Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Suasana Hati Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit , Yura sudah diperbolehkan untuk pulang.karena keadaannya sudah mulai membaik. Namun tidak untuk si kembar yang harus berada di dalam ruang inkubator .


Si kembar harus tetap berada di ruang inkubator untuk mendapatkan perawatan intensif.


Leon membantu membereskan barang-barang mereka.


"Mommy, kita pulang ke rumah nanti, dedek juga ikut kan ?" tanya Sheon.


"Tidak Nak, untuk sementara adik masih harus berada di rumah sakit," sahut Yura.


"Tapi kenapa mommy? kalau dibiarkan dedek sendiri di, sini  bagaimana kalau diambil orang?" tanya Sheon dengan khawatir.


"Gak akan diambil orang, daddy memerintahkan beberapa orang untuk  mengawasi ruangan perawatan adek selama 24 jam nonstop."


"Yah gak seru, padahal Sheon sudah tak sabar ingin main bersama Dedek," ucap Sheon dengan nada kecewa.


"Daddy  juga sebenarnya tidak sabar untuk bawa dedek pulang,  tapi mau gimana lagi.  Dede gak bisa dirawat   di rumah."


Leon menggendong Sheon. 


"Sheon sayang sama adek?" tanya Leon.


"Sayang dong."


"Anak daddy pintar sekali, adek kamu pasti senang karena memiliki kakak yang menyayanginya."


"Iya dong Daddy, aku akan jaga Dede-dedeku , siapapun yang mengganggu Dede, harus berhadapan dengan Sheon terlebih dahulu," ucap Sheon dengan nada yang berapi-api.


Yura dan Nyonya Widya tersenyum.


"Daddy bangga pada Kakak Sheon," ucap Leon sambil memeluk dan mencium putranya itu.


"Yok, mommy juga harus banyak istirahat di rumah. Kita pulang, tapi sebelum itu, kita harus melihat keadaan Dede dulu."


"Oke daddy."


Sheon turun dari gendongan Leon.


Yura naik ke atas kursi roda, didorong oleh Leon, mereka menghampiri ruang perawatan bayi mereka.


Meski hanya sebatas melihat di dinding kaca, Yura tak sabar untuk melihat dua buah hatinya tersebut.


Sesampainya di ruang perawatan intensif, dengan dibantu oleh Leon, Yura berdiri menghampiri dinding kaca tersebut.


"Sayang," ucap Yura sambil meneteskan air matanya ketika melihat dua malaikat kecilnya itu berada di tabung kaca.


Bayi itu begitu kecil, dengan kulit yang sedikit keriput pada hidung mereka menempel selang untuk pernapasan.


Ada rasa iba di hati Yura melihat bayi-bayi itu hanya berbalut selimut tanpa dekapan hangat dari kedua orang tuanya 


"Sayang sebenarnya mommy ingin memeluk kalian, Namun masih belum bisa. Mommy tak ingin terjadi sesuatu pada kalian berdua."  


"Bagi mommy yang terpenting keadaan kalian baik-baik saja, kami akan berdoa selalu untuk kalian berdua," ucap Yura sambil mengusap air matanya.


Hiks hiks, Yura tak mampu membendung perasaannya.


"Daddy, aku gak kuat kalau begini," lirih Yura sambil menghapus air matanya.


"Sabar Sayang, tak lama lagi kita juga akan berkumpul bersama lagi."


Leon mencium kening istrinya, untuk menguatkan Yura. Setelah melahirkan keadaan bayi-bayi mereka memang tak mungkin untuk di bawa ke luar dari tabung kaca tersebut. Karena untuk bernafas bayi-bayi itu masih menggunakan alat bantu medis.


Yura mencoba meraba permukaan kaca. Ingin sekali ia menggendong anak-anaknya.


"Sayang, mommy kangen," ucap Yura dengan suara yang lirih dan parau karena menahan tangisannya.

__ADS_1


Lagi-lagi Yura tak mampu membendung air matanya.


"Sayang, jangan menangis aku tak ingin terjadi sesuatu pada mu," Leon merangkul Yura dalam dekapannya.


Yura kembali menangis tersedu-sedu.


Melihat sang istri yang semakin sedih, Leon memutuskan untuk membawanya pulang segera, maklum saja kondisi Yura juga belum stabil, akibat pendarahan yang ia alami sebelum persalinan.


"Ayo Sayang kita pulang terlebih dahulu, tak akan lama. Setelah dua minggu kita akan menjemputnya."


"Iya," jawab Yura lirih.


Meski berat, Namun apa boleh buat. Mereka harus mempercayakan perawatan bayi mereka pada petugas medis.


Sebelum pulang, Sheon minta Nyonya Widya untuk menggendongnya. Karena ia ingin melihat adik-adiknya di ruang perawatan tabung kaca.


"Dedek , jangan nakal ya! Kakak  pulang dulu,"ucap Sheon sedih sambil melambaikan tangannya ke arah kaca.


Bulir bening menetes di pipi Sheon karena merasa sedih meninggalkan adik-adiknya sendiri.


Hiks hiks 


"Sudah kakak Sheon tak boleh menangis, kakak gak boleh cengeng. Adek sementara tinggal di sini dulu bersama om dan Tante perawat," bujuk Nyonya Widya.


"Hiks hiks, Oma, dua minggu itu lama ngak?"tanya Sheon sambil menghapus setiap tetesan air matanya.


"Ngak lama kok, nanti setelah dua minggu kakak Sheon bisa main sama adek sepuasnya," bujuk Nyonya Widya.


