Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Dua Sisi


__ADS_3

Setelah satu bulan berlalu luka operasi di dada Leon sudah mengering dengan sempurna.


Leon coba menggerakkan gerakan otot dadanya.


"Wah sepertinya malam ini sudah siap tempur nih, "ucap Leon sambil tersenyum menyeringai di depan cermin.


Yura baru saja keluar dari kamar mandi. Ia heran melihat Leon yang tersenyum sambil mengedip-ngedipkan mata ke arahnya.


"Kenapa sih?" tanya Yura 


"Yang, udah sembuh, Yang."


"Sembuh apanya ?" Yura berlalu dari Leon pura-pura tak tau.


" Kamu pura-pura gak tau aja." Leon menarik tangan Yura dan mendorongnya ke atas tempat tidur hingga ia terlentang.


"Waktunya balas dendam," bisik Leon lirih kemudahan ia mencium ceruk leher Yura.


Yura hanya bisa pasrah ketika Leon melepaskan penutup bagian tubuhnya.


"Kamu sudah siap menerima pembalasan dendam ku ?"tanya Leon.


"Siap !" Seru Yura 


"Asek !"


Pertarungan sengit itu pun dimulai, berbagai adegan diperagakan dalam pertarungan sengit yang terjadi beronde-ronde itu.


***


Dua jam telah berlalu, tapi belum ada tanda-tanda Leon akan mengakhiri pergerakan, meski saat itu tubuh mereka basah oleh keringat. Ia benar-benar melampiaskan hasratnya yang tertunda selama berbulan.


"Yang, aku sudah lelah," keluh Yura ketika ia tak sanggup lagi meladeni Leon.


"Kamu tidur saja Yang. Aku belum puas nih," sahut Leon sambil menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Yura.


" Bagaimana aku bisa tidur, tubuhku terguncang begini."


"Iya sebentar lagi."


Leon semakin mempercepat laju gerakannya. 


Akh! Untuk kesekian kalinya ia mencapai puncak *******.


Sesaat setelah sang suami telah selesai menabur benih di rahimnya. Yura langsung tertidur tanpa sempat membersihkan dirinya.


"Ya, sudah tidur saja," dengus Leon.


Leon beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya yang sudah dibanjir oleh keringat.


"Huh, akhirnya puas juga."


Sebelum membersihkan tubuhnya di kamar mandi, ia pun membersihkan tubuh istrinya terlebih dahulu.


Setelah keluar dari kamar mandi Leon segera beristirahat.


***


Leon membuka matanya ketika mendengar suara orang yang muntah-muntah di dalam kamar mandi.


"Yura," ucapnya lirih.


Langsung saja ia beranjak dari tempat tidurnya kemudian menghampiri Yura yang ada di kamar mandi.


Uek uek..Yura memuntahkan semua yang ada di dalam lambungnya.


"Sayang kamu kenapa?"


"Gak tau tiba-tiba saja mual."


" Ehm, mungkin kamu masuk angin atau kelelahan."


Leon meraih bathrobe kemudian memakainya pada Yura, karena saat itu tubuh Yura masih polos.


"Ayo istirahat di kamar, nanti minum air hangat."


"Ehm."


 Baru saja mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur, Yura sudah kembali merasa mual. Ia pun berlari kecil menuju kamar mandi, dan muntah kembali hingga tubuhnya lemas.


"Pasti ada yang tak beres ini," gumam Leon. 


Leon memijat tengkuk Yura yang terus saja muntah meskipun tak ada lagi yang bisa ia muntahkan.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya kamu bukan masuk angin biasa. Kita kerumah sakit saja, aku takut terjadi sesuatu pada kamu."


"Tapi ini masih subuh. "


"Gak, apa. Makin cepat makin baik."


Karena kondisi Yura yang semakin lemah, Leon pun memutuskan untuk membawa Yura ke rumah sakit.


Di dalam mobil Yura terkulai tak berdaya. Tenaganya habis, selain karena pertarungan sengit semalam, tubuhnya lemas karena kekurangan cairan.


Tiba di rumah sakit Yura langsung diperiksa. Tenaga medis mulai memasang infus.


Sementara yang lain menanyakan keluhan Yura.


"Apa keluhan ?"tanya seorang perawat 


"Gak ada, cuma terasa mual dan ingin muntah."


Setelah mendapatkan pertolongan pertama di ruang UGD, Yura langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Sebelum itu ia sudah menjalani tes urine.


Keadaan Yura semakin membaik setelah mendapatkan pertolongan pertama di ruang UGD.


***


Waktu menunjukkan pukul enam pagi.


Seorang wanita datang membawa semangkuk bubur untuk pasien.


"Buburnya Tuan. "


"Iya letakkan saja di meja."


Leon mengambil bubur. Kemudian menghampiri Yura.


" Sayang, sarapan dulu."


Yura membuka matanya.


"Perutku masih perih. "


"Makanya makan dulu, biarpun cuma sedikit."


