Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Nessa duduk di samping Irgi yang ketika itu sedang menunggu jenasah ibunya dimandikan.


Sesekali terlihat bulir bening menetes di pipi Irgi.


Irgi tak banyak bicara, terlihat sekali ia begitu syok dan sedih.


"Ibu kamu sakit apa Gi?!" tanya Nessa.


'Kanker darah," sahut Irgi lirih sambil menyapu bulir bening di pipinya.


"Aku baru tahu beberapa bulan terakhir, karena ibu selalu menyembunyikan dari ku. Karena aku jarang berada di rumah, sibuk kerja dan kuliah," papar Irgi.


"Setelah aku tahu, ternyata ibu menderita kanker darah stadium empat. Mendengar penyakit ibu, aku lakukan segala cara agar ibu bisa sembuh termasuk operasi. Tapi kenyataannya takdir berkata lain, hiks hiks," Irgi kembali menangis penuh sesal.


Mendengar penuturan Irgi, Nessa juga ikut berduka.


"Sabar Gi, ibu kamu sudah tenang dan gak ngerasa sakit lagi," ucap Nessa. 


"Iya, aku hanya sedih saja dengan nasib adik-adikku, mereka pasti terpukul karena kehilangan ibu ku," ucap Irgi.


Irgi kembali menetes air matanya. Tak ingin mengganggu Irgi, Nessa hanya diam saja tanpa banyak bertanya lagi.


Karena jenasah ibunya Irgi akan di pulangkan ke rumah, maka Dinda dan Sarah  sudah pulang untuk membereskan barang-barang mereka agar para pelayat bisa melihat keadaan Ibunda Irgi. 


Saat sedang menemani Irgi, Nessa mendapatkan telepon.


"Halo Nessa kamu di mana?" tanya Tiara.


"Aku ada di rumah sakit, ibunya Irgi meninggal dunia."


"Hah, meninggal dunia, seriusan loh?"


"Ih serius lah , nggak enak gua, udah nanti gua telepon aja ya gua mau ikut Irgi."


"Lu, ikut Irgi kemana Nessa?"


"Kerumahnya."


"Hah, lu mau ke rumah Irgi?!"


"Iya."


"Nanti lu jemput gua di rumah Irgi saja ya."


"Iya deh."


Setelah dimandikan jenazah ibu Elma Kirana dimasukkan ke dalam mobil ambulans.


Bahkan Nessa ikut dalam mobil Ambulans tersebut.


***


Leon menatap petunjuk waktu yang ada di pergelangan tangannya.


"Kemana Nessa, belum pulang juga."


Leon yang khawatir langsung menghubungi Nessa.Namun Nessa tak mengangkat teleponnya.


Leon pun memutuskan untuk menghubungi bodyguard yang menjaga Nessa.


"Halo Nessa dimana?"tanya Leon pada bodyguard-nya.


"Tuan putri, pergi bersama seorang pria Tuan."


"Seorang pria? Tapi pergi kemana?"


"Ke rumah sakit, tuan."


"Rumah sakit?!"


"Iya tuan setelah di rumah sakit saya kehilangan jejak tuan putri."


"Kenapa kalian sampai kehilangan jejak putriku! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya!"


Kreakk…pintu ruangan Leon terbuka.


Leon langsung menutup sambungan teleponnya.


"Nessa, kamu dari mana saja?Daddy khawatir."


"Aku habis ngelayat, temanku ibunya meninggal, aku tahu Daddy  pasti khawatir, makanya begitu pulang, aku langsung menghampiri Daddy."


"Iya Daddy khawatir kamu kan nggak pernah pulang malam-malam, apalagi kamu nggak pernah angkat telepon Daddy."


"Iya maaf daddy,  hp-nya Aku silent, jadi nggak kedengaran."


"Ya sudah, lain kali beritahu Daddy kalau mau ke mana-mana. Jadi  Daddy  nggak khawatir, kamu itu Putri Daddy  satu-satunya."


"Iya daddy! Aku permisi ya aku mau bersih-bersih dulu udah lengket seharian nggak mandi."


Nessa melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut Namun dipanggil oleh Leon.


"Nessa tunggu!"


Nessa berhenti dan memalingkan wajahnya pada Leon.


" Daddy dengar, kamu sedang dekat dengan seorang pria?siapa dia?"tanya Leon menyelidiki.


Nessa tersenyum malu-malu.


"Iya Daddy, tapi Daddy  tenang saja dia anak baik kok."

