
"Apa saja yang penting putraku selamat," ucap Leon sambil memeluk Yura yang terlihat begitu syok.
"Daddy apa yang terjadi sebenarnya Daddy, kenapa golongan darah Nathan berbeda dengan kita hiks,"tanya Yura sambil menangis.
"Tenang dulu mommy, Jangan berpikir negatif yang penting kita selamatkan dulu Nathan."
Selain mendengar berita kecelakaan Nathan, Yura semakin syok dibuat dengan hasil tes darah Nathan yang berbeda dengan mereka dan dua anaknya.
Raisa menghampiri Yura dan Leon. Ia terlihat begitu sedih, harusnya ia bisa mengurungkan niat Nathan untuk ikut balapan itu.
"Bagaimana jika Nathan bukan darah daging kita?" tanya Yura.
Mendengar itu Raisa langsung menoleh ke arah Yura dan Leon.
"Nathan bukan anak Onty dan Uncle?"gumam Raisa.
Raisa tak berani bertanya lebih jauh lagi, hanya saja Raisa menyimak baik-baik keluhan yang keluar dari mulut Yura.
"Semoga ini adalah keajaiban ,Mommy kita lakukan tes DNA saja agar lebih diperjelas."
Sheon dan Nessa buru-buru menghampiri Yura dan Leon.
"Mommy ,daddy , Bagaimana keadaan Nathan?"tanya Nessa yang sudah berurai air mata.
"Nathan harus dioperasi karena ada benturan di daerah kepalanya," ucap Leon.
"Astaga! Nathan, kamu itu benar-benar bandel sudah dibilang jangan ikut balapan," sesal Nessa.
"Sheon sini!" panggil Leon.
"Ada apa Deddy?" tanya Sheon.
Leon berbisik di telinga putra sulungnya itu.
"Apa, yang benar saja?!"tanya Sheon dengan syok.
"Kau tenangkan mommy dulu. Daddy, akan melakukan tes DNA untuk mengetahui kebenarannya," bisik Leon.
Yura terus meneteskan air matanya dengan tatapan kosong. Berita itu benar-benar membuatnya kaget setengah mati.
"Jika seandainya Nathan bukan putra ku lalu di mana putranya sekarang? Dan apa yang akan ku katakan pada Nathan, hiks."
Sheon menghampiri Yura kemudian memeluk mommynya itu.
Yura kembali menangis dalam pelukan Sheon.
"Tenang lah mommy," bujuk Sheon.
"Nathan, mommy khawatir padanya hiks."
" Iya mommy semoga Natha bisa selamat dalam operasinya ini, mommy tenang ya," ucap Sheon.
Mereka menunggu dengan harap harap cemas di ruang operasi.
__ADS_1
Leon juga sudah melakukan tes DNA perbandingan antara dirinya dan Nathan.
***
Dua jam operasi tersebut berlangsung, dua orang suster keluar dari ruangan operasi dengan membawa tempat tidur Nathan.
Yura buru-buru menghampiri kedua suster tersebut.
"Bagaimana dengan anak saya suster ?"tanya Yura.
"Operasinya sukses Nyonya, pasien akan langsung di pindahkan di ruang perawatan."
"Syukurlah, Nathan," ucap Yura sambil menggenggam tangan putranya itu.
***
Sudah berjam-jam mereka menunggu Nathan sadar. Yura terus saja berada di samping putra kesayangannya itu.
Nathan adalah anak yang ia dibesarkan sendiri. Jika Nessa lebih banyak diasuh oleh Leon, maka Nathan lebih banyak diasuh oleh Yura.
Yura begitu terpukul mendengar kecelakaan Nathan ditambah lagi dengan tes darah yang mengindikasikan jika Nathan bukanlah darah daging mereka.
Leon menghampiri istrinya yang terus saja menangis sambil menggenggam tangan Nathan.
Sudah berjam-jam Yura duduk di samping tempat tidur Nathan dan ia tak beranjak sedikitpun.
