
Waktu berlalu begitu cepat.
Proses persidangan telah selesai.
Welly dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara.Sementara Raymond dijatuhi hukuman lima tahun penjara.
Yura kini menjadi presiden direktur PT Ryota Sadao. Perusahaan ayahnya.
Kemampuan Yura memimpin perusahaan tak lepas dari Leon yang selalu mendampingi sang istri dalam memberikan keputusan.
Hubungan mereka pun semakin mesra. Keluarga Leon pun semakin bahagia dengan kembalinya Nyonya Widya sebagai istri dari tuan Melky.
Tak ada kendala yang berarti selama Yura menjalani kehamilannya.
Ia diperlakukan bak permaisuri di rumah itu.
Selain sang suami, Yura bisa merasa kasih sayang seorang ayah dan ibu melalui Nyonya Widya dan tuan Melky.
***(
Yura tidur terlentang karena perut buncitnya. Rasa nyeri membuatnya tersadar.
"Sayang ! Sayang! "
Yura menepuk bahu Leon yang tidur di sampingnya.
"Ehm kenapa Sayang?"tanya Leon dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun dong! Perutku terasa sakit Nih!"
Mendengar hal itu Leon langsung panik.
"Yang benar?"
"Bener dong. Tapi sakitnya hanya sesekali."
"Mungkin kamu mau melahirkan, Aku bersiap dahulu."
"Iya Sayang. Perutku terasa mules nih. "
"Iya, iya. "
Leon memakai pakaian, kemudian ia mengambil jaket untuk Yura. Saat itu Yura hanya menggunakan baju daster karena perutnya yang sudah begitu buncit.
Leon melirik penunjuk waktu di kamarnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
"Kamu masih bisa jalan?"tanya Leon sambil menuntun istrinya keluar dari kamar.
"Masih bisa, sakitnya hilang datang. "
"Baiklah jika tidak tahan, bilang saja ya. "
Leon dan Yura dengan hati-hati menuruni anak tangga.
"Sayang, bagaimana jika saat kau melahirkan kita pindah kamar saja. Agar kau tak perlu turun naik tangga."
"Terserah lah. Aduh tapi kenapa perut semakin sakit ya," keluh Yura.
"Apa masih bisa berjalan? Atau aku gendong saja."
"Gak usah, sudah hilang kembali."
"Jika kau ingin sesuatu, katakan saja."
__ADS_1
Meski sesekali merasakan sakit, Yura tetap memaksanya dirinya untuk tetap berjalan menuju mobil.
Saat itu Leon meminta sang sopir untuk mengantar mereka menuju rumah sakit.
Yura bersandar pada tubuh Leon. Menahan rasa sakit, yang semakin sering dengan durasi yang semakin lama pula.
Sebenarnya ia sudah merasakan perasaan yang berbeda pada malam sebelumnya.
Sementara Leon terus menggenggam tangan Yura sesekali ia mencium kening istrinya.
Karena terlalu sakit, Yura Sampai berkeringat dingin, menahan rasa sakitnya
"Aduh Sayang, kenapa semakin lama semakin sakit ya," ringis Yura.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai."
Leon mengusap kening Yura yang mulai basah karena keringat.
Perjalanan di dalam mobil menuju rumah sakit membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.
"Aduh Sayang sakit! Kenapa lama sekali sampai di rumah sakitnya?"tanya Yura sambil terus mengeluh.
"Pak Barjo ! Cepat sedikit ! Istri saya sudah tidak tahan!"
Leon terlihat gugup dan khawatir ketika melihat Yura berkali-kali mengerang kesakitan.
"Aduh ! Aduh sakit sekali!" ringis Yura sambil meneteskan air matanya.
Leon semakin erat memeluk istrinya kemudian ia mengelap keringat yang membasahi sekujur tubuh istrinya.
Mobil pun tiba di depan unit gawat darurat. Namun belum bisa menghilangkan ketengan di hati Leon.
Seorang petugas medis datang dengan membawa brangkar.
Yura mendapatkan pertolongan pertama di ruang UGD.
