
Setelah mengurus pemakaman ibunda Nadia, Zen bermaksud membawa Nadia ke apartemen miliknya.
Saat itu Welly terus mengawasi Nadia dari kejauhan. Namun, memang ia tidak bisa mengikuti Nadia. Welly hanya memperhatikan Nadia yang masuk mobil Zein.
"Berani sekali dia membawa putriku," guman Welly dengan kesal.
Mobil Zein meninggalkan kawasan pemakaman tersebut dan dua puluh menit kemudian mereka tiba di apartemennya.
"Ayo masuk, "ucap Zein.
Nadia melepas sabuk pengaman nya kemudian membuka pintu mobil Ia mengamati sekitarnya terlebih dahulu.
"Mas, kamu tinggal sendiri ya di apartemen?" tanya Nadia ketika mereka berjalan beriringan.
"Iya, lah aku kan bujangan apa-apa serba sendiri," cetus Zein sambil tersenyum.
Nadia membalas senyuman Zein itu.
Mereka berjalan melewati koridor masuk ke dalam lift . Beberapa saat kemudian tiba di sebuah lantai apartemen milik Zein.
"Masuk," ucap Zen setelah membuka kunci pintu apartemennya.
"Wah, bagus sekali ! aku tak pernah mendatangi rumah sebagus ini, selain rumah tuan Leon dan apartemen milik Mas," ucap Nadia dengan kagum.
Zen tersenyum.
'Mungkin saja suatu saat kau yang akan jadi Nyonya di apartemen ini,' batin Zein sambil tersenyum simpul.
Nadia melangkah perlahan melihat dan mengamati satu persatu perabotan dan hiasan apartemen milik Zen.
'Bagus sekali desain, ruangannya. Kapan ya, aku bisa punya rumah seperti ini,' batin Nadia.
"Nadia kau mau minum apa ?" tanya Zein, Ia lalu menuju ke dapur.
Nadia mengikuti Zein dari belakang.
"Biar aku buat sendiri Mas. Mas mau minum apa?" tanya Nadia balik.
"Buatkan minuman coklat hangat untuk ku!"
"Oke!"
Nadia membongkar semua lemari yang ada di dapur, karena ia akan tinggal bersama Zein, ia harus membiasakan dirinya membantu Zein mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak untuknya.
Zen membiarkan Nadia menemukan bubuk coklat untuk minuman nya sendiri.
Beberapa saat kemudian Nadia tiba di ruang tengah.
"Ini minuman mu Mas," ucap Nadia sambil menyodorkan minuman kepada Zein.
Nadia masih mengamati ruangan yang ada di sekitarnya.
"Minumlah," ucap Zein.
Nadia masih tampak sungkan, sebenarnya iya tak ingin merepotkan Zain. Namun jika ia kembali ke rumahnya, ayahnya pasti akan membawanya.
Nadia tak mau diperbudak oleh ayahnya itu untuk melakukan perbuatan kriminal lagi.
Bahkan ia pernah mendengar jika ayahnya berniat akan menjodohkan dirinya dengan bos yang bernama Raymond.
"Rumah ini terlihat rapi, seperti jarang di tempati ?" gumam Nadia.
"Iya, aku memang jarang tinggal di sini. Karena pekerjaanku yang sangat sibuk, tapi karena ada kamu disini. Aku akan pulang setiap hari, " ucap Zein sambil melemparkan senyum ke arah Nadia.
Nadia tersipu malu melihat senyum Zein itu.
"Oh ya, mari aku tunjukkan kamar untukmu," ucap Zein sambil berdiri.
Nadia mengikuti kemana Zein. membawanya.
Iya menuju sebuah ruangan , kemudian membuka pintu ruangan tersebut.
" Sebenarnya Ini kamar tamu, pakailah karena di rumahku juga tak pernah kedatangan tamu."
" Kalau begitu, aku yang pertama kali jadi kamu anda ya?" tanya Nadia.
"Ya benar, kaulah yang pertama kali menjadi tamu di apartemen ku, "ucap Zein sambil tersenyum manis ke arah Nadia.
Nadia kembali menundukkan wajahnya karena malu.
Senyuman Zein itu sulit untuk ia artikan.
"Baiklah, aku tahu Kau pasti lelah sekarang Istirahatlah di kamarmu .Aku akan beli makanan untuk kita," ucap Zen.
"Tak perlu beli makanan, Mas. Biar aku saja yang masak," sahut Nadia.
"Memang, untuk hari ini aku akan beli makanan, besok kau harus memasakan makanan untukku."
"Oke baiklah."
Nadia masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu , kemudian ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Nadia kembali teringat dengan mendiang ibunya.
"Maafkan Nadia mama, Nadia belum bisa membalas kebaikan mama, Nadia juga belum bisa berbakti kepada Mama, memberi perlindungan yang nyaman untuk mama dan memberikan makanan yang sehat dan bergizi untuk mama," ucap Nadia dengan sedih.
Di kamar yang sepi itu Nadia kembali menangis.
Zayn keluar dari apartemennya. Ia Mengunci pintu dari luar apartemen.
