
Leon mengamati biodata Irgi.
Matanya berkaca-kaca ketika melihat tanggal lahir Irgi yang sama dengan tanggal lahir Nesaa dan juga Nathan.
Kemudian ia kembali menatap Irgi hingga bergeming.
Keadaan saat itu begitu menegangkan. Irgi merasa nervous melihat Leon yang menatapnya. Ia pun berusaha untuk memalingkan wajahnya dengan menunduk.
"Daddy, jangan diam aja dong! Bagaimana, daddy menerima irgi atau tidak?"tanya Nessa.
Seketika lamunan Leon buyar, ia menjadi serba salah, karena ia sendiri belum bisa memastikan jika yang ada di hadapannya itu adalah putra kandungnya, sebelum ada bukti otentik.
"Kamu diterima,"cetus Leon dengan bola mata berpendar menatap ke arah Irgi.
Seketika senyum terbit di wajah Irgi, yang semakin menampakkan ketampanannya.
Deg deg deg.
Jantung Leon berdetak kencang, baru pertama kali ia begitu gugup menghadapi seseorang.
"Yey! akhirnya kamu diterima. Selamat ya Gi," ucap Nessa.
Irgi tersenyum dan mengangguk.
"Tapi Daddy, Irgi diterima bekerja sebagai apa?!" tanya Nessa.
"Sebagai asisten pribadiku,"sahut Leon asal-asalan saja karena ia tak fokus.
Irgi tersenyum kembali, ia langsung menyambar tangan Leon kemudian mencium punggung tangan Leon.
"Terima kasih Tuan, terima kasih karena telah menerima saya sebagai karyawan anda, jujur saya memang membutuhkan pekerjaan ini," ucap gigi terbata-bata karena haru.
Leon yang tak kalah haru berusaha menahan air matanya.
"Kalau begitu kapan saya bisa mulai bekerja?" Tanya Irgi.
"Secepatnya," ucap Leon.
"Baik Tuan, Terima kasih, kalau begitu besok saya akan mulai bekerja, saya belum mempersiapkan segala sesuatunya, karena saya pikir hari ini hanya mengantar CV dan bertemu dengan Tuan."
"Iya," Leon mengangguk dengan senyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan."
"Nessa Terima kasih sekali lagi ya," ucap Irgi sambil menangkup kedua tangannya.
"Iya Gi, sama-sama."
"Saya permisi tuan," ucap Irgi sekali lagi dengan hormat.
Nessa tersenyum kemudian ia mencium pipi Leon.
"Terima kasih Daddy, Pak Dedi telah menerima temanku, aku juga pulang ya dah!"
Leon menatap sedih kepergian Irgi,ingin rasanya ia memanggil pria muda itu. Namun, Leon tak ingin gegabah, ia takut berprasangka sebelum membuktikan siapa Irgi sebenarnya.
Nessa keluar dari ruangan Leon karena ia harus kuliah, kedatangannya di kantor Leon, hanya karena ingin mempertemukan Irgi dan Leon.
Leon meraih telepon genggam yang ada di sampingnya.
" Kau awasi pria yang menggunakan blazer hitam yang baru saja keluar dari ruanganku! cari tahu siapa dia, di mana alamatnya dan siapa orang tuanya!" titah Leon pada bodyguard kepercayaannya.
__ADS_1
"Oke siap, Tuan."
Nessa dan Irgi berada di dalam satu Lift.
Wajah Irgi yang biasanya dingin, kini tersenyum sumringah.
"Terima kasih ya Nessa, karena kau aku diterima bekerja jadi asisten pribadi ayahmu lagi."
"Sungguh aku berhutang banyak padamu. Aku janji, aku takkan mengecewakanmu," ucap Irgi dengan bola mata yang berbinar.
"Iya Gi, aku juga nggak menyangka jika Daddy langsung mengangkatmu menjadi asisten pribadinya."
"Aku berharap kau bisa kerja sambil kuliah."
"Tak apa, bagiku yang terpenting bekerja saat ini, karena dua adikku membutuhkan banyak biaya dan aku harus membiayai sekolah mereka, nanti saja aku kuliah, biar saja mereka yang menggapai cita-cita mereka terlebih dahulu," papar Irgi.
Nessa kembali terharu mendengar kisah kehidupan yang Irgi jalani.
Irgi adalah sosok anak yang berbakti dan seorang kakak yang bertanggung jawab.
"Iya Gi, aku salut kok sama kamu."
Ting pintu lift pun terbuka.
Mereka pun tiba di lobby.
Seorang sopir sudah menunggu dan membukakan pintu untuk Nessa.
"Kalau gitu, Aku pergi dulu ya Gi!"
"Iya hati-hati, Ness, sekali lagi terima kasih ya."
"Oke! Besok sebelum Daddy mu datang, aku sudah tiba di kantor ini!"
