
Setelah selesai memasak makan malam untuk mereka.
Nadia bergegas merapikan dirinya untuk menyambut kedatangan Zen.
Ia sengaja gunakan mini dress yang dibelikan Zein kemarin, agar dirinya terlihat semakin cantik. Kemudian ia memakai parfum dan peralatan rias yang juga diberikan oleh Zen.
Nadia tersenyum ketika menatap dirinya di depan cermin dengan wajah yang merona.
" Kenapa jantungku deg-degan begini ya? Rasanya jika melihat diriku di depan cermin cantik begini,aku ingin segera bertemu dengan mas, Zen." Nadia bermonolog
"Astaga kenapa aku berpikiran demikian, aku jadi mudah ge-eran. Apa mungkin Mas Zain menyukaiku ya?"
"Lebih baik aku tidak usah terlalu banyak berharap. Tinggal di tempatnya saja, aku sudah banyak bersyukur."
"Tapi tidak salah juga Aku mencari perhatian Mas Zein. Lagipula dia kan jomblo,aku juga jomblo. Apa salahnya jika kami sama sama-sama saling menyukai," gumam Nadia.
Setelah merasa penampilannya cukup sempurna. Nadia keluar kamarnya dengan berjalan melenggang. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Seharusnya memang Zain sudah pulang di jam segini, tapi Nadia lebih memilih menunggu daripada menghubungi Zen.
Nadia menunggu Zen di meja makan meski sudah setengah jam Ia berada di meja makan tersebut.
Waktu kini menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh dan perutnya terasa sudah sangat lapar. Namun ia masih bersabar untuk menantikan kehadiran tuan rumah.
Ting tong ting tong tong suara bel berbunyi.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga," ucap Nadia sambil beranjak dari kursi meja makan.
Nadia berjalan perlahan untuk buka pintu.
Pintu pun terbuka lebar, kali ini Nadia sedikit kaget ketika melihat Zen tersenyum sambil menyodorkan serangkaian bunga yang begitu indah
"Mas Zein ?"lirih Nadia sambil tersenyum.
"Ini untukmu," ucap Zein sambi tersenyum tersenyum.
"Untuk ku?" tanya Nadia sedikit Canggung.
"Untuk siapa lagi ? Memangnya ada orang lain di rumah ini ?" Zein balik bertanya.
Nadia semakin menundukkan wajahnya menutupi rona pipinya yang bersemu.
"Maaf ya, aku terlambat," ucap Zein.
"Oh tidak apa-apa. Mas, pasti Mas sangat sibuk."
Mereka baru teringat jika saat itu keduanya masih berada di depan pintu.
"Kenapa kita hanya berdiri di depan pintu?" tanya Zein.
mereka memang masih sama-sama sungkan.
"Oh iya, tapi kenapa tidak masuk saja Mas, apa aku perlu menyuruhmu masuk?" Nadia balik bertanya.
Zen hanya melempar senyum.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Zein.
"Belum Mas, aku menunggu kamu."
"Apa kamu sudah makan Mas?" tanya Nadia.
"Belum lah, Aku baru saja pulang dari metinjau lokasi proyek. Setelah itu langsung singgah ke toko bunga membeli bunga untukmu."
"Ah mas Zein sebenarnya tak perlu repot seperti itu juga," ucap Nadia.
"Tidak repot, jika untuk seseorang yang spesial,"ucap Zen sambil menatap wajah Nadia.
'Spesia, spesial itu untukku?'batin Nadia.
Zen menarik kursi di meja makan.
"Duduklah, ayo kita makan, setelah makan ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Zen.
Nadia menganut nasi untuk dirinya dan Zen kemudian menuang air minum untuk mereka berdua.
Setelah itu, tak ada pembicaraan di antara mereka. Keduanya tengah menikmati makan malam tersebut.
Meski sesekali Zen tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arah Nadia.
Usai makan malam, Nadia membereskan piring-piring makan malam mereka.
"Nadia duduklah dulu," ucap Zen sambil menarik tangan Nadia yang ingin membawa piring itu ke tempat cucian.
"Ada apa mas?" tanya Nadia.
Zen membalikan tubuhnya menatap ke arah Nadia.
Kini mereka duduk dan saling berhadapan.
