
Setelah mengenakan pakaiannya, Yura kembali menghampiri Leon yang berbaring di atas tempat tidur.
"Masih sakit ?"tanya Yura .
"Masih, Yang. "
Yura melihat perban Leon yang basah.
"Sepertinya luka kamu berdarah kembali, Yang. "
"Ehm masa' iya. Pantesan masih sakit,"ucapnya sambil meringis.
"Ih salah sendiri, kamu itu kalau dibilangin dokter jangan ngeyel. Tanggung sendirikan akibatnya," omel Yura .
"Bagaimana kalau aku panggilkan dokter?"
"Jangan Sayang, biar saja, sebentar lagi juga sembuh."
"Sembuh bagaimana. Pokoknya aku harus panggil dokter, bagaimana kalau luka mu terjadi infeksi? Pasti sembuhnya akan semakin lama?"
"Itu juga kalau sembuh, kalau gak ya Terpaksa aku menjanda," cetus Yura sambil mengibas rambutnya.
"Jangan disumpahin begitu Yang, aku belum mau mati.Masih belum puas aku, baru juga sekali pakai."
"Makanya setelah ini kamu harus istirahat total.Gak usah mikir macem-macem dulu, otakmu itu diistirahatkan juga. "
"Ayo, telpon dokter kamu! "
Leon menurut saja, ia pun menghubungi dokter untuk memeriksa keadaannya.
Sementara itu, Yura membantu membuka perban luka Leon.
Dengan hati-hati ia membersihkan luka tersebut sambil menunggu dokter tiba.
"Yang, sepertinya kamu cocok jadi perawat."
"Ehm, aku memang punya cita-cita jadi seorang dokter. Sayang, sejak tinggal dengan paman aku tak pernah merasakan bangku sekolah. Aku tak punya teman dan kehilangan masa kecil dan masa remaja ku."
Leon meraba wajah istrinya sambil melemparkan senyum.
"Kamu bisa menempuh pendidikan non formal kok. "
"Iya, tapikan aku juga ingin punya teman sebaya. Sampai saat ini,aku gak punya teman, dari dulu gak sempet main-main dengan teman sebaya, disuruh kerja terus."
"Oh kalau begitu tenang saja, kalau soal teman ada aku yang akan jadi teman mu seumur hidup. Dan kalau soal main, setiap malam kita pasti akan main bareng kok Yang,tenang saja," sahut Leon sambil tersenyum mesum.
Yura menatap tajam ke arah Leon.
"Dasar otak sama otong, sama saja," dengus Yura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hehe, namanya juga usaha," ucap Leon sambil menarik hidung Yura.
Yura mencubit perut Leon.
"Akh! Sakit Yang. Galak bener sih!"ringis Leon.
"Hem, mumpung ada kesempatan, kamu dahulukan suka galak-galak sama aku, sampai aku trauma. Sekarang giliran aku yang galak sama kamu, sampai kamu trauma," ucap Yura sambil mencekik kepala Otong yang berdiri di balik boxer .
"Akh ! Sakit Yang! Sadis banget sih kamu !aku kan gak pernah menyakitimu secara fisik " ringis Leon. Saking sakitnya mata Leon memerah menahan air matanya.
"Haha makanya, jika berbuat sesuatu harus diingat, jika pembalasan itu, lebih kejam dari perbuatan."
"Itu baru aku cekik, belum aku pelintir sampai keseleo," sahut Yura sambil tertawa kecil.
Leon tertunduk sedih. "Tega banget sih kamu, Yang. Kalau gak suka sama aku, gak usah segitunya juga."
Yura kaget mendengar penuturan Leon yang terlihat sedih. Rasa bersalah pun muncul di hatinya.
Ia pun menghampiri Leon.
"Kamu marah Yang, aku bercanda kok," ucap Yura.
__ADS_1
Leon semakin menundukkan wajahnya.
"Aku tau kamu gak cinta sama aku, cuma aku yang cinta sama kamu," tutur Leon dengan begitu sedih, wajahnya semakin tertunduk.
Yura jadi ikut sedih ia pun duduk di samping Leon, kemudian memeluknya.
"Sayang maaf Ya, aku gak bermaksud kasar, itu cuma bercanda kok. Aku sayang kok sama kamu," ucap Yura dengan penuh sesal,Ia pun mencium pipi Leon.
Leon tersenyum menyeringai, karena ia berhasil mengerjai Yura.
"Prank! " Seru Leon tiba-tiba, ia langsung menoleh ke arah Yura,dan membalas mencium pipinya.
Haha
Yura membelalakkan bola matanya.
"Jadi kamu cuna ngerjain aku ya?!" Yura memukul lengan Leon sebelah kanan.
" Haha, kalau gak gitu, aku mana tau kalau kamu ternyata sayang sama aku," ucap Leon sambil memeluk Yura dari belakang.
"Ehm Sayang dong. Kalau aku gak Sayang, aku gak akan ada disini bersama kamu," sahut Yura.
"Benarkah, sayang ?"tanya Leon dengan tatapan berbinar.
Keduanya pun saling menatap dengan mesra.
"Benar dong. Kalau aku gak Sayang, sudah pasti aku gak akan ada disini bersama kamu," ucap Yura dengan tegas .
Leon merasa begitu bahagia atas pernyataan Yura tersebut.
