
Setelah sepuluh hari dirawat, keadaan Leon pun semakin membaik.Kini ia sudah diperbolehkan untuk pulang.
Yura membereskan barang-barang. Sementara Leon duduk di sampingnya.
Ia tersenyum sambil bernyanyi menggoda Yura .
"Memandangmu, walau selalu. Tak akan pernah beri jenuh di hatiku.Memelukmu, walau selalu…"
Ehm, terdengar suara orang berdehem.
Leon langsung menoleh ke arah Zein yang baru tiba.
"Eh Zein. " Leon sedikit kaget karena kedatangan Zein yang tiba-tiba.
"Tuan, bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda? sejak kapan anda menyukai lagu dangdut?" tanya Zein dengan nada mengejek.
"Sejak istriku pulang ke pelukan
ku."
Leon mengedipkan sebelah matanya ke arah Zein. Sementara Yura mengerucutkan bibirnya. Selama berada di rumah sakit, ia sudah kenyang dengan gombal Leon.
"Oh begitukah. "
" Kau tak perlu heran . Cinta memang mampu merubah segalanya. Termasuk diriku."
"Iya saya tau itu, tapi saya pikir anda pengecualiannya,"sindir Zein.
Untung saja, sekarang Leon tak lagi pemarah seperti dulu. Jadi ia bisa bebas ngeluarin uneg-unegnya.
"Sayang,sudah beres? Biar Zein yang mengangkut semua barang-barang kita. Ayo kita pulang."
Leon merangkul Yura dengan tangan kanannya.
Mereka pun un berjalan melewati koridor menuju mobil.
***
Tiba di rumah,ternyata tuan Melky sudah berada di rumah.
"Leon!" Panggil tuan Melky lirih ketika melihat Leon yang baru saja turun dari mobil.
" Daddy, kapan daddy tiba ?"
" Baru saja.Daddy begitu mengkhawatirkanmu."
"Ah, tak perlu khawatir Daddy. Lihatlah putramu ini sudah sehat seperti sedia kala."
"Iya, daddy tahu Nak. Tapi tetap saja daddy khawatir, kamu itu putra daddy satu-satunya. Daddy bisa mati, jika terjadi sesuatu padamu," ucap tuan Melky dengan bola mata yang berembun.
"Iya daddy. Sekarang ayo kita ngobrol di ruang tengah."
***
"Bagaimana kamu bisa ditembak Leon, kemana perginya para pengawal mu?"
"Aku ditembak saat lengah daddy. "
"Lalu bagaimana dengan kandungan kamu Yura ?" tanya Tuan Melky.
"Yura mengalami keguguran daddy."
"Keguguran?" Tuan Melky terlihat kecewa.
"Tapi daddy tenang saja, setelah keadaan ku membaik, aku akan membawa Yura berbulan madu. Kami akan berusaha agar Yura segera hamil. "
"Iya, semoga saja daddy masih sempat melihat kelahiran anak kalian."
"Jangan bicara seperti itu daddy. Kami akan berusaha yang terbaik."
" Iyakan Sayang ?"tanya Leon pada Yura.
"Iya, Sayang."
"Daddy sudah putuskan, daddy akan tinggal bersama kalian disini."
"Wah berita yang baik sekali, akhirnya daddy akan tinggal bersamanya kita. Aku jadi tak perlu mengkhawatirkan daddy lagi."
***
Setelah berbincang-bincang mereka memutuskan untuk istirahat.
Karena tuan Melky juga baru tiba.
Leon dan Yura mengantar tuan Melky ke kamarnya. Ia didorong oleh Wana menuju kamar tuan Melky.
"Daddy istirahatlah. Aku juga mau istirahat."
Seorang bodyguard datang membantu mengangkat tuan Melky untuk berbaring di atas tempat tidur.
Dengan tangan kanannya ia pun menarik selimut tuan Melky.
" Wana, tolong jaga daddy."
"Iya Tuan muda."
Yura menatap aneh ke arah Wana yang menurutnya bertingkah aneh.
Leon dan Yura keluar dari kamar tersebut. Sebelum melangkah ke luar kamar, Yura sempat menoleh ke arah belakang. Saat itu Wana masih menatapnya dengan aneh.
Yura kembali membuang wajahnya.
***
__ADS_1
Setibanya di kamar, Leon langsung merebahkan tubuhnya.
"Sayang, sini."
Yura yang hendak merapikan barang-barang mereka dari rumah sakit kemudian menghampiri Leon
"Ada apa Tuan?"tanya Yura.
" Duduk di sini." Leon menepuk sisi kanannya.
Yura duduk sambil bersandar di headboard.
Kemudian Leon merebahkan kepalanya di pangkuan Yura.
