Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Waktu Yang Berlalu


__ADS_3

Sejak dari pengambilan raport Sheon begitu murung sampai beberapa hari berikutnya.


Bahkan ketika masuk sekolah Sheon tak menemukan teman yang membuatnya merasa nyaman, seperti Shasa.


Sheon menyimpan cincin pemberian Shasa itu di kotak khusus dan selalu membawanya kemanapun ia pergi.


Waktu berlalu begitu cepat, kini si kembar berusia 1 tahun.


Rencananya besok Nathan dan Nessa berulang tahun yang pertama. Jadi keluarga Leon menyiapkan sebuah pesta kecil di area taman depan rumah mereka.


Malam ini anggota keluarga menggelar makan malam bersama.


Zen dan Nadia ikut membantu mempersiapkan acara tersebut.


"Nadia, kapan perkiraan kamu melahirkan?" tanya Yura.


"Kata dokter sih minggu depan, tapi aku udah begah banget mau nafas aja susah, ucap Nadia.


Baru saja diomongin, Nadia tiba-tiba merasakan perutnya mulas.


Aduh perutku nggak enak banget, nih ucap Nadia sambil buru-buru menuju kamar mandi.


"Hati-hati sayang," teriak Zen.


Karena khawatir, Zen menghampiri istrinya itu.


Ia menunggu Nadia di depan pintu kamar mandi.


Setelah sepuluh menit menunggu, belum juga ada tanda-tanda Nadia akan keluar.


"Sayang! kau tidak apa-apa?" seru Zein dari arah luar kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Nadia keluar.


"Kamu gak apa-apa?"tanya Zein.


"Gak, apa-apa Mas, tapi perutku mulas, rasanya ingin ..."


Kata-katanya terputus kemudian Nadia kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Sayang, pintunya jangan di kunci!"seru Zein dari arah luar.


"Akh!" tiba-tiba Nadia teriak.


Zen segera menghampirinya.


"Sayang kenapa?!" tanya Zein panik.


Nadia menunjukkan noda darah di pakaian dalamnya.


"Sayang ayo kita kerumah sakit,"


Zen menopang tubuh Nadia untuk keluar dari kamar mandi.


"Loh Nadia kenapa?"tanya Leon.


"Mungkin dia mau melahirkan," sahut Zein.


"Ya sudah, aku antar."


Meski pun Leon sangat sibuk. Namun, ia menyempatkan diri untuk membantu Zein dan memastikan Nadia dalam keadaan baik-baik saja.


Di dalam mobil, Nadia terus mengeluh kesakitan.


"Tenangkan dirimu Nadia, atur napas," ucap Leon.


Zein dan Nadia belum pengalaman sama sekali sedangkan Leon ia sudah pernah beberapa kali melihat istrinya melahirkan, karena itulah ia sengaja ikut mengantar Nadia kerumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Nadia langsung mendapat penanganan ya di bawah ruang khusus persalinan.


karena persalinan Nadia masih lama, Leon memutuskan untuk pulang dan menunggu kabar dari Zen.


***


Keesokan harinya


Yura meraih handphonenya yang berdering di atas nakas.


"Halo ada apa bang Zein?" tanya Yura.


"Nyonya, Nadia sudah melahirkan dengan selamat."


"Syukurlah, anak kalian perempuan atau laki-laki?"tanya Yura.


"Perempuan."


"Oh Syukurlah. Sebentar lagi kami akan kesana untuk melihat keadaan Nadia."


***

__ADS_1


Waktu terus berganti, Kehidupan keluarga Leon dan Yura tetap bahagia.


Meski begitu banyak yang coba untuk menjatuhkan usaha Leon namun mereka bisa mengatasinya dengan mudah.


Beberapa hari lagi ulang tahun Nesya dan Nathan yang ke-18 sekaligus ulang tahun Raisya yang ke tujuh belas tahun, Putri Zain dan Nadia.


Kebetulan hari kelahiran mereka sama, jadi keluarga Leon dan Zen memutuskan untuk menggelar pesta ulang tahun untuk ketiga putra-putri mereka.


Namun, mereka merahasiakan dari anak-anak mereka.


Yura, Leon dan Zen dan Nadia berada dalam satu ruangan.


"Zein, karena kita sudah seperti keluarga, apalagi istrimu adalah sepupu dari istriku .Bagaimana jika Raisya Aku jodohkan dengan Sheon," ucap Leon.


"Dijodohkan. bukannya mereka sudah seperti saudara sendiri?" tanya Zain


"Justru karena itu, sebentar lagi sheon akan pulang dari Amerika dengan gelar MBA nya. Lagi pula sebentar lagi Raisya tamat sekolah juga kan?"


Nadia dan Yura tersenyum.


"Kalau saya sih, tidak masalah tuan tergantung dari mereka saja?" sahut Zen.


"Baiklah kalau begitu, Nanti jika Sheon pulang akan ku bicarakan padanya."


"Kalau begitu kembali ke rencana awal Bagaimana jika ulang tahun putra-putri kita kita rayakan dengan makan malam di sebuah restoran," ucap Leon.


"Aku setuju saja, kapan lagi kita berkumpul saat ini kita semua sama-sama sibuk."