"Mommy, tenangkan diri mommy dulu ya, jangan dibawa perasaan dulu, yang penting Nathan sudah selamat," bujuk Leon.
"Tenang dulu, semua belum pasti, kita tunggu tes DNA ya."
"Kalau mommy sedih seperti ini terus, nanti Mommy bisa sakit."
Beberapa saat kemudian Nathan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya Ia juga mulai membuka matanya.
"Nathan,"panggil Yura lirih. Setitik bulir bening kembali menetes di pipinya.
"Mommy, maafkan aku," ucap Nathan ketika melihat mata Yura yang sembab.
"Maaf, kenapa Nak?" tanya Yura sambil meraba wajah Nathan.
"Maaf, karena telah membuat mommy sedih," ucap Nathan lirih.
Yura tersenyum sekilas tangannya masih menggenggam erat tangan Nathan.
"Iya, mommy sempat khawatir terhadap keadaan kamu, tapi sekarang mommy sudah bisa bernapas lega karena kamu sudah sadar," tutur Yura sambil meneteskan air matanya.
Anggota keluarga yang lain juga menghampirinya Nathan.
"Kamu ini ya,bikin kita semua khawatir saja," ucap Sheon.
"Haha ternyata kakak ikut khawatir juga?"tanya Nathan dengan maksud bercanda.
"Tentu saja, kami semua itu menyayangi kamu. Karena itulah mommy dan daddy tak pernah setuju jika kamu ikut balapan."
__ADS_1
"Iya maaf ya, karena telah membuat kalian khawatir," ucap Nathan.
Nathan merasa bersalah karena ia melihat wajah-wajah khawatir dari anggota keluarganya yang lain.
Apalagi mommy dan Daddynya yang terlihat begitu sedih.
Leon menghampiri Nathan kemudahan mencium kening Nathan dengan penuh perasaan.
"Bagaimana, apa kamu masih merasa sakit?" tanya Leon sambil mengusap kepala Nathan.
Bola mata Leon memerah, karena ia tak sanggup membayangkan jika hasil tes DNA menyatakan jika Nathan bukan putra kandung mereka.
Nathan meraih tangan Leon, kemudian mencium tangan kekar tersebut.
"Maafkan Nathan ya daddy, Nathan sudah membuat kalian semua khawatir," ucap Nathan sambil mencium cium punggung tangan Leon.
Leon langsung memeluk Nathan, mereka semua terbawa emosi, saat itu sedih, galau dan khawatir bercampur aduk di hati mereka. Namun mereka berupa untuk menyembunyikan kegelisahan hati mereka pada Nathan.
.
"Jangan lakukan lagi ya, Kamu tahukan kita semua menyayangi kamu," ucap Leon.
Tak terasa air mata Leon menetes ketika memeluk Nathan.
Nathan juga ikut menangis, karena seumur hidup ia belum pernah melihat Daddynya menangis, terkecuali saat Omanya meninggalkan dunia.
Leon semakin erat memeluk putranya, entah kenapa ia begitu sedih saat itu.
"Hiks hiks iya Daddy, aku janji gak akan lakukan hal itu lagi," ucap Nathan terbata-bata sambil menangis.
Nathan terharu melihat anggota keluarga yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.
***
Selama di rawat di rumah sakit, Mereka semua ikut tidur di rumah sakit, tak terkecuali Raisa dan Nessa.
Kehadiran keluarganya membuat Nathan semakin semangat untuk sembuh.
Bahkan Yura sudah tiga hari tak bekerja karena mengurus Nathan. Dia lah yang mengurus semua kebutuhan Nathan.
Bahkan ketika malam hari, Yura tidur bersama putranya itu.
***
Hari itu tiba juga,
Leon sudah berada di laboratorium di rumah sakit yang sama dimana Nathan di rawat. Dengan tangan gemetar Leon membuka amplop yang berisi hasil perbandingan DNA antara dirinya dan Nathan.
Bola mata Leon lebih melebar ketika melihat hasil tes tersebut.
"Hiks Nathan."
Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1