__ADS_1


"Nessa kamu tidak bisa langsung menyimpulkan baik tidaknya seseorang, hanya dengan beberapa kali bertemu."


"Iya Daddy tapi aku merasa dia memang anak baik-baik kok. Aku juga nyaman kok sama dia, " sahut Raisa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hah,berarti kamu memang suka sama cowok itu?!"tanya Leon mempertegas.


"Iya Daddy, kenapa? Aku kan sudah besar, bahkan Nathan saja sebentar lagi akan menikah, jadi boleh dong aku punya pacar?" ucap Nessa dengan manja.


"Bedalah Nathan itu laki-laki, Daddy gak mau anak Daddy bergaul dengan anak yang gak jelas!"


"Ih gak jelas bagaimana. Sudah ya Daddy, aku janji gak akan kecewakan Daddy kok," cetus Nessa sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Leon.


Nessa pun berlalu sambil menutup pintu ruangannya.


"Huh! Nathan dan Sheon sebentar lagi mereka akan menikah dan meninggalkan rumah ini, sedangkan putri ku sudah memiliki pacar, huh! Sepertinya aku yang belum siap melepaskan mereka semua," dengus Leon sambil kembali bersandar pada sofa besarnya.


Leon kembali meraih telepon genggamnya kemudian menghubungi seseorang.


"Cari tahu siapa pria yang tengah dekat dengan Nessa itu!"


"Baik Tuan."


***


Nathan bersama Raisa di dalam kamarnya. Sudah setengah jam ia berada bersama Nathan. Namun Nathan masih tak membuka suaranya.


"Tan kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu kok lebih banyak diam?"tanya Raisa.


"Aku sepertinya tidak pantas untuk kamu Ras, aku juga gak tahu siapa orang tua kandung  ku," sahut Nathan dengan lirih.


"Than, kamu kok bicara seperti itu sih? Aku tetap terima kamu apa adanya."


Raisa mendekati Nathan dan duduk di sampingnya.


Nathan melihat ke arah Raisa.


"Aku merasa gak pantas saja Ras, gak pantas untuk menikmati fasilitas yang diberikan mommy dan daddy. Aku juga merasa tak berhak mendapatkan pembagian warisan mereka," tutur Nathan dengan lirih.


"Lalu apa hubungannya dengan pernikahan kita Than?"


"Apa kau tetap bersedia menikah dengan ku, meski aku tak memiliki satu pun perusahaan mommy dan daddy?" tanya Nathan.


"Kamu meragukan aku?"tanya Raisa.


"Than aku yakin kamu jadi bisa bahagiakan aku dengan cara kamu sendiri," ucap Raisa sambil memeluk Nathan dari arah samping.


Nathan merangkul Raisa kemudian mencium pucuk kepalanya Raisa.


"Aku janji kok akan selalu berusa membahagiakan kamu,"  ucap Nathan.


Keduanya pun saling melempar senyum.


Kreak pintu kamar dibuka, Raisa dan Nathan memandang kearah pintu.


"Hehe, aku gak ganggu kalian berdua kan?" tanya Nessa.


"Gak kok.Ada apa?" tanya Raisa.


Nessa tersenyum malu-malu kucing.


"Ehm, aku mau curhat nih."


"Curhat saja," cetus Nathan.


"Aku suka sama seseorang," ucap Nessa dengan wajah yang merona.


"Cie-cie, ada yang jatuh cinta nih ye," sahut Raisa.


"Ehm gak cinta sih, tapi suka saja sama dia."


"Awalnya memang seperti itu, nanti lama-lama juga kamu ngerasain bagaimana rasanya jatuh cinta," sahut Raisa.


Nessa menundukkan wajahnya karena malu.


"Ya sudah deh, aku permisi dulu ya, maaf sudah mengganggu keromantisan kalian berdua," ucap Nessa seraya melambaikan tangannya.


"Hati-hati lo cari pacar, aku gak mau kamu sampai dimanfaatkan!" Seru Nathan.


"Beres bawel!" 


***


Nessa berkunjung ke rumah keluarga Irgi setelah beberapa hari ibu Irgi meninggal.


Jujur saja ia merasa miris dengan keadaan keluarga Irgi.


"Permisi!" Seru Nessa sambil mengetuk pintu rumah Irgi.


Saat itu Sarah berlari dari arah dapur menghampiri Nessa.


"Eh kakak, cari mas Irgi ya?" tanya Sarah adik Irgi yang berusia 12 tahun.


