Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Keluarga Ku


__ADS_3

Hiks hiks Sarah menangis di kamarnya sambil memegang perutnya.


Mendengar tangis si bungsu, Dinda buru-buru menghampirinya.


"Adek, adek kenapa nangis" tanya Dinda.


"Sarah lapar Kak, dari pagi cuman makan bubur dikit, terus siang makan mie instan terus, sampai sekarang mas Irgi belum pulang, perut Sarah sudah sakit sudah perih."


Dinda memeluk Sarah sambil merasakan telapak tangan Sarah memang terasa dingin.


Beberapa hari ini memang mereka keadaan ekonomi mereka sedang memburuk.


Mereka hanya makan nasi dengan garam.


Sudah ya kita tunggu sebentar lagi Mas Irgi pasti datang


Tiba-tiba Sarah dan Dinda mendengar suara deru mobil di depan rumah mereka.


"Suara mobil siapa tuh Mbak?" tanya Sarah di sela-sela tangisannya.


Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki menghampiri teras rumah itu.


"Sarah! Dinda! mas Irgi pulang!"


Sarah Dinda terdengar suara Irgi yang memanggil kedua adiknya.


"Mas Irgi sudah datang, tapi kok nggak kedengaran bunyi motornya ya?" tanya Sarah.


Dengan segera mereka keluar dari kamar menemui Irgi


Kedatangan Irgi memang selalu ditunggu oleh mereka berdua, mereka selalu berharap ada rezeki yang dibawa oleh Kakak sulung mereka itu.


Dinda dan Sarah kaget melihat Irgi yang membawa sebuah kantong yang berisi nasi bungkus.


"Kalian sudah makan?" tanya Irgi


"Belum Mas."


"Mas Irgi bawain kalian makanan, kita makan bersama."


"Asik !"Sarah langsung menghampiri Irgi.


"Untung Mas Irgi cepat datang kalau nggak bisa pingsan Sarah karena kelaparan," cetus Sarah dengan begitu senang.


"Yaelah sampai pingsan," dengus Dinda.


Dinda mengambil 3 piring sendok dan membawanya ke ruang tamu.


Bola mata Sarah berbinar ketika dia membuka bungkusan nasi yang berisi lauk-lauk kesukaannya dan jarang ia makan.


"Wah enak sekali! Mas Irgi sudah gajian ya?" tanya Sarah sambil menyendok nasi ke mulutnya.


Dinda melihat ke arah luar rumah.


"Loh motor Mas Irgi ke mana, itu mobil siapa?"


Motor tertinggal di kantor, itu mobil Mas.


"Mobil Mas?!" tanya mereka berdua secara serempak.


"Iya mobil Mas, Mas dibelikan sama daddyya Kak Nessa. Ternyata daddynya kak Nessa itu orang baik. Baru satu hari bekerja saja, Mas sudah digaji sebanyak ini," ucap Irgi sambil merogoh saku celananya yang berisi segepok uang pecahan rp100.000.


"Hah banyak sekali uangnya, Mas tanya?!" tanya Dinda dengan kaget.


"Iya separuhnya untuk kebutuhan kita, separuhnya untuk kita bayar hutang," ucap Irgi.


"Alhamdulillah mas, tapi kalau kita makan enak, gini jadi ingat ibu deh."


"Di sana ibu juga sudah makan enak kok, setiap hari kita harus kirim doa Untuk ibu, biar ibu juga ke bagian rezeki seperti kita," ucap Irgi.


"Iya kok setiap hari aku berdoa untuk ibu."


"Begitu dong," cetus Irgi.


Sarah makan-makan itu dengan sampai nafasnya terengah-engah.


"Sarah pelan-pelan makannya, nanti tersedak!" seru Dinda.

__ADS_1


"Iya dek, makanya pelan-pelan saja besok Mas beliin lagi makanan yang enak untuk kamu ya."


"Hehehe Yang bener ya Mas."


"Bener dong, Mas kan sudah janji kalau mas punya uang Mas akan beli makanan yang enak untuk kalian."


"Iya mas terima kasih."


"Kalau gini aku jadi nggak mau deh Mas Irgi cepat-cepat nikah," cetus Sarah.


"Hehe emangnya kenapa?" tanya Irgi sambil tertawa kecil.


"Nanti kalau Mas Irgi nikah kami tinggal berdua."


