
Melihat kedatangan Leon, Welly langsung menghindar. Ia mengurungkan niatnya untuk sementara waktu.
Leon dan Sheon menghampiri kamar perawatan ibu Nadia, bermaksud untuk melihat keadaannya.
"Disini Daddy, " ucap Sheon sambil menunjuk sebuah ruangan.
Mereka pun hendak masuk ke dalam ruangan tersebut .
Saat itu Leon melihat Zen yang sepertinya juga menghampiri ruangan tersebut.
"Loh, Zen kau di sini?" tanya Leon.
"Iya tuan, Anda juga mau masuk ke ruangan ini ?" tanya Zein.
"Iya, kamu kenal dengan Nadia?" tanya Leon
"Saya yang mengantar ibunya ke rumah sakit ini, Tuan. Tadi subuh Nadia menghentikan mobil saya dan meminta saya untuk membawa ibunya ke rumah sakit," papar Zein.
"Anda kenal dengan Nadia ?"Zein bertanya balik.
"Tentu saja, selama sebulan dialah yang mengasuh anak ku."
"Oh begitu, kebetulan sekali,"ucap Zein.
"Kedatanganku kemari untuk melihat keadaan ibunya. Mommy bilang jika ibunya Nadia begitu memprihatinkan."
"Iya Tuan, menurut Nadia, ibunya sering di paksa makan makanan basi' oleh ayahnya."
"Hah ! Kejam sekali?"
"Mungkin karena itulah, beliau sampai menderita infeksi saluran pencernaan ."
"Kasihan sekali mereka."
Mereka berdua menghampiri Nadia, kedatangan kedua orang itu Nadia jadi takut.
"Apa hubungan mas Zei. dengan Tuan Leon ya,"batin Nadia.
"Nadia," sapa Leon.
" Iya tuan," sahut Nadia dengan gugup.
"Bagaimana keadaan ibumu ?" tanya Leon.
.
"Belum ada perubahan tuan."
"Ibu masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut,"
"Oh begitu, baiklah."
"Jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku, tak perlu sungkan," ucap Leon.
"Zein apa kau akan menemani Nadia ?" tanya Leon.
"Iya Tuan."
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal. jika ada sesuatu hal katakan saja padaku," ucap Leon.
"Baik Tuan."
"Sheon ayo."
Leon dan Sheon pun meninggalkan tempat itu.
"Nadia Kau sudah makan ?"tanya Zen.
"Belum Mas."
__ADS_1
"Kalau begitu, ini makanan untuk kita, duduklah bersamaku. Kita makan bersama, aku juga membawa makanan lembut khusus untuk Ibumu."
Nadia tersenyum dengan bola mata yang berembun, karena merasa begitu haru, saat ini ia dikelilingi orang-orang yang baik.
Mereka pun makan di sofa tak ada pembicaraan diantara mereka karena masih sungkan.
Selesai makan, Nadia menghampiri bu Rita. Sudah sejak siang tadi Bu Rita tertidur, hari juga sudah menjelang magrib. Nadia maksud membangunkan bu Rita untuk menyuapinya makanan.
"Ma, bangun ma. Kita makan dulu yuk," ucap Nadia sambil mengguncang tubuh Bu Rita dengan pelan.
"Ma, ayo bangun ma. Ini sudah malam."
Karena tak mendapat respon dari Bu Rita. Nadia kemudian menatap dan mengamati wajah Bu Rita.
Nadia kembali meraba bagian pergelangan tangan ibunya.
Saat itu Nadia tak merasakan denyutan nadi di pergelangan tangan Bu Rita.
"Ma, Mama kenapa Mama ?!"tanya Nadia panik.
Melihat itu Zen langsung menghampiri mereka.
"Ada apa Nadia?"
"Mama, mama tidak mau bangun,nadi di pergelangan tangannya juga tidak terasa sedikitpun."
"Baiklah, akan ku panggil suster."
Zein keluar untuk memanggil suster beberapa saat kemudian Zen datang dengan membawa seorang suster dan dokter jaga.
Nadia semakin panik ketika berkali-kali mengguncang tubuh mamanya tak juga mendapat respon.
"Ma, bangun ma, ini Nadia ma. Jangan buat Nadia jadi khawatir Ma,"tangis Nadia sambil terisak.
Dua perawat tersebut langsung memeriksa Bu Rita
Mereka memeriksa pergelangan tangan dan detak jantungnya dengan menggunakan stetoskop.
"Maaf, Ibu anda sudah tiada?" ucap suster tersebut.
