Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Lagi Dong


__ADS_3

Tuan," lirih Yura dengan wajah yang tertunduk.


Leon tersenyum melihat wajah Yura yang merona.


" Cium lagi dong,"pinta Leon dengan suara yang lirih. Ia pun tersenyum ke arah Yura.


' Aduh, ternyata beneran bangun, aku mau jelasin apa sama tuan,'


Yura menggigit bibir bagian bawahnya, ia begitu malu karena kepergok Leon.  rasanya mau disembunyikan dimana wajahnya.


" Ayo cium lagi ," goda   Leon masih dengan senyum simpul di sudut bibirnya.


" Ehm, aku tadi gak sengaja Tuan, maaf." Yura mencoba berkilah. Ia masih menunduk wajahnya karena grogi.


Leon coba menggerakkan tangannya meraih tangan Yura.


"Akh ! "ringis Leon tiba-tiba, karena merasakan sakit pada bagian dadanya.


"Tuan, anda tak apa-apa?" tanya Yura sedikit panik.


" Gak apa? Selama ada kamu disini," ucap Leon coba untuk menggoda Yura lagi . 


"Ih Tuan, suka gombal." Yura membuang wajah sambil mengulum senyum.


"Itu bukan gombal, tapi memang kenyataannya. Buktinya aku gak jadi mati karena ada kamu di sini," canda Leon.


"Ehm, bisa saja. Memang belum waktu mati kok," sahut Yura.


Keduanya pun saling melempar senyum. Yura terlihat begitu grogi. Karena Leon terus saja menatap ke arahnya.


Ia pun mencari cara agar terlepas dari tatapan intens sang suami.


" Oh ya, aku panggil dokter dulu."


Yura bergegas ke luar dari kamar itu.


" Huh, bagaimana cara aku menghadapinya, baru beberapa saat jantung ku sudah mau copot karena grogi ditatap terus olehnya." Yura menghela nafas panjang.


Beberapa saat kemudian dokter datang menghampiri ke ruangan Leon. Ia pun memeriksa keadaan Leon.


" Keadaan pasien sudah semakin stabil. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter tersebut pada Yura.


" Iya dokter,terima kasih."


Leon menatap kepergian dokter dan perawat, kini mereka tinggal berdua kembali. 


Yura mendekat ke arah nakas, ia sengaja tak melihat ke arah Leon. "Tuan, anda butuh sesuatu?" tanya Yura tanpa menoleh ke arah Leon.


" Aku butuh pelukan,"sahut Leon sambil tersenyum.


Yura kembali merasa malu dengan menundukkan wajahnya.


" Sini peluk aku, katanya kau ingin jadi istri yang baik untuk ku," ucap Leon.


' Hah, berarti dia mendengar ucapan ku waktu itu, bagaimana ini?' batin Yura, ia pun menoleh ke arah Leon sambil tersenyum nyengir.


" Hehe berarti kau mendengar ucapan ku ?" 


Leon mengangguk lirih sambil tersenyum.


" Iya, bahkan aku bisa mendengar suara hatimu," sahut Leon.


" Hah ! Yang benar saja?!"


Yura menyentuh bagian dadanya.


'Bagaimana ini ? Bagaimana  dia bisa mendengar isi hatiku ?' batin Yura.


" Memangnya hatiku bicara apa? " tanya Yura.


"Kau pasti bertanya, bagaimana aku bisa tahu isi hatimu kan ?" terka Leon.


'Hah, jadi dia benar-benar tahu isi hati ku, bagaimana ini.' batin Yura. Ia pun jadi panik.


" Benar kan ?"tanya Leon. 


Yura tak bisa menjawab ia hanya tersenyum.


" Oh, iya Tuan. Tadi pagi daddy menelpon, katanya dia ingin kau menghubunginya karena ia begitu mengkhawatirkanmu."

__ADS_1


Yura berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


" Ehm, daddy pasti khawatir. Kau boleh sambungkan teleponku pada daddy."


"Baiklah."


Yura mencari kontak telepon tuan Melky. Kemudian menghubunginya.


Beberapa detik telepon pun tersambung.


" Halo daddy,"sapa Yura.


"Iya Yura, bagaimana dengan Leon Nak, apakah daddy sudah bisa bicara dengannya.Daddy begitu khawatir."


" Iya daddy. Sekarang dia sudah bangun." 


Yura mengarahkan kamera handphone ke arah Leon.


Leon tersenyum ke arah kamera.


"Leon hiks, bagaimana keadaan kamu?" tanya tuan Melky dengan haru setengah menangis.


" Baik daddy. Daddy tenang saja. Aku kuat kok."


"Iya Nak, daddy tau kamu kuat. Rasanya daddy ingin hadir disana untuk menemani kamu," ucap tuan Melky.


Leon tersenyum menutupi rasa sakit yang di bagian lukanya.


"Tenang saja daddy, selama ada menantu daddy yang cantik itu, aku pasti baik-baik saja."


" Iya daddy tau itu," sahut tuan Melky.


"Kalau begitu kamu istirahat saja, daddy sudah tenang melihat kamu baik-baik saja."


"Iya daddy. Harus jaga kesehatan juga supaya bisa menggendong cucu daddy saat dia lahir nanti."


" Iya Leon. Kamu juga ya. "


" Pasti dong, aku akan jaga kesehatan aku. Kalau aku mati,aku gak mau istriku diambil orang,"sahut Leon sambil melirik ke arah Yura.


