Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Setelah makan malam,  Nadia menuju balkon untuk menikmati pemandangan  malam yang begitu indah dari apartemen berlantai 7 itu.


Nadia berdiri di tepi pagar besi sambil menatap gemerlap lampu-lampu seluruh kota yang berwarna-warni.


 Ia menghirup udara yang ada di sekelilingnya dengan bebas tanpa ada tekanan, sambil membayangkan masa kecil yang begitu suram ketika tinggal bersama papanya.


Karena melarikan diri dari ayahnya, selama bertahun-tahun Nadia harus beberapa kali pindah. Ia dan ibunya juga hidup dalam keadaan sederhana, untuk menghidupi keluarganya ibunya terpaksa jadi seorang menjadi buruh cuci.


"Sedang melamun ya?"tanya Zen sambil memeluk Nadia dari belakang.


 Udara dingin yang berhembus dari arah depan, berbaur dengan hangatnya dari dekapan Zen.


 Nadia menikmati rasa hangat dan aroma segar yang keluar dari tubuh Zen yang baru saja mandi itu.


Zen meletakkan dagunya di pundak Nadia.


"Kenapa kamu tampak sedih?"


" Nggak sedih. Hanya saja, aku ingat mama. Sejak dulu Mama tak pernah merasakan kebahagiaan nya.  Mama pernah cerita, sejak Papa  berubah menjadi seorang pemabuk dan pengedar narkoba, seketika itu rumah tangga mereka seperti berada di tepi neraka."


"Papa selalu pulang dalam keadaan mabuk dan marah-marah karena  uangnya habis di meja judi."


"Karena tidak tahan dengan perlakuan Papa tersebut, kami memilih lari meninggalkannya ."


"Setelah sekian tahun berhasil melarikan diri. 6 bulan yang lalu, papa menemukan kami, dan sejak itulah aku dan mama merasa hidup seperti berada di dalam penjara, karena harus menuruti semua keinginan papa. Aku dipaksa bekerja untuk memberinya uang, sementara aku tidak tahu apa yang terjadi pada Mama selama aku bekerja."


" Ternyata selama aku kerja, Papa selalu menyakiti mama, dia tidak memberi mama makan dengan layak. Papa selalu memaksa mamah makan dari sisa-sisa makanannya."


"Jika ingat itu semua aku jadi membenci papa," ucap Nadia sambil meneteskan air matanya.


 Zein semakin erat memeluk Nadia.


"Aku tidak bisa berjanji apa-apa. Namun , jika kau menjadi istriku, Aku akan berusaha memenuhi kebutuhanmu. Kan ku buat kau bahagia dengan caraku," ucap Zein sambil  genggam tangan  Nadia.


"Semoga saja Mas, jujur saja aku pernah trauma karena melihat rumah tangga kedua orang tua ku. Bahkan aku sempat berniat untuk tak menikah," ucap Nadia.


 Zen membalikkan tubuh mereka bagian menghapus air mata Nadia kemudian mengecup bibirnya.


"Mungkin karena itulah, Tuhan mempertemukan kita agar aku bisa menjagamu," tutur Zen sambil menarik Nadia dalam pelukannya.


Nadia merebahkan kepalanya dada bidang milik Zen tangannya melingkar sepanjang perut dan punggung Zen."


"Terima kasih Mas, karena mau menerima ku apa adanya."


"Aku juga tak sempurna dan aku  ingin kau menerimaku apa adanya. Aku orang yang sibuk, kau lihat sendiri kan bagaimana pekerjaanku, tapi aku akan berusaha Membagi waktu ku untukmu."


"Iya, aku mengerti itu."


Nadia semakin mempererat dekapannya terhadap Zen. Tubuh tegap yang hangat itu, mampu menghalau udara dingin yang berhembus menyapu  tubuhnya.


Sejenak suasana hening karena mereka saling menikmati kehangatan itu.

__ADS_1


"Nadia, kau ingin pernikahan seperti apa?" tanya Zein.


"Aku hanya ingin pernikahan yang biasa saja, tak terlalu mewah. Aku tahu Kau pasti sibuk untuk mempersiapkan pernikahan yang mewah."


"Tidak juga, Aku punya banyak asisten. Ini pernikahan pertama kita dan menikah itu yang sekali dalam seumur hidup, aku ingin buat pesta semewah mungkin resepsi pernikahan kita."


"Kau tahu, Aku juga ingin jadi raja dalam satu hari meski itu hanya sekali seumur hidup."


"Iya, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya jadi Ratu sehari meski hanya sekali seumur hidup," sahut Nadia.


