
Pada sore harinya, Sasa kembali membersihkan lantai sebelum mereka menutup kantor.
Tubuhnya penuh dengan keringat yang mengucur karena sebelum ini Shasa tak pernah bekerja keras.
Ketika membersihkan lantai depan lift, tiba-tiba pintu lift terbuka dan CEO baru itu keluar dari lift tersebut.
Sasha kembali menundukkan wajahnya karena tak ingin Sheon mengenalinya.
Huh hampir saja, tapi kurasa dia takkan mengenaliku lihat saja penampilannya. jika pun mengenaliku tentu dia takkan sudi lagi berteman denganku.
Setelah membersihkan lantai, tugas Shasa di pagi itu pun telah selesai.
Iya memasuki ruang Pantri kemudian mengganti pakaiannya.
Setelah berada di depan gedung kantor PT Bintang Perkasa Shasa memesan ojek online.
Motor yang ditumpanginya tiba di sebuah rumah kontrakan.
Saat itu Shasa melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya.
"Mobil siapa ini?"batin Sasa.
"Selamat sore," ucap Shasa ketika berada di depan pintu.
"Eh Shasa sudah pulang Nak?"
Sasa melirik seorang pria yang duduk di sofa.
"Iya Mah, Baru pulang."
Shasa kembali melirik ke arah pria yang tersenyum padanya.
"Ada apa Yah Ma?" tanya Sasa.
Bu Diah melirik ke arah pria tersebut, untuk memberinya kode.
"Baiklah Nyonya, kalau gitu saya permisi," saja ucap pria itu.
"Oh iya silakan," tuan
Bu Diah mengantar pria itu hingga ke depan pintu.
"Siapa dia Ma?" tanya Shasa
Bu Diah tidak menjawab ia menghampiri Shasa dan duduk di sampingnya.
"Sha, kamu tahu kan setelah Ayah meninggal dan perusahaan Ayah bangkrut kita terlilit banyak hutang."
"Iya Ma, Karena itulah Shasa bekerja, apapun Shasa lakukan untuk melunasi hutang-hutang kita."
Wanita paruh baya itu pun tertunduk sedih
"Tuan Rama meminta kita segera membayar hutang-hutang kita Sha."
"Tapi bagaimana caranya Bu, mau bayar hutang yang sebanyak itu?"
Bu Diah kembali tertunduk.
"Tuan Rama menawarkan sesuatu, Sha."
"Apa itu Ma?" tanya Shasa.
"Beliau bersedia melunasi hutang-hutang kita, asal kamu mau jadi istri keduanya,"ucap Bu Diah lirih.
"Hah! Shasa nggak mau Ma."
Bu Diah kembali tertunduk, sebenarnya Ia juga tak tega membiarkan anaknya menjadi pelakor dalam rumah tangga seseorang. Tapi ia juga kasihan dengan Shasa jika harus bekerja membanting tulang untuk membiayai membayar hutang ke tuan Rama yang mencapai miliaran rupiah.
Sebenarnya, Mama juga nggak rela, tapi apa boleh buat kita tak punya apa-apa lagi, untuk membayar hutang-hutang kita.
Hiks hiks Shasa langsung menangis.
"Tapi apa harus aku menikah dengan pria itu Mah, apalagi jadi istri yang kedua. Meskipun Tuan Rama masih muda dan tampan, tetap saja aku tak mau menjadi pelakor dalam rumah tangga nya."
Melihat putrinya menangis Bu Diah pun ikut menangis.
"Iya Mama tahu Sha, tapi kita tak punya pilihan lain. Mau tak mau, kamu harus menerima tuan Rama."
Hiks hiks, kedua ibu dan anak itupun saling memeluk.Mereka berdua menangis meratapi nasib.
***
"Hallo nyonya Diah?"
"Iya Tuan."
"Bagaimana dengan keputusan Shasa?"
__ADS_1
"Shasa mau Tuan," ucap Bu Diar dengan getir, hatinya terasa tersayat ketika mengucapkan itu.