__ADS_1
Zein tinggal di apartemen yang cukup mewah dengan tingkat keamanan yang terpercaya.
Karena itulah ia merasa Nadia akan aman di sana.
Zein tiba di parkiran mobilnya.
Ia berhenti ketika mendengar getaran bunyi handphonenya
"Dari tuan," gumam Zein.
"Halo tuan," sapa Zein .
"Zein bagaimana? pemakaman ibunya Nadia sudah selesai?"tanya Leon.
"Iya baru selesai."
"Kalau begitu, kau bawa saja Nadia langsung ke rumah ku, istriku sebentar lagi akan pulang ," ucap Leon di dalam sambungannya
"Tapi tuan "suara Zein dengar ragu.
"Tapi kenapa Zen?" tanya Leon.
"Tuan , Nadia boleh kah tinggal bersamaku ?" tanya Zein balik.
"Kenapa memangnya?"tanya Leon.
"Ah tidak, aku hanya ... " kata-kata Zen menggantung karena langsung disambar oleh Leon.
"Oh Baiklah, aku mengerti. Kau butuh seorang wanita untuk menemani mu?, aku melihat Nadia itu gadis yang baik dan sopan, ku kira memang sudah waktunya kau memiliki pasangan hidup Zen. Jika kau merasa cocok dengannya, Aku tak keberatan jika baby Sitter ku itu, kau jadikan istri ," sahut Leon dengan nada bercanda .Ia pun tertawa kecil.
"Hehehe tuan, akhirnya kau mengerti juga tanpa harus ku Jelaskan panjang lebar," sahut Zein.
"Kau pikir, aku ini bodoh apa ?!"
"Sudah Zein, jika memang Nadia bersama mu, aku akan cari baby sitter baru, selamat bersenang-senang," ucap Leon kemudian dia kembali tertawa.
Haha
"Terima kasih atas pengertiannya tuan."
Zen memutus sambungan teleponnya.
"Dasar Bos, otaknya mesum !"dengus Zen sambil menyimpan handphone kembali.
Zen pergi dan beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan membawa dua bungkus kantong makanan.
Tiba di depan pintu, Zen membuka pintu apartemennya.
"Nadia! Nadia !" Panggil Zen.
Tak ada suara dari dalam kamar Nadia .
"Mungkin ia tertidur. Nanti sajalah, Nadia pasti lelah."
***
Nadia terbangun ketika waktu menujukan pukul tujuh malam.
"Astaga! Sudah malam ," ucap Nadia dengan kaget.
Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung membersihkan dirinya seadanya.
Nadia keluar dari kamar dan mendapati keadaan di apartemen tersebut begitu sepi.
"Mas Zein !" Panggil Nadia, tapi tak mendapatkannya jawaban.
Nadia menuju dapur, perutnya terasa begitu lapar.
Ia mencari sesuatu yang bisa untuk mengganjal perutnya.
Kreak... Nadia mendengar pintu apartemen terbuka.
Ia pun menghampiri pintu untuk melihat siapa yang masuk.
"Sudah bangun ?" tanya Zein.
"Iya Mas. Mas dari mana?"
"Aku membelikan pakaian untuk mu," ucap Zein sambil menyodorkan beberapa paper bag.
"Untuk sementara aku membelikan pakaian tidur untuk mu saja, nanti besok kita ke pusat perbelanjaan untuk membeli kan kamu pakaian sehari-hari."
"Terima kasih Mas," ucap Nadia
Nadia menghampiri dapur
"Mas sudah makan malam ?" tanya Nadia
"Belum, aku menunggumu."
"Kenapa menungguku ? kalau mau makan-makan saja Mas, atau Mas ingin aku buat masakan sesuatu untuk makan malam kita ?"tanya Nadia
"Aku sudah membeli makanan tadi sore, ntar aku panaskan dalam oven microwave dulu. Kau mandilah, sudah seharian kau tidak berganti pakaian,"
"Oh iya, aku juga merasa sudah merasa gerah."
"Di dalam tas-tas itu ada keperluan untuk mandi dan kebutuhanmu sehari-hari. Itu hanya untuk sementara saja, besok kita akan belanja keperluan mu dan persediaan dapur."
"Terima kasih Mas ini saja sudah cukup," Nadia menyahut.
__ADS_1
Nadia masuk ke kamarnya dan melakukan ritual mandinya. Setelah mandi ia merasa begitu segar .
Nadia membuka papar bag-nya. Ia tersenyum ketika melihat pakaian yang dibelikan Zen untuknya.
"Mas Zein nakal juga, " guman Nadia .
Nadia mencoba salah satu pakaian yang di berikan oleh Zein.
Nadia begitu senang melihat pantulan dirinya di cermin.
Zein membelikannya mini dress dan beberapa gaun tidur yang tidak terlalu transparan . Namun, pakaian tersebut menampakan lekuk tubuhnya.
Nadia tersenyum melihat dirinya yang tampak begitu cantik, wajahnya bersemu di depan cermin.
"Apa mas Zein menyukaiku ya?" Nadia bermonolog.