Karena sudah terlihat tanda-tanda ia akan melahirkan, ia pun dibawa menuju ruang prenatal.
Dokter kandungan memeriksa tekanan darah dan melakukan VT terhadap Yura.
"Bayinya masih tinggi Tuan,masih pembukaan tiga. Mungkin esok pagi baru melahirkan."
*Apa dokter? Besok Pagi ? Tapi istri saya sudah mengerang kesakitan," protes Leon.
"Iya Tuan, memang seperti itu jika persalinan normal. "
"Apakah jika melakukan prosedur operasi, proses persalinan berlangsung cepat?"
"Cepat pak. Namun resikonya juga cukup lumayan, karena istri anda masih muda, tekanan darahnya bagus, lebih baik melahirkan secara normal saja. "
"Ehm baiklah, nanti saya tanyakan pada Istri saya."
"Baiklah,selama berada di ruangan ini, para perawat senantiasa memantau istri anda. Hingga ia melahirkan."
"Iya dokter. Jika anda ingin mengajukan ke Operasi Cesar, silahkan hubungi petugas kamu. "
***.
Setelah mendengar penjelasan dokter, Leon bermaksud menanyakan pertimbangan operasi kepada Yura .
Kein menghampiri Yura.
"Sayang, apa masih terasa sakit ?"tanya Leon.
__ADS_1
"Iya Sayang," sahut Yura lirih.
"Dokter bilang kemungkinan kamu akan melahirkan secara normal keesokan harinya. Jika kau tak sanggup menahan rasa sakit, kita lanjutkan dengan prosedur operasi saja, bagaimana?"
"Aku mau melahirkan secara normal saja, Sayang. Meski merasakan sakit, tapi aku bangga bisa berjuang melahirkan seorang pewaris untuk mu," ucap Yura lirih.
"Jangan begitu Sayang. Anak dalam kandungan kita adalah anak kita bersama."
"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan selalu setia menjaga dan menemani mu sampai kau melahirkan.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Sudah tujuh jam Yura mengerang kesakitan karena proses persalinannya.
Selama tujuh jam juga Leon setia menemani Yura.
Sesekali Yura merintih menahan rasa sakit.
Seorang wanita memeriksa Yura. Pembukaannya sudah lengkap. Sebentar lagi pasien akan melahirkan
Tim dokter sudah siap di posisi masing-masing. Mereka pun langsung melaksanakan tugasnya.
Leon terus menggenggam tangan Yura..
" Ayo Bu, proses persalinannya segera di mulai ya "
.Iya dokter .
"Kalau begitu ikut instruksi saya."
***
Oek…
Oek..
Terdengar suara tangisan bayi yang begitu lantang.
"Selamat Tuan, Nyonya bayi anda laki-laki," ucap dokter yang menangani persalinan tersebut.
"Laki-laki?"
"Akhirnya aku bisa memiliki putra,' gumam Leon.
"Terima kasih Sayang," ucap Leon sambil mengecup kening Yura.
"Iya Sayang, "ucap Yura lirih sambil meneteskan air mata haru.
Setelah perjuangan yang cukup dramatis. Leon dan Yura kini memiliki seorang anak.
Leon menggendong bayi itu dan membawanya menghampiri sang istri.
"lihatlah sayang di begitu tampan, seperti wajah ku," ucap Leon dengan bangga.
"Ehm, iya dia mirip seperti mu," sahut Yura pasrah. Leon memeluk istrinya dari bekang sementara Yura menggendong bayi mungilnya.
Mereka berdua begitu bahagia. " "Sebentar lagi, Oma dan Opa datang kemari. Mereka pasti bahagia, terima daddy yang ingin melihat cucunya lahir."
"Iya Sayang,aku sudah tak sabar ingin melihat reaksi daddy," sahut Yura.
Kedua pasangan suami istri itupun tak henti-hentinya menatap wajah bayi mereka yang tampan dan menggemaskan.
Bersambung dulu ya gengs. kira-kira di kasih nama siapa ya Reader?!!!
__ADS_1