" Haha, syukurlah. Baiklah nanti kapan-kapan saya datang lagi, untuk melamar Shasa secara resmi."
"Iya Tuan."
Bu Diah meletakkan handphonenya kemudian kembali menangis, tubuhnya ia rebahkan di atas kursi.
"Maafkan mama Sha." Bu Sarah kembali menangis.
Begitupun dengan Shasa, tubuhnya terbaring tertelungkup dengan kepala membenam ke bantal
"Akh!" Shasa berteriak melampiaskan rasa kecewanya. Suara jeritannya teredam di dalam bantal.
***
Raisha mengamati bunga pemberian dari Nathan, bibirnya selalu mengukir senyum ketika mengingat semua hal tentang Nathan.
Meskipun belum ada kepastian tentang hubungan mereka, Raisa tahu jika ia dan Nathan saling mencintai.
"Raisa!"seru Nadia dari arah luar kamar.
Raisa bangkit kemudian berjalan menghampiri pintu.
"Ada Ma ?" tanya Raisa ketika berada di depan pintu.
"Nadia kamu Mama antar ke rumah Ontyi karena mama dan papa mendadak ada urusan di luar kota," ucap Nadia.
Raisa langsung tersenyum" Iya, Mah Raisa siap-siap dulu ya."
Beberapa saat kemudian mereka pun berangkat menuju rumah keluarga Johson.
kebetulan sore ini Yura Leo, Nadia, Zein dan Sheon berencana meninjau lokasi proyek mereka yang berada di luar kota
Agar Nadia tidak sendirian, mereka pun menitipkan Nadia di rumah keluarga Leon.
Raisa, Nathan dan Nessa berada di atas balkon mereka menikmati pemandangan alam di malam hari.
Nathan melirik arlojinya, sebenarnya ia ingin mengajak Raisa jalan-jalan. Namun Nathan juga kasihan jika Nessa ditinggal sendirian.
Ketika sedang mengobrol Nesya mendapatkan telepon.
Ia pun sedikit menjauh dari Nathan dan Raisa.
"Raisa, sepertinya aku harus pergi nih," ucap Nessa.
"Mau pergi ke ulang tahun temanku, mau ikut ?"tanya Nesya.
"Enggak lah, ngapain ikut."
"Ya sudah, aku pergi dulu ya."
"Tapi kamu jangan macam-macam ya," nasehat Nathan.
"Ih mau macam-macam bagaimana, aku kan di awasi beberapa bodyguard."
"Iya juga sih, kamu kan kesayangan Daddy. hahaha,"tawa Nathan mengejek.
Nathan tak perlu mengkhawatirkan Nessa karena adiknya itu selalu diawasi oleh bodyguard bayang-bayang suruhan Daddynya.
Kini tinggallah Nathan dan Raisa.
"Sah, kita jalan juga yuk!" ajak Nathan.
"Kemana Tan?"
"Nonton aja yuk di bioskop."
"Yah udah ayo!"
Nathan dan Raisa turun dari lantai atas mereka langsung menuju garasi.
"Kita pergi pakai apa Than ?"tanya Raisa.
"Pakai motor dong."
Nathan menyodorkan helm ke Raisa.
setelah siap, mereka pun berangkat menuju bioskop.
Nathan yang biasanya kebut-kebutan dengan motornya kini membawa motornya dengan santai
Kamu nggak balapan lagi kan?" tanya Raisa
"Enggak lah, kalau bawa kamu aku harus hati-hati aku nggak mau terjadi sesuatu pada kamu,"ucap Nathan sambil meraih tangan Raisa kemudian mengecupnya.
Raisa tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga, ia semakin mempererat pelukannya terhadap Nathan.
__ADS_1
Sekitar 20 menit mereka pun tiba di gedung bioskop.
Karena saat itu malam minggu, gedung tersebut dipenuhi dengan sesak para pengunjung
turun dari motornya Nathan langsung menggandeng tangan Raisa.
"Kita nonton film apa?" tanya Nathan.
"film Korea aja ya Than. biasanya Korea identik dengan romantisnya," Raisa.
