
Sebelumnya,
"Mang Ujang, tolong nyonya Widya Mang!"
Nani berlari menghampiri Mang Ujang.
"Widya kenapa Nan?"
"Nyonya di tusuk sama nyonya Hilda, Mang."
"Astaghfirullah, tapi kenapa?"
"Gak tau Mang. Cepat keadaan sudah sangat memprihatinkan."
Ujang membantu membawa Widya . Dengan kursi roda ia membantu Widya melarikan diri menuju rumah sakit dengan menggunakan jalan samping.
Sesampainya di dalam mobil mereka langsung melarikan Widya ke rumah sakit terdekat .
"Nyonya, nyonya bertahanlah," ucap Nani.
"Sakit ! Sakit !" ucap Widya dengan lirih.
Nani membuka kemeja yang di gunakan oleh Widya dan melepaskan stagen yang membelit di perut Widya.
"Ya ampun, kasihan nyonya. "Nani merobek kemeja yang Widya gunakan untuk membersihkan darah yang mengalir di bagian luka tusuknya.
"Mang, untung Nyonya Widya menggunakan stagen. Hingga luka tak cukup dalam."
"Biadab! Teganya dia menganiaya Widya! "umpat Mang Ujang.
"Iya Mang, bahkan saya nyaris menjadi korban kebuasan nyonya Hilda. Sepertinya Nyonya Hilda itu sudah kehilangan kewarasannya. "
" Sepertinya begitu."
Widya kembali meringis merasakan pedih pada bagian perutnya selain itu kondisinya yang belum fit pasca melahirkan semakin memperburuk keadaan Widya.
"Nan, sakit sekali Nan," Lirih Widya sambil menangis menahan rasa ngilu di bagian perutnya.
"Iya Nya. Nyonya bertahanlah. Saya sengaja berbohong pada mereka dengan mengatakan jika Nyonya telah meninggal. Agar mereka tak mengganggu kehidupan nyonya lagi, hiks."
"Kita orang lemah, hanya bisa pasrah saja, berharap ada pertolongan dari Tuhan."
"Bener Widya, biar saja Tuhan yang akan menghukum orang-orang Zalim. "
"Bertahanlah Nyonya."
Nani sebisa mungkin membuat Widya tetap tersadar sampai mereka tiba di rumah sakit.
Mobil mang Ujang melaju menuju rumah sakit terdekat.
Tiba di UGD Widya langsung mendapatkan pertolongan.
Tim medis pun melakukan pertolongan pertama. Namun luka robek itu terlalu dalam dan terpaksa di jahit .
Setelah dijahit pun ternyata penderitaan Widya tak sampai di situ.
Widya mengalami demam tinggi.
Setelah diperiksa kembali, Widya mengalami infeksi pada rahimnya akibat komplikasi persalinan normalnya ditambah lagi dengan luka tusukan yang ada di bagian perutnya.
"Maaf kami harus mengangkat rahim anda, jika tidak ini bisa membahayakan nyawa anda," ucap seorang dokter yang memeriksanya.
Dengan terpaksa Widya pun merelakan rahimnya diangkat.
Saat itulah Widya menjadi dendam terhadap Hilda Penderitaan demi penderita harus ia rasakan dan lewati seorang diri. Sementara Hilda masih bebas berkeliaran dan membanggakan diri dengan kelahiran putranya.
Setelah sembuh Widya coba untuk memulai kehidupan yang baru dengan membuka usaha rumah makan dan cafe. Ia juga mengganti identitasnya dengan melakukan operasi plastik.
Ternyata kesuksesan usahanya berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
Setelah bertahun-tahun rasa sakit hatinya terhadap Hilda belum juga luntur, apalagi kini Widya tak bisa memiliki keturunan. Beberapa kali ia menikah dan diceraikan oleh suaminya karena Widya tak lagi bisa mengandung.
Karena dendam dan sakit hati itulah, Widya mencari kesempatan untuk dapat mendekati rumah itu lagi. Ia dapat informasi dari mang Ujang jika tuan Melky mencari perawat untuk merawat nyonya Hilda.
Demi balas dendam, Hilda rela meninggalkan bisnisnya. Selain ingin membalaskan dendam terhadap Hilda, ia juga merasa bahagia karena bisa bersama kembali dengan tuan Melky, pria yang ia cintai.
Widya pun merubah identitas menjadi Natasha.
***
WidyA NatashA
Kini ia menjadi sosok baru lagi . Dengan sedikit merubah wajahnya Widya Natasha berganti nama dengan Wana .
Karena itulah Wana jarang bicara,hanya sesekali.
***
Rasa cintanya terhadap tuan Melky, membuat Wana rela merawat tuan Melky.
Dengan tinggal berduaan saja di Villa, Wana merasa seperti hidup sebagai suami istri.
Untuk melampiaskan hasratnya terkadang Wana mencampur obat tidur dosis rendah pada tuan Melky.