"Iya,tapi kakak punya sesuatu untuk kalian," ucap Nessa sambil menyodorkan sekantong besar Snack dan minuman kepada Sarah.


"Terima kasih kak. Masuk dulu," ucap Sarah.


"Iya."


Nessa masuk ke dalam rumah itu dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


"Mas Irgi kemana Sar?!" tanya Nessa.

__ADS_1


"Mas Irgi kepasar Kak."


"Ke pasar? Ngapain? Belanja kah?!"


"Ngak mas Irgi kerja, jadi kuli panggul di pasar," sahut Sarah.


"Kuli panggul?!"


"Iya yang mikul karung beras dari mobil ke toko itu," sahut Sarah.


"Hah, Irgi kerja seperti itu?!"


"Iya kak, mas Irgi jarang pulang karena sibuk kerja," sahut Sarah.


"Kasihan sekali Irgi."


"Bisa tunjukkan di mana mas Irgi kerja gak?"tanya Nessa.


"Bisa kak,ayo!"


***


Nessa dan Sarah berjalan kaki menuju ke pasar. Sambil menggenggam tangan Nessa ,Sarah menuntun Nessa menuju pasar yang tak jauh berada dari rumah mereka.


"Kak, orang-orang kok pada lihatin kakak ya, mungkin karena kakak cantik kali ya," cetus Sarah.


Nessa hanya tersenyum.


"Mas Irgi beruntung banget dapat pacar cantik seperti kakak," ucap Sarah.


"Kakak bukan pacarnya mas Irgi, hanya teman saja kok." 


"Hehe pacar juga gak apa kak, aku senang kok bisa punya kakak ipar yang cantik dan baik Seperti kak Nessa."


"Ah kamu bisa saja," cetus Nessa.


Tak terasa mereka pun tiba di pasar, dari kejauhan Nessa melihat Irgi yang sedang mengangkat karung beras yang diletakkan di atas punggungnya.


"Tuh kak, mas Irgi. Aku pulang dulu ya,nanti mas Irgi marah kalau tau aku yang antar kakak ke sini."


"Oh ya sudah, bisa pulang sendiri kan?"


"Bisa kok kak, setiap hari aku pulang sendiri."


***


Nessa menghampiri Irgi yang sedang bersandar pada sebuah tiang toko sambil mengatur nafasnya.


Keringat mengucur deras di wajah tampan Irgi.


"Mau minum?" tanya Nessa sambil menyodorkan botol air mineral.


Irgi menoleh ke arah samping nya dan ia kaget karena melihat Nessa.


"Nessa, Kamu?"


"Iya Gi, kamu gak kuliah lagi?"


"Nggak tahu nes mungkin aku ambil cuti dulu karena aku harus bayar utang aku."


"Oh begitu."


Nessa menarik tisu dalam tasnya, kemudian memberikan pada Irgi agar Irgi mengelap keringat yang mengucur deras tersebut.


'Kasihan banget kamu Gi,' batin Nessa karena tak tega melihat perjuangan Irgi.


Irgi menenggak setengah botol air mineral itu.


"Ness kamu di sini dulu ya aku mau lanjutin kerja nih dikit lagi."


"Iya Gi."


Satu jam kemudian Irgi pun selesai dia pun kembali bersandar pada tiang dengan wajah yang memerah dan keringat yang Kembali menuju deras.


Nessa benar-benar tidak tega melihat keadaan Irgi.


Rasanya ia ingin membantu Irgi membayar hutang-hutangnya yang dipinjam untuk pengobatan ibunya, Namun Irgi pasti tersinggung.


"Bokap gua punya banyak perusahaan lo nggak kerja di perusahaan beliau?"


Pergi menoleh ke arah Nessa.


"Kerja di perusahaan bokap Lo, emang ada lowongan?"tanya Irgi.


Irgi memang butuh pekerjaan tetap untuk membiayai kehidupan kedua adiknya dan membayar hutang pengobatan ibunya.


"Adalah perusahaan bokap ku banyak kok, aku juga sebenarnya akan diberikan kuasa suatu perusahaan untuk aku pegang, nanti aku akan bicarakan pada daddyku."


"Gak usah Ness, aku nggak mau merepotkan."


"Ah enggak kok kalau begitu cepat ganti baju kamu sekarang kita temui Daddy," ucap Nessa sambil beranjak 


 Nessa menarik tangan Irgi untuk ikut dengannya.


Mau tak mau Irgi pun ikut bersama Nessa.


Author punya karya keren nih sambil nunggu author up.


Cek this out ya.


__ADS_1



__ADS_2