Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Dua Cinta


__ADS_3

Sheon duduk di samping Shasa tertidur.


Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, karena lelah Sheon meletakkan kepalanya di atas tempat tidur Shasa.


Shasa menggerakkan lututnya karena merasa sakit. tak sengaja ia menyenggol kepala Sheon. seketika ia tersadar.


Keduanya pun saling memandang.


"Sheon, kok tidur di sini? nanti tubuh kamu sakit. "


"Iya aku sengaja tidur di sampingmu agar kau mudah membangunkanku jika kau butuh sesuatu."


"Oh terima kasih, maaf telah merepotkanmu."


"Tak apa, tenang saja," jawab Sheon sambil tersenyum.


keduanya saling menatap untuk beberapa saat.


Aku beruntung sekali memiliki teman Sebaik dia. batin Shasa.


Sheon tersenyum.


''Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Sheon.


"Tidak, di dunia ini ternyata masih ada orang baik seperti mu," ucap Shasa dengan bola mata yang berembun.


Kedua netra itu kembali saling menatap, hingga menimbulkan getaran yang aneh pada mereka.


"Sudahlah, kau tidur saja istirahat." Sheon menarik selimut Shasa hingga menutupi bagian leher.


"Selamat malam Shasa."


"Selamat malam Sheon."


Setelah saling melempar senyum beberapa saat, keduanya pun memutuskan untuk kembali tidur dan beristirahat.


Keesokan harinya, Shasa mulai fit suhu tubuhnya sudah kembali normal.


ketika terbangun Shasa melihat Sheon yang sudah bersiap.


"Sha, kau tidak apa-apa aku tinggal sebentar?" tanya Sheon.


"Tidak apa-apa, aku tahu, kamu pasti sibuk. lagi pula aku sudah tak demam lagi."


Sheon menempelkan telapak tangannya di kening Shasa.


Deg deg jantung Shasa berdetak kencang ketika mendapatkan sentuhan itu.


"Kau sudah tidak demam lagi."


"Iya, aku kembali beraktivitas seperti biasanya."


"Baiklah, nanti makan siang akan ku kirim makanan untuk kalian berdua," ucap Sheon.


Hm.


***


Selama dua hari dirawat keadaan bu Diah sudah semakin baik, begitupun dengan Shasa.


Setiap harinya Leon menyempatkan menjenguk Shasa dan ibunya.


Mereka pun semakin dekat.


"Bagaimana Sha, sudah siap, jika sudah siap aku antar kalian pulang."


Sheon mengantar mereka pulang.


***


Beberapa hari berlalu, keadaan Shasa dan bu Diah mulai membaik.


Shasa kembali bekerja seperti biasanya.


Karena kakinya masih sedikit sakit, pekerjaan Shasa tak maksimal dan membutuh waktu yang lama untuk menyelesaikan pekerjaanya.


"Sudah jam segini, lantai belum selesai di pel."


Erik yang terlanjur sentimen terhadap Shasa, langsung menghampirinya.


" Jam segini kau belum selesai membersihkan lantai, bagaimana jika ada tamu penting datang?! "tanya Erik.


Shasa menundukkan wajahnya.


"Benar-benar si Irwan pegawai yang tidak becus seperti dia masih disuruh bekerja."


Erik menghampiri ruangan HRD kembali.


"Irwan, ternyata kau tidak memencat itu OB itu!"


"Maaf Pak, kita tidak bisa sembarangan mencet orang lain lagi, pula dia masih dalam masa training."


"Sudahlah, sudah beberapa kali dia melakukan kesalahan Bagaimana kalau karena kesalahannya itu membuat celaka karyawan yang lain."


"Jika kau tidak memecatnya biar aku yang mau memecatnya."


Erik berjalan keluar menghampiri Shasa.


mendengar suara langkah kaki Erik Shasa menoleh ke arahnya.


"Ada apa ya Pak?" tanya Shasa.

__ADS_1


"Bereskan barang-barangmu, sekarang juga, aku mau memecat mu!"


"Tapi Pak salah saya apa?"


"Aku adalah orang yang perfeksionis jika karyawan melakukan kesalahan berulang kali ,aku tak akan membiarkannya bekerja bersamaku."


Sheon yang baru tiba langsung menghampiri mereka.


"Ada apa ini ?" tanya Sheon.


"Oh maaf tuan gadis ini telah melakukan kesalahan berulang kali dan si Irwan masih saja membiarkan dia bekerja di sini."


Sheon menatap ke arah Shasa yang tertunduk.


"Shasa, mulai saat ini kau jangan lagi bekerja sebagai OB," ucap Sheon menggantung.


Pak Erik langsung menyunggingkan senyum kepuasannya.


Shasa semakin menundukkan wajahnya karena malu.


"Kau jadi sekretarisku saja," ucap Sheon.


Sontak saja penuturan Sheon itu membuat kaget Pak Erik dan Shasa.


"Apa Tuan, sekretaris? Apa anda tidak salah ? seorang OB mana bisa diangkat jadi sekretaris."


"Bisa, biarkan saja ia menjadi sekretarisku, Ayo ikut ke ruanganku sekarang."


Shasa mengikutinya ke mana Sheon pergi. Sementara pak Erik hanya, melongo.


Shasa dan Sheon naik lift bersama.


" Sheon eh Tuan, apa ...,"


"Jangan panggil aku tuan, Sha."


"Kenapa? aku jadi gak enak, seperti tidak menghormatimu."


"Panggil saja Sheon, Kita kan teman."


"Iya terserah kau, saja tapi kenapa kau mau mengangkatku jadi sekretaris mu."


"Karena aku butuh sekretaris."


"Aku rasa, itu hanya alasanmu kau ingin membantuku kan?"tanya Shasa.


