Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Insomnia


__ADS_3

Beberapa hari dirawat rumah sakit, keadaan Leon membaik. Meskipun pergerakannya masih sangat terbatas, akibat luka operasi di dadanya. Membuat semua ototnya merasakan sakit jika ia melakukan pergerakan sedikit saja.


Selama di ruang perawatan, Leon memang meminta Yura untuk tidur bersamanya di atas ranjang.


***


Malam harinya 


Kresek kresek..


Yura membuka matanya dan merasakan gerakan Leon yang terlihat gelisah.Ia langsung bangkit. 


"Tuan kenapa gelisah seperti itu ? Ada yang sakit ?" tanya Yura.


Bukannya menjawab Leon malah tersenyum nyengir ke arah Yura.


"Ih, ditanya kok malah tersenyum sih?" dengus Yura kesal.


"Apakah saya mengganggu Tuan? kalau begitu saya tidur di bawah saja."


"Eh jangan! Aku nanti gak bisa tidur kalau kamu jauh dari aku," sahut Leon.


"Lah kalau begitu kenapa Tuan terlihat gelisah?"


"Hehe si Otong gak bisa tidur, kalau dekat-dekat kamu. Minta dijepit katanya." Leon kembali nyengir berharap Yura tahu kode-kode darinya. 


" Hah ! Si Otong siapa ? "tanya Yura polos. 


"Itu tuh," Leon menunjuk dengan isyarat bibirnya ke arah Otongnya yang berdiri.


Melihat itu Yura langsung melotot bola matanya. Ia pun kemudian melepaskan jepitan rambut yang ada di kepalanya, ya mirip seperti mulut buaya.


"Mau dijepit pakai ini?" tanya Yura sambil membuka katupkan jepit rambutnya yang mirip dengan taring ikan hiu itu.


Gleg …Leon menelan salivanya terbayang apa jadinya si Otong jika di jepit dengan benda tersebut.


Yura mendekat jepit rambut tersebut ke arah si Otong, masih dengan membuka-katup jepitan tersebut. Mencoba untuk menakuti-nakuti Leon. 


" Mana yang minta jepit, mana dia," ucap Yura sambil membuka selimut Leon.


" Jangan! Hehe gak jadi deh. Kamu tidur saja." Leon jadi takut karena saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa. 


Yura menghentikan gerakannya, kemudian kembali menatap tajam ke arah Leon.


" Makanya jangan minta yang macem-macem! Nanti ku jepit beneran, robek tuh si Otong, jahit lagi deh, yang di dada saja belum sembuh! " bentak Yura.


Leon menjadi ciut nyalinya.


" Iya, gak jadi deh . Kamu tidur saja," sahut Leon dengan membujuk. Seketika si otong langsung tertidur karena sawan.


Yura kembali berbaring membelakangi Leon kemudian menarik selimutnya. Ia tersenyum di balik selimut karena berhasil menakuti Leon.


" Uh punya istri cantik-cantik tapi predator. Jadi Atut," cetus Leon.


Yura menggigil tertawa di balik selimutnya. Baru kali ini ia bisa ngerjain Leon.


"Hihi rasain loh. Waktunya balas dendam."


***


Keesokan harinya.


Yura menghampiri Leon karena sudah waktunya makan siang.


"Tuan, makanlah dulu."


Yura membantu mengangkat tubuh Leon agar bisa bersandar. Ketika wajah mereka berada di jarak yang cukup dekat. 


Leon menarik wajah Yura kemudian menyambar bibirnya. Dengan gerakan cepat ia memagut bibir Yura. Sementara tangannya menahan kepala Yura  agar tak bergerak. Gerakan Leon yang agresif itu membuat Yura kesulitan untuk bernapas 


"Ehm, tuan lepaskan!"seru Yura. Ia coba melepaskan pagutan bibir Leon.


Setelah beberapa saat, Leon melepaskan pagutan tersebut.


"Ih, sukanya cari kesempatan," cetus Yura.


"Habisnya kalau gak di paksa, kamu gak mau." 


"Ehm, bukan gak mau, tapi ini tuh bukan pada tempatnya ."


" Asek, jadi tinggal nunggu tempat yang pas saja. Ehm Jadi ingin cepat pulang," ucap Leon sambil tersenyum mesum.


" Ih apa sih. Tunggu sampai sembuh juga," sahut Yura.


"Udah sembuh kok. Udah siap tempur. Kan yang sakit di bagian dada. Yang bagian itu, gak ada masalah," ucap Leon sambil meraba bagian paha Yura, dengan senyum mesumnya.


"Huh, dasar mesum!"


