
Masih belum diketahui penyebab sakitnya Leon saat ini. Menurut hasil pemeriksaan tak ada yang salah pada Leon.
Karena keadaan Leon cukup membaik, mereka memutuskan untuk pulang.
Beberapa hari berlalu.Namun, penyakit aneh itu masih saja Leon rasakan.
Tak puas dengan satu dokter, Leon mencoba mendatangi beberapa dokter.
Hasil pemeriksaan lab dan endoscopy semuanya normal, hanya saja perut Leon memang kembung. Nafsu makannya juga menurun.
Hal itu sangat mengganggu keseharian pria yang biasanya selalu aktif itu.
Tak hanya merasakan mual dan selalu ingin muntah. Leon juga menjadi sedikit lebih sensitif.
Ia jadi mudah tersinggung dan baperan. Beruntung keluarga dan istrinya selalu mengerti.
***
Yura terbangun ketika mendengarkan suara Isak tangis.
"Hiks hiks kejam." Suara itu terdengar lirih di telinga Yura.
'Siapa yang menangis ?' batin Yura . Ia pun menoleh ke arah samping.
Alangkah kagetnya Yura ketika melihat sang suami sedang menatap layar handphone sambil membersihkan sisa-sisa air matanya dengan tisu.
"Sayang, kenapa menangis ?"tanya Yura yang langsung bangkit.
Hiks ..Leon masih tak menjawab, perasaan begitu sedih seperti di tinggal mati oleh sang kekasih
Karena penasaran,Yura meraih handphone tersebut dari Leon dan melihat apa yang ada di layar handphone.
Bola mata Yura yang sedikit sipit itu mendadak melotot ketika melihat layar handphone milik suaminya itu.
"Hah, apa-apaan ini ?! Sayang kamu baca novel online?!"tanya Yura semakin syok tapi juga geli.Ingin rasanya ia tertawa hingga terbahak-bahak.
Namun Yura tahu jika sang suami mengalami masalah yang belum diketahui apa sebabnya.
"I-ya sayang. Hiks hiks, aku baca novel karya author meylani putri putti yang berjudul Mengandung Benih CEO Kejam, hiks ceritanya sedih banget,aku terbawa suasana,hiks."
Leon sambil menghapus air matanya.
'Astaga naga !'batin Yura.
Hiks, hiks Leon masih menangis.
"Astagaaaa! Sayang! Sejak kapan kamu suka baca novel roman? Sejak kapan pula kamu berubah jadi cengeng banget gini ?" tanya Yura sambil mengelus dada.
"Hiks gak tau sayang, kemarilah sayang aku butuh pelukan," ucap Leon sambil merentangkan tangannya.
Yura pun memeluk suaminya. Sementara Leon masih terbawa emosi, ia masih menangis terisak di pelukan Yura, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh MC wanita dalam novel bacaannya.
Yura ingin tertawa tapi juga merasa miris terhadap perubahan yang terjadi pada suaminya itu.
"Sayang, kenapa kamu yang menangis?"
"Kejam, hiks hiks Andre begitu kejam, kenapa Mayang di perkosa saat tidak sadar hiks hiks," tangis Leon dalam pelukan istrinya.
' Kejam,hmm ? Perasaan kamu dulu lebih kejam,' batin Yura sambil memutar bola mata malasnya.
"Iya sudah, itu hanya cerita. Sekarang kita tidur ya." Yura coba menenangkan suaminya itu
Yura mengurai pelukannya, ketika Leon berhenti menangis.
'Hadeh! Seperti anak kecil saja,' batin Yura .
"Ayo sayang kita istirahat," ajak Yura sambil menata bantal untuk sang suami.
Setelah suaminya berbaring, Yura kemudian memeluknya.
__ADS_1
Seperti anak kecil yang kurang kerjaan, Leon memutar kancing piyama sang istri .
Dalam berapa saat kemudian sudah terdengar suara dengkuran halus dari Leon.
"Sayang kamu sudah tidur?"
Tak ada suara hanya dengkuran halus.
Huh… Yura menghempaskan napas panjang. "Akhirnya tidur juga "
Yura menatap Leon, di rabanya kening Leon.
Suhu tubuh Leon normal-normal saja .
'Kenapa suami ku jadi aneh begini ya ? Setiap pagi muntah-muntah sekarang malah jadi cengeng. Apa suami ku stress karena pekerjaannya yang begitu padat,' batin Yura sambil mengusap kepala bayi besarnya itu.
'Aku rasa kami butuh refreshing sejenak, mau keluar kota tapi Sheon masih sekolah.' batin Yura. Yura terus memutar otaknya mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh suaminya.