"Sayang, berhentilah memanggil ku dengan panggilan Tuan," ucap Leon sambil meraba wajah Yura.
" Lalu kau ingin aku panggil apa ?"tanya Yura sambil mengusap kepala Leon.
Leon meraih telapak tangan Yura, kemudian menciumnya.
"Apa saja yang membuatmu nyaman."
"Ehm, tapi boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Wana itu memang sudah lama ya bekerja pada keluarga mu?"
"Belum lama, setelah mommy meninggal dunia. Awalnya dia hanya asisten rumah tangga biasa. Karena dia bersikap baik, daddy jadi percaya padanya."
"Belum lama? Ehm."
Yura menyeritkan dahinya, jika ia tak salah mengingat. Wana pernah memberitahu padanya jika dia sendiri sudah lama bekerja bersama keluarga suaminya.
"Memangnya kenapa sih ?" tanya Leon ketika melihat Yura bingung.
Leon mengangkat kepalanya. Kemudian menarik Yura agar berbaring di sisinya.
"Gak usah mikirin orang lain. Pikirkan saja suami," ucap Leon sambil mendaratkan ciumannya.
Tanpa bisa mengelak Yura terpaksa menerima ciuman itu.
Meski cinta belum pun tumbuh dalam hatinya. Namun ia mencoba untuk membuka hati untuk sang suami .
Leon memang pernah melakukan kesalahan besar, tapi ia juga telah berkorban begitu besar untuk Yura
Leon mengecup bibir Yura dengan lembut, kemudian menyesapnya.
Yura masih begitu kaku dengan ciuman itu. Ia biarkan saja sang suami melakukan apa saja.
Ciuman itu dimulai dengan lembut.Namun semakin lama semakin liar.
"Tuan !"
Yura mendorong tubuh Leon, untuk menghentikan sang suami yang sudah di luar kendali.
"Tuan!" Baru saja ia bersuara, Leon kembali membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Yura menggeleng kepalanya agar bisa terlepas dari Leon . Namun sang suami hanya memberi beberapa detik saja untuk Yura menarik napas panjang, kemudian ia kembali di tenggelam oleh hasrat Leon yang sudah menggila.
Tak hanya itu, telapak tangan Leon mulai meraba bagian tubuh Yura,menjelajahi setiap inci lekuk tubuh sang istri .
Puas menciumi bibir istrinya, Leon beralih menciumi ceruk leher Yura.
Tangannya menarik resleting dari mini dress yang ada di bagian punggung istrinya.
" Tuan , jangan. Kau tak ingat apa yang dokter katakan," cegah Yura sambil mendorong pelan tubuh Leon.
" Persetan dengan perkataan dokter itu. Dia tak tahu bagaimana rasanya jadi aku," cetus Leon.
Ia kembali melancarkan aksinya.
" Tapi Sayang, ini tak baik untuk mu, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" Yura coba membujuk dengan kata-kata manis. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Padahal luka jahitannya belum mengering.
"Kau tahu sayang, aku rela dapat luka jahitan lagi, asal hari ini aku bisa melampiaskan hasrat ku," sahut Leon.
Leon berhenti sesaat, dengan lembut ia menarik mini dress yang dikenakan Yura.
Hasratnya sudah begitu menggebu. Wajah Leon memerah menatap ke arah Yura dengan penuh damba.
Melihat sang suami yang tak sanggup lagi menahan hasratnya Yura pun pasrah. Lagipula cepat atau lambat, mereka juga akan melakukannya. Meski hanya menggunakan satu tangan. Namun dalam hitungan deti,k ia sudah berhasil melepaskan pakaian luar dari istrinya.
Leon terkesima melihat keindahan tubuh sang istri.
Dengan cepat ia melepaskan penutup tubuhnya hingga bugil.
Yura menutup matanya. Ia kaget melihat si Otong yang sudah berdiri dengan gagah perkasa.
Gleg. Melihat keindahan tubuh Leon seketika getaran hasrat menghampirinya Yura.
Dengan perlahan Leon memposisikan tubuhnya diatas tubuh Yura, sebelum itu ia melepaskan semua penutup tubuh sang istri hingga tak ada satu helai benang pun yang menutupi tubuh Yura.
Dengan cepat Leon kembali mencumbu istrinya dengan lembut, sambil memasukkan senjata tempurnya yang sudah berdiri dengan gagah perkasa.
Meski sedikit sulit menerobos celah sempit itu karena pergerakan Leon yang terbatas.Serangan tetap dilanjutkan.
"Akh!"
Leon memejamkan matanya ketika merasakan sensasi berdenyut yang menghimpit senjatanya. Sensasi yang sudah lama ia rindukan.