Sheon kembali menatap ke arah dinding kaca


"Hiks, dah Dede. Dua Minggu lagi kakak akan jemput dedek, dedek jangan cengeng ya, hiks hiks," tutur Sheon sambil menghapus air matanya.


"Ia lihat saja Dede aja ngak cengeng, kenapa kakak yang jadi cengeng," ujar Nyonya Widya.


"Sheon, nanti setiap hari daddy akan bawa Sheon untuk melihat Dede. jadi setiap hari Sheon akan bertemu dengan dedek."


" Dah dedek, nanti setiap hari kakak datang ke sini untuk melihat Dede," ujarnya sambil melambaikan tangannya.


Sheon turun dari gendongan Omanya. Ia pun menghampiri Leon kemudian memegang tangan Leon.


"Mommy Sheon bantu dorong ya kursi rodanya," ucap Sheon sambil mendorong kursi roda Yura.


Yura tersenyum bangga melihat putranya yang begitu menyayangi dirinya dan adik-adiknya.


Sheon adalah putra mahkota yang sesuai dengan harapan mereka.


***


Jam menunjukkan pukul 12 siang. Zen segera keluar dari ruangannya menuju parkiran mobil.


Sambil berjalan, Zen senyum-senyum sendiri.


Sejak tadi ia menunggu waktu jam makan siang tiba, karena sepertinya ia merindukan seseorang di apartemennya.


karyawan yang berpapasan dengannya menjadi heran.


Karena mereka jarang sekali melihat bos dan asistennya itu tersenyum mereka selalu terlihat serius.


"Eh pak Zein kenapa tuh senyum-senyum sendiri?"


"Tahu tuh menang lotre kali,"sahut temannya.


"Kalau menang lotre kayaknya gak mungkin. Gak menang lotre saja duitnya sudah banyak. Atau jangan-jangan Pak Zein  sedang jatuh cinta kali. Senyumannya itu loh, seperti senyuman kerinduan terhadap seseorang."


"Tau ajalah loh.Cenayang ya?"

__ADS_1


"Ya taulah, baru kali ini pak Zen itu tersenyum dengan raut wajah yang berbinar-binar. Apalagi kalau bukan sedang kasmaran," cetus salah seorang dari mereka.


"Syukurlah kalau begitu, kasihan pak Zein di suruh kerja terus sama pak Bos, sampai-sampai untuk mencari calon istri sudah tak sempat."


"Ah bukan salah tuan bos juga. Jodoh mah nggak usah dicari pandai datang sendiri Kalau sudah waktunya."


"Iya semoga saja pak Zein secepatnya menikah, sudah lama gak pernah dapat undangan pernikahan sultan," sahut salah satu di antara mereka sambil tertawa terkekeh.


***


Zen melajukan mobilnya menuju apartemen mewah miliknya.


Tong ting tong bunyi bel. Zen berada di depan pintu apartemennya.


Setelah menunggu beberapa saat pintu pun terbuka.


Zen tersenyum dengan bola mata yang berbinar, ketika melihat seseorang yang berdiri di depan pintu .


'Cantik sekali dia,' batin Zein. Zen terpaku seperti tersihir.


Nadia yang melihat tatap-tatapan Zein  tersebut menjadi jadi salah tingkah.


'Kenapa dia menatapku seperti itu, apa aku terlihat cantik di matanya?' batinnya sambil menggigit bagian bawah bibirnya. Nadia kemudian menundukkan wajahnya karena malu.


Sejenak mereka berdiam diri di depan pintu.


Tiba-tiba keduanya tersentak karena mencium sesuatu yang berbau gosong.


"Wah gorenganku !"seru Nadia sambil berlari menuju dapur.


Tiba di dapur, ia langsung mematikan kompornya.


"Yah ikan gorengnya menjadi gosong. Aduh, kenapa aku bisa seceroboh ini," ucap Nadia dengan kesal.


"Lalu kami mau makan apa, kalau ikan gorengnya gosong begini?"


Nadia buru-buru mencari bahan makanan lain di dalam kulkas yang bisa digunakan untuk memasak 


Zain menghampiri Nadia didapur.


"Ada apa Nadia?"tanya Zein.


"Aduh Mas, maaf.  Tadi ketika aku membukakan pintu , aku lupa mematikan kompor nya jadi ikan gorengnya gosong," jawab Nadia sambil menunjuk wajan yang berisi ikan gorengnya.


"Ehm, ikannya hanya gosong pada satu sisi kan?"


"Iya Mas."


"Kalau begitu, kita makan bagian yang tidak gosong saja, biar gak mubazir."


Zein menganut ikan gorengnya dan meletakkan di piring saji.


Kemudian ia membuang daging ikan yang sedikit gosong tersebut.


"Ikannya kita bagi berdua saja," cetus Zein sambil meletakkan piring yang dipegangnya di atas meja makan.


" Gak apa Mas, untuk mas saja. Mana cukup, setengah ikan nila di bagi dua," sahut Nadia yang bermaksud mengalah.


"Cukup tidak cukup, mulai saat ini kita harus mulai terbiasa untuk berbagi bersama," cetus Zein sambil mencubit daging ikan kemudian menyuapi ke Nadia.


"Makanlah," ucap Zein.


Nadia tersipu malu, tapi ia juga tak mau melewatkan kesempatan manis tersebut.


Ia kemudian membuka mulutnya dan dengan senang hati menerima suapan dari Zein.

__ADS_1


Keduanya kemudian saling melempar senyum dengan wajah yang bersemu karena malu.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih 🙏😁


__ADS_2