Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Flashback - Skandal Cinta


__ADS_3

Dua bulan berlalu.


Tuan Melky tengah menikmati teh hangat di ruangan pribadinya. Selain di kamar, tuan Melky memang sering menghabiskan waktunya di ruangan tersebut.Sementara nyonya Hilda saat ini berada di luar negeri bersama gengs sosilitanya mereka mengadakan tour keliling Eropa selama kurang lebih dua minggu.


"Tuan ! Tuan!" Seorang wanita menghampirinya tuan Melky dengan panik. 


"Ada apa, kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?!"


"Tuan, Nyonya Widya pingsan di kamarnya!"


"Pingsan kenapa?"


"Tadi dia muntah-muntah,selama seminggu ini Nyonya Widya memang kehilangan nafsu makan akibat ngidam."


"Ngidam?"


Iya Tuan, Nyonya Hilda mengalami ngidam yang cukup parah, ia terus saja muntah sedangkan makan cuma sedikit. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya "


Mendengar penuturan asisten Widya tersebut,Tuan Melky langsung bergerak. "Ayo kita temui dia sekarang."


Tuan Melky dan wanita itu berjalan cepat menuju Harem.


Tiba di sana ia menemukan wajah Widya yang begitu pucat, tubuh Widya yang sebelumnya memang kurus, kini semakin kurus lagi, dan inilah pertama kalinya tuan Melky bertemu dengan Widya setelah kepulangan mereka dari luar negri.


Selama ini Nyonya Hilda menang melarang sang suami untuk menemui Widya. Karena kecintaannya terhadap Hilda,tuan Melky pun menurut saja. Selama ini ia hanya menanyakan kabar tentang Widya melalui asisten pribadi Widya.


"Siapkan pakaiannya, kita bawa dia ke rumah sakit sekarang !"


"Baik Tuan."


Tuan Melky mengangkat tubuh Widya dari Harem tempatnya tinggal ,menuju parkiran mobilnya. Dari Harem menuju bangunan utama jaraknya memang cukup jauh sekitar lima puluh meter, mereka juga melewati lorong dan beberapa ruangan lain yang ada di rumah tersebut.


Semua asisten rumah tangga yang melihat kejadian tersebut, heran melihat tuan Melky yang menggendong Widya dari Harem hingga ke teras rumahnya. Mereka tak tau jika Widya itu tegah mengandung, yang mereka tau, Widya adalah saudara jauh dari nyonya Hilda dan Widya mengalami gangguan kejiwaan, makanya tinggal di dalam harem. karena itulah mereka dilarang mendekati Harem.


Tiba di rumah sakit Widya langsung diperiksa .


"Bagaimana keadaannya?"tanya tuan Melky.


"Pasien mengalami dehidrasi akut, tekanan darahnya rendah.Untung saja segera dibawa kerumah sakit,Keadaan ini juga bisa membahayakan janinnya." 


"Tolong beri penanganan yang terbaik, saya tak ingin terjadi sesuatu pada kandungannya."


***


Widya membuka matanya dan melihat suasana yang berbeda.


"Sudah sadar ?!"tanya tuan Melky.


Widya mengangguk lirih.


"Ini dimana?"


"Sekarang kau berada di rumah sakit. Keadaan mu sungguh memprihatinkan, sebaiknya kau banyak beristirahat. "


"Saya justru terlalu banyak beristirahat Tuan. Hanya mengurung diri di dalam kamar membuat saya bosan. "


"Loh kenapa harus mengurung diri ?"


"Nyonya Hilda tak memperbolehkan saya keluar dari kamar saya."


Tuan Melky menghembuskan nafas berat mendengar penuturan dari Widya tersebut.


"Sesekali kau butuh refreshing. Nanti aku akan bicarakan hal ini pada Hilda."


"Terimakasih Tuan."


"Baiklah sekarang kamu makan dulu."


Tuan Melky menyuapi Widya dengan makanan yang sudah di siapkan di rumah sakit. Anehnya, jika sebelumnya Widya mengalami penurunan nafsu makan, ketika disuapi tuan Melky, ia justru  begitu berselera,  Tanpa sadar makanan yang tersedia di lahap semua.


Sambil menerima suapan dari tuan Melky, sesekali Widya mencuri pandang kearah tuan Melky.


Mulailah timbul kekagumnya terhadap pria tampan bertubuh tegap tersebut.


 Setelah menyuapkan makanan, tuan Melky membersihkan sekitar mulut Widya dengan tisu. 