"Kalau iya, kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya terima kasih,"ucap Shasa sambil tersenyum.


"Ku pikir kau akan menolaknya, sama seperti yang lain yang pura-pura menolak tapi butuh."


"Tenang saja aku tak seperti itu," ucap Shasa sambil meninju lengan Sheon.


Sesampainya di ruangannya Sheon mengajari Shasa beberapa hal.


"Sudah tahu kan tugasmu?" tanya Sheon sambil menutup laptopnya.


"Sudah tuan muda "


"Baiklah, kalau begitu ikut aku makan siang."


"Oke siapa takut."


Shasa dan Sheon keluar dari ruangan tersebut. Mereka berdua sontak jadi pusat perhatian. Karena seorang OB bisa begitu dekat dengan CEO mereka.


"Kamu mau makan di mana Sha ?


"Terserah di mana saja."


"Yuk, ikut denganku."


Sheon membuka pintu mobilnya untuk Shasa.


"Terima kasih," ucap Shasa dengan perasaan bahagia karena mendapatkan perlakuan khusus dari Sheon.


Sheon masuk ke dalam mobilnya. Mobil tersebut pun perlahan meninggalkan kantor.


Shasa melirik ke arah Sheon, yang ternyata juga melirik ke arahnya.


Karena saling lirik-lirikan mereka pun tersenyum.


Mungkin karena tak ada pembicaraan yang bisa mereka bahas.


Sheon, dia melirik ku seperti itu, apa dia punya perasaan yang sama ya terhadap ku? batin Shasa. Shasa menundukkan kepalanya dengan perasaan harap-harap cemas.


***


Hari ke hari mereka semakin dekat. Dan seperti saat masih kecil, Sheon selalu merasa nyaman ketika bersama Shasa.


Selain parasnya yang cantik, Shasa juga polos dan apa adanya. Sebuah rasa mulai tumbuh di hati Sheon.


Namun ia kembali teringat dengan rencana perjodohan kedua orang tuanya.


Sheon juga tak mungkin menolak perjodohan itu, ia takut akan melukai dua wanita yang ia kasihi yaitu mommy-nya dan Onty-nya.


***


Raisa sudah selesai ujian. Dan waktunya kini ia bersantai.


Raisa berdiri di depan cermin, malam ini rencananya ia dan Nathan berjanjian untuk kencan. setelah mereka hampir seminggu mereka tidak bertemu.

__ADS_1


tit.. tit ...suara klakson motor Nathan terdengar dari arah luar.


Raisa berlari menuju balkonnya.


"Nathan, sebentar ya!"


"Oke Sayang!" Seru Nathan .


Setelah siap, Raisa langsung menghampiri Nathan.


"Kita kemana Than?"


"Ikut aku turnamen balap. Kalau ada kamu, aku pasti menang."


"Mass' sih ?"


Raisa memeluk Nathan dari arah belakang.


Mereka pun melaju menuju sirkuit balap. Sesampainya di sana Nathan


langsung menghampiri teman-temannya.


"Hay Than. siapa tuh, cewek lu ya?" tanya salah satu peserta balap yang juga teman Nathan .


"Ya dong, cewek gua."


"Kenalin dong." Rafli menyodorkan tangannya ke arah Raisa.


"Ah gak boleh lah. Cewek gua gak boleh di sentuh."


"Yaela, norak banget sih lu, orang cuma kenalan saja."


"Biarin. dah ah gua cabut!"


Nathan menuntun Raisa ke tempat duduk penonton. "Kamu duduk di sini ya Sayang, dari sini kelihatan kok, aku mau prepare."


"Jangan kemana-mana ya," imbuhnya lagi.


"Siska, Dinda, jagain sayang, gua ya!" seru Nathan pada dua orang gadis di sampingnya.


"Oke Than, tapi gak gratis ya!"


"Tenang, besok gua traktir lu semua!"


"Oke!" Dinda dan Siska mengacungkan jempol.


"Sayang, aku pergi dulu ya."


"Iya sudah sana pergi, hati-hati ya."


Nathan tersenyum, ia masih tak beranjak dari tempat berdirinya.


"Hehe, aku pergi dulu ya Sayang."


"Iya sudah sana pergi! hati-hati."


"Ya kok cuma nyuruh pergi sih. kasih semangat dong!"


"Semangat ya, Sayang, semoga menang!'' Raisa mengangkat sikunya.


"Ehm bukan itu Sayang," cetus Nathan .


"Lalu apa ?" tanya Raisa tak mengerti.


Nathan menunjuk pipinya.


"Oh, itu rupanya." Raisa


"Ih Sayang, gak ngerti-ngerti deh."


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Nathan .


"Semangat ya Sayang," ucap Raisa setelah mendaratkan kecupan pada pipi Nathan.


"Kok cuma yang kanan, nanti yang pipi kiri bisa iri loh, sebelah lagi." Nathan menyodorkan pipi kirinya.


Raisa tersenyum sambil mendaratkan kecupan di pipi Nathan .


Cup


"Oke sudah balance, jadi makin semangat!"ucap Nathan


"Aku pergi dulu ya!" Nathan meraih tangan Raisa kemudian mencium punggung tangannya.


"Hati-hati ya, Sayang!"Raisa melambaikan tangannya.


Nathan dan peserta yang lain mulai bersiap di garis start.


Dor tembakan ke arah angkasa pertanda balapan di mulai.


Semua suporter bersorak menyebut nama pembalap idola mereka, begitupun Raisa.


"Ayo Nathan semangat!" teriak Raisa.


Brum...


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya.


Ada rekomendasi karya keren nih cus mampir ya .

__ADS_1




__ADS_2