
Semua orang menunggu jawaban dari Shasa tersebut.
Keadaan seketika sunyi seperti mendengar keputusan juri.
"Yes I do," ucap Shasa dengan pipi yang merona
Secara serempak mereka mengulas senyum mendengar jawaban dari Shasa.
Apalagi Sheon, ia langsung menghampiri Shasa dan memeluknya.
Semua orang yang hadir bertepuk tangan.
Melihat putra mereka akhirnya memiliki calon istri, padahal awalnya mereka mengkhawatirkannya Sheon akan kecewa karena pembatalan nikah.
Sheon kemudian meraih satu cincin yang berada di kotak cincin tersebut dan menyematkan cincin itu ke jari manis Shasa.
"Yey! Selamat ya kak, akhirnya kakak juga menemukan tambatan hati kakak" ucap Nathan sambil merangkul pundak Raisa.
"Ayo kalian duduk di sini dulu," Yura menepuk kursi di sampingnya.
Shasa dan Sheon duduk di samping Yura.
" Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Yura
"Ya menikah dong Mom," sahut Sheon.
"Tapi aku duluan ya kak,"sahut Nathan.
"Ngak bisa. Kakak duluan dong."
"Loh bukannya kemarin kakak setuju jika aku yang menggantikan kakak. Mommy juga sudah mengubah nama kakak menjadi namaku di undangan itu."
"Kakak akan bikin pesta sendiri kok pesta yang sederhana saja, iya kah Sha
"
"Eh nggak bisa gitu dong. Mommy mau pernikahan kalian juga berlangsung dengan mewah."
"Shasa, pasti juga menginginkan pernikahan yang mewah, iya kan Sha?" tanya Yura.
Shasa menundukkan wajahnya menyembunyikan senyumnya.
"Ya sudah, bagaimana jika pernikahannya kalian di satu kan saja?"tanya Yura.
Sheon memandang ke arah Shasa.
"Kalau begitu harus bertanya pada Mama Shasa dulu Mom."
"Tentu dong, Kalau begitu kamu segera beritahu bahwa kalian akan segera menikah,"ucap Yura.
"Iya Mah, rencananya malam nanti aku akan melamar Shasa secara langsung."
"Iya, kalau seandainya Mama Shasa setuju, sekalinya kita sekeluarga akan mengadakan lamaran secara resmi Bagaimana Shasa?."
"Iya tante,"sahut Shasa malu-malu.
***
Selesai makan malam, Sheon mengantar Shasa pulang.
__ADS_1
Saat itu kehadiran Shasa sudah ditunggu oleh Bu Diah di ruang tamu. maklum saja Shasa tak pernah keluar malam dengan seorang pria.
Sheon menghampiri ibunda Shasa.
"Permisi tante,"ucap Sheon.
"Eh Sheon silahkan masuk," ucap Bu Diah.
Seon langsung duduk di sofa berhadapan langsung dengan Bu Diah.
"Bagaimana makan malamnya?" tanya Bu Diah basa-basi.
Mendengar pertanyaan Bu Diah, Shasa dan Sheon saling melempar senyum.
"Baik kok Tante, kedatangan saya kemarin saya bermaksud ingin melamar Shasa," ucap Sheon dengan sedikit gugup.
"Melamar Shasa? maaf ya Nak Sheon, bukannya kamu sudah memiliki tunangan?"
"Hehe iya tante sebelumnya saya memang sudah bertunangan dengan seseorang, pertunangan itu batal karena ternyata gadis yang ditunangkan dengan saya itu adalah pacar adik saya. Dan saya bertunangan dengannya juga bukan karena saya mencintainya, tapi untuk menjaga hubungan kekerabatan keluarga kami,"ucap Sheon.
"Apa benar begitu?"
"Iya tante, jika tante menerima lamaran saya malam ini, rencana besok saya akan membawa kedua orang tua saya dan keluarga menghampiri tante untuk melamar Shasa secara resmi dan membicarakan pernikahan kami."
"Jadi kamu benar-benar ingin menikah Shasa?"tanya Bu Diah.
"Iya Tante, saya serius."
"Saya terserah pada Shasa saja. jika memang kalian sudah merasa cocok kenapa tidak," ucap Bu Diah.
Sheon dan Shasa saling melempar senyum karena telah mendapatkan lampu hijau dari orang tua Shasa.
"Terima kasih Tante, besok saya sekeluarga akan mengadakan lamarannya resmi."
"Semoga Tante, saya tak ingin berjanji yang muluk-muluk, tapi akan berusa untuk membahagiakannya Shasa," tutur Sheon begitu meyakinkan.
"Iya Nak, ibu berharap juga begitu."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Tante," ucap Sheon.
"Iya."
Bu Diah dansa mengantar Leon hingga ke depan pintu.