"Enggak lah, Mas Irgi belum mau menikah kok, lagian kalau Mas Irgi menikah Mas Irgi mau cari istri yang mau menerima adik-adik Mas Irgi. Nggak mungkin Mas Irgi meninggalkan kalian berdua kalian itu amanah untuk Mas Irgi yang harus Mas Irgi jaga."


"Iya mas kita berdua sayang sama Mas Irgi," ucap Sarah.


"Iya adikku sayang," ucap Irgi sambil mengusap kepala Sarah.


Tiga saudara itu pun menikmati makanan mereka.


***


Nathan berada di dalam kamarnya sambil melihat potret-potret dirinya dan keluarganya.


Nathan sudah mendengar, jika Leon dan Yura akan membawa putra mereka untuk tinggal di rumah ini.


Nathan merasa sedih, meskipun dirinya tetap tinggal di rumah itu, Namun ada rasa berbeda di hatinya.


Nathan jadi tak enak hati pada kedua orang tua dan saudaranya.


Ia jadi sadar, jika dirinya selama ini terlalu banyak menyusahkan dan merepotkan kedua orang tua dan saudara-saudaranya.


Bulir bening menetes di pipi Nathan. Ketika melihat foto-foto ia dan keluarganya.


Foto ketika ia masih bayi bersama Nessa serta foto di setiap momen ulang tahunnya. Semua terasa indah dan keluarganya selalu memberikan kenangan yang manis untuk dirinya.


Air mata Nathan semakin deras mengalir ia mengamati fotonya sendiri dan membandingkannya dengan foto anggota keluarganya yang lain.


"Dari dulu aku memang heran, kenapa wajahku tak ada mirip dengan mereka.


"Hiks hiks ternyata memang benar, jika aku bukan putra kandung mereka."


Nathan kembali bersedih seolah masih belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.


"Apa yang harus kulakukan, jika mereka menemukan anak mereka mereka pasti akan melupakan kasih sayang mereka padaku," ucapnya sambil menangis dengan tubuh yang terguncang. Nathan Jadi kurang percaya diri dan tertekan.


Nathan menatap undangan pernikahan ia dan Raisa.


Sekali lagi ia menghapus air matanya, Nathan semakin merasa bersalah pada Yura, karena sebelumnya ia meminta pernikahan yang mewah pada kedua orang tuanya dan saat itu ia baru menyadari jika ia telah membebani orang tuanya.


Sekarang saja Yura sedang sibuk mengurus pernikahannya.


Klep ...terdengar pintu dibuka oleh seseorang.


Yura datang menghampiri Nathan.


"Calon pengantin mommy, lagi ngapain nih?"tanyanya sambil memeluk mantan dari belakang.


Nathan semakin tertunduk dengan air mata yang menetes hingga mengenai tangan Yura.


"Nathan kamu menangis?" tanya Yura sambil menatap wajah Nathan.


Nathan hanya diam sambil menghapus air matanya.


"Sudah mau pengantin kok masih menangis, harusnya anak mommy yang ganteng ini, berbahagia karena sebentar lagi kamu akan menikah. Mommy berharap kamu segera bisa memberi kami cucu yang banyak Rasanya mommy sudah tak sabar ingin menggendong cucu"ucap Yura.


Mendengar hal itu Nathan semakin jadi menangis.


Yura semakin erat memeluk mantan.


"Nathan sebenarnya kamu kenapa sedih Nak?" tanya Yura.


"Mommy, Terima kasih karena telah merawatku selama ini, meskipun aku ini bukan anak mommy dan daddy, hiks hiks."


" Aku sudah berhutang Budi pada mommy dan Daddy dan tentu saja sampai kapanpun aku tak bisa membalasnya.Hiks hiks."

__ADS_1


"Bahkan sampai saat ini aku belum bisa menjadi anak yang berbakti untuk mommy dan Daddy, aku selalu menyusahkan kalian sejak masih kecil, Hiks hiks Sampai saat ini pun aku masih menyusahkan kalian."


"Dan aku tak tahu bagaimana cara membayar semua kebaikan yang telah mommy dan Daddy berikan padaku."


Yura tersenyum sambil mengusap kepala Nathan.


"Nathan mommy nggak pernah minta kamu membalas semua yang kami berikan untuk kamu. Jika memang takdir mengatakan kamu bukan anak kandung mommy, itu takkan merubah kasih sayang kami terhadap kamu Nak."


