Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Dia Adalah


__ADS_3

Pagi ini Shasa kembali berarti aktivitas seperti semula mengepel dan mengelap kaca jendela gedung itu.


Bagaimana caranya agar aku bisa membayar hutang ayahku, tanpa harus menikah dengan Tuan Rama dan menjadi istri keduanya.


pikiran Sasha tak karuan tangan dan kakinya bekerja. Namun, pikirannya melayang entah ke mana.


Shasa mengepel dengan mundur tanpa saja ia menabrak seseorang dari belakang.


Shasa langsung menoleh ke arah pria itu ketika matanya membelalak kaget Ia pun langsung menunduk kan wajahnya.


"Maaf Pak, saya tidak melihat," ucap Shasa pada pria itu.


"Ini sudah yang ketiga kalinya kamu seperti ini, biar saya laporin pada bagian HRD," ucap Erik.


"Tapi Pak ...." Shasa menggantung kata-katanya karena Erik pergi begitu saja. Bola matanya Shasa mengikuti kemana pria itu pergi.


Erik langsung menuju ruang HRD.


"Irwan ini sudah ketiga kalinya karyawan baru itu melakukan kesalahan, sebaiknya kau pindahkan atau kau pecat saja dia," ucap Pak Erik pada Pak Irwan kepala divisi HRD.


"Siapa maksud Bapak, itu yang menyapu lantai di bagian lift lantai 1."


" Oh baik Pak nanti saya panggil dan akan saya tegur dia."


Erik keluar dari ruangan HRD.


Pak Irwan juga ikut keluar, Ia pun memanggil Sasha


"Ravasya!"panggil Pak Irwan.


Ravasya segera menghampiri Pak Irwan.


"Ayo ke ruangan saya," ucap pak Irwan.


Shasa jadi deg-degan ia khawatir jika dirinya akan dipecat.


Ravasya masuk ke dalam ruang HRD,


begitupun Pak Irwan.


"Ravasya apa yang terjadi pada kamu?" tanya Pak Irwan, " sehingga sudah tiga kali kamu melakukan kesalahan di depan Pak Erik."


"Maaf Pak saya tidak sengaja, tapi tolong jangan pecat saya Pak," ucap Shasa dengan nada memelas.


"Iya, saya kasih kesempatan lagi bagi kamu, jika satu kali lagi kamu membuat masalah dengan Pak Erik, maka saya tidak bisa membantu. ingat ya kamu di sini masih training."


"Iya pak terima kasih, ucap Shasa.


"Ya sama-sama."


"Kalau begitu saya permisi, Pak."


"Silahkan,"ucapan Irwan.


Shasa kembali mengambil sapu dan pel dan melanjutkan pekerjaannya. Ketika berada di depan lift Ia berpapasan dengan Sheon.


Sasa langsung menundukkan wajahnya


Shasa membuka pintu lift untuk Sheon, Sheon kemudian masuk ke dalam lift itu.


Shasa meraba kalung yang selama ini tetap ia kenakan, kalung tersebut adalah kalung pemberian Sheon.


"Sekarang status kita berbeda, kau seperti bintang di langit, sementara aku adalah rumput di bumi tempat berpijak."


Shasa kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Sudah seminggu Shasa bekerja di tempat itu. setiap hari ia bertemu dengan Sheon. Namun ia selalu menundukkan wajahnya tak ingin Sheon mengenalinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore dan waktunya bagi shasa untuk pulang setelah melepas pakaiannya dan menyimpan di loker khusus Shasa berniat untuk pulang.

__ADS_1


ketika melewati koridor Shasa mendapatkan telepon.


"Halo Mah," sapa Shasa.


"Halo Sha ini bukan mama kamu, tapi ini Tante Neti."


"Oh iya tante, emangnya Mama ke mana, Tante ?" tanya Sasa


"Sha, mama kamu dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami sesak nafas tiba-tiba," ucap Tante Neti yang ternyata adalah tetangga Shasa.