"I love you," ucap Leon dengan bola mata yang berembun menatap Yura..
"I love you too," balas Yura .
Keduanya pun saling melempar senyum selama beberapa saat .
Leon mengecup kening Yura dengan lekat.
"Sama-sama, Sayang ."
Leon mendekatkan wajahnya, ke arah wajah Yura kemudian mencium bibir istrinya, dan memungutnya. Dengan lembut Yura membalas pagutan bibir Leon hingga terjadilah ciuman panas tersebut.
Setelah beberapa saat mereka saling melepaskan pagutan karena mendengar suara gedoran pintu.
Leon dan Yura pun saling melempar senyum kemudian tertawa kecil melihat bibir mereka yang sama-sama memerah karena ciuman panas tersebut.
***
Dokter datang untuk memeriksa keadaan Leon.
" Ada keluhan apa Tuan?" tanya dokter tersebut.
"Bagian dada saya terasa sakit."
"Baiklah saya periksa dulu."
Dokter langsung memeriksa luka terbuka di dada Leon.
"Lukanya masih basah , saya bersihkan dulu."
Dokter membersihkan luka tersebut.
"Tuan, saya perban kembali lukanya."
"Iya silahkan saja."
Karena luka Leon kembali basah, dokter pun kembali membersihkan luka dan membalutnya kembali.
"Bagaimana dokter dengan luka bekas operasi suami saya dokter ?" tanya Yura.
"Cukup parah, bekas parutan luka-nya ada yang robek, hingga menyebabkan pendarahan."
__ADS_1
"Memangnya Tuan melakukan apa hingga terjadi pendarahan seperti ini?" tanya dokter lagi.
Leon mengedip-ngedipkan matanya ke arah Yura agar Yura tak memberi tahu dokter kejadian sebenarnya.
"Suami saya habis melakukan olahraga berat Dok."
"Olahraga?!"
"Iya Dok."
"Aduh, bukannya sudah saya melarang untuk melakukan pekerjaan berat sampai beberapa minggu kemudian.'
"Itu dia Dok, suami saya memang bandel."
"Kalau begitu istirahatnya di perpanjang lagi Tuan. Tunggu enam sampai delapan minggu lagi."
"Hah, Kenapa makin lama saja dokter, apa tak bisa dipercepat!"
"Tidak bisa Tuan. Luka tembak apalagi pada bagian dada memang membutuhkan waktu yang lama untuk proses penyembuhannya. Saya harap anda bisa lebih bersabar."
Yura tersenyum ke arah Leon.
"Dengar Sayang, kamu harus enam sampai delapan minggu lagi," ucap Yura sambil mengedipkan matanya.
"Alah Mak! " Seru Leon sambil menelan jidatnya.
***
Malam harinya Yura dan Leon turun untuk makan malam bersama.Di meja makan ia bertemu tuan Melky yang sedang menunggu kedatangan mereka untuk makan bersama.
Leon menarik kursi untuk duduk istrinya.
"Leon bagaimana dengan luka kamu, daddy dengar, tadi dokter datang memeriksa karena terjadi pendarahan pada luka kamu."
"Iya daddy tapi sudah tak apa-apa. "
"Leon, kamu itu bagaimana , belum sehari pulang dari rumah sakit sudah terjadi pendarahan. Memangnya apa sih yang kamu lakukan sampai luka kamu itu berdarah?!
Leon hanya tersenyum nyengir.
"Gak ada apa -apa daddy. Daddy tenang saja. "
" Kamu itu kebiasaan menyepelekan sesuatu. Jadinya seperti itu," omel tuan Melky.
Sepanjang makan malam, tuan Melky terus menasehati Leon, padahal biasanya tuan Melky selalu cuek . Tapi kali ini tak akan membiarkan anaknya itu dalam bahaya.
Setelah makan malam mereka menuju ruang tengah untuk sekedar ngobrol sejenak. Tuan Melky didorong oleh Wana menuju ruang tengah. Setelah itu, Wanita itu kembali meninggalkan mereka.
Yura melihat ada gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Wana. Karena itu setelah kepergian Wana, Yura bermaksud untuk mengintai wanita itu.
Sebagai orang mungkin tak heran melihat sikap Wana yang terlihat misterius tersebut. Namun, bagi Yura Ia melihat gelagat mencurigakan dari wanita tersebut.
Yura mengikuti Wana, ia memang masih penasaran dengan wanita yang terlihat misterius itu.
Wanita itu terlihat menyembunyikan sesuatu.
Wana masuk ke dalam kamarnya, kemudian menutup pintu kamarnya.
"Ehm, kenapa Ya, seperti ada sesuatu yang aneh dari wanita itu."
Sebenarnya Yura ingin mengadukan kecurigaannya terhadap Wana. Tapi sepertinya sulit jika tanpa bukti. Leon dan tuan Melky terlalu percaya pada wanita itu.
Setelah tak mendapati informasi tentang Wana, Yura kemudian kembali ke ruang tengah untuk ikut Ngobrol bersama tuan Melky.
Sementara di dalam kamar Wana tersenyum menyeringai.
"Kau pikir aku tak tau apa, jika kau mengikutiku."
Ia pun menatap nanar ke seluruh ruangan kamarnya tersebut.
bersambung dulu gengs.
__ADS_1