__ADS_1


Perlakuan tuan Melky itu membuat Widya tersentuh.


Selama tiga hari dirawat, keadaan Widya mulai membaik. Ia juga sudah jarang muntah-muntah, nafsu makannya pun cukup baik. Widya diperbolehkan untuk pulang.


Selama dirumah sakit, tuan Melky tak pernah menceritakan tentang keadaan Widya pada istrinya. Ia takut akan menimbulkan kecurigaan terhadap istrinya.


Widya dibawa  pulang ke rumah. Setelah pulang, Widya kembali tinggal di dalam Harem. Namun, tuan Melky sesekali datang dan menjenguk keadaan Widya di dalam Harem.


Suatu ketika, Tuan Melky bermaksud membawa asinan kepada Widya. Ia bermaksud mengantarkannya sendiri sambil melihat keadaan Widya. Perhatian tuan Melky terhadap Widya itu, semata-mata hanya karena Widya mengandung anak darinya.


"Widya!" Panggil tuan Melky sambil mengetuk pintu kamarnya.


Mendengar suara ketukan pintu, Wilda yang memang menunggu kedatangan tuan Melky segera membuka pintu. Widya sengaja memakai pakaian terbuka untuk menggoda tuan Melky, karena benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya.


Krekk…


Pintu kamar pun terbuka.


Tuan Melky tertegun melihat Widya yang mengenakan pakaian serba minim hingga menonjolkan lekuk tubuhnya.


"Masuk Tuan." Widya dengan berani menarik tangan tuan Melky yang masih terdiam tersebut kemudian menutup pintu kamarnya.


Tuan Melky tersadar beberapa saat, setelah pintu kamar tersebut tertutup.


"Aku bawakan ini untuk mu," ucap Tuan Melky sambil menyodorkan sebuah kantong plastik.


"Terima Kasih Tuan," lirih Widya dengan suara yang mendayu-dayu.


Sebagai seorang lelaki normal tentu saja tuan Melky merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirinya ketika melihat tubuh Widya yang hampir terekspos dengan sempurna di balik kain yang sedikit transparan. Jantungnya berdetak kencang.Sulit baginya mengendalikan emosi, karena itu ia memilih untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


"Makanlah, aku harus kembali ke kamar ku," ucap tuan Melky.


"Tunggu tuan."


"Ada apa ?" tanya tuan Melky seraya menghentikan langkahnya.


"Tuan, apa aku boleh meminta sesuatu?"tanya Widya.


"Minta apa ?"tanya tuan Melky.


"Tuan, aku juga ingin dapat perhatian khusus. Karena aku mengandung anak dari mu, entah kenapa aku ingin melakukan hubungan itu denganmu," ucap Widya sambil menggantung kedua lengan di leher tuan Melky.


Tuan Melky kembali terdiam, jantungnya berdetak kencang. 


"Tuan kau tak inginkan terjadi sesuatu pada janin ini, aku benar-benar menginginkannya," bisik Widya ketika tuan Melky masih belum merespon.


Widya memeluk tuan Melky sambil melepaskan kancing kemeja pria itu.


Tuan Melky dibuat tak berdaya, apalagi sudah seminggu ia tak punya tempat pelampiasan.


Tanpa menunggu lama lagi, pergulatan pun terjadi di atas tempat tidur.


Berkali-kali Widya mendessah karena hasratnya yang selama ini terpendam bisa terpuaskan.


***


Tak hanya di hari itu, pertarungan sengit itu terjadi setiap hari ketika Hilda tak berada di rumah.


Karena sering melakukan hubungan dengan tuan Melky, Widya jadi terobsesi untuk memiliki tuan Melky.


Bahkan berkali-kali ia mengirimkan surat kepada tuan Melky melalui asistennya untuk datang ke kamarnya dengan alasan yang beragam.


Mereka pun jadi semakin sering melakukan hubungan intim tersebut.


Bahkan tuan Melky bisa merasakan benar-benar puas ketika berhubungan dengan Widya dari pada istrinya. Karena penyakit sang istri tuan Melky memang jarang sekali mendapatkan kepuasan. Nyonya Hilda selalu mengeluhkan sakit ketika sang suami mencoba gaya baru dalam bercinta. Meskipun demikian, tuan Melky tetap mencintai nyonya Hilda, dan selain dengan Widya ia tak pernah menyalurkan hasratnya pada wanita lain.


***


Selama kehamilan Widya, nyonya Hilda masih bersandiwara dengan kehamilannya. Ia menggunakan stagen khusus agar perutnya terlihat buncit.


