Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Siapa Wana


__ADS_3

Leon membawa laju mobilnya menuju rumah sakit jantung, tempat biasa Daddynya menjalani check up dan pengobatan.


Lalu lintas saat itu begitu padat merayap. Selain mengkhawatirkan Daddynya,Leon juga mengkhawatirkan sang istri.


"Oh Iya aku lupa untuk menelpon Sumi."


Leon meraih handphonenya kemudian mencari kontak Sumi.


Beberapa saat kemudian sambungan telepon tersambung.


"Halo Tuan."


"Sumi, aku sedang dalam perjalanan rumah sakit jantung. Sekarang kau ke rumah sakit Melati, bantu aku menjaga istri ku."


"Baik Tuan. "


"Oh ya, satu lagi. Apa sebenarnya yang terjadi pada daddy? Kenapa dia bisa terkena serangan jantung?"


"Ehm, saya kurang tau tuan.Saya belum sempat bertanya pada Wana, yang saya tau, saat itu terkena serangan jantung tuan Melky berada di depan kamar Wana."


"Di depan kamar Wana?"


"Oke, Sumi minta Tono untuk menyimpan rekaman CCTV yang ada di lorong kamar Wana. Kirim rekaman CCTV tersebut kepada saya. "


"Baik Tuan."


"Sekarang kamu jaga istri saya. Jangan biarkan orang asing masuk, nanti saya minta kepada Zein untuk mengawasi langsung dari luar ruangan."


"Baik Tuan, saya siap-siap dulu."


"Apakah Nyonya butuh pakaian ganti Tuan? Saya siapkan."


"Kamu langsung saja ke rumah sakit. Jangan buang-buang waktu. Istri saya tak ada yang menjaga. Masalah pakaian ganti itu gampang. "


"Oke Tuan."


Leon menutup teleponnya. Jarak antara rumah sakit jantung dan sekitar dua puluh menit.


Meski merasa gelisah,Leon berusaha untuk fokus dalam berkendara. Mobilnya merayap menembus kemacetan.


"Sial kena macet lagi. Aku hubungi Wana."


Leon menelpon Wana. Beberapa kali melakukan panggilan Namun tak juga tersambung. Ia pun menghubungi nomor tuan Melky hasilnya juga sama, nomor tuan Melky tak aktif juga.


"Sial, kenapa di situasi mendesak seperti ini mereka sulit kali di hubungi. "


Leon kembali menyimpan handphone. Pikirannya begitu kalut.


"Ya Tuhan, semoga tak terjadi sesuatu pada daddy."


Beberapa saat kemudian kemacetan dapat terurai. Leon merasa lega karena bisa keluar dari kemacetan.


Sepuluh menit berikutnya ia pun tiba di rumah sakit jantung dimana Daddynya dirawat.


Dengan langkah cepat Leon menuju ICU.


Saat itu ada Wana dan sopir pribadi tuan Melky yang menunggu di depan ruang ICU.


"Bagaimana keadaan daddy?"tanya Leon pada Wana.


"Sedang ditangani dokter," ucap Wana dengan tatapan datarnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada daddy?" tanya Leon pada Wana .


"Keluarga tuan Melky!" seru seorang perawat.


Leon belum sempat mendengar penjelasan Wana ia sudah dipanggang oleh perawat.


"Saya putranya, bagaimana dengan keadaan daddy saya?"tanya Leon.


"Saat ini pasien masih dalam penanganan. Kami butuh tanda tangan anda."


Perawat tersebut menyodorkan sebuah kertas.


"Bisakah saya melihat keadaan daddy?"


"Oh iya bisa. silahkan saja. Namun, saya harap agar anda tak berisik dan tak mengaktifkan telepon seluler."


Leon masuk dengan menggunakan masker dan pelindung rambut.


Ia memperhatikan bagaimana dokter masih memeriksa keadaan Daddynya.


"Daddy," gumam Leon lirih ketika melihat Daddynya terbaring tak berdaya dengan beberapa alat medis terpasang di dadanya.


***


Sudah seharian berada di ruang ICU tuan Melky belum juga sadar.


Dokter datang memeriksa keadaan tuan Melky.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan beliau dokter, kenapa sudah hampir seharian beliau belum juga sadar ?"tanya Leon.


"Kami masih memeriksa keadaannya dengan melakukan beberapa prosedur seperti pengambilan sampel darah dan foto thorax. Namun, ada kemungkinan terjadinya komplikasi akibat serangan jantung seperti kerusakan organ dalam lainnya," papar dokter.