" Nadia ... Nadia.. terlalu banyak menghayal. Lihatlah dirimu, Apa kau pantas dengan orang sepertinya ?" gumamnya lagi.
Seketika raut wajahnya berubah kembali.
"Ah sudahlah, pasti mas Zein menungguku."
Nadia menuju meja makan, tapi dia tak menemukan Zen ataupun makanan yang tertata di atas meja makan tersebut
Nadia menyusuri ruangan tersebut dan melihat di balkon Zen sedang menata makanan ada 2 kursi dan sebuah meja bulat di sana Nadia pun menghampirinya.
"Mas, kenapa makanannya dibawa ke sini?" tanya Nadia.
"Agar kita bisa santai sejenak, agar kau bisa melupakan sedikit kesedihanmu.
Dengan melihat bintang-bintang, kau pasti merasakan merasa sedikit tenang," ucap Zen.
Zen menoleh kearah Nadia yang menghampirinya Ia pun tersenyum
"Kau ..cantik malam ini dan aku suka," nyanyi Zein menyindir Nadia. Ia pun tersenyum sambil menarik turunkan alisnya.
"Apaan sih Mas, bikin aku malu saja," lirih Nadia sambil menurut memukul lengan Zein.
"Silakan duduk, "ucap Zen menyodorkan piring ke arah Nadia.
"Nggak perlu seperti itu Mas, aku bisa sendiri," ucap Nadia karena sungkan.
"Kata orang, tamu itu adalah ratu, karena hari ini kau adalah tamu ku. Kau akan ku perlakukan layaknya seperti Ratu, akan tetapi tidak untuk besok. Karena besok kau harus memasakkan makanan untuk ku," ucap Zen sambil tersenyum.
"Baiklah," sahutnya Nadia.
Mereka pun makan malam dengan tenang. Tak ada pembicaraan ketika mereka menyantap makanan, setelah selesai barulah mereka memulai obrolan ringan mereka
"Keadaan di sini tenang yang Mas, kota ini tampak indah, jika dilihat dari atas sini," ucap Nadia sambil memandang ke sekelilingnya.
"Iya, sayangnya aku tidak punya waktu menikmati malam hari," sahut Zen.
"Loh, Memangnya kenapa?"tanya Nadia.
"Biasanya malam hari aku harus lembur, aku terlalu banyak pekerjaan jadi aku tak akan sempat menatap bintang-bintang dan melihat keindahan kota ini pada malam hari.
"Kau selalu sesibuk itu ya ?" tanya Nadia.
"Iya, aku adalah asisten Leon Sebastian. Dia seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan. Aku juga kaki tangannya dan aku tak bisa mengecewakan orang yang begitu Percaya padaku, seperti tuan Leon "
Nadia menatap ke arah Zein.'Lelaki ini terlihat begitu mengagumkan,' batinnya.
Mereka mengobrol hingga larut malam, sejenak Nadia melupakan kesedihannya dan Zen pun sejenak merupakan tugas-tugas berat yang menumpuk. pada hari itu, mereka berdua mencoba untuk santai dan rehat sejenak.
Pukul sebelas malam, keduanya memilih untuk masuk kedalam apartemen dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Zein sudah siap dengan pakaian dinasnya, ia menghampiri meja makan dan menemukan makanan tersaji di meja makannya.
"Wah terlihat enak sekali," ucap Zen sambil menghirup aroma nasi goreng di atas meja makan.
Tanpa permisi Zen langsung melahap makanan tersebut . Nadia keluar dari dapur dan membawa segelas minuman coklat hangat kesukaan Zen.
"Nasi goreng mu enak sekali.Kalau begitu, bolehkah aku memintamu memasakkan makanan untuk makan siang ku?" tanya Zein sambil mengunyah makanannya.
"Tentu Mas, kau ingin aku masak apa?"tanya Nadia.
" apa saja karena aku sudah kangen masakan rumah, "jawab Zen sambil mengunyah .
Selesai makan, Zein kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil yang tas yang berisi laptop.
"Aku berangkat dulu Nadia, kau kunci pintu rapat-rapat. Jika kau butuh sesuatu telepon saja aku."
"Baik Mas."
"Lalu bagaimana makan siangnya?" tanya Nadia.
"Aku akan pulang saat jam makan siang karena kantor ku juga tak berada jauh dari sini, sekitar 10 menit saja."
"Oh Siap mas, aku akan memasakkan makanan untuk siang ini."
"Baiklah sampai jumpa," ucap Zen.
Nadia mengantarkan Zein sampai di depan pintu, kemudian ia mengunci rapat pintu tersebut.
Nadia kembali ke kamarnya beristirahat sejenak, beberapa saat kemudian ia mulai merapikan apartemen tersebut menyapu dan mengelap lantainya.
Setelah tugas rumah selesai, Nadia kembali ke dapur. Dengan senang hati, Ia memasak sesuatu untuk makan siang mereka.
"Mas Zein baik sekali, pasti beruntung wanita yang akan menjadi istrinya," batin Nadia
__ADS_1
"Andai saja, aku yang menjadi wanita beruntung itu, hehe guman Nadia sambil tersenyum.
Bersambung dulu gengs