


Laki-laki itu masih sadar meskipun terluka cukup parah. Dia berjongkok di


hadapan laki-laki itu yang tengah terkapar di atas tanah dengan luka tebas di


dadanya. Darahnya membasahi tanah tempatnya berbaring. “nandeshou!!” matanya


berwarna merah.


Xia


Yue tersenyum kemudian berkata “Wakarimashita! Jissai ni, anata ni watashi no


gengo o wakarimasu ka?” dengan kata-kata yang formal. Meskipun demikian, Xia


Yue juga mengerti sedikit dialek tidak formal. Orang jepang itu pun terbelalak.


Dengan ketidak mampuannya untuk mengendalikan dirinya, dia tetap memiliki niat


yang besar untuk membunuh Xia Yue “kamu!!!”


“Bangunlah.


Aku tahu kamu mampu” bisik Xia Yue di telinga orang jepang itu “aku menunggu


kedatanganmu” lanjut Xia Yue untuk memprovokasinya. Dia ingin mengetahui lebih,


bukan hanya sekedar tahu kalau orang Jepang telah masuk ke Xia dengan bantuan


orang dalam. Dia ingin tahu, kekuatan siapa yang mampu membungkan kenyataan


dari Kaisar.


“Apa


yang kamu mau” kata orang Jepang itu dengan mulut penuh darah.


“Temani


aku bermain lebih dari ini” kata Xia Yue kemudian berdiri. Dia tidak ingin


berkata lebih dari itu. setelah dia berdiri, dia juga menendang jauh-jauh


pedang yang berada di dekat tangan orang Jepang itu. Bunyi benturan pedang pada


dinding menandakan keberadaan pedang itu.


“Jangan


berlagak”orang Jepang itu tidak bisa menerima kekalahannya.


Xia


Yue tidak menanggapinya. Dia berlalu begitu saja menuju pemilik kios mie yang


bersembunyi di kios bunga yang berada tidak jauh dari sana. Ketika dia


melangkah, sorakan dari para warga bersahutan. Mereka kagum, mereka senang,


mereka merasakan kemenangan meskipun bukan dari tangannya para kelompok pemalak


itu di kalahkan dan dipermalukan.


“Horeee!!!!”


Sekelompok


gadis berlari dan mengerumuni Xia Yue. “Tuan Muda~ anda tidak apa-apa? Apakah ada


yang terluka” kata-kata mereka hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Namun


Xia Yue tidak menanggapi satupun dari mereka dan terus berlalu menuju pemilik


kios mie. Ketika berada di hadapan pemilik kios itu dia berkata “Nyonya, mari”


Pemilik


kios itu tiba-tiba saja memeluk Xia Yue dengan erat sembari berkata “Tuan Muda,


syukurlah kamu tidak apa-apa”air matanya pun jatuh membasahi pipinya yang


sedikit keriput dimakan usia.

__ADS_1


“Tuan,


ibu mencemaskan anda. Begitu juga saya” anak dari pemilik kios menggenggam erat


tangan Xia Yue.


Mendapat


perlakuan hangat itu, Xia Yue tersenyum hangat. Kehangatan itu mengingatkannya


pada kenangannya bersama Ibundanya dan juga mengingatkannya pada Jin Xia. Benar


Jin Xia. Setelah kematian Ibundanya, Jin Xia lah perempuan kedua yang mungkin


akan datang padanya untuk mengomel padanya dan mengatakan kalau dia khawatir.


Suara


berisik Jin Xia yang akan berbicara sepanjang waktu jika dia ingin,


menghancurkan ketenangan dan kesunyian hari-harinya. Tangan mungil Jin Xia juga


lah yang meraihnya dan menuntunya untuk pergi dari kegelapan yang sunyi.


“Jin


Xia” panggil Xia Yue lirih ketika teringat pada Jin Xia. “aku tidak apa-apa. Mari


kita lanjutkan menuju tabib” Xia Yue melepaskan pelukan pemilik kios. Ketika itu,


dia mendapati air mata pemilik kios jatuh karenannya. Sekali lagi, Xia Yue


merasa tersentuh karenanya kemudian menghapus air mata itu sembari berkata “Terima


kasih telah menangis dan mengkhawatirkan ku”


Pemilik


kios terkejut mendengar kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut seorang


pemuda tampan dengan segala kemampuannya yang luar biasa itu. Dia ingin


bertanya namun tidak sampai hati kalau harus membuka luka pemuda yang telah


membelanya mati-matian. Dari kata-kata itu, pemilik kios menebak kalau pemuda


itu kehilangan keluarganya dan melihat dari bagaimana pemuda itu


pemilik kios itu hanya meraih wajah Xia Yue sembari berkata “Selalu ada tempat


dimana mereka akan merasa khawatir dan dikhawatirkan. Tempat itu adalah tempat


dimana cinta berada. Ketika kamu mengetahui tempat itu ada padamu, tersenyumlah.”