Leon menghela nafas panjang. Ia begitu sedih melihat Daddynya yang terbaring tak berdaya.


"Iya dokter terima kasih."


Leon kembali menghampiri daddynya, kemudian mencium kening tuan Melky.


" Daddy, kenapa ini bisa terjadi pada daddy, padahal baru saja aku ingin memberitahu kepada daddy tentang kehamilan istriku. "


"Daddy, daddy harus sembuh. Bukannya Daddy ingin melihat cucu daddy lahir di dunia ini. Aku mohon, bertahanlah daddy," ucap Leon sedih.


Bahkan saat itu Leon sampai menangis.


***


Yura menatap langit-langit kamarnya. Perasaan selalu gelisah. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada tuan Melky.


"Ya Tuhan lindungilah daddy,aku tak ingin kehilangan daddy. Berilah daddy umur panjang, agar dia bisa melihat cucunya lahir.' batin Yura.


Kreak.. pintu kamar Yura tiba-tiba terbuka.


Yura melihat ternyata Zein dan Bi Sumi yang datang.


"Selamat pagi Nyonya," ucap keduanya secara serempak.


"Selamat pagi. "


"Nyonya, saya ditugaskan oleh tuan untuk menjaga Nyonya selama berada di sini. Jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan hubungi saya, saat ada di luar."


"Iya bang Zein terima kasih. Apa ada kabar dari suami saya?"


"Belum ada Nyonya. Jika ada kabar selanjutnya dari Tuan, saya akan langsung menginformasikan kepada anda."


"Iya bang Zein. "


"Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan."


Zein keluar dari ruangan tersebut.


Bi Sumi datang menghampiri Yura.


"Saya ditugaskan tuan untuk menjaga anda Nyonya."


"Oalah, saya gak bawa pakaian ganti. Tuan langsung menyuruh saya datang kemari. Katanya nanti baju gantinya beli saja. "


"Oh iya, kalau begitu beli saja Bik, suruh asisten yang lain. "


"Iya Nya."


"Nyonya butuh sesuatu ?"


"Gak Bik, saya cuma mau tanya. Kenapa tiba-tiba saja daddy terkena serangan jantung ?"


"Saya juga gak tau Nya. Belum sempat bertanya pada Wana. Karena saat itu semua orang panik."


"Yang saya tau saat tuan Melky mendapat serangan jantung itu, dia berada di kamar Wana."


"Di kamar Wana ?"


Yura tertegun beberapa saat .


"Bik, bukannya bibik sudah lama bekerja dirumah tuan ?"


"Iya Nya. Memangnya kenapa?"tanya Bu Sumi.


"Wana itu sejak kapan bekerja di keluarga suamiku Bik?"


"Kalau saya tidak salah, setelah nyonya Hilda meninggal dunia, Nyonya. Setelah Nyonya Hilda meninggal dunia, tuan juga sakit-sakitan. Sampai ketika, tuan mengalami serangan jantung hingga terjadi kelumpuhan."


"Ehm, begitu Ya. "


"Memangnya ada apa Nyonya?" tanya Bi Sumi yang penasaran.


"Selama bekerja di rumah itu, apa Bibik merasa ada yang aneh dari sikap Wana?"


"Gak ada sih, awalnya saya juga heran dengan sikap Wana yang kebanyakan diam. Apalagi dia jarang sekali tersenyum. Tapi mungkin karena sudah terbiasa dengan sikap diamnya, menurut saya ya, biasa saja."


"Emang kenapa sih,Nya ?" tanya Bi Sumi , perempuan itu justru makin penasaran dengan pertanyaan Yura.


Yura diam beberapa saat.


"Nyonya curiga ya, jika Wana adalah penyebab tuan Melky yang terkena serangan jantung?"


Yura menoleh ke arah Bi Sumi kemudian mengangguk lirih.

__ADS_1


"Ehm, jika seandainya Wana itu ingin mencelakai Tuan, kenapa tidak dari dulu saja. Bukannya selama ini, Wanalah yang merawat tuan besar ketika menyendiri di villa."


"Itu dia Bik, jika selama ini Wana itu bermaksud untuk mencelakai daddy, kenapa tak dari dulu. "


"Bahkan daddy begitu percaya pada Wana," imbuh Yura.


