
Sudah waktunya makan siang, Sheon beranjak dari kursi kebesarannya kemudian berjalan menghampiri meja Shasa di meja kerjanya.
"Kita makan bareng yuk," ajak Sheon.
Shasa sedikit kaget mendengar ajakan itu.
Sebenarnya, ia keberatan karena Sheon sudah memiliki tunangan. Shasa tak ingin dicap sebagai perebut kekasih orang lain, meskipun niat mereka hanya makan siang bersama.
Namun satu sisi Sheon adalah bosnya, dan ia tidak enak jika harus menolak ajakan bosnya itu.
"Baik Tuan." Shasa pun merapikan meja kerjanya.
Sheon tersenyum melihat Shasa hanya menundukkan wajahnya. Mereka pun berjalan beriringan.
"Kamu kenapa sih Sha, sakit ya?" tanya Sheon.
"Nggak kenapa-napa tuan," sahut Shasa dingin.
"Sha, nggak apa kan, kalau aku ajak kamu makan malam. Nanti malam aku jemput kamu," tawar Sheon.
"Makan malam?"tanya Shasa mempertegas.
"Iya makan malam !Kenapa, apa kamu sudah punya pacar, sehingga tidak mau makan malam bersamaku?" pancing Sheon.
"Bukan seperti itu tapi…"
"Ya sudah, aku tidak menerima kata tapi. Nanti malam aku jemput kau."
Shasa sedikit keberatan jika harus makan malam berdua dengan seseorang yang memiliki tunangan apalagi Sheon adalah bosnya.
Shasa tidak ingin jadi wanita yang memanfaatkan situasi itu.
Malahan, ia sudah memikirkan cara agar bisa melupakan Sheon, tapi sepertinya Sheon justru malah semakin mendekatinya.
Shasa masuk ke dalam mobil Sheon, kemudian mereka menuju sebuah restoran dan makan siang di sana. Selama berada di restoran tersebut, Shasa lebih banyak diam karena ia begitu canggung terhadap Sheon.
Sasha melirik kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang mengambil gambar mereka.
Shasa khawatir jika posisi sekretaris itu membuat orang berpikiran lain terhadapnya, karena banyak yang bilang sekretaris suka menggoda Bos dan Shasa tak ingin disamakan, meski ia menyukai Seon.
Shasa melirik ke arah wajah Sheon yang menatapnya sambil tersenyum-senyum
"Kenapa ada yang aneh pada wajahku?" tanya Shasa
Sheon tersenyum sambil menggelengkan wajahnya.
"Nggak ada, hanya saja kamu terlihat makin cantik," puji Sheon
Bukannya merasa tersanjung, Shasa justru merasa semakin khawatir.
Ia kembali menundukkan wajahnya sementara Sheon terus saja menatapnya sambil tersenyum.
Makan siang itu mereka lalui dengan banyak diam.
Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor
Lagi-lagi Shasa hanya diam, dia seperti menjaga jaraknya dengan Sheon.
***
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 07.00 malam Shasa berdiri di depan cermin.
'Bagaimana ya, sebenarnya aku tidak enak. Jika harus makan malam bersama Sheon, aku takut tunangannya berpikir macam-macam,' batin Sasa sambil merapikan rambutnya
Tut Tut suara klakson mobil terdengar hingga ke kamar Shasa.
Karena ia kenal suara mobil itu Shasa buru-buru keluar dari kamar.
"Ke mana Sa?" tanya bu Diah.
"Sheon mengajak Shasa makan malam Bu," jawab Shasa.
"Kamu yakin mau makan malam bersama Sheon. Dia kan sudah punya tunangan, nanti kamu dipikir pelakor lagi."
"Sebenarnya Shasa juga tidak enak Bu menerimanya, tapi juga nggak enak menolaknya," sahut Shasa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudahlah, hati-hati saja Sha," ucap bu Diah .
Shasa keluar dari pintu rumahnya. Seketika ia menghentikan langkahnya dengan mata yang membelalak ketika melihat ketampanan Sheon dengan menggunakan kemeja biru dongker dan blazer hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Apalagi senyumnya begitu menawan, membuat debaran jantung Shasa semakin kencang.
'Oh tidak aku tidak boleh tergoda dengan pesona pria itu,' batin Sasa
Karena tak ingin terpesona dengan senyum Sheon, Shasa menundukkan wajahnya sambil menghampiri Sheon.