"Di rumah sakit?! baiklah rumah sakit mana tante?" tanya tasya dengan panik.


"Rumah sakit Bunda harapan Sha, sebaiknya kamu segera ke sana ya," ucap tante


"Iya, Iya baik tante saya segera ke sana," ucap saja Ia pun langsung menyimpan teleponnya.


Setelah menutup teleponnya, Shasa mencoba memesan ojek online. Setelah mendapatkan ojek yang ia maksud, Shasa langsung berlari menuju luar gedung, karena tukang ojek tak berada jauh dari gedung tersebut.


Shasa yang panik, berlari begitu saja tanpa menoleh kanan kiri. Ia tak sadar jika sebuah mobil sedang menuju ke arahnya menabraknya


AW! pekik Shasa ketika ia terlempar satu meter dan sembari berguling karena di tabrak sebuah mobil.


"Hey! kau jalan tak melihat apa?!" seru Sheon.


Ia tak sengaja menabrak Shasa yang berlari tanpa menoleh sedikitpun.


"AW !" Shasa merasakan sakit pada bagian siku dan lututnya.


"Aduh sakit sekali!" Shasa meringis. pada bagian sikunya berdarah begitupun lututnya dan kakinya yang tak bisa ia gerak kan.


"Kamu tidak apa-apa?"tanya Sheon yang langsung menghampiri Shasa.


Shasa sedikit kaget karena yang menabraknya adalah Sheon. Ia kembali menundukkan wajahnya.


"Ak! "Shasa menggigit bibirnya agar air matanya tak menetes, maklum saja sebelumnya Shasa memang anak yang cengeng.


Melihat gadis di depannya kesakitan Sheon coba memeriksa lutut Shasa dan ternyata kakinya terkilir.


Ia pun mengangkat tubuh Shasa dan membawanya ke dalam mobil.


Sejenak Shasa lupa jika ia buru-buru untuk ke rumah sakit karena masih syok.


Sheon juga tak sempat melihat wajah gadis itu, ia membuka pintu kemudian memasukkan Shasa di dalam mobil, setelah itu Sheon kembali ke pintu kemudi.


Di dalam mobil Shasa masih meringis, karena kakinya yang sakit dan tak bisa digerakkan.


"Kau jalan tidak lihat-lihat ya, kenapa sampai berlari?" tanya Sheon sambil menyetir mobilnya.


"Aku tadi buru-buru, karena aku mendapat kabar ibuku masuk rumah sakit karena sesak nafas,"ucap Sasa sambil menahan rasa sakit.


"Baiklah, di rumah sakit mana ibumu dirawat, biar sekalian aku bawa ke rumah sakit untuk mengobatimu."


Ketika berbicara tak sedikitpun Sheon menoleh ke arah Shasa.


"Di rumah sakit Bunda harapan," ucap Shasa.


Sheon tetap fokus memandang ke arah depan, sesekali Ia melirik ke arah gadis yang di sampingnya. wajah Sasa memang tidak kelihatan karena ia memakai topi hitam.


"Coba kau lepaskan topimu itu, tidak risih Ya?" tanya Sheon.


Bukannya melepaskan topi itu, Shasa kembali menutupi wajahnya dengan topi itu.


Sheon menyunggingkan senyum tipis karena merasa usulannya tidak diikuti gadis tersebut.


Mereka pun menuju rumah sakit Bunda harapan ,rumah sakit tersebut sebenarnya cukup jauh namun karena orang tua gadis yang ditabraknya itu berada di rumah sakit Bunda harapan.


Karena jalanan cukup macet, 30 menit barulah mereka tiba di rumah sakit tersebut. sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di antara mereka


"Jantung Shasa berdetak dengan cepat. karena mencium aroma yang keluar dari tubuh CEO muda tersebut sepanjang perjalanan mereka


Sosok Sheon yang dulu lucu dan menggemaskan, kini berubah menjadi tampan dan begitu mempesona.

__ADS_1


Ketika melihat Sheon untuk pertama kalinya, Shasa langsung mengaguminya.