Sebenarnya Nathan tak begitu suka nonton. Namun ia bingung harus membawa Raisa kemana.
Setelah membeli tiket, mereka masuk ke dalam gedung bioskop dengan tangan yang saling menggenggam erat.
Setelah mendapatkan nomor tempat duduknya Nathan dan Raisa duduk dengan teman sambil menikmati makanan ringan.
Baru beberapa menit duduk, film full diputar lampu di ruangan itu Padam
Raisy serius menonton film tersebut, sesekali ia tersenyum dan tersipu-sipu melihat adegan romantis di film yang ditontonnya.
"Romantisnya mereka, "ucap Raisa.
"Aku tahu apa yang lebih romantis,"bisik Nathan di telinga Raisa.
"Apa Than?" tanya Raisa.
Nathan tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Raisa.
Raisa menutup matanya ketika merasakan sentuhan hangat di bibirnya sambil menikmati aroma napas Nathan yang begitu segar
Ser deg deg jantung mereka memompa lebih cepat. Nathan menggenggam erat tangan Raisa. Keduanya masih canggung karena ini pengalaman pertama bagi keduanya.
Beberapa saat kemudian Nathan melepaskan pangutan bibirnya.
Nathan menatap Raisa dengan sayu. seketika Raisa tertunduk dengan wajah yang merona malu, karena tak sanggup menolak ciuman Nathan tersebut.
Nathan tersenyum kemudian meraih tangan Raisa dan menciumnya.
"Aku cinta kamu," bisik Nathan lembut dan mesra.
Raisha kembali menundukkan wajahnya dengan wajah merah yang bersemu.
"Kau mau kan jadi pacar aku Sa?" Akhirnya kata-kata yang selama ini tertahan di hatinya sudah mampu untuk di ungkapkan.
Raisa tak mampu menyembunyikan perasaannya ia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan lirih.
Meski Raisa tak mempertegas dengan jawaban secara lisan. Namun itu sudah cukup bagi Nathan.
"Ya sudah kalau begitu mulai saat ini kamu resmi jadi pacar aku ya?" tanya Nathan.
Lagi-lagi Raisa menundukkan wajah dengan senyum tersipu-sipu, tapi kepalanya mengangguk tanda persetujuannya.
"Asik!" ujar Nathan sambil tersenyum membuat Raisa jadi salah tingkah.Ia hanya tersenyum sambil menunduk kepalanya.
"Ya sudah, kalau begitu nonton lagi yuk."
Nathan menarik Raisa dalam dekapannya, kepala Raisa mendarat di dada bidang pria tampan itu.
Sepanjang film di putar tak ada lagi pembicaraan yang terjadi di antara mereka.
Keduanya saling menggenggam tangan dengan erat keluar dari gedung bioskop.
"Raisa, apa perlu hubungan kita ini kita beri tahukan pada kedua orang tua kita?" tanya Nathan.
"Jangan dulu lah Than. Status ku kan masih pelajar," ucap Raisa.
"Iya, betul juga kata kamu."
"Nanti saja bilangnya, tunggu aku siap mengatakan hal ini pada kedua orang tua ku. Mana tahu mereka langsung menyetujui dan langsung menyuruh kita untuk menikah," ucap Nathan.
"Ih kamu Tan, umur saja baru delapan belas tahun. Kamu kan belum kerja sudah mikirin nikah."
"Hehe, aku gak perlu cari kerja, aku akan mewarisi perusahaan mommy. Tenang saja kamu akan tetap sejahtera meski usiaku baru delapan belas tahun," ucap Nathan.
"Ih kamu tuh ya," ucap Raisa sambil menarik telinga Nathan.
Haha, Nathan kembali merangkul Raisa hingga ke parkiran motornya.
Kedua insan yang di Landa cinta itu begitu menikmati perjalanan mereka.
Raisa memeluk Nathan sementara sepanjang perjalanan Nathan menggenggam erat tangan Raisa, sesekali ia menciumnya.
Mereka sedang di mabuk cinta dan tak ingin di pisahkan.
Bersambung dulu gengs.
__ADS_1