"Sampai jumpa lagi!"Nessa mengacungkan jempol ke arah Irgi.
***
Irgi pulang dengan sepeda motornya, dan saat itu seorang mengikutinya dengan menggunakan mobil tanpa disadari oleh Irgi.
Sepanjang perjalanan, Irgi tersenyum, rasanya ia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira kepada adik-adiknya.
Sekitar 20 menit Irgi i tiba di rumahnya.
Saat itu Sarah dan Dinda menyambut kedatangan Irgi.
"Hore Mas Irgi pulang!" Sahut Sarah menyambut Irgi dengan gembira.
"Bagaimana Mas, Mas Irgi jadi diterima kerjanya?" tanya Sarah.
"Iya, Mas Irgi diterima kerja. Jadi asisten pribadi Tuan Leon daddy nya Kakak Nessa."
"Yang bener Mas, asik! Berarti Kakak kerja kantoran, sekarang jadi nggak perlu capek-capek angkat beras di pasar lagi!" seru Sarah.
"Hehehe ini semua juga berkat doa kalian ayo kalian sudah masak? Mas Irgi lapar loh!"
"Sudah Mas! Ayo kita makan bersama, sahut Sarah sambil merangkul tangan Irgi.
Tiga bersaudara itu menikmati makan siang bersama, walaupun waktu masih menunjukkan jam 09.00 pagi.
Beberapa jam kemudian bodyguard yang disuruh Leon sudah berhasil mengumpulkan data diri tentang Irgi.
__ADS_1
Mereka bertanya langsung pada Pak RT identitas keluarga Irgi.
Akhirnya mereka menemukan nama ibu kandung Irgi yang tertera dalam kartu keluarga bernama Elma Kirana.
**
Sejak bertemu dengan Irgi Leon menjadi gelisah, padahal pekerjaannya sudah menumpuk di atas meja, entah kenapa ia selalu memikirkan pria muda itu.
Telepon berdering mengagetkan Leon yang sedang mondar-mandir menunggu berita dari orang suruhannya.
"Halo bagaimana kabarnya?"Leon di sambungan teleponnya
"Iya Tuan, kami sudah berhasil menemukan identitas pria yang Tuan maksudkan itu."
"Kalau begitu, siapa namanya, di mana tempat tinggalnya dan Siapa nama orang tuanya?" tanya Leon bertubi-tubi.
Leon semakin syok, ketika orang suruhannya itu menjabarkan satu persatu identitas Irgi ia dapatkan dari ketua RT.
Apalagi ketika bodyguard-nya menyebutkan Elma Kirana adalah ibu kandung Irgi.
Jantung Leon berdetak kencang, beberapa saat ia bergeming .
"Kalau begitu, kirimkan alamatnya kepadaku!" titah Leon pada bodyguard-nya.
Setelah menutup telepon dari bodyguardnya Leon langsung menghubungi Yura.
"Hello Daddy," sapa Yura di sambungan teleponnya.
"Hello mommy ,akhirnya kita menemukan titik terang dimana putra kita berada," ucap Leon dengan wajah yang berbinar-binar.
Mendengar hal itu, bola mata Yura juga ikut berkaca-kaca,seketika bola matanya memerah dan meneteskan air mata.
"Benarkah Daddy? dimana putra kita berada saat ini?" tanya Yura dengan suara yang serak parau karena menangis.
"Daddy akan jemput kamu, untuk sementara kita lihat keadaannya saja, kita lakukan tes DNA untuk lebih memastikannya."
"Iya Dedi, mommy sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putra kita sahut Yura di sambungan teleponnya.
***
Mobil mewah Leon berhenti di depan rumah Irgi.
Saat itu Irgi terlihat bermain bersama Sarah, Irgi menggendong adiknya itu sambil berdiri dan berlari tertawa-tawa.
"Lihatlah mommy, dialah putra kita !" Tunjuk Leon dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Putraku," lirih Yura sambil menangis, ia kemudian melepas sealbetnya hendak keluar menemui Irgi
"Tunggu mommy!"
"Ada apa lagi Daddy? Aku ingin bertemu dengan putra ku!".
"Jangan gegabah mommy, kita tidak tidak bisa menemuinya sekarang, kita harus punya bukti yang menguatkan, jika dia adalah Putra kita Yang tertukar."
"Tapi daddy, mommy sudah tidak sabar untuk memeluknya," ucap Yura lirih
"Sabarlah mommy, untuk saat ini aku akan perintahkan orang untuk menjaga Irgi dari kejauhan, sampai kita benar-benar bisa membuktikan jika Irgi adalah putra kita," papar Leon.
Yura pun menuruti suaminya itu, dari kejauhan ia tersenyum sambil meneteskan air mata melihat Irgi dan Sarah yang bermain di teras rumah mereka.
"Putraku," gumam Yura lirih.
__ADS_1