
Waktu terus berganti, Sheon kini menjadi tuan muda yang tampan, lelaki kecil itu berusia empat tahun.
Hari ini adalah hari pertama baginya untuk masuk sekolah taman kanak-kanak.
Nyonya Widya datang menghampiri kamar cucunya. Ketika masuk ia kaget melihat sang cucu yang sudah rapi dengan pakaian seragamnya.
" Eh cucu Oma sudah siap ternyata. Oma tadinya mau menyiapkan seragam untuk kamu," ucap Nyonya Widya sambil mencubit pipi Sheon.
"Gak pelu Oma, aku kan sudah besar," ucap Sheon sambil merapikan rambutnya.
"Uhm, cucu Oma memang pintar ." Nyonya Widya mencium pipi Seon .
Kemudian ia merapikan ransel dan mengisinya dengan buku-buku pelajaran.
"Sudah siap ?'' tanya Nyonya Widya.
"Sudah Oma."
"Ayo kita turun, Opa sudah tak sabar ingin melihat cucunya yang pintar ini, menggunakan pakaian seragam."
Nyonya Widya dan Sheon pun keluar dari kamar dengan bergandengan.
"Oma, dimana daddy dan mommy? Apa mereka sudah siap? "
"Ah paling juga belum siap, biasalah daddy kamu kan paling banyak dramanya kalau pagi hari. "
"Iya Oma, ku pernah dengar kalau daddy gak mau pakai baju sebelum mommy yang pakaikan, padahalkan daddy udah gede ya Oma, masa' kalah sama aku, masih kecil aja bisa pakai baju sendiri," cetus Sheon.
"Yang benar?"
"Iya Oma, jadi setiap hari mommy yang pakaikan Daddy baju," cetusnya dengan polos
"Hm, pantesan saja mereka suka terlambat."
"Karena daddy seperti itu, makanya aku belajar ngulus diri sendiri, biar mommy gak tambah lepot untuk ngurusin aku lagi," ucap Sheon dengan cadel.
"Haha ini baru cucu Oma, jangan seperti daddy, sudah tua masih saja manja," sahut Nyonya Widya sambil tertawa kecil.
Nyonya Widya membawa Sheon turun dari anak tangga.
"Cucu Opa tersayang !" Seru tuan Melky sambil merentangkan tangannya.
"Opa Sheon tersayang," sahut Sheon sambil menghambur memeluk Opa-nya.
"Wah ganteng sekali cucu Opa."
Mereka pun mengurai pelukannya.
"Opa, hari ini ,Opa ikut mengantar Sheon ke sekolah ya ?"tanya Sheon.
" Tentu sayang."
"Sekarang kita sarapan dulu Ya. "
"Gak nunggu mommy sama daddy dulu ?" tanya Seon
"Gak apa kalau nunggu mereka, pasti terlambat. Sheon kan makannya lama."
"Oh Iya,tapi mulai sekarang aku makannya cepat Opa, Sheon kan harus sekolah,gak boleh terlambat."
"Iya, cucu Opa memang paling pintar."
Sheon bersama tuan Melky dan Nyonya Widya menuju meja makan untuk sarapan.
Selama ini Sheon memang lebih akrab dengan kakek dan neneknya dibanding dengan kedua orang tuanya.
***
Sementara itu di dalam kamar kesibukan masih terjadi.
Yura merapikan riasan di depan meja rias. Sementara Leon masih berada di kamar mandi.
"Daddy! Mandinya cepat sedikit!"seru Yura sambil melirik ke arah jam tangannya.
"Sebentar lagi!"seru Leon dari dalam kamar mandi.
Selesai berdandan Yura menghampiri lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian.
Leon baru keluar dari kamar mandi, ia langsung mengerucutkan bibirnya melihat sang istri yang tampil cantik.
__ADS_1
Setiap hari ini akan menyempatkan diri untuk menilai dandanan istrinya tersebut.
"Gak usah berdandan menor mommy, yang natural saja," cetus Leon dengan nada cemburunya.
Yura mengerucutkan bibirnya, karena dandanya saat itu gak menor sama sekali.
"Sepertinya ada yang jealous nih."
Yura melirik ke arah Leon.
Ia pun menghampiri suaminya itu .
Yura membantu Leon mengenakan jasnya.
"Kenapa cemberut sih ? Jika aku cantikan, bukannya kamu juga yang akan bangga ," ucap Yura.
Yura mencium bibir Leon ketika suaminya itu terlihat masih cemberut.
"Gak perlu cemburu Sayang, setiap hari bosan juga lihat wajah kamu yang cemberut. Makin tua makin jadi saja curiganya."
"Gimana gak curiga, setiap hari kamu sana Arman."
"Haha, jadi karena si Arman. Aku aja gak pernah cemburu tuh meski setiap hari kamu sama Zein," celetuk sambil tertawa kecil.
"Lah emangnya aku ngapain sama Zein? "
"Hihi mana aku tau," sahut Yura sambil tertawa kecil.
"Udah Yuk, putra mu pasti sedang menunggu kehadiran kita."
Yura meraih tasnya. Kemudian berjalan keluar kamar, kemudian masuk ke dalam kamar Sheon.
Yura kembali menutup pintu kamar putranya.
"Sepertinya Sheon sudah menunggu di bawah."
Mereka pun turun ke lantai bawah kemudian menuju meja makan.
"Selamat pagi semua," ucap Yura menyapa semuanya.