Sementara Yura pura-pura sibuk membereskan barang-barang yang sejak tadi tak selesai-selesai.


***


Di ruang perawatan super VIP itu mereka lebih leluasa. 


Setelah berada di ruang perawatan Leon  sudah diperbolehkan untuk dijenguk. Karena itulah Zein datang untuk melihat keadaan bosnya.


Zein berjalan menghampiri kamar Leon, kebetulan saat itu Yura baru saja keluar dari ruangan.


" Nyonya, bagaimana dengan keadaan Tuan?"


"Tuan sudah sadar." jawab Yura 


"Wah, pasti ini karena interaksi yang saya anjurkan, benarkan Nyonya?" terka Zein sambil mengulum senyumnya.


"Ehm iya," sahut Yura dengan wajah yang tertunduk karena tersipu-sipu.


"Sudah saya duga. Baiklah saya masuk dulu untuk melihat keadaan Tuan."


"Iya silahkan saja."


Ketika masuk ke dalam ruangan. Zein disambut dengan senyuman oleh Leon. Leon terlihat bahagia meski wajahnya masih terlihat pucat dan lemah.


"Apa yang terjadi setelah aku di tembak ?" tanya Leon lirih.


" Reymond di ditangkap tuan begitupun dengan Welly. Mereka akan dijerat dengan pasal berlapis"


" Syukurlah, jika mereka sudah ditangkap. Perketat keamanan.Aku tak ingin terjadi sesuatu pada istri ku kembali." 


"Tentu Tuan. Tuan Hideki juga meminta orang-orangnya untuk mengawasi istri anda. Beliau tak ingin kejadian tersebut terulang kembali."


"Ehm begitu,Lalu bagaimana dengan urusan bisnis ku? Aku harap kau bisa menghandle semuanya ketika aku dalam perawatan."


" Tentu saja Tuan. Anda bisa mengandalkan saya. "


" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Saya tak ingin mengganggu momen indah anda bersama sang istri."


" Iya silahkan."

__ADS_1


Setelah kedatangan Zein. Leon kembali terlelap karena memang tubuhnya masih terasa lemah.


***


"Tuan, Tuan !"


Yura membangunkan Leon.


Leon membuka matanya dengan perlahan.


"Tuan, saya bersihkan tubuhnya, ya?"


Leon tersenyum sambil mengangguk.Entah kenapa Leon jadi orang yang mudah mengobral senyumnya. Padahal dulunya ia orang yang selalu bersikap arogan dan tak pernah tersenyum.


Yura membuka kancing piyama Leon satu persatu.


"Tuan jangan menatapku seperti itu," cetus Yura yang merasa risih karena Leon terus saja menatapnya sambil tersenyum.


"Memang kenapa, jika aku terus menatap mu?" tanya sambil tertawa kecil.


" Aku kan  jadi malu tuan."


Leon coba meraba tangan Yura kemudian menggenggamnya."Kenapa mesti malu? Kita kan suami istri."


"Tetap saja malu. Aku tak terbiasa di pandangi seperti itu."


"Mulai sekarang kau harus membiasakan dirimu, karena setiap saat aku akan menatapmu dengan tatapan penuh cinta," cetus Leon sambil tersenyum menahan geli hatinya, ketika melihat Yura jadi salah tingkah di depannya 


Keduanya pun saling melempar senyum.


***


Setelah menyeka tubuh Leon dengan air hangat. Yura pun menyuapinya dengan bubur dan memberinya obat..


Seharian itu mereka memang hanya berdua saja, dan itu atas permintaan Leon. Leon menyuruh pengawalnya untuk tak memperbolehkan orang lain masuk kecuali petugas medis.


Karena tak ingin terus di goda oleh Leon dengan kata-kata gombalnya. Yura mencoba untuk mencari kesibukan yang lain. Semoga Leon kembali beristirahat.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun Yura sudah merasa ngantuk. Leon juga sudah tidur kala itu.


Hua, Yura beberapa kali menguap. Suasana yang hening di rumah sakit ,membuatnya semakin mengantuk.


Ia pun menarik kursi dan hendak tidur. Yura merebahkan kepalanya di atas tempat tidur Leon.


Baru saja terlelap, Yura merasakan ada yang mengusap kepalanya.


Yura tersadar kemudian melihat ke arah Leon.


" Tidurlah di sini bersamaku," ucap Leon lirih.


" Ehm, tapi apa tidak mengganggu anda tuan?"


" Tidurlah disini."


Leon menepuk pelan sisi kanannya.


Yura menghampiri sisi kanan Leon kemudian berbaring di sampingnya.


"Bolehkah aku minta dipeluk, karena aku tak bisa memelukmu."


Yura mengangguk lirih, sambil merentangkan tangannya di perut Leon. 


Keduanya pun saling menatap kemudian saling melempar senyum.


"Tidurlah, aku juga mau tidur. Karena setelah kepergianmu aku tak pernah tidur dengan nyenyak," ucap Leon sambil mengecup kening Yura.


Keduanya pun memejamkan mata, sebelum tidur Leon berkali-kali mengecup kening istrinya. 


'Aku pikir aku tak akan punya kesempatan untuk bersamamu lagi,' batin Leon.


bersambung dulu ya gengs.


sambil menunggu author up ada rekomendasi karya keren untuk kamu.


check di sini ya


__ADS_1



__ADS_2