Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Sudah seharian ini, Nathan tak bertemu dengan kekasihnya.


Perasaan rindu pun menghinggapi Nathan.


"Telpon gak ya? telpon gak ya," ucap Nathan berkali-kali, sambil mondar mandir di depan tempat tidurnya.


Sebenarnya Raisa saat ini sedang mempersiapkan untuk ujian besok.Ia tak ingin mengganggu kekasihnya itu. Namun apa daya, Nathan tak bisa melawan perasaan rindunya itu.


Nathan coba menghubungi Raisa.


"Halo Sayang, lagi ngapain, pasti lagi mikirin aku ya," terka Nathan .


"Ish enggak lah, aku lagi mikirin ujian besok," sahut Raisa.


" Ehm massa' sih. Sayang aku kangen nih, jalan yuk."


"Ehm sepertinya nggak bisa," sahut Raisa.


"Loh kenapa nggak bisa?"tanya Nathan .


"Kalau aku keluar pasti nggak diizin sama mama dan papanya kan besok aku ujian."


"Yah! padahal aku lagi kangen banget nih pengen ketemu," ucap Nathan bernada kecewa.


hahaha Raisa tertawa.


"Kita bertemunya, untuk sementara di dalam mimpi saja ya," cetus Raisa.


"Jangan gitulah Sayang, rindu itu berat. Nanti kamu gak kuat."


"Pasti kuatlah, setiap hari bertemu kamu di alam mimpi, tapi kenapa ya, akhir-akhir ini aku selalu mimpiin kamu," ucap Raisa.


"Itu tandanya kamu makin cinta sama aku," sahut Nathan.


"Ih masa' sih?"


"Iya, kamu memimpikanku itu karena kamu kangen sama aku," ucap Nathan .


"Masa' sih tahu dari mana, kamu cenayang ya, haha." Raisa salah tingkah.


"Haha, tahulah karena setiap malam aku juga mimpiin kamu."


"Ah Nathan ."


"Aku tahu kamu pasti lagi tersenyum kan?" tanya Nathan.


"Ya senyum lah, masa' mau nangis."


"haha iya juga sih."


"Raisa, aku punya pantun buat kamu nih."


"Mama aku mau denger. Anak geng motor bisa pantun juga ya,"


"Bisa dong. dengerin ya."


"Kucing kurus, mandi di papan, berpayung kan daun keladi.


Abang kurus bukan tak makan , tapi menahan rindu di dalam hati."


Eak EAk EAk 😎😄


Raisa tertawa geli.


"Kurus dari mananya Bang?!"tanya Raisa sambil tertawa.


"Kurus nih, timbangan ku turun."


"'Turun berapa?"


"Turun 9."


"Sembilan apa, sembilan kilo?"


"Ngak, 9 gram," sahut Nathan sambil nyengir.


"Ih Nathan, kamu tuh ngerjain aku terus ya. Aku lagi belajar juga."


"Ya sudah, kalau kamu lagi belajar Aku tutup dulu ya teleponnya. I Miss you.


"Miss you too."


***


Sheon menyetir mobilnya saat itu pandangannya memang ke arah depan tapi pikirannya entah ke mana.


Bagaimana aku bisa menikahi Raisa, sedangkan aku tak memiliki perasaan khusus terhadapnya ,aku hanya menganggapnya sebagai saudara. tapi aku juga tak bisa menolak. Aku tak ingin Om dan Onty jadi tersinggung.


Sheon memutar mobilnya menuju rumah sakit. Iya mengkhawatirkan keadaan Shasa dan mamanya.


Apalagi saat itu Shasa terluka dan mereka hanya tinggal berdua.


***

__ADS_1


karena kecelakaan yang ia alami Shasa merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Shasa merebahkan kepala di atas tempat tidur bu Diah .


Bu Diah membuka matanya karena menyentuh kulit Shasa teraba panas.


"Shasa, bangun Shasa," panggil Bu Diah sambil menggoyang tubuh Shasa.


Shasa membuka sedikit matanya karena merasa berat.


"Kenapa Ma?" tanya Shasa dengan suara yang lirih.


"Kamu sepertinya demam Nak,


berbaringlah di sini dengan ibu," ucap Bu Diah sambil menepuk tempat tidur.


"Ah enggak kok Bu, aku lagi kecapean saja," ucap Shasa dengan suara yang serak dan berat.


"Kamu sakit Sha, Jangan tidur di situ. tidur saja bersama ibu Nak."


Ketika mereka berdebat, datang seseorang menghampiri .


"Permisi," seseorang mengetuk pintu yang tak dikunci itu.


Shasa dan bu Diah menoleh ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam


Shasa kembali membuang wajahnya.


"Tuan Rama," ucap bu Diah.


"Saya datang ke sini, karena diberitahu oleh Bu Netty."


"Jadi tuan,anda ke rumah?' tanya bu Diah.


"Iya, rencananya Malam ini saya mendatangi rumah anda, karena hendak membicarakan pernikahan antara saya dan Shasa."


Shasa menundukkan wajahnya dengan sedih.


Saat itu Sheon juga tiba dan sempat mendengar,"ucapan Tuan Rama tersebut.


"Permisi," ucap Sheon.


ketiganya langsung menoleh ke arah pintu.


Tuan Rama kaget karena melihat sosok yang ada di hadapannya.


"Eh tuan muda Sheon, anda di sini?" ucap Rama sambil menyodorkan tangannya .


Sheon menyambut uluran tangan Tuan Rama.