"Mungkin saja tuan memang mengalami serangan jantung akibat penyakitnya Nyonya. Kita juga ngak boleh menuduh tanpa bukti kan?"


"Iya Bi, tapi saya mendeteksi ada sesuatu yang di sembunyikan Wana. Sikapnya terhadap saya begitu misterius."


"Ehm, kalau itu, saya sendiri tak memperhatikan. Jika Nyonya curiga, kenapa tak bicarakan hal itu pada Tuan ?"


"Sudah Bi, tapi suami saya gak merespon."


"Bibik tau Wana pernah cerita pada saya tentang apa ?"tanya Yura.


"Tentang apa?"


"Tentang asal-usul suami saya," lirih Yura.


"Maksud Nyonya? Wana tau, jika tuan Leon itu bukan anak dari Nyonya Hilda?" terka Bik Sumi.


Yura menggangguk kepalanya.


Bi Sumi semakin mendekat.


"Darimana Wana tau akan hal itu Nyonya, sementara tak ada yang tau akan hal itu selain saya dan beberapa pembantu senior yang sudah meninggal. Saat ini, hanya saya yang masih menyimpan rahasia itu. Itu karena ibu sayalah yang merawat tuan muda dari dia lahir, sampai tuan muda tumbuh remaja dan beliau meminta saya untuk merahasiakan hal itu."


Yura semakin kaget.


"Lalu sebenarnya siapa itu Wana Bik ?"tanya Yura.


Bi Sumi juga kaget mendengar penuturan dari Yura.


"Lalu, selain itu apa yang Wana katakan lagi Nyonya ?"


"Katanya dia sudah lama mencintai daddy, bahkan ia tak pernah menikah, karena perasaan cintanya terhadap daddy," ungkap Yura.


"Apa ? berani sekali Wana bicara seperti itu, Nyonya."


"Entahlah Bi, mungkin dia bercanda, tapi saya menangkap jika ia bicara serius. Dan ia sengaja membujuk daddy, untuk tinggal bersama di Villa, berdua saja."


"Gawat, kalau begitu Nyonya. Sebaiknya anda beritahu hal itu pada Tuan. "


"Iya Bi, tolong hubungi suami saya."


"Baik Nya."


Bi Sumi mencoba menghubungi Leon berkali-kali .


"Bagaimana Bi ?" tanya Yura ketika melihat Bi Sumi gelisah.


"Aduh Nya, tuan tak bisa di hubungi. Di luar jangkauan."


"Kalau begitu suruh bang Zein untuk menyusulnya. Saya khawatir dengan keselamatan daddy dan suami saya Bik," tutur Yura dengan sedikit panik.


"Baik Nya, tapi anda jangan khawatir berlebihan . Itu bisa berdampak pada kandungan anda ."


"Iya Bi, panggil saja bang Zein. "


Bi Sumi langsung menghampiri Zein . Beberapa saat kemudian ia kembali bersama Zein.


"Ada apa Nyonya?"tanya Zein.


"Bang Zein, suami saya tak bisa di hubungi. Saya khawatir akan keselamatan dirinya."


"Anda tenang saja Nyonya, tuan tak pernah sendirian. Akan ada bodyguard bayangan yang selalu mengawasinya. Justru andalah yang menjadi ke khawatiran bagi Tuan. Saya harus tetap berada di sini menjaga anda sampai ada perintah selanjutnya."


" Tapi Bang ...."


"Maaf Nyonya, saya harus menjalankan perintah tuan Leon. Saya tak ingin ambil resiko. Saya yakin sebentar lagi tuan akan menghubungi Nyonya, karena menurut informasi pengawal yang ada di sana, tuan Leon berada di ruang ICU."


"Ehm, baiklah kalau begitu," ucap Yura terdengar lirih.


"Ada yang bisa saya bantu lagi Nyonya?" tanya Zein.


Yura menggeleng kepalanya.


" Kalau begitu saya permisi."


Yura menatap kepergian Zein.


"Benar apa yang dikatakan oleh Zein, Nyonya. Saat ini anda harus menghindari Stress, ingat anda pernah kehilangan janin anda sebelumnya.Tuan muda dan tuan besar pasti kecewa, jika hal itu sampai terjadi lagi."


Yura mengatur napasnya, agar ia sedikit rileks dan tengang.


Yura menatap langit -langit kamarnya.


'Siapa sebenarnya Wana itu ?' batin Yura.

__ADS_1


Bersambung gengs.


__ADS_2