"Apa, tapi tidak mungkin, hikss."
"Iya, ibu anda sudah meninggal," imbuhnya lagi.
Nadia begitu syok dan sedih.
"Mama?" tangis Nadia langsung pecah seketika
"Mama! "tangisnya lagi. Ia begitu sedih hingga tak sanggup menerima kenyataan, Nadia pun pingsan.
Beruntung Zein segera menyambar tubuhnya .
"Nadia, sadar Nadia." Zein menepuk pipi Nadia.
Karena Nadia masih tak sadarkan diri. Zein mengangkat tubuhnya dan meletakkan di atas sofa .
"Nadia, bangun Nadia ." Panggil Zein, sementara kedua perawat itu kembali memastikan jika bu Rita memang benar-benar sudah tiada
Mama, Nadia menangis dan langsung menghambur memeluk Zein.
"Hiks hiks Mama, kenapa Mama pergi secepat ini," ucap Nadia dengan sedih.
"Nadia sabarlah, Nadia ibumu sudah tak merasa sakit lagi, mungkin dia sudah tenang di dalamnya."
Nadia tetap saja menangis, berkali-kali Nadia memanggil mamanya.
"Bagaimana dengan pengurusan jenasah-nya Suster?"tanya Zen.
"Menunggu keluarga pasien. Apakah langsung di bawa kerumah atau di di semayamkan di rumah duka?"
__ADS_1
Zein menghampiri Nadia untuk menanyakannya.
"Ibu kamu mau di bawa pulang atau di semayamkan di rumah duka?" tanya Zein.
"Aku gak punya rumah, aku juga gak punya saudara atau keluarga terdekat. Aku tidak tau hiks hiks."
"Loh, ayah kamu, katanya kamu punya ayah?"
"Lebih baik papa ku gak tau. Jika dia tau mama sudah meninggal, ia pasti akan menyuruhku ikut dengannya, hiks ."
Nadia nangis tersedu-sedu.
Zein menghampiri seorang suster untuk mengurus jenasah bu Rita dan membawanya di rumah duka.
Seorang perawat datang untuk membereskan jenasah bu Rita sebelum di bawa ke rumah duka di samping Rumah Sakit tersebut.
Nadia mengikuti ke mana suster membawa jenasah ibunya.
Begitupun Wely yang terus mengamati Nadia dari kejauhan.
"Perempuan tua itu sudah mati rupanya,"batin Wely.
"Kenapa Zein selalu berada bersama Nadia? bagaimana cara agar aku bisa membawa Nadia?"
Setibanya di rumah duka, Zen langsung menelepon Leon untuk memberitahu jika ibunda Nadia sudah tiada.
"Halo, ada apa Zein?"
"Ibunda Nadia telah meninggal dunia Tuan. "
"Hah, kasihan sekali Nadia. "
"Iya Tuan, apalagi ternyata Nadia tak memiliki keluarga seorang pun."
" Kasihan sekali, lalu bagaimana dengan ayahnya?"
"Nadia tak mau memberi tahu kabar duka tersebut pada ayahnya, Ia juga takut untuk pulang ke rumah,"
"Kenapa?"
"Ayahnya suka menyiksa mereka, Tuan."
"Ya sudah, tolong urusi saja pemakaman Ibunda Nadia, sampai selesai. Jika dia sudah tak ingin tinggal di rumah biar dia kembali menjaga anak ku saja."
"Iya Tuan," jawab Zein dengan nada yang berat.
Nadia berada di rumah duka di temani oleh Zein.
Setelah puas menangis, akhirnya ia bisa menerima kenyataan pahit itu.
Nadia duduk di samping Zein.
"Nadia, apa rencana mu setelah ini?"tanya Zein.
"Entahlah, aku tak tahu, yang jelas aku harus pergi yang jauh agar ayah tak bisa menemukan ku," jawab Nadia lirih.
"Kenapa kau tak laporakan saja perbuatan ayahmu ke polisi?" tanya Zein.
"Saat itu aku takut terhadanya. Dia begitu licik dan tega melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya."
Nadia menatap lurus ke arah depan dengan tatapan hampa.
"Bagaimana jika untuk sementara waktu, kau tinggal bersama ku, aku janji kau akan aman tinggal bersama ku?" tanya Zein.
Nadia menatap ke arah Zein dengan tatapan sendunya.
"Apa aku tak akan merepotkan mu?" tanya Nadia balik .
Bersambung dulu gengs.
__ADS_1