Oke kita akan undang orang-orang terdekat dan kolega kita saja.


***


Raisya pulang dari sekolah, biasanya di jam segini sudah ada sopir yang menjemputnya.


"Dada Tiara," ucap Raisa sambil melambaikan tangannya pada Tiara yang sudah dijemput oleh sopir pribadinya.


Raisa meraih handphone kemudian menelepon seseorang.


"Pa, Raisa kok nggak dijemput?" tanya Raisa.


"Oh iya sayang, tadi sopir mengantar Mama pergi sebentar ya Nak. Mungkin sedang dalam perjalanan," ucap Zein.


Oke Pa, Raisa kemudian memasukkan handphonenya ke dalam tas kembali.


Brumm


seorang pria memakai helm besar dan melepaskan helm tersebut


Raisa tersenyum ketika melihat pemuda tampan tersenyum kepadanya.


"Pulang yuk," ajak Nathan.


"Kamu jemput aku?" tanya Raisa.


"Memangnya jemput siapa lagi?" ucap Nathan.


"Oke dehidrasi sebentar ya aku telepon sopir pribadiku dulu."


Nathan hanya tersenyum.


Setelah menelpon sopirnya, Raisa kemudian menghampiri Natan. Nathan memberikan helmnya kepada Raisa.


"Kamu dari mana Tan?" tanya Raisa


"Dari kampus lah."


"Nggak pulang sama Nessa?"


"Dia mana mau aku bawa naik motor, katanya panas lah, gerah lah."


"Hahaha tentu saja, dia kan tuan putri," ucap Raisa.


"Iya Nessa itu kesayangan daddy."


"Raisa, setelah ini kamu nggak ada kegiatan apa-apa kan?" tanya Nathan.


"Nggak ada."


"Bagaimana kalau kita makan siang yuk ?"


"Makan siang ?" tanya Raisa.


"Iyaa makan siang."


"Tapi aku gak mau makan di restoran ya, lama banget nunggunya. keburu lapar," ucap Raisa.


"Oke, kita kerumah makan Padang saja Yuk," usul Nathan.


"Setuju!"

__ADS_1


"Kalau begitu pegangan yang erat ya."


"Oke Siap!"


Raisa memeluk Nathan dengan erat. Ia tahu resikonya jika berboncengan dengan seorang pembalap.


Motor Nathan melaju membelah jalan raya, suara knalpot yang terdengar bising tak mengusik ke bahagian mereka.


Semakin laju Nathan membawa motornya semakin erat pelukan yang ia dapatkan.


Motor Nathan melaju menuju arah luar kota dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Than kamu mau kemana, ini sudah jauh loh, ini sudah memasuki arah luar kota!"seru Raisa.


"Emang mau keluar kota?!"


Nathan semakin melaju dengan kencang.


Raisa pun semakin erat memeluk sepupunya itu.


Motor Nathan berhenti di sebuah rumah makan.


Mereka pun turun untuk makan siang.


"Kita isi perut dulu yuk!"


Nathan dan Raisa pun turun.


"Kamu mau makan apa?" tanya Nathan.


"Aku suka telur dadar saja Than, sama tempe orak arik jangan lupa kuah rendang nya ya," ucap Raisa.


"Oke tuan putri?"


Raisa tersipu-sipu ketika mendengar Nathan yang menyebut nya sebagai tuan putri.


Raisa menanti di meja makan, sementara Nathan bolak balik membawakan makanan untuknya.


"Terima kasih pangeran Nathan," ucap Raisa.


"Sama-sama tuan putri, " sahut Nathan.


Mereka berdua pun menikmati makan siang itu.


"Than, kok kita makan siangnya sampai sejauh ini sih, di kota kan banyak rumah makan enak?" tanya Raisa dengan mulut yang penuh.


"Ngak apa, biar bisa berlama-lama saja berboncengan dengan kamu," ucap Nathan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Raisa jadi tersipu malu.


"Ih kamu bisa saja Than."


Entah sejak kapan perasaan itu muncul di antara mereka, padahal sejak kecil mereka sudah sering bersama dan seperti saudara.


"Raisa, kapan-kapan kita ke pantai Yuk!"


"Iya boleh, hari Minggu saja, aku kan libur."


"Oke."


Selesai makan siang, Nathan dan Raisa memutuskan untuk pulang.


Raisa naik ke atas motor.


"Sudah siap?"tanya Nathan.


"Sudah!"


"Peluk dulu dong," ucap Nathan.


Raisa langsung memeluk Nathan.


"Oke meluncur!"Seru Nathan.


Kali ini Nathan tak membawa laju motornya, hanya dengan kecepatan normal saja.


"Kok, ngak ngebut Than?"tanya Raisa.


"Ngak lah, biar lebih lama bersama kamu," ucap Nathan.


Wajah Raisa langsung berubah merah bersemu karena tersipu.


"Ih kamu Than," Raisa mencubit perut Nathan.


Nathan langsung menggenggam erat tangan Raisa dengan satu tangannya sementara tangan yang lainnya memegang stang motor.


'Tembak gak ya ?' batin Nathan.


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


__ADS_2