" Ayo bangun, nanti aku suapi."

__ADS_1


"Bagun saja masih belum bisa, malah mau berpikiran macam-macam lagi"


Yura Kembali membantu Leon untuk bersandar.dengan mengatur posisi tempat tidur agar bagian punggung ke atas dapat tegak.


Yura menyuapi Leon dengan wajah yang cemberut.


"Senyumnya mana, kalau gak senyum aku gak mau makan?


"Ih, bawel."


Yura kembali menyodorkan makanan ke mulut Leon,tapi Leon tetap tak mau makan.


"Ayo makan!" Yura sedikit kesal.


"Gak, mau. Senyum dulu."


Yura menatap tajam kearah Leon, kemudian ia memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Iya makanlah," ucap Yura sambil menyodorkan makanannya.


Leon kemudian membuka mulutnya.Ia sengaja bertingkah seperti anak kecil untuk mengerjai istrinya.


Setelah selesai makan. Yura menyodorkan segelas air putih ke mulut Leon.


Leon menggelengkan kepalanya.


"Gak mau minum air putih," cetus Leon.


"Terus mau minum apa?"tanya Yura tanya Yura dengan mata yang sedikit melotot 


"Mimik cucu," sambil melihat dada Yura. Leon pun tersenyum mesum.


"Ih dasar mesum! Minum air putih ini saja," gerutu Yura.


"Ih Jangan galak-galak, gimana mau pasiennya mau sembuh. Kalau perawatnya galak seperti itu."


"Gimana gak galak, pasien mesum mulu," sahut Yura.


Keduanya pun saling melemparkan senyum dan tertawa kecil.


Leon kemudian menarik tangan Yura, agar jatuh di pelukannya, kemudian mencium pipi Yura.


"Nah gitu, kalau gak usah galak-galak. Aku kan butuh perhatian dan kasih sayang,"bisik Leon.


"Ih gombal."


***


Sebelum ke rumah sakit, tuan Hideki menyempatkan diri untuk mengambil sendiri hasil tersebut.


Tuan Hideki tersenyum puas melihat hasil tes yang akan dijadikan bukti otentik .


'Kakak, akhirnya aku bisa bertemu dengan putrimu. Akan ku kembalikan apa yang menjadi haknya,' batin Hideki.


Tuan Hideki terharu, kini ia bisa bernafas lega. Selama ini ia harus bolak-balik antara Tokyo dan Jakarta untuk mengurusi perusahaan milik Ryota.


Kini dirinya juga sudah tenang karena bisa menemukan keponakannya yang hilang.


Sejak tuan Hideki membaca surat  yang Yura selipkan di antara batuan apung di atas makam Ryota, Hideki berjanji pada kakaknya untuk bisa menemukan keponakannya.


Ryota adalah sosok kakak yang di cintai oleh adik-adiknya. Karena Ryota juga perusahaan keluarga mereka berkembang dengan pesat. 


Ryota sendiri memberikan induk perusahaan keluarga mereka pada Hideki dan adik bungsu mereka.Ia memilih untuk membuka bisnisnya di Indonesia karena kecintaannya pada negara Indonesia hingga mendapatkan jodoh di negeri ini.


Karena itulah, sampai saat ini tuan  Hideki selalu menjaga kestabilan perusahaan sang kakak dan bermaksud untuk membalas kebaikan kakaknya dengan menemukan dan merawat putrinya.


Setelah mendapatkan hasil tes itu, tuan Hideki bermaksud menyampaikan berita tersebut kepada Yura. Dari laboratorium, ia langsung menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Tuan Hideki menghampiri ruang perawatan Leon.


Ketika berada di luar ruangan. Ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada para bodyguard yang berjaga. Setelah itu barulah beliau diperbolehkan untuk masuk.


Saat itu Yura dan Leon sedang bercanda. 


"Selamat siang,tuan dan Nyonya Leon Sebastian," ucap tuan Hideki.


Yura langsung menoleh dan menyambut senang kehadiran sang paman.


"Ojisan. "


" Bagaimana keadaan kamu Sheina ?" tanya Tuan Hideki sambil mengusap kepala Yura.


"Baik Paman."


"Bagaimana dengan keadaan anda?"tanya tuan Hideki pada Leon.


"Baik, kemungkinan besok saya sudah boleh pulang."


"Saya juga harus kembali ke Tokyo besok karena ada urusan mendadak."

__ADS_1


"Ya, kenapa paman cepat sekali pulang ? "tanya Yura.


"Paman sudah lama berada di sini. Tapi sekarang paman sudah tenang karena sudah menemukan kamu."


Tuan Hideki kemudian menyodorkan sebuah amplop kepada Yura.