Suatu malam.


Nyonya Hilda berbaring di kamarnya, saat itu ia melihat ke arah tuan Melky yang tertidur pulas.


"Sudah seminggu aku tak pernah disentuh suamiku, apa yang terjadi padanya? Biasanya kami selalu ribut di atas ranjang karena suami ku yang terlalu sering minta dilayani ."

__ADS_1


"Tapi ini sudah seminggu, suamiku tak pernah menyentuhku."


Saat itulah Nyonya Hilda menyadari ada yang berbeda dengan suaminya.


Ia pun menyelidiki tuan Melky dengan memata-matainya.


Awalnya, Nyonya Hilda mengira tuan Melky memiliki simpanan di luar sana. Ia pun mengawasi pergerakan tuan Melky. Namun kecurigaan Nyonya Hilda tersebut tak beralasan. Setelah sekitar seminggu menyelidiki Tuan Melky tak terbukti berselingkuh.


Apalagi tuan Melky yang tak pernah pulang terlambat dari bekerja.


Suatu Ketika, bau busuk tersebut akhirnya terendus juga.


Suatu hari tanpa sengaja Nyonya Hilda mendapatkan surat yang ditulis oleh Widya. 


Tuan aku menunggu mu di Harem.


Bola mata Widya membulat dengan sempurna. Hilda begitu emosi.


"Oh ternyata mereka selingkuh di belakang ku !"


langsung saja ia menghampiri Widya dengan wajah yang merah padam. Ketika Hilda hendak menghampiri Widya, kebetulan tuan Melky melihat istrinya itu, ia pun mengikuti kemana istrinya pergi. Ia curiga jika Hilda ingin menyakiti Widya.


***


Tok tok tok


"Widya ! Widya!"


pintu pun terbuka.


Nyonya Hilda langsung masuk kedalam kamarnya.


Tanpa bertanya ia langsung mencekik leher Widya.


"Beraninya kau menggoda suamiku !"


"Akh! tolong lepaskan saya Nyonya!"


"Aku sudah bilang padamu, jangan coba-coba untuk menggoda suami ku! akan ku bunuh kau saat ini juga!"


"Mommy, berhenti!" tuan Melky segera menghampiri mereka dan membantu Widya agar terbebas dari cekikan Hilda.


Setelah ia bisa melepaskan Widya dari istrinya,Tuan Melky menahan tubuh Hilda yang kembali ingin menyakiti Widya.


"Lepaskan daddy! aku ingin dia mati !aku ingin membunuhnya! lepaskan daddy!"


Nyonya Hilda memberontak, berupa untuk melepas diri.


Sementara Widya sudah menangis di sisi tempat tidur karena syok.


"Jangan mommy, kalau kau membunuhnya kau juga akan membunuh anak yang ada di dalam rahimnya. kita sudah susahpayah untuk memiliki keturunan. Jangan karena emosi sesaat, rencana kita semua hancur berantakan!"


"Maafkan daddy! ini tak sepenuhnya salah Widya, salah daddy juga ," ucap Tuan Melky sambil memeluk istrinya.


"Hiks hiks teganya daddy berselingkuh," sesal Hilda dalam pelukan suaminya.


"Maafkan daddy, mommy! Daddy menyesal dan daddy bersumpah tak akan melakukan itu lagi. Tapi tolong jangan bunuh anak yang ada di kandung Widya, daddy sudah lama menginginkan seorang anak, darah daging daddy yang akan mewarisi semua harta daddy," tutur tuan Melky.


Setelah di bujuk Nyonya Hilda pun luluh.


"Baiklah daddy, kali ini aku memaafkan mu. Jika kalian ketahuan bermain di belakang ku, maka aku tak akan segan-segan membunuh wanita itu! setelah itu, aku juga akan bunuh diri agar daddy puas !" ancam Hilda.


"Iya-iya daddy tak akan melakukannya lagi. Sekarang kita kembali ke kamar, jangan sampai rahasia kita terbongkar."


Sebelum meninggalkan kamar tersebut Hilda kembali menghampiri Widya.


"Ini kesalahan mu yang terakhir! Jika kau berbuat nekad lagi , maka tak ada ampunan lagi untuk mu!"


Hilda meninggal tempat tersebut.


Sejak itu saat itu, tuan Melky dan Widya tak lagi pernah bertemu sampai Widya melahirkan.


Bersambung dulu gengs.


 

__ADS_1


__ADS_2