Tuan Rahma jadi insecure, mendengar pengakuan Sheon tersebut.


"Apa benar yang saya dengar tadi?" tanya Sheon.


"Yang mana, Tuan muda?"tanya Tuan Rama dengan gugup.


"Jika anda akan melamar Shasa?"


"Iya benar." Tuan Rama semakin gugup karena ditatap oleh Sheon.


"Bukannya anda sudah memiliki istri?"tanya Sheon.


"I-iya bener."


"Lalu kenapa ingin menikahi Shasa?"tanya Sheon.


Sheon sebenarnya tahu, jika Tuan Rama memanfaatkan keadaan keluarga Shasa.


Tuan Rama bergeming sejenak.


"Ayahnya berhutang 3 miliar padaku. karena mereka tak mampu membayarnya, maka aku bermaksud mempersunting Shasa. Itu semua agar Shasa dan nyonya Diah bisa hidup lebih layak."


Sheon menatap wajah tuan Rama dengan tajam.


"Baiklah berapa hutang mereka?" tanya Sheon.


"Tiga miliar Tuan muda."


"Nanti akan ku transfer langsung ke rekening, aku minta bukti pelunasan nya, kita akan bertemu besok di tempat yang akan ku tentu kan," ucap Sheon.


Tuan Rama mendelik ke arah Sheon.


"Jika tak ada hal yang penting lagi, silahkan keluar," ucap Sheon.


Rama menatap sinis ke arah Sheon.


Kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.


***


Bu Diah menatap ke arah Sheon.


"Siapa dia Sha?" tanya Bu Diah.


"Mama ingat teman ku semasa di TK?"

__ADS_1


Bu Diah memicingkan matanya. Coba mengingat, tapi ia tetap juga tak ingat.


Sheon menghampiri bu Diah.


"Saya Sheon Tante."


"Sheon? Sheon yang mana?"


Sheon tersenyum.


"Sheon yang memberikan ku kalung ini Ma."


"Oh temanmu sewaktu kecil itu."


"Iya Mah," ucap Shasa lirih.


"Kamu kenapa Sha?" tanya Sheon.


"Sepertinya dia demam mungkin, karena kecelakaan tadi," ucap bu Diah.


Sheon mendekati Shasa kemudian meraba bagian keningnya.


"Iya badan kamu panas Sha, Sepertinya kamu juga harus dirawat ," ucap Sheon.


"Sebentar aku panggil susternya."


beberapa saat kemudian Sheon kembali lagi dengan seorang suster dan satu tempat tidur pasien.


Shasa merasa lemas, badannya begitu panas sampai untuk bangkit pun ia tidak bisa, karena lututnya masih begitu sakit.


"Kamu berbaring di tempat tidur itu saja Sha, kamu dirawat saja sampai benar-benar sembuh," ucap Sheon.


Shasa coba bangkit, tapi tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang, seketika pandangannya menjadi gelap, ia pun hampir tumbang, untung saja Sheon dengan cepat menyambar tubuhnya.


"Shasa!" seru bu Diah dan Sheon cara bersamaan.


Sheon kembali mengangkat tubuh dan meletakkannya di atas tempat tidur. setelah itu dua orang suster datang dengan membawa peralatan infus dan memasangkannya ke tubuh Shasa.


"Sheon, maaf ya aku sudah merepotkanmu," ucap Shasa


"Tidak apa-ap,a kau begini kan karena aku juga.


Sheon melepas perekat kompres instan dan meletakkan di kening Shasa.


"Kau sudah makan?"tanya Sheon.


Ketika menanyakan hal itu Shasa baru sadar jika dirinya belum makan ,pantas saja tubuhnya lemas, Ia pun menggeleng kan kepalanya.


"Kau mau makan apa Sha, biar aku suruh orang untuk membelikannya."


"Aku sedang tak berselera makan Aku ingin tidur saja," ucap Shasa.


"jangan begitu biar sedikit makanlah."


"Benar Sha, kau harus makan dan tetap sehat, Nak. Jika kau sakit, ibu sakit, siapa yang akan mengurus kita," tutur bu Diah dengan wajah yang sedih.


Seon menelpon asistennya meminta membawakan makanan untuk Shasa.


Beberapa saat kemudian, makanan itu pun datang.


"Ayo Sha dimakan."


Dengan sabar Sheon menyuapi Shasa.


Bu Diah sampai terharu melihat perhatian yang di berikan oleh Sheon terhadap putrinya.


Seorang CEO yang memiliki segalanya, masih mau merawat putrinya.


Setelah memberi makan ia pun memberi obat.


Sheon melirik jam di pergelangan tangannya waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.


Ia tak tega jika harus meninggalkan kedua orang itu tanpa pengawasan.


Sewon kemudian merogoh handphonenya dan mencari kontak seseorang.


halo nak kamu di mana,tidak makan malam bersama?" tanya Yura.


"Maaf mommy, sepertinya malam ini, aku tidak bisa pulang."


"Loh kenapa ?"


"Mommy ingat, gadis yang ku tabrak tadi sore. Sekarang ia mengalami demam dan harus di rawat."


"Apa kau berdua saja dengan gadis itu Nak?"


"Tidak mommy, dia dan ibunya di rawat dalam satu ruangan yang sama."


"Baiklah kalau begitu Sayang ,"mommy percaya padamu."


"Terima kasih mommy Sheon," pun menutup teleponnya.


Bersambung dulu ya gengs. maaf kalau ada salah 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2