Xia


Yue mengangguk pelan di tengah rasa harunya.


“Anak


malang” komentar warga yang melihat adegan mengharukan yang dipertunjukan di


hadapan mereka. Para gadis itu berteriak dari tempatnya “Tuan Muda, lihatlah


aku. Aku pasti akan melayanimu dan membuatmu nyaman dan bahagia”


Xia


Yue mengacuhkan. Dia kemudian meraih tangan pemilik kios, membawanya menuju


tempat yang di janjikannya “Mari”


Pemilik


kios tersenyum sebagai jawaban persetujuannya. Dia kemudian meraih tangan anak


perempuannya. Menggenggamnya erat.


Mereka


pun bersama-sama pergi menuju pondok milik tabib yang merawat Jin Xia.


Sementara


itu, tabib telah selesai memasak obatnya untuk di Jin Xia. Dia pun


membawakannya untuk Jin Xia yang tengah duduk di ranjang dengan ditemani dua


orang perempuan di sekitarnya.


“Nona,

__ADS_1


ini obatmu. Habiskanlah. Setelah ini, kamu masih harus meminumnya lagi nanti


malam dan besok pagi untuk mempercepat pengeringan lukamu” jelas tabib itu


sembari menaruh sebuah mangkuk berisi obat cair di meja dekat Jin Xia berada.


“Terima


kasih banyak, tabib”


“Sudah


menjadi tugasku” jawab tabib itu dengan formal. Tabib itu lalu duduk di ranjang


yang sama dengan Jin Xia kemudian meraih tangannya untuk memeriksa nadi dan


memperkirakan keadaannya. Tabib itu mengangguk-angguk.


“Bagaimana?”


tanya Jin Xia penasaran.


“Tidak


masalah. Istirahatlah selagi kamu menjadi pasien.” Kata tabib itu dengan sebuah


senyum terpajang jelas disana. “aku tahu, hidupmu pasti sulit dan melelahkan”


Jin


Xia terkejut namun dia merasa kalau tabib itu memahaminya “Tabib, anda  yang terbaik” tabib itu kembali tersenyu


kemudian berkata “Sudahlah. Aku akan memasak untuk kalian. Tunggulah sedikit


agak lama”


“Tabib,


biarkan aku saja yang memasak makanan untuk anda dan semuanya.” Tawar  Xiao Bai yang merasa sungkan dan enggan untuk


merepotkan. Meskipun akhirnnya nanti mereka akan membayar tagihan yang


ditunjukan, namun tetap saja dia tidak ingin merepotkan.


“Baiklah,


terserah saja. Bahannya ada di belakang. Kalau kalian kurang dengan itu, kalian


bisa mengambil ikan di sungai”


“Baik”


sahut Xiao Bai.


“Aku


akan membantumu” kata Jin Xia setelah meneguk obatnya yang terasa amat sangat


pahit hingga membuatnya hampir memuntahkannya kembali. Namun dia tidak


melakukannya karena menghormati tabib itu beserta Xiao Bai.


“Kamu


kan masih pasien” tolak Xiao Bai.


“Lalu,


haruskah aku duduk di sini seperti ini seharian tanpa melakukan apapun? Oh yan


benar saja” keluh Jin Xia. Dia tidak bisa membayangkan dirinya harus seperti


itu seharian.


“Baiklah


ayo. Tapi pelan saja. Jangan sampai lukamu terbuka sebelum kering” Xiao Bai


memastikan. Kata-katanya terdengar seperti seorang kakak yang menasehati


adiknya. Hal itu membuat Jin Xia tersenyum dan teringat dengan Yue Qi. “Baik,”


“Aku


tetap disini, kalian saja yang mencari ikan dan memasak” Xiao An enggan untuk


ikut campur dalam memasak. Awalnya Jin Xia merasa aneh dengan sikap yang


ditunjukan oleh Xiao An yang berbeda dengan saudaranya, namun akhirnya dia


mengabaikannya ketika Xiao Bai berjalan keluar dari pintu pondok dan berkata “Ayo

__ADS_1


Jin Xia”


__ADS_2