Karena itulah dia malu bertemu Sheon dalam keadaan seperti ini.


Dulu ayah Shasa seorang pengusaha, Karena itulah ia bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan Leon.


Namun, takdir mengubah nasib mereka


Usaha keluarga Sasha, bangkrut dan meninggalkan hutang yang banyak. Sementara ayahnya meninggal karena serangan jantung, tak sanggup karena selalu ditagih depkolektor. Karena sudah tak ada lagi yang mereka miliki, mereka pun menjual rumah mereka satu-satunya dan harus mengontrak rumah yang sederhana.


Mobil Sheon terparkir di depan ruang UGD setelah membuka pintu mobil ia kembali mengangkat tubuh Shasa. Saat itu Shasa masih menutupi wajahnya dengan menggunakan topi hitamnya.


Karena Sheon tipe orang yang cuek ,dia pun tak peduli dan tak penasaran sedikitpun terhadap gadis itu.


Sheon mengangkat tubuh Shasa ala bridal style.


"Tuan aku mau langsung ke ruangan ibuku saja, ucap Shasa ketika berada di dalam gendongan Sheon.


" Kau obati saja dulu luka-lukamu, nanti baru kau bertemu dengan ibumu," ucap seon


Jantung Shasa berdetak kencang ketika mencium aroma maskulin yang begitu lembut. Aroma tubuh Sheon Seolah memperdaya hingga Shasa melupakan rasa sakitnya.


Ya Tuhan kenapa jantung ku semakin berdetak kencang, jika seperti ini, bisa-bisa aku terkena serangan jantung.


Shasa menggigit pelan bibirnya, kali ini bukan karena menahan sakit dari luka-luka yang ia derita, tapi ia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berdetak dengan Indah. Detak jantung yang memacu membuat perasaan berbunga. Shasa kembali menghirup aroma maskulin yang lembut itu sebelum Sheon meletakkannya di atas brangkar. mungkin ini akan jadi yang pertama dan terakhir kali baginya.


Sasa langsung mendapat penanganan di ruang UGD.


karena keadaannya tak begitu parah Ia pun diperbolehkan untuk tak menginap.


setelah membayar semua administrasi pengobatan Shasa. Xeon menghampiri Shasa kembali.


pengobatanmu sudah ku bayar Apa kau mau kubantu berjalan menemui ibumu tanya Sheon. sebenarnya setelah diobati, Shasa sudah bisa berjalan meski dengan berjalan pincang.


tidak perlu Tuan Terima kasih ucap sambil terus menundukkan wajahnya.


"Aku heran padamu dari tadi kau terus menunjukkan wajahmu sebenarnya ada apa di wajahmu?" tanya Seon yang mulai memperhatikan wajah Shasa.


"Tidak apa-apa Tuan Aku hanya malu."


"Ya sudah kalau gitu."


Sheon menarik dompet di saku celananya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.


"Ambillah untuk kompensasimu,"ucap Sheon sambil menyodorkan uang itu.


Shasa melirik ke arah uang yang disodorkan Sheon.


Ia mengambil uang tersebut karena memang membutuhkannya.


"Terima kasih Tuan," ucap Shasa lirih.


"Ya baiklah aku pergi dulu."


Leon bergegas pergi karena ia ada urusan yang penting.


Leon menghampiri mobilnya kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil itu.


Ketika hendak menyalakan mesin mobil tak sengaja ia melihat kalung yang tergeletak begitu saja di atas jok mobilnya.


alangkah kagetnya Sheon ketika melihat kalung itu.


"Kalung ini? Sheon menggantung kalung tersebut di telapak tangannya dia takkan lupa kalung yang liontinnya bertuliskan namanya.


Shasa


Sheon kembali memarkirkan mobilnya dan kembali menemui gadis yang ia tabrak tadi.


bersambung guys tenang saja outer crazy up hari ini so berikan dukungannya ya dengan like comment hadiah juga boleh gratis kok nggak nguras kantong hehehe 😁🙏


.

__ADS_1


__ADS_2