
Widya menatap dirinya di depan cermin, sejak kejadian dirinya ketahuan selingkuh, Widya tak pernah lagi bertemu dengan tuan Melky.
Padahal ia begitu merindukan sosok lelaki yang ia cintai tersebut.
Sering kali Widya menangis karena menahan kerinduan yang mendalam terhadap tuan Melky. Beberapa kali bahkan Widya sempat sakit. meski begitu tak ada yang perduli terhadapnya, Widya sendiri menjalani kehamilan tersebut terkurung di dalam haremnya selama berbulan-bulan.
Hanya cahaya dari jendela kamarnya yang membuat ia bisa merasakan hangatnya sinar matahari.
***
Sejak ketahuan suaminya memiliki skandal dengan Widya. Hilda semakin membatasi ruang gerak suaminya.
Hilda tak pernah lagi membiarkan sang suami pergi kemanapun tanpa dirinya. ia pun semakin memperketat pengawasan terhadap Widya.
Karena penyakit di deritanya pula, nyonya Widya mengalami gangguan kecemasan. Ia menderita penyakit OCD ( obsesif kompulsif disorder) berupa gangguan kecemasan yang membuat terlalu obsesi hingga mengakibatkan ia bertindak konflusif.Hilda tak segan menyakiti siapapun yang menurutnya ingin merebut suaminya.
***
Waktu terus berlalu, kini tiba bagi Widya untuk melahirkan.
Tuan Melky dan Hilda menanti Widya yang hendak melahirkan.
"Aduh ! aduh, mbak Nani ! Perutku terasa sakit sekali!"
"Iya Nyonya, sebentar lagi bidan datang kemari."
"Nyonya yang sabar ya," ucap Nani sang asisten.
"Aduh sakit ! Sakit sekali ! aku sudah tak tahan!" Keluh Widya.
Seluruh tubuhnya mengucurkan keringat dingin
"Nyonya Hilda, sepertinya Nyonya Widya hendak melahirkan, apa kita bawa saja ke rumah sakit ?!" tanya Nani.
"Tidak! Biarkan saja dia melahirkan di sini , Sebentar lagi bidan juga akan datang!"
"Mommy! Kasihan Widya, kita bawa ke rumah sakit saja," bujuk tuan Melky.
"Tidak daddy! Kalau di rumah sakit bakalan ketahuan nanti rahasia kita. "
"Tapi mommy, bagaimana jika terjadi komplikasi ketika Widya melahirkan?"
"Terserah, yang penting anak itu lahir kan ?!"
Mendengar hal itu Widya semakin sedih, ia terus menahan kesakitan yang ia rasakan.
Untung beberapa saat kemudian, seorang bidan datang untuk membantu persalinan Widya.
Tuan Melky menatap iba ke arah Widya yang mengerang kesakitan karena melahirkan buah hatinya.
Proses persalinan memakan waktu cukup lama hingga berjam-jam. Hilda juga juga harus berada di sana sampai Widya melahirkan. Setelah Widya melahirkan ia akan mengaku jika dirinya yang telah melahirkan bayi itu.
Setelah melewati perjuangan yang panjang, Widya pun melahirkan seorang bayi laki-laki.
"Selamat Nyonya anda melahirkan bayi laki-laki yang sehat," ucap bidan itu sambil memotong tali pusat bayi itu.
__ADS_1
Owek .. Owek.
Suara tangisan bayi itu melengking memecah kesunyian di ruangan tersebut.
Haru dan bahagia yang dirasakan tuan Melky saat itu, akhirnya setelah sebelas tahun menanti, kini ia memiliki seorang anak.
"Bawa sini putraku ," cetus tuan Melky tanpa sengaja.
Untung saja bidan dan asisten tak terlalu menggubris ucapan tuan Melki.
Setelah bayi itu dibersihkan dan diberi pakaian lengkap, bayi itu kemudian diserahkan pada tuan Melky.
Tuan Melky langsung menyambut bahagia kelahiran putranya. Sementara Hilda semakin cemburu, karena bagaimanapun juga, anak yang digendong oleh suaminya bukanlah darah dagingnya, tapi anak tuan Melky dan Widya.
Setelah membantu persalinan bidan itu pun pulang, dengan bayaran mahal nyonya Hilda coba untuk menutup mulut sang bidan.
Ia meminta pada sang bidan untuk mengaku telah membantu nyonya Hilda melahirkan. Bahkan mereka membuat surat keterangan lahir palsu jika bayi yang lahir tersebut merupakan hasil persalinan nyonya Hilda.
Setelah melahirkan Widya tampak begitu lemah. Ia melihat ke arah tuan Melky yang sedang menimang putranya.