"Sampai kapanpun kamu akan jadi putra mommy, sampai kapanpun kamu akan tetap tinggal di rumah ini, sebagai putra kami dan sebagai saudara dari Nessa dan kakak mu Sheon."


"Jika saudaramu itu sudah ditemukan, kamu akan tetap tinggal di sini bersama kami, begitupun dirinya."


" Percayalah Nak, tak ada sedikitpun niat di hati mami untuk membandingkan kamu dan dia. Kamu anak mommy dia juga anak mommy. Kamu juga akan dapat bagian dari apa yang kami miliki. Jadi jangan pernah berpikir jika kami akan pilih kasih."


"Aku percaya Mommy dan Daddy tak akan pilih kasih, hanya saja aku merasa sadar diri, dia lebih berhak mendapatkannya.


"Iya Nathan tapi kamu harus tahu, kasih sayang orang tua itu nggak akan pernah habis meski dibagi dengan 100 anaknya."


"Jadi kamu jangan pernah membandingkan diri kamu lagi, kamu tetap anak mommy dan Daddy sampai kapanpun."


Mantan menghapus air matanya.


"Ayo sayang kita makan malam. Mommy gak bisa makan tanpa kehadiran kamu," ucap Yura.


Nathan mencebikkan bibirnya.


Ia pun memeluk Yura. Siapa yang tak sedih jika mengetahui dirinya bukanlah darah daging dari kedua orang tua yang begitu menyayangi dan begitu ia sayangi.


Nathan kembali menangis dalam pelukan Yura, seperti saat anak ia kecil yang menangis dalam pelukan mommy nya.


Sampai saat ini pelukan Yura adalah tempat yang paling nyaman untuk ia berkeluh kesah.


"Sudah Sayang Ayo kita makan. bentar lagi kamu akan jadi calon suami jadi nggak boleh cengeng ya."


Yura melepaskan pelukannya kemudian mengusap air mata Nathan.


Yura keluar dari kamar dengan menggandeng tangan Nathan menuju meja makan.


kehadirannya sudah ditunggu oleh anggota keluarga yang lain. bahkan mereka menunda makan malam hanya untuk menunggu Nathan.


Nathan tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. hingga saat ini tak ada perubahan sedikitpun yang terjadi di anggota keluarganya.


Nessa masih sering mengomelinya, kak Sheon masih sering mengajak Rambutnya sambil memiting lehernya ketika mereka bercanda. Yura masih bertutur kata lembut terhadapnya. Begitupun dengan Leon yang selalu menasehatinya dengan kata-kata bijak.


Dan benar, mereka semua tak ada yang berubah terhadap dirinya. itu yang membuat Nathan semakin terharu dan semakin takut kehilangan anggota keluarganya.


"Apa yang aku takuti? jika nyatanya mereka tetap sama seperti dulu mereka tetap keluargaku dan akan selalu jadi keluargaku," batin Nathan.


***


Setelah berhari-hari menanti waktu akhirnya hasil perbandingan DNA Leon dan Irgi keluar.


Leon berada di laboratorium dengan amplop di tangannya, ia sengaja tak membuka hasil tes tersebut seorang diri . Leon sudah ditunggu keluarganya di rumah.


Leon datang menghampiri keluarganya.


Semua anggota keluarga hadir di sana ternyata calon menantu dan keluarga mereka.


Melihat kedatangan Leon yang membawa amplop Yura segera berdiri dan menghampirinya.


"Bagaimana Daddy, hasil tesnya?" tanya Yura harap harap cemas.


Pertanyaan Yura seakan mewakili pertanyaan semua orang yang hadir di ruangan itu


Nathan sedari tadi menundukkan kepala, terlihat sekali kesedihan di wajahnya.


Daddy belum melihat, Daddy ingin lihat bersama kalian semua…


Kemudian Leon membuka amplop tersebut dan melihat profil perbandingan DNA antara dirinya dan Irgi.


Bola mata Leon seketika berkaca-kaca Ia pun memberi hasil tes tersebut kepada Yura.


Ekspresi Yura melebihi Leon ia langsung menangis.


"Daddy kita jemput putra kita sekarang! hiks hiks hiks."


bersambung dulu ya gengs sambil nunggu outhor up boleh mampir ke cerita other yang lainnya. terima kasih

__ADS_1



__ADS_2