"Tenang saja setelah kita menikah ,aku akan menjadikanmu Ratu di istana kita sendiri."


Nadia tersenyum sambil semakin mempererat pelukannya.


Wanita mana yang tak luluh mendengar itu, apalagi ia seorang wanita yang begitu mendambakan kasih sayang dari seorang pria.


Setelah beberapa saat keduanya mengurai pelukannya.


"Sudahlah, sebaiknya kita beristirahat. Besok pagi-pagi kita berangkat " ucap Zen.


"Iya."


Mereka berdua melangkah dengan menuju kamar masing-masing..


Nadia masuk kedalam kamarnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Setelah hari hari yang penuh melelahkan selama bertahun-tahun. Akhirnya ia bisa bersantai, sayangnya ketika Ia merasakan kebahagiaan. Nadia tak bisa membagi kebahagiaan itu ada ibunya.


"Semoga mama tenang di sana mah, Mama ingin Nadia merasakan hidup bahagia dan saat ini Nadia menemukan seorang laki-laki yang bersedia menerima Nadia apa adanya. Lelaki yang berjanji pakan membahagiakan Nadia, semoga mas Zein bisa memegang janjinya," ucap Nadia sambil memejamkan matanya dengan bulir bening menetes di pipinya.


****


Welly berada di rumahnya.


Iya mondar-mandir karena merasa resah. Bagaimana tidak, Ia sekarang tak bisa menemukan Nadia.


"Raymond pasti marah denganku," gumam Welly.


Karena tidak jadi mengawinkan Nadia dan Reymond, Welly jadi tak berani meminta fasilitas pada Reymond.


" Sialan ! padahal aku sudah menyingkirkan wanita tua yang tak berguna itu ,agar Nadia bisa ku kuasai sendiri,"ucap Welly.


"Aku harus mencari keberadaan Nadia. Aku takut dia akan membongkar semuanya."


"Tapi aku harus kemana mencarinya?" tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.


Welly menuju dapur, perutnya terasa begitu lapar. Namun, tak ada sedikitpun sisa makanan yang tersisa.


"Sial !hari ini aku tak bisa makan lagi!"


Ia mencari sesuatu yang bisa ia jual. Namun, tentu saja tak ada satupun harta di rumahnya yang bisa ia jual.

__ADS_1


Willy kembali mengamuk karena kesal.


"Kalau begitu aku harus temukan Nadia, jika Nadia bisa menikah dengan Reymond. Reymond akan memberiku sejumlah uang setiap bulannya, jadi aku tidak perlu bekerja."


Karena tak memiliki uang, Welly tidak datang ke tempat perjudian.


Welly terpaksa tidur dalam keadaan lapar.


***


Keesokan harinya Zen dan Nadia sudah bertekad untuk menemui Papanya Nadia.


Zen juga membawa beberapa mobil pengiring yang membawa para bodyguard untuk mengawal dirinya dan calon istrinya.


Sepanjang perjalanan Nadia hanya melihat ke arah luar jendela mobil. Nadia terlihat begitu gelisah .


"Sayang, kau Kenapa?" tanya Zain.


"Tidak aku hanya gugup, aku takut apa yang aku khawatir kan terjadi."


Zen menggenggam erat tangan Nadia. "Kau tenang saja, selama ada aku disini, tak akan kubiarkan sesuatu terjadi padamu. Percayalah padaku."


Nadia tersenyum sekilas ke arah Zein.


"Iya, aku percaya padamu."


Kemudian Zen menarik tangan Nadia agar berada di dekatnya.


Nadia jatuh dalam pelukan Zein, sementara Zein. mengecup Puncak kepala Nadia.


Mungkin cinta itu terlalu cepat tumbuh di hati mereka, tapi mereka sudah merasa nyaman bersama. Bagi Zen seperti apapun orang yang akan dihadapi nanti, ia harus berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tuanya Nadia, karena cinta memang harus diperjuangkan.


Satu jam perjalanan, merekapun tiba di kediaman Nadia.


4 buah mobil Dengan 8 Bodyguard turun mengikuti kemana Zein dan Nadia melangkah.


Ketika sampai di depan rumahnya Nadia mengetuk pintu rumahnya itu.


Tok tok tok tok tok.


Willy tersentak kaget ketika mendengar gedoran pintu.


"Siapa ?"tanya Willy dari arah dalam.


"Nadia," jawab Nadia.


Welly tersenyum, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia segera bergegas dari tempat tidurnya untuk membuka kan pintu bagi Nadia.


Kre...ek ketika pintu dibuka mata Welly pun terbelalak.


Gleg ...Welly menelan ludah secara kasar.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2