"Tuan ," panggil Widya.
"Ada apa?"tanya tuan Melky.
"Boleh aku menggendong bayi ku?" tanya Widya dengan suara yang lirih.
"Tidak boleh! " Nyonya Hilda langsung menyahut.
Mendengar hal itu, Widya langsung menangis.
" Hiks hiks, tapi nyonya, tidak bisakah saya memeluknya untuk beberapa saat!"
"Tidak bisa!"
"Ayo daddy kita, keluar dari ruangan ini."
"Mommy jangan begitu ! Kasihan Widya, ia juga pasti ingin melihat anak yang sudah dilahirkannya. Berilah sedikit waktu untuk Widya."
Tuan Melky pun menghampiri Widya.
"Gendonglah putramu," ucap tuan Melky.
"Daddy! Anak itu bukan putranya? Aku bahkan telah membelinya!"
"Hus! Tenang lah. "
Tuan Melky membiarkan Widya untuk memeluk anaknya.
Widya kemudian memeluk dan mencium putranya tersebut sampai puas.
Bulir bening menetes di pipinya karena tak lama lagi mereka akan segera dipisahkan.
"Anakku sayang," ucap Widya sambil mencium pipi bayi mungilnya.
Belum pun puas menggendong bayinya, Hilda sudah merampas bayi tersebut.
__ADS_1
"Ayo daddy kita keluar dari ruangan ini," ucap Hilda sambil menggendong bayi laki-laki tersebut.
"Aku beri kau waktu beberapa hari untuk istirahat! Setelah itu kau harus pergi dari tempat ini dan jangan pernah kembali," ucap Hilda dengan penuh penekanan.
Hilda membawa bayi mereka keluar dari ruangan itu.
Widya hanya bisa menangis ketika melihat bayi yang ia kandungan selama sembilan bulan dibawa oleh Hilda dan mereka tak bisa bertemu lagi.
***
Karena kelahiran putranya, tuan Melky lebih cenderung memperhatikan putranya.
Setiap pulang kerja, ia selalu menghampirinya sang putra yang diberi nama Leon tersebut.
Hal itu pulalah yang menyebabkan Hilda merasa kurang diperhatikan.
Hilda masih curiga terhadap hubungan suaminya dan Widya.
Ia pun terus mengawasi tuan Melky.
Karena begitu bahagianya, tuan Melky menghampiri harem untuk memberikan hadiah kepada Widya yang telah mengandung anaknya itu sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
Namun, Hilda yang diliputi api cemburu itu menyangka ada hal lain yang dilakukan oleh suaminya tersebut.
Dengan amarah yang begitu besar, Hilda membawa pisau, ia berencana akan menghabisi nyawa Widya.
Tuan Melky mengetuk pintu kamar Widya, beberapa saat pintu tersebut pun terbuka.
"Bisa bicara sebentar Widya ?"
"Iya bisa Tuan. "
Tak ingin ketahuan sang istri, tuan Melky masuk kedalam ruangan Widya kemudian menutup pintu.
"Widya, saya sudah kirim sejumlah uang ke rekening tabungan kamu sebagai ungkapan terima kasih saya. Uang itu cukup untuk kamu memulai hidup baru dan membuka usaha."
"Terima kasih tuan," ucap Widya lirih. Sebenarnya berat baginya untuk meninggalkan tempat itu. Selain ia tak akan pernah bertemu dengan putranya, ia pun berat meninggalkan tuan Melky. Widya sudah terlanjur jatuh cinta pada tuan Melky.
"Sama-sama. "
"Oh iya satu lagi Wid, kamu jangan pernah memberi tahu rahasia ini pada siapapun."
"Iya Tuan."
"Saya permisi," ucap Widya. Ia hendak menghampiri tuan Melky, hendak berjabat tangan. Namun kaki Widya yang masih gemetaran itu tiba-tiba tersandung bagian kaki kopernya. Maklum saja baru empat hari ia melahirkan, tubuhnya masih terasa lemas, pandangan pun masing berkunang-kunang, tapi ia sudah harus keluar dari rumah itu atas permintaan Hilda. Widya terhuyung, untung saja tuan Melky cepat menangkap tubuhnya.
Brak…pintu terbuka lebar, selebar kelopak mata nyonya yang melihat adegan tersebut.
Tanpa pikir panjang Nyonya Hilda menghampiri Widya. Kejadian itu begitu cepat. Tuan Melky pun tak menyadari jika sang istri membawa pisau.
"Akh." Teriakan lirih Widya ketika pisau itu menembus perutnya.
"Mommy!"
Bersambung dulu gengs. Masih ada satu part flashbacknya ya. 🙂
__ADS_1