Yura memejamkan matanya sembari menikmati permainan slow motion dari sang suami.
Akh ! Ehm!
__ADS_1
Kadang kala Leon mengerang kenikmatan di iringi rasa sakit di bagian dadanya. Meskipun begitu,pertempuran itu tetap terlaksana.
Setengah jam berlalu, gerakan Leon masih sama, masih dalam mode slow motion. Namun tak mengurangi sensasi nikmat yang mereka rasakan bersama.
Setelah mengguncang tubuh istrinya lebih dari setengah jam, Leon tiba-tiba saja berteriak hingga mengagetkan Yura.
"Akh!" Seru Leon ia pun menghentikan gerakannya.
"Tuan ! Kenapa?! Sakit Ya ?"tanya Yura kaget.
"Gak apa-apa. "
"Terus kenapa menjerit?!"
"Karena Enak," cetus Leon dengan napas yang masih memburu sambil menikmati pelepasannya.
"Ih sialan. Kirain kenapa."
Yura mendengus kesal ia pun mendorong tubuh Leon agar tubuh mereka terlepas.
Dengan cepat ia mengenakan pakaian dalamnya kemudian menuju tempat tidur.
"Akh!" Kali ini Leon merintih kesakitan.
Setelah merintih kenikmatan, kini Leon terbaring karena merasakan sakit pada bagian dadanya. Padahal baru saja jahitan luka operasi di lepas.
"Aduh sakit !" Keluh Leon.
"Sialan seperti makanan buah simalakama, kalau begini."
"Tapi gak apa-apalah yang penting sudah lega, gak penasaran lagi. "
", tapi sakit sekali! Bagaimana ini ?!" rintih leon
***
Leon kembali tak bisa bergerak ketika bergerak ia merasakan ngilu pada bagian operasinya.
Yura keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe dan handuk kecil yang melilit di rambutnya.
Melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Leon berhenti meringis.
Ia berpura-pura tak terjadi sesuatu padanya.
"Sayang! Mandi sana, biar segar !"
"Hehe nanti saja Sayang. masih gerah. " Leon memberikan alasan.
"Oh, Ya sudah."
Yura membalikkan tubuhnya menuju lemari pakaian. Tanpa sengaja ia melihat Leon meringis sambil menyentuh bagian dadanya dari pantulan cermin.
Ia pun langsung menoleh ke arah Leon.
"Hah, kamu kenapa, pasti dada kamu sakitkan?" tanya Yura.
"Gak kok, mana ada sakit. Aku baik-baik saja."
"Oh, jadi luka jahitan gak terasa sakit? "
"Gak kok Yank. "
'Ehm masih gak mau ngaku,'batin Yura. Tiba-tiba saja ia terpikir akan suatu hal.
Yura kemudian melepaskan bathrobenya. Hingga menampakan tubuhnya yang polos.
"Ehm, kalau gak sakit, Yuk kita lanjut ," ajak Yura dengan senyum menggoda Leon.
Yura mendekat, kemudian merangkak di atas tempat tidur mendekati Leon.
"Yuk, kita lanjut ronde kedua," ajak Yura sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya, seolah menantang Leon. Tangannya meraba bawah bagian tubuh
"Ampun, Yank sakit !" Akhirnya Leon mengaku.
Haha Yura tertawa lepas.
"Rasain, siapa suruh bandel!" Yura kembali turun dari atas ranjang.
"Tapi emang gak bisa tahan, Yang."
"Ya sudah, kalau begitu aku panggil dokter saja untuk memeriksa kamu."
"Jangan! "
"Kenapa?!"
"Aku malu. Nanti mereka menertawakanku."
" Haha, ternyata masih punya malu,biarin saja. Lagian siapa suruh nekad. Tanggung sendiri akibatnya.
Yura melepaskan seluruh penutup tubuhnya, kemudian ia berpose dengan adegan menantang di depan Leon.
Melihat kemolekan tubuh Yura si Otong kembali bangun. Namun Leon masih merasakan sakit pada bagian dadanya. Di gerakan saja sulit
"Bagaimana, mau?" goda Yura .
"Mau, tapi sakit Yang."
"Ya sudah, kalau begitu tunggu saja sampai tiga minggu lagi."
"Tega kamu Yang. Sudah tau aku gak bisa gerak. Malah kamu goda, kan dua -duanya jadi berdenyut gini. Ini sih namanya maju kena mundur pun kena," keluh Leon.
"Ehm, masa bodoh."
__ADS_1
Yura kembali mengenakan pakaian dan membiarkan Leon merasakan sakit dada sambil menahan konaknya tanpa memberi solusi.
Bersambung dulu gengs.