"Apa ini?"


"Hasil tes DNA. "


Yura membuka selembar kertas tersebut.


"Ini artinya apa?"


"Artinya kau adalah anak kandung dari Ryota dan Chelsea. Itu juga berarti kau akan mewarisi perusahaan ayahmu," terang tuan Hideki.


"Perusahaan? Apakah perusahaan ayah masih ada ?" 


"Masih, karena kami menjaganya. Agar suatu saat perusahaan itu bisa kami kembalikan kepada mu. "


Yura tersenyum. 


"Syukurlah, berarti dengan perusahaan ini aku punya kekuasaan dan uang? Dan tak ada lagi yang akan berani semena-mena terhadap ku," ucap Yura sambil melirik ke arah Leon.


"Haha, Iya. Paman akan menyuruh beberapa orang bodyguard untuk mengawal mu. Jadi tak akan ada yang berani menyakiti mu," ucap tuan Hideki.


" Ehm, apakah termasuk suamiku Paman ?"tanya Yura sambil melirik ke arah Leon.


"Iya termasuk suamimu,haha."


Tuan Hideki merangkul Yura. 


"Tapi aku yakin suamimu, tak akan macam-macam terhadapmu. Karena jika dia berani macam-macam, aku akan membawamu pulang ke negaraku, dan dia tak akan pernah menemukanmu lagi," ancam tuan Hideki dengan nada bercanda.


"Tentang saja Tuan, keponakan anda gak diapa-apain kok. Paling aku kasih yang enak-enak setiap hari," ucap Leon sambil nyengir seperti kuda.


Tuan Hideki hanya tersenyum karena ia sendiri tak mengerti maksud dari Leon.


"Baiklah Tuan, saya harap anda bisa mengawal kasus kecelakaan yang menimpa saudara saya. Untuk sementara saya titipkan Sheina kepada anda. "


"Oke Tuan, anda tenang saja. Saja akan jaga keponakan anda. Saat anda kembali saya bisa pastikan keponakan anda telah berbadan dua ," cetus Leon sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Yuna.


"Hah! Maksudnya punya dua badan ?"tanya tuan Hideki bingung .


"Haha, lihat saja nanti."


"Oke, kalau begitu tolong urus penggantian akta kelahiran Sheina, karena nantinya surat-surat penting perusahaan akan saya balik nama atas nama Sheina Aika."


"Tentu saja. "


" Kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih atas bantuannya," ucap tuan Hideki sambil menjabat tangan Leon.


"Terima kasih juga Tuan, karena kembali mempercayakan Sheina pada saya." 


Kedua orang tersebut pun saling melempar senyum.


***


Setelah kepergian tuan Hideki, Leon kembali diperiksa oleh dokter.


"Detak jantung sudah normal, tensi darah juga cukup baik," ucap dokter sambil membaca laporan kesehatan Leon.


Dokter mengarahkan stetoskop ke dada Leon. 


"Bagaimana dengan napsu makannya Tuan ?" tanya dokter 


"Nafsu makannya baik dok, nafsu yang lain juga sangat baik, hanya saja tak tersalurkan dengan baik," cetus Leon dengan nada mengeluh


"Haha, kalau itu harap bersabar ya Tuan. Mungkin dalam dua sampai tiga minggu lagi, baru bisa beraktivitas seperti biasa." 


"Hah, apa tak ada obat yang lebih paten yang bisa bikin saya cepat sembuh, jadi besok  sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa,dok?" tanya Leon.


Haha… tak hanya dokter, perawat juga ikut tertawa mendengar ucapan Leon.


Leon sudah begitu nelangsa karena semenjak tidur seranjang dengan Yura. Perkututnya mengalami insomnia hingga dirinya juga kesulitan untuk beristirahat. Maklum saja sudah berapa bulan Leon mendambakan hal itu. 


"Haha, mana ada obat ajaib seperti itu Tuan. Sebaiknya anda bersabar saja. Saya takut jika terlalu dipaksakan, justru akan semakin memperlambat penyembuhan anda."


"Setelah sembuh, silahkan anda beraktifitas seperti biasa sesuka hati anda," cetus dokter . Dokter pun mengulum senyumnya melihat reaksi Leon.


Yura tersenyum memainkan alisnya.


" Tunggu dua sampai tiga minggu lagi ya," ucapnya Lirih.


"Oh tidak ! "


Bersambung dulu gengs. Pasti puaskan bacanya. Otor sengaja bikin yang panjang-panjang biar puas.


sambil menunggu author up yuk kunjungi karya keren yang satu ini.

__ADS_1




__ADS_2