Tiba-tiba Ia merasakan tangan kekar Zen menggenggam telapak tangannya.
"Nadia Apa kau sudah punya pacar?" tanya Zen basa-basi
"Belum Mas, aku belum pernah pacaran sama sekali," tutur Nadia , jujur.
Zein tersenyum. Sambil mempererat genggaman tangannya.
"Kalau begitu, Bagaimana jika kita menikah saja ?" tanya Zen.
Menikah, Nadia mengulum senyum nya. Meski ia sempat kaget mendengar pernyataan tersebut.
"Iya menikah, tidak masalah bukan?" tanya Zein kembali.
"Tapi mas kita baru beberapa hari berkenalan. Apa Mas Zein tidak terlalu cepat menentukan pilihan?" tanya Nadia.
Zen tersenyum dengan manis.
"Bukankah jika memiliki niat baik, harus segera dilaksanakan ?"tanya Zein. " Lagi pula tidak baik, jika wanita dan pria tanpa ada ikatan darah tinggal bersama satu atap. "
Nadia tertunduk tersipu. Memang terlalu cepat untuk memutuskan hal ini. Namun perkataan Zain itu ada benarnya,
__ADS_1
Daripada mereka memendam perasaan dan tinggal dalam satu rumah tanpa ikatan, lebih baik mereka meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.
Apalagi jika menikah dengan Zen, Ia bisa mendapat perlindungan secara resmi dari ayahnya yang akan menjauhkannya dengan bos Raymond.
"Bagaimana Nadia?" tanya Zen lagi sambil menatap Nadia dengan serius.
"Aku mau Mas," jawab Nadia dengan Lirih.
"Apa, coba ulangi perkataanmu. Aku tidak mendengarnya," goda Zein sambil mendekatkan telinganya ke dekat bibir Nadia.
Nadia hanya diam sambil mengulum senyumnya, ia tahu Zein saat itu mendengarnya.
"Nadia jawablah sekali lagi, Kau mau kan, menikah denganku?" tanya Zen.
Kali ini wajah mereka begitu dekat ,Nadia tersenyum sambil menatap manik mata bening milik pria tampan yang berada di hadapannya itu.
Tatapan Zen Teduh dan tatapan tersebut menyiratkan sebuah ketulusan.
"Iya Mas, aku mau menikah dengan mu," ucap Nadia tanpa ragu.
Zein tersenyum sambil mencium pipi Nadia.
Seketika Nadia menunduk kan wajahnya, karena ia begitu malu.
Zen meraih Kedua telapak tangan Nadia dan menggenggamnya erat.
"Karena besok hari libur ,Bagaimana jika kau bawa aku menemui ayahmu"
Nadia begitu kaget mendengar hal itu .
"Maksud Mas, papaku?" tanya Nadia dengan ragu.
"Iya papamu."
"Tapi…" Nadia menggantung kata-katanya.
"Tapi kenapa ?"
"Tapi mas, aku pernah menceritakan tabiat ayahku padamu kan? Bagaimana jika ia tak Merestui hubungan kita?" tanya Nadia.
"Loh Memangnya kenapa, niat aku baik Ingin Melamar anak gadisnya, harusnya dia senang dong karena akan ada yang menjaga anak gadisnya," tutur Zen.
"Seharusnya begitu Mas, tapi papa berbeda. Ia tak mempedulikan kebahagiaan kami, Dia hanya perduli dengan hidupnya. Aku takut jika bertemu dengan ayah. dia justru tak membiarkan aku untuk ikut denganmu lagi," jawab Nadia.
"Begini saja, biar aku yang datang sendiri padanya. Tunjukkan saja di mana keberadaan ayahmu ucap Zen.
Nadia masih terlihat ragu tidak menjawab omongan Zen tersebut.
Nadia, seperti apapun ayahmu kita tetap harus meminta izin kepadanya, karena jika tanpa restunya kebahagiaan kita tidak akan lengkap. Percayalah padaku. Percayalah, aku tak akan membiarkan ayahmu itu berbuat semena-mena terhadap mu
Nadia berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk.
Nah gitu dong, besok kita akan menemui ayahmu dan hari senin nya aku kan urus surat pernikahan kita.
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏 terimakasih.
__ADS_1