"Kamu kenapa dari tadi kok aku lihat kamu menunduk saja, tidak senang ya?" tanya Sheon ketika membuka pintu untuk Shasa.
"Ngak apa-apa kok "
Bu Diah hanya mengintip dari luar jendela melihat perlakuan istimewa tersebut dari Sheon.
Shasa terlihat begitu canggung,Ketika Sheon sesekali tertangkap melirik lirik ke arahnya.
Shasa yang kaget langsung menoleh ke arah Sheon.
"Mungkin iya aku cantik tapi cantikan tunangan kamu dong," ucap Shasa sambil tersenyum nyengir, ia berusaha menahan laju debaran jantungnya saat Sheon mengatakan hal itu.
"Masa', cantikan kamu lah menurut aku," goda Seon.
Shasa mengulum senyumnya hatinya seketika berbunga-bunga mendengar sanjungan dari Sheon.
Rasanya ia ingin melayang. Namun perasaan itu buru-buru ia tepis.
Selama dalam perjalanan mereka hanya diam keduanya tak tahu apa yang harus dibahas.
Shasa heran melihat mobil Sheon, memasuki sebuah komplek perumahan mewah.
"Kita mau ke mana sih Sheon, sepertinya ini berada dalam komplek perumahan mewah," ucap Shasa.
"Kita mau makan malam bersama keluargaku dan keluarga calon adik iparku Sha."
"Keluargamu?!" tanya Shasa dengan kaget.
"Iya ,memangnya kenapa? kok kamu terlihat begitu syok sih?"tanya Sheon.
"Tapi Seon, jika kita makan malam bersama keluarga kamu,apa mereka tidak berpikiran macam-macam terhadapku," tutur Shasa dengan polos.
"Berpikir macam-macam apa maksudmu?"tanya Sheon pura-pura tidak mengerti.
"Iya nanti dipikir aku adalah kekasih kamu sementara kamu kan sudah memiliki tunangan," ucap Shasa dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ah nggak lah orang tuaku gak seperti itu."
"Orang tua kamu memang nggak seperti itu tapi bagaimana dengan tunangan kamu?"tanya Shasa lagi.
"Sudahlah, tenang saja aku yang tanggung jawab kok."
Selang beberapa menit mereka pun tiba di rumah Zain.
Shasa semakin canggung ketika melihat deretan mobil mewah terparkir di halaman rumah yang cukup mewah tersebut.
"Ayo Sha turun," ajak Sheon ketika Shasa hanya diam, sementara mobil mereka sudah berhenti dan terparkir dengan rapi.
Shasa melepas Sealt beltnya kemudian membuka pintu mobil.
"Ayo,mari masuk," ajak Sheon ketika melihat Shasa terlihat ragu.
Shasa mengikuti langkah Seoul tiba di ruang tamu ternyata kehadiran mereka sudah ditunggu.
Mereka berdua pun disambut oleh tuan rumah.
"Selamat malam," ucap Sheon ketika memasuki ruang tamu.
"Selamat malam juga," ucap mereka semua.
"Ayo Sha sini mendekat."Sheon menarik tangan Shasa agar berada di sampingnya.
Mereka semua masih menatap ke arah Sheon dan Shasa.
"Mommy, Daddy, perkenalkan dia adalah Shasa calon istri aku," ucap dengan berani.
Shasa membelalakkan bola matanya menatap ke arah Sheon dengan jantung yang berdebar kencang.
"Sheon apa maksud kamu?" bisik Shasa.
"Oh jadi ini gadis yang menarik perhatian kakakku," ucap Nathan.
Shasa semakin menundukkan wajahnya.
"Kakak ipar, kenapa wajahnya menunduk saja, Apa kau malu punya calon suami seperti kakakku," canda Nathan.
"Hahaha dia bukan malu hanya salah paham."
Shasa semakin bingung.
"Sha, sebenarnya aku tidak jadi bertunangan, dan aku membawamu ke sini atas permintaan keluargaku. Mereka membawa memintaku membawa seseorang yang spesial, yang akan menjadi calon istriku, dan orang itu adalah kamu Sha," ucap Sheon di hadapan semua orang.
Bukan main kagetnya Shasa saat itu.
Kemudian Sheon merogo saku blazernya, ia meraih kotak cincin kemudian menyodorkannya pada Shasa kotak cincin itu.
"Will you marry me?"tanya Sheon di hadapan keluarganya.
Deg
Deg
Deg.
bersambung ya ges maaf outhor upnya kemalaman baru sempat.
__ADS_1
.