Setelah itu, ia tidur bersama tuan Melky satu ranjang bersama . Seolah-olah mereka adalah suami istri.
Namun, selama berada di rumah itu tentu saja mereka tak lagi bisa tidur bersama.
***
flashback off.
Pagi itu,
Tuan Melky mencari keberadaan Wana di kamarnya.
Kamar Wana memang berada di ujung koridor dari rumah mewah itu.
Tuan Melky mendorong pintu kamar tersebut. Betapa terkejutnya tuan Melky melihat Wana yang saat itu tengah berdiri di depan cermin .
Tuan Melky pun mengenali Wana sebagai Natasha.
Saat itu Wana melepas kulit sintesis yang melekat di pipinya. Kulit sintetis itu Wana gunakan dalam penyamarannya. Bentuk wajah Wana berubah menjadi oval padahal wajahnya berbentuk tirus.
Dengan kaca mata tebal yang ia gunakan, tuan Melky pun tak mengenali Wana .
"Kau Natasha?!" tanya tuan Melky. Saat itu tuan Melky mulai merasakan sakit pada bagian dadanya.
Wana sedikit panik kala itu. Namun karena tuan Melky sudah terlanjur melihat dengan mata kepalanya sendiri, jadi Wana pun tak bisa mengelak
"Kenapa kau menyamar menjadi orang lain ?" tanya tuan Melky dengan nada membentak.
Dadanya terasa semakin sakit.
"Karena aku ingin bersama mu dan juga bersama putra ku Tuan,"sahut Wana.
Tuan Melky kembali di buat kaget dengan penuturan Wana tersebut.
"Apa ? Putra, katamu ?"
"Itu berarti kau…kau ..!"
"Akh! "Tuan Melky merasakan sakit pada bagian dadanya.
"Tuan anda kenapa?"
Wana kaget melihat tuan Melky yang mengerang kesakitan dan memegang bagian dadanya, ia berusaha memberikan pertolongan pada tuan Melky. Namun pria itu menepis tangannya.
Wana langsung bergegas mencari pertolongan.
__ADS_1
***
Waktu sudah berada di pukul empat sore. Leon masih berada di samping tempat tidur tuan Melky.
Wana .. Wana ..
Tiba-tiba tuan Melky menyebut Wana dalam alam bawah sadarnya.
"Daddy, daddy sudah sadar ?"tanya Leon.
Wana …Wana…
Tuan Melky hanya menyebut nama itu.
"Wana ? Ada apa dengan Wana, daddy?" tanya Leon sekali lagi.
Tuan Melky terus menyebut nama Wana.
" Widya. .. Natasha." Meski lirih, tapi ucapan daddynya itu terdengar jelas.
Leon semakin bingung. Siapa itu Widya, siapa juga Natasha dan apa hubungannya dengan Wana.
"Daddy! Sadar daddy." Leon coba memanggil Dady-nya.
Namun tuan Melky terus meracau menyebut tiga nama tersebut berulang ulang.
Karena penasaran apa yang terjadi,Leon menghampiri Wana.
Wana sejak tadi memang menunggu Leon. Menurutnya ini sudah saatnya Leon tahun jika ia adalah ibu yang telah mengandungnya.
"Wana, sebenarnya apa yang telah kau lakukan pada daddy, hingga dia mengalami serangan jantung?!"tanya Leon dengan sedikit emosi.
"Tidak, aku tak melakukan apa-apa,Tuan ."
"Kenapa deddy sampai menyebut nyebut nama mu ketika dia tak sadar?!"
Wana menatap lembut ke arah Leon yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Suatu hari kau akan tau sendiri," sahut Wana.
Mendengar itu, Leon sedikit kaget.
Wana yang notabene adalah pembantu bisa bicara seperti itu terhadapnya.
"Apa maksudmu?!"
" Suatu saat kau juga akan mengetahuinya Tuan muda," cetus Wana dengan santai.
Leon melihat keanehan dari sikap Wana .
"John ,bawa wanita ini pulang, kemudian kunci dia di dalam harem!"
Titah Leon.
"Kau ingin mengurungku di dalam harem lagi?" tanya Wana sambil menatap lekat ke arah Leon. Wana pun tersenyum.
"Dasar gila ! Jika kau terbukti dengan sengaja menyakiti daddy ku, maka lihatlah saja aku sendiri yang akan menghabisi mu," ancam Leon.
"Lakukan saja Leon. Karena nantinya kau pasti akan menyesal, Setelah tau siapa aku sebenarnya," ucap Wana sambil tersenyum simpul di sudut bibirnya.
Leon semakin merasa aneh dengan perilaku Wana tersebut.Tapi Leon tak terlalu menanggapinya, karena ada yang lebih ia pikirkan saat ini. Yakni kesehatan Daddynya dan juga sang istri.
Bersambung dulu gengs.
Author punya karya terbaru nih.
Siapa tau ada yang mau mampir.
Judul : Pernikahan ke 3
__ADS_1