Leon mengaduk bubur, kemudian menyuapi Yura. Baru beberapa suapan Yura sudah hendak muntah.


"Iya kamu tunggu di sini, biar aku ambil baskom untuk kamu muntah."


Dengan cepat Leon mengambil baskom kecil yang sudah disediakan di ruangan tersebut.


Setelah isi perutnya terkuras, Yura kembali berbaring.Tubuhnya kembali lemas. Beberapa saat kemudian ia tertidur.


Melihat keadaan istrinya yang memprihatinkan Leon membiarkan istrinya tertidur.


"Pukul delapan pagi, "dokter datang bersama seorang perawat menghampiri ruang perawatan Yura 


"Selamat siang, Tuan," ucap dokter yang tentu saja sudah ia kenal.


Dokter tersebut tersenyum kearah Leon.


"Dokter? Kenapa dokter yang memeriksa istri saya ?"tanya Leon heran.


Dokter itu tak menjawab, ia hanya mengulum senyum.


" Bagaimana keadaannya Nyonya?"tanya dokter kepada Yura yang baru saja bangun.


"Cukup baik, Dokter ."


"Sebentar ya, saya periksa dulu."


Leon menghampiri dokter.


"Tekanan darah normal. Namun begitu saya harap anda melakukan bedrest selama hamil muda paling tidak selama dua minggu, karena anda pernah mengalami keguguran di kehamilan pertama."


"Hamil Dok ?"tanya Yura dan Leon secara serempak.


"Iya, istri anda hamil."


Leon dan Yura saling melempar senyum.


"Seperti kehamilan anda sebelumnya, sebaiknya anda menjaga pola makan, istirahat yang cukup dan menghindar stress."


"Iya Dokter, terimakasih."


"Kalau begitu saya permisi dulu."

__ADS_1


"Dokter!" panggil Leon.


"Iya Tuan, ada apa ?"


"Ehm, berapa lama boleh melakukan hubungan suami istri lagi ?" tanya Leon.


Dokter tersenyum.


"Jika tak ada keluhan, silahkan saja. "


Leon mengacungkan jempol ke arah dokter itu.


"Syukurlah tak ada pantangan," cetus Leon sambil menarik napas lega.


Dengan rona wajah bahagia ia menghampiri Yura.


Leon langsung mendaratkan kecupan di kening Yura.


"Sayang, kamu dengar kata dokter tadi ?"


"Iya Sayang. Aku hamil," sahut Yura.


"Tapi aku heran, rasanya baru tadi malam kita bikinnya, kok sudah langsung jadi saja ?"


"ha ha, kamu lupa ya, sebulan yang lalu bukankah kamu pernah bercocok tanam, ketika kamu baru sembuh ."


"Hehe, iya juga ya. Aku lupa."


"Ehm dasar! bisa-bisanya kamu lupa!"Yura menarik daun telinga Leon.


"Haha, hak kok bercanda."


Leon menarik tangan Yura kemudian menggengam telapak tangan Yura dan menciumnya.


Leon mengusap perut Yura dan menciumnya.


"Kali ini daddy akan mengaja kamu. Kamu akan aman di dalam rahim mommy, daddy akan sering-sering jenguk kamu," bisik Leon.


"Itu sih maunya daddy."


"Oh iya Sayang. Aku lupa mengabarkan berita ini pada daddy. Daddy pasti senang mendengar berita ini."


"Telpon sekarang saja Sayang. "


Leon langsung meraih handphonenya.


"Handphonenya mati ternyata," gumam Leon .


Setelah mengaktif handphonenya Leon segera menghubungi tuan Melky.


"Halo Daddy," sapa Leon.


"Halo Tuan.Tuan tolong Tuan...Tuan Melky Melky tiba-tiba saja mengalami serangan jantung!"


Suara Wana terdengar panik.


"Apa serangan jantung?!"


Seketika bola mata Leon membulat dengan sempurna.


"Dimana daddy sekarang?"tanya Leon dengan panik.


" Kami sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit jantung. Tadi saya berusaha menelpon Tuan, tapi handphone tuan berada di luar jangkauan."


"Baiklah saya segera kesana!"


Leon melirik ke arah Yura yang juga ikut tegang.


"Ada apa dengan daddy?" tanya Yura yang tampak khawatir.


"Sayang, maaf aku harus meninggalkan mu. Daddy mengalami serangan jantung."


"Iya Sayang, kamu jaga saja daddy. Aku bisa jaga diri baik-baik."


"Leon menatap sedih ke arah Yura, baru saja ia mendapatkan berita baik dengan kehamilan istrinya, kini Leon mendapatkan kabar buruk yang menimpa daddynya."


"Nanti aku minta Sumi untuk menjaga kamu, maaf aku harus pergi," ucap Leon sambil mencium kening Yura dengan lekat .


"Iya Sayang. Saat ini, daddy lebih membutuhkan mu!"


Terimakasih atas pengertiannya.


Leon melangkah dengan berat hati meninggalkan Yura sendirian.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2