Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Malam Pertama


__ADS_3

❌Mengandung adegan dewasa, bocil di skip aja ya. ❌


Setelah resepsi Zein langsung membawa pengantinnya menuju apartemen mewah mereka.


Rasanya ia sudah tak sabar untuk melakukan ritual belah duren malam ini.


Namun, hal yang berbeda di rasakan oleh Nadia.Nadia menggigit bibir bagian bawahnya.


Perasaan melayang entah kemana saat itu.


Sementara Zein saking semangatnya sambil menyetir ia bernyanyi.


"Belah duren dimalam hari paling enak dengan kekasih di belai mas...di belai..."


Tiba-tiba ia melihat ke arah Nadia dengan wajah tegang.


"Sayang kamu kenapa, kok tiba-tiba jadi tegang gitu?"tanya Zein.


Nadia tak menjawab ia larut dalam lamunannya.


"Sayang !"panggil Zein lagi.


"Iya," sahut Nadia sambil menoleh ke arah Zen.


"Kamu kenapa sih? tadi perasaan baik-baik saja. Kamu nervous ya?" tanya Zein.


Nadia tersenyum kecut.


"Iya mas, aku nervous."


"Tenang saja gak akan sakit kok sayang, seperti di tusuk duri saja, sakit dikit," ucap Zein. sambil menarik turunkan alisnya.


"Di tusuk duri? kalau dirinya gede kan sakit juga," cetus Nadia.


"Gak gede kok Sayang, punya mas cuma segede tongkat baseball," sahut tersenyum menahan tawanya.


"Hah! " Nadia semakin syok, ia langsung menoleh ke arah celana Zein.


'Gak kelihatan gedenya,' batin Nadia sambil menghela nafas lega.


"Jangan di bandingin dulu, kalau dia tidur emang gak keliatan, setelah bangun baru membesar seperti tongkat baseball," sahut Zein sambil menggoda istrinya itu.


Glek wajah cantik Nadia seketika memucat.


Melihat hal itu Zein semakin tertawa.


"Haha, daripada penasaran Yuk kita turun. Karena kita sudah sampai," ucap Zein.


Nadia memandang sekitarnya dan benar saja saat itu mobil mereka sudah terparkir di basement apartemen.


Zein membuka sabuk pengaman kemudian membuka pintu mobil, sementara Nadia masih duduk termenung di dalam mobil.

__ADS_1


"Ayo Sayang kita turun," ucap Zein sambil membuka pintu mobil.


Zen membantu Nadia turun dari mobil itu. mereka bergandengan tangan melewati koridor menuju apartemen mereka.


langkah Nadia terasa berat ketika menuju apartemen hingga tibalah mereka di depan pintu apartemen.


"Selamat datang kembali di rumah Ini Nyonya,"ucap Zein setelah membuka pintu.


Zein langsung menutup dan mengunci pintu apartemennya.


Nadia kaget, tiba-tiba saja tubuhnya terangkat.


Zein mengangkat pengantinnya itu dan langsung membawanya menuju kamar pengantin mereka.


Nadia dan Zein saling melempar senyum ketika dua netra mereka saling menatap.


Zein meletakkan tubuh Nadia secara perlahan-lahan di atas tempat tidur.


Jantung Nadia berdetak semakin cepat.


Inilah saatnya malam pertama mereka.


Meski takut. Namun Nadia coba untuk bersikap tenang.


"Sudah siap sayang ?"tanya Zen kemudian berdiri untuk membuka seluruh penutup tubuhnya.


Nadia memperhatikan suaminya yang melepas penutup tubuhnya satu persatu dan hanya menyisakan celana boxer dan membuat penasaran bagi Nadia.


"Bagaimana, mau aku bantu melepas gaunmu itu?" tanya Zain sambil menarik tangan Nadia agar ia bangkit dari berbaringnya.


Karena memang tak bisa melepaskan gaun itu sendiri Nadia meminta pertolongan Zein.


Tangan Zen menarik resletingnya sementara matanya terus mengamati bagian tubuh Nadia yang mulai terekspor sedikit demi sedikit.


"Benar-benar durian montong, gumam Zen sambil tersenyum-senyum mesum. Si junior perlahan bangkit dan menonjolkan dirinya.


Setelah resleting tertarik hingga ke dasarnya. Zein kembali merebahkan tubuh Nadia.


Kedua netra mereka pun saling beradu saat Zein berada di atas tubuh istrinya.


Wajah Nadia masih tampak tegang.


"Santai saja, Sayang akan ku mulai dengan perlahan," ucap Zein.


Nadia hanya mengangguk dengan jantung yang terus memompa cepat


Zein memulai ritualnya dengan mencium kening Nadia kemudian ciuman itu perlahan turun.


Zein mencium dua kelompak mata Nadia sedikit demi sedikit hidungnya menyusuri permukaan wajah Nadia hingga tiba di bibirnya.


Zen langsung melahap bibir Nadia tanpa ampun hingga Nadia kesulitan untuk mencari oksigen.

__ADS_1


"Mas! kau bisa membunuhku," ucap Nadia sambil mendorong tubuh Zein.


"Hehe maaf, aku klilaf sayang."


Zein kembali mencium bibir Nadia.Namun kali ini dengan lebih lembut hingga Nadia terbawa suasana.


Bibir mereka saling bertaut dengan napas yang memburu. Nadia sudah terpancing gairah, ia pun sudah mulai rileks dan bisa mengimbangi permainan Zein.


Setelah puas bermain di bagian wajahnya, Ciuman Zein turun menyusuri leher jenjang istrinya.


Nadia bergidik, hasratnya semakin terbakar. Apalagi kini Zen sudah sampai pada dua bukit kenyal milik istrinya.


Dengan lembut Zein menyesap bukit tersebut kemudian memainkannya dengan lidahnya sementara satu bukit lagi jadi sasaran empuk jemari tangan Zen.


Tubuh Nadia mengelinjang, saat itu ia benar-benar terbakar hasrat.Zein melepaskan gaun Nadia hingga kulit mereka saling menyentuh.


Nadia menggigit bibirnya menahan hasratnya yang sudah memuncak.


"Sudah mas aku tak tahan bisik Nadia lirih."Ia sudah tak perduli sebesar apapun tongkat sakti milik Zein.


Diafragma Nadia bergerak turun naik menahan geloranya.


Zen tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah karena tak lagi kuat menahan.


Zein langsung menarik gaun panjang itu kemudian hingga menampakan tubuh istrinya tanpa sehelai benang pun. Kemudian ia membuka penutup akhir tubuhnya.


Dengan senjatanya Zein segera menyerang bagian inti istrinya.


Meski Nadia menjerit.Namun tak menghentikan aksinya itu.


Setelah gawang berhasil di bobol Nadia tak lagi bersuara, matanya merem melek menikmati serangan brutal suaminya itu.


Satu ronde pertama berlangsung satu jam.


Zein merebahkan tubuhnya diatas tubuh istrinya yang juga di penuhi keringat.


Ranjang mereka terlihat begitu berantakan.


Keduanya pun tersenyum puas.


"Bagaimana masih mau lagi?"tanya Zein dengan napas yang terengah-engah.


"Mau," sahut Nadia dengan cepat.


Belum pun suhu tubuh mereka mendingin, ranjang tersebut kembali berguncang dengan dashyat.


Setelah permainan ronde kedua Zein merebahkan diri di samping tubuh istrinya. Meski letih tapi ia begitu puas.


Keduanya tertidur dengan perasaan lelah dan bahagia.


Bersambung dulu ya gengs.

__ADS_1


__ADS_2