"Sha, mama nggak mimpi ini kan ini?"tanya bu Diah .
"Iya Ma, ini seperti mimpi tapi ini nyata. seorang CEO datang dan melamar putriku? rasanya ini hanya ada di dalam cerita novel" tutur Shasa hatinya berbunga-bunga kala itu.
Bu Diah ikut tersenyum bahagia.
Keesokan harinya.
Keluarga Sheon mengadakan lamaran resmi dan sejak hari itu Sheon dan Shasa semakin mesra.
***
Nathan menunggu Raisa di depan rumahnya.
Beberapa saat kemudian Raisa menghampirinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu yakin untuk ikut pertandingan kali ini ?"tanya Raisa.
"Yakin dong Sayang. Ini pertandingan aku yang terakhir sebelum kita menikah. Aku ingin mendapatkan satu piala yang akan aku ceritakan pada anak-anak kita nanti," tutur Nathan.
"Tapi sayang, Aku khawatir kalau terjadi sesuatu pada kamu, dan berakibat fatal." cetus Raisa.
"Nggak akan Sayang, aku janji akan hati-hati kok. Ayo sekarang kamu jadi suporter aku biar aku makin semangat."
"Iya deh tapi janji ya, ini yang terakhir."
"Iya sayang ini yang terakhir kok."
Raisa naik di atas motor Nathan. Setelah siap, mereka pun berangkat menuju arena balap motor.
Setelah prepare berapa saat, Nathan siap digaris star.
Raisa selalu menemaninya, Raisha menghampiri Natan untuk memberinya semangat sebelum pertandingan dimulai.
"Sayang, kamu hati-hati Ya, nggak menang juga nggak apa-apa yang penting kamu selamat saja ,"ucap Raisa.
Sebenarnya ia begitu berat melepas Natan saat itu, untuk berlomba.
"Tenang Sayang aku udah biasa kok."
"Ya sudah yang penting kamu hati-hati ingat lho Sebentar lagi kita menikah." ucap Raisa.
"Iya, Sayang tenang saja." Nathan membujuk Raisa yang terlihat khawatir.
Pertandingan pun segera dimulai. Raisa duduk di bagian penonton, sementara Nathan sudah mulai berada di garis start bersama pembalap yang lainnya.
brurum suara motor mereka mengaung sebelum akhirnya letupan senjata kosong terdengar di angkasa,pertanda pertandingan segera dimulai.
Nathan membawa laju motornya. setelah beberapa putaran tak terjadi apa-apa, pertandingan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala sedikitpun.
Namun setelah putaran ke-10 tiba-tiba saja salah seorang pembalap terjatuh di arena balap tersebut, diikuti teman yang lainnya karena sempat menabrak motor korban.
Karena tabrakan itu beruntun dan kecepatan motor yang begitu tinggi, Nathan tak bisa mengendalikan motornya akhirnya ia pun ikut menabrak dan tubuhnya terpelanting di atas jalanan aspal.
"Nathan!" teriak Raisa ketika melihat Nathan tergeletak tak sadarkan diri yang terlempar jauh dari arena balap..
Raisa berlari sambil menangis menghampiri Natan kemudian ada beberapa orang melakukan pertolongan pertama kepada korban yang lainnya.
"Nathan hiks hiks ,aku sudah bilang aku takut terjadi sesuatu padamu'" ucap Raisa menangis sambil memeluk Natan.
karena keadaan Natan yang memprihatinkan, Nathan pun dibawa ke dalam ambulans yang sudah dipersiapkan, begitupun dengan korban lainnya.
Sesampainya di rumah sakit, Nathan ternyata mengalami pendarahan di bagian kepala dan kakinya patah Nathan harus menjalani operasi.
Mendengar berita kecelakaan Nathan, Yura langsung menghampiri Rumah Sakit begitupun Leon dan Sheon.
Mereka begitu mengkhawatirkan Nathan, seorang perawat menghampiri Yura dan Leon yang sedang menangis melihat keadaan putranya.
"Permisi tuan dan nyonya, putra anda akan sesegera operasi dan kami membutuhkan golongan darah AB sementara stok darah AB kurang bisa anda membantu mendonor darah untuknya?"
"AB ? golongan darah Nathan AB? tapi kami sekeluarga tidak ada bergolongan darah AB. aku bergolongan darah A dan suamiku O, tutur Yura."
Mereka begitu kaget ketika mendengar golongan darah Nathan AB, sedangkan percampuran dari golongan darah A dan O hanya bisa menghasilkan A dan O Saja. Sheon bergolongan darah O, begitupun Nessa.
.
__ADS_1
Lalu darimana golongan darah AB Nathan itu???
Bersambung dulu ya gengs, maaf author baru sempet up