"Pagi mommy!" Sahut Sheon dengan penuh semangat.
"Wah anak mommy sudah tampan! Pasti Oma yang bantuin Ya ?"
"Iya kan Oma ?" tanya Seon.
"Iya."
Leon menarik kursi kemudian duduk di samping istrinya.
"Udah pinter ya kamu sekarang, sudah bisa pakai baju sendiri."
"Tentu dong. Gak seperti daddy, baju saja mommy yang pakaikan," cetus Sheon.
Leon tersedak mendengar putranya tersebut membandingkan dirinya.
Semua tersenyum melihat ke arah Leon.
"Iya daddy tau kamu pintar, bahkan kamu sudah pintar menyindir daddy lagi," cetus Leon.
Hehe..
Sheon nyengir.
" Sheon apa pun alasannya, gak boleh ngomong seperti itu ya. Kita gak boleh menjatuhkan orang lain hanya untuk membanggakan diri sendiri. Itu namanya sombong," nasehat Yura
"Hmm, begitu ya mommy."
" Iya Nak, kalau Sheon bisa melakukan sesuatu, Sheon gak boleh pamer terus merendahkan orang yang gak bisa melakukannya."
"Ingat anak mommy, harus rendah hati. Gak boleh merasa paling hebat ya. "
" Baik mommy."
"Itu baru anak mommy."
***
Setelah sarapan mereka mengantar Sheon menuju sekolahnya.
__ADS_1
Mobil Leon tiba di sebuah halaman parkiran yang cukup luas. Sekolah Sheon adalah sekolah internasional dengan fasilitas terlengkap.
Gedung sekolah berlantai lima, terdiri dari berbagai tingkat pendidikan.
Mulai dari TK hingga sekolah menengah atas.
Sesampainya di sekolah, Yura dan Leon mengantar Sheon menuju kelasnya.
Sebelum turun dari mobil, Sheon menghampiri Opa dan Oma.
"Opa, Sheon sekolah dulu ya, nanti pulang sekolah Sheon di jemput ya."
'Iya Sayang. Rajin-rajinlah belajar , jadi anak pintar dan pandai."
"Baik,Opa."
Sheon memang paling dekat dengan Opanya.
Leon menggenggam tangan putranya.
"Lepaskan saja daddy, aku kan sudah besar, sudah bisa jalan sendiri," ucap Sheon.
Ia pun berjalan sendiri menuju kelasnya. Yura dan Leon hanya memperhatikan putranya tersebut dari belakang sambil tersenyum melihat tingkah putra mereka yang berlagak dewasa.
Ketika melewati koridor menuju kelas, Sheon menghampiri seorang anak perempuannya yang seusia dengannya.
Gadis kecil itu menangis di depan kelasnya. Karena takut untuk ditinggal.
"Gak mau mama! Shasa gak mau ditinggal, hiks . Kita pulang saja, Shasa takut," rengek gadis itu dengan manja.
"Shasa, gak boleh takut. Lihatlah teman-temanmu mereka semua diam di kelas dan gak takut ," ucap sang bunda pada putrinya.
"Gak mau, gak mau! Shasa mau pulang, gak mau sekolah," rengek gadis itu sambil menangis.
Melihat hal itu Sheon menghampirinya.
"Kamu kenapa?"tanya Sheon sok dewasa.
Shasa melihat sekilas ke arah Sheon kemudian membuang wajahnya.
"Eh, teman nanya tuh ! Lihat tuh temanmu pinter Sha, gak nangis kan Dek ?"tanya bunda Shasa.
"Gak dong, Namanya cekolah, gak usah takut," sahut Sheon.
"Gak, aku gak mau sekolah!" bentak Shasa.
"Kalau gak sekolah mana bisa pinter,"cetus Sheon.
"Biarin !"
"Kalau gak sekolah nanti kamu gak bisa jadi dokter, jadi CEO seperti daddy ku, ataupun jadi presiden direktur seperti mommy ku. Kamu pasti punya cita-cita kan? Kalau gak sekolah bagaimana bisa mewujudkan cita-cita mu," papar Sheon.
Shasa berhenti menangis, ia melihat ke arah mamanya kemudian melihat ke arah Sheon.
"Iya Sha, kalau gak sekolah gimana kamu bisa jadi dokter, seperti impianmu," tambah mama Shasa .
"Hiks hiks tapi aku takut," ucap Shasa.
"Gak usah tatut, kan ada aku," cetus Sheon sambil meraih tangan Shasa.
"Ayo kita ke kelas, "ucap Sheon sambil menggenggam tangan Shasa.
"Iya," sahutnya lirih.
"Mama, Shasa ke kelas dulu ya, nanti jemput Shasa pulang ya," ucap Shasa.
Sang bunda tersenyum melihat kepolosan dua bocah itu. Begitupun Yura dan Leon.
Sheon tetap memimpin tangan Shasa menuju kelas .
"Shasa, hapus air mata kamu, nanti kamu dikatain cengeng," cetus Sheon.
Dengan satu tangannya Shasa menghapus air matanya. Mereka pun masuk ke dalam kelas dengan masih saling bergandengan tangan.
"Duh manisnya, putra siapa itu ?" Cetus Yura.
"Hehe, belajar darimana dia merayu bisa begitu ?" tanya Leon.
"Haha, yang jelas bukan dari daddnya," cetus Yura
__ADS_1
Leon dan Yura tertawa kecil melihat tingkah putra mereka.
Bersambung dulu gengs