'Apa dia butuh konsultasi ke psikiater? Ah nanti malah tersinggung pula.' Yura bermonolog dalam hatinya.
"Mungkin suami ku butuh perhatian dari ku," ucap Yura sambil mencium pipi suaminya.
Akhir-akhir ini Ia dan Leon memang sangat sibuk, mereka hampir tak punya waktu untuk bersama.
Hanya ketika malam hari mereka bertemu, itupun ketika jiwa dan raga mereka sudah sama-sama lelah .
Karena terbangun dan tak lagi bisa tidur Yura, turun dari atas ranjang menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar lebih segar. Rencananya ia memanfaatkan waktu tersebut untuk memeriksa berkas-berkasnya.
***
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, lagi-lagi Yura yang baru saja terlelap itu, harus bangun karena mendekati suara orang yang muntah di kamar mandi.
Karena kasihan melihat suaminya, Yura pun menghampiri Leon.
"Sayang kamu gak usah kerja dulu," saran Yura.
"Aku gak kerja, kamu juga gak usah kerja."
"Iya, terserah kamu saja."
"Ayo aku bantu kamu ke tempat tidur. Nanti aku bawa sarapan, kita sarapan di kamar saja."
***
Setelah sarapan. Yura bersiap karena rencananya mereka kembali akan berkonsultasi bersama dokter.
Yura menatap dengan seksama wajahnya di cermin.
"Kok aku tampak lebih berisi ya ?" tanyanya sambil mengamati wajah di depan cermin.
Karena kesibukannya, Yura tak pernah memperhatikan dirinya di depan cermin.
"Kerja aktif kok tambah berisi sih," guman Yura.
Tanpa sengaja ia melirik kalender mini yang ada di meja riasnya.
"Astaga ternyata ini sudah bulan Juli."
Yura kemudian membalikkan kalender, sudah dua bulan kalender itu tak bergerak masih saja menujukan bulan Mey .
Ia melihat lingkaran merah tanda menstruasi terakhirnya.
"Dua, tiga," menghitung dengan jari.
"Astaga! Sudah tiga bulan aku gak datang bulan!" Yura sampai mengepak jidatnya.
"Apa aku hamil ya ? Tapi kenapa gak ada tanda-tanda hamil ? Gak muntah, gak juga mengalami ngangguan nafsu makan?" Yura bermonolog sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Astaga! Jangan- jangan suami ku yang terkena ngidam simpatik!"
Yura langsung bergegas menuju kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang! Sayang ! Buka pintunya!"seru Yura.
"Sebentar Sayang !" Uek uek..
Yura tertawa cekikikan mendengar suara Leon yang sedang muntah.
"Ya sudah lanjutkan saja!"
Yura menelpon asistennya untuk segera membeli testpack .
Leon keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas.
Yura tersenyum pada Leon.
"Kenapa tersenyum?" tanya Leon kesal.
"Sayang, kamu sebenarnya cinta gak sih sama aku ?"tanya Yura.
"Kenapa masih ditanya sih ?"dengus Leon.
"Bukannya prihatin dengan suami sakit, malah tanya cinta."
Yura hanya mengulum senyumnya.
Sepuluh menit kemudian seseorang datang menggedor pintu kamar mereka.
Yura menghampiri pintu dan menutupnya kembali setelah beberapa saat.
Kemudian ia menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Yura kembali ke kamar menemui suaminya.
"Sayang, Yuk kita turun ke bawah."
"Ayo, aku juga lemas dikamar terus, pengen tidur saja."
***
Yura dan Leon tiba di meja makan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Yura dengan rona bahagia.
" Selamat pagi juga mommy dan daddy,"sahut Sheon.
"Mommy, kenapa lama sekali turunnya. Jadi mengantarku ke sekolah gak ?"
"Jadi Sayang, tapi sebelum itu mommy punya berita bahagia untuk semuanya ."
"Berita apa mommy?"
Tuan Melky, Nyonya Widya dan Sheon sangat antusias mendengarkan berita bahagia tersebut.
"Berita bahagia apa Yura ?"tanya Nyonya Widya yang mewakili semua orang.
"Berita bahagia adalah….Aku sedang hamil !"
Hah…
Mereka semua kaget sekaligus bahagia mendengar berita tersebut.
Bersambung dulu reader. Maaf author up dikit2 dulu ya, karena hari Senin insya Allah otor crazy up. Dow in ya ..,,🙏🙏😁
Sambil menunggu up.. mampir di novel terbaru author
__ADS_1