Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Memalukan


__ADS_3

Hari-hari bahagia yang dilalui oleh Yura dan Leon. Kini sepasang anak kembar mereka sudah berada bersama mereka. otomatis Leon semakin sibuk sebagai Daddy dan pengusaha yang baik.


Moment pagi adalah momen tersibuk bagi pasangan muda ini. Sampai saat ini, mereka masih belum mendapatkan babbysitter untuk anak-anak mereka.


Sehari-hari Nyonya Widya, Nadia dan Bi sumi lah yang membantu mengurusi anak kembar Yura dan Leon itu.


Si kembar kini berusia 3 bulan usia yang di mana para bayi lebih aktif.


Leon baru saja keluar dari kamar mandi menuju lemari guna mempersiapkan pakaiannya untuk pergi ke kantor.


sementara itu Yura tengah memandikan Nathan bayi laki-laki mereka.


"Sayang, di mana dasi dan kaos kakiku?!" tanya tanya Leon berteriak.


Owek... suara tangis Nessa terdengar, karena teriakan Leon Ia pun terbangun.


"Nanti saja kau bertanya itu, sekarang bantu aku bawa anakmu itu ! bantu aku memandikan Nessa dulu!" sahut Yura dari arah kamar mandi.


Penampilan Yura berantakan saat mengurusi dua anak, membuatnya tak sempat mengurus diri bahkan hanya untuk menyisir rambut di pagi itu.


Leon kemudian menghampiri Nessa bayi perempuan yang tengah menangis.


"Cup cup Sayang, Putri Daddy jangan Nangis ya, yuk kita mandi yuk!" ucapkan sambil menggendong Nesya


bukannya malah berhenti menangis, Nessa justru semakin keras menangisnya, hingga membuat Leon jadi kelabakan. Apalagi suara tangis Nessa begitu kencang sampai membuat telinga Leon berdesing.


Saat itu Leon belum sempat mengenakan pakaiannya, handuk masih melilit pinggangnya.


Meski sibuk, mereka tak ingin melibatkan Nadia dalam mengurus bayi-bayi itu, karena Nadia juga sibuk mempersiapkan Sheon untuk sekolah.


Lagi pula mereka harus membiasakan diri, karena sebentar lagi Nadia akan menikah.


Yura sedang asik memandikan Nathan.


baby boy itu tidak cerewet hingga lebih mudah dimandikan. Yura pun memasukkan Nathan ke dalam bak mandi agar Nathan bisa bermain air.


Suara tangis Nessa terdengar hingga di kamar mandi.


"Daddy bawa sini saja putrimu! Biar mandi sekalian!"teriak Yura lagi.


"Sabar aku tengah membuka pakaiannya!"seru Leon.


"Dia pikir membuka pakaian bayi yang tengah menangis ini gampang apa ?!"


Oek oek oek


Nesya semakin jadi menangis membuat Leon jadi semakin kelabakan.


"Duh Nessa bisa tidak sih kau berhenti menangis dulu kalau begini kan Daddy yang repot,"keluh Leon.


Oek oek Nessa semakin kencang menangis seolah suaranya tak pernah habis.


"Cup cup Sayang berhenti nangis ya Nak, nanti kalau gede Nessa Daddy beliin mobil mewah,apartemen mewah, pokoknya serba mewah ,tapi please berhenti menangis yang Nak. Kuping Daddy bisa budek kalau begini, " bujuk Leon pada putrinya itu.


seperti mengerti ,Nessa berhenti menangis sebentar.


"Dasar matre," cetus Leon.


Oek oek Nessa kembali menjerit.

__ADS_1


Leon panik kembali ketika Nessa kembali menangis dengan suara yang semakin kencang.


"Cup cup diam Sayang, Daddy cuma bercanda, Nessa gak matre kok!"


" Daddy kau apakan lagi anakmu itu !"teriak Yura dari dalam kamar mandi."


"Tidak diapa-apakan Mommy, anakmu saja yang cengeng!"sahut Leon.


Leon membawa Nessa menuju kamar mandi, saat itu Nessa masih menangis.


Suara Nessa semakin melengking hingga Leon kelabakan menggendong putrinya itu karena terus meronta.


"Mommy ini putrimu," ucap Leon sambil menyodorkan Nessa pada Yura.


"Daddy, kau tak lihat apa? Aku tengah memandikan putramu, kau saja yang memandikan Nessa," ucap Yura.


"Tapi bagaimana aku bisa memandikannya dia terus meronta seperti ini?" tanya Leon.


"Sudahlah mandikan saja nanti juga kalau udah masuk dalam bak mandi diam sendiri," sahut Yura.


Mendengar ucapan istrinya itulah Leon langsung mencelupkan Nessa ke dalam bak mandi, bukannya berhenti menangis. Nessa semakin jadi menangis, Leon kebingungan menghadapi putrinya itu


Oek oek tangisan Nessa pecah suara bayi mungil itu sampai terdengar keluar ruangan


"cup cup Sayang Putri daddy berhentilah menangis!"Seru Leon.


Suara-suara Nessa menangis memancing perhatian Nadia yang berada di kamar sebelah. Kamar Sheon. Setelah membantu Sheon menyimpan sekolahnya. Nadia bermaksud menghampiri kamar Yura untuk membantu mereka.


"Sabar dong," ucap Leon sambil memberi sabun bayinya itu.setiap pagi Nessa memang selalu menangis jika dimandikan.


Karena itulah Yura menyerahkan Nessa kepada Leon, sementara ia mengurus Nathan yang lebih mudah dikendalikan.


bibir Nessa bergetar kebiruan, karena terlalu lama menangis."Sayang, sudah selesai mandinya, daddy pakaikan handuk dulu ya."


ketika Leon mengangkat tubuh Nessa dari dalam bak mandi. Nessa masih meronta, mungkin bayi itu merasa kedinginan Leon pun meraih handuk bayinya dan menyelimuti tubuh Nesya.


Ketika hendak dibalut dengan handuk, Nessa yang berada dalam gendongan Leon bergerak-gerak, hingga membuat handuk yang ia kenakan terlepas dan melorot dari pinggangnya hingga menampak kan belalai Leon.


"Nessa diam dong !handuk daddy jadi melorotkan.!"


Nessa terus meronta, ia tak mau lepas dari gendongan Leon. Hingga Leon tak bisa kembali mengenakan handuknya.


Melihat hal itu Yura tertawa terbahak-bahak karena benda itu bergerak dan bergelantungan.


.


"Haha ha Daddy !"mataku ternoda di pagi ini!"


"Aku harus bagaimana mommy ,kau gendong saja dulu Nessa aku mau memakai handukku pinta Leon," yang berdiri menggendong Nessa dengan belalai yang terjuntai.


Bukannya membantu Yura justru semakin jadi tertawanya


Sementara Nessa terus mengamuk meronta-ronta dia menangis melengking hingga kedengaran sampai keluar kamar.


Tentunya Leon tak bisa keluar dari kamar mandi dalam keadaan seperti itu, ia juga membutuhkan bantuan seseorang untuk menggendong Nessa agar bisa memakai handuknya kembali.


Nadia yang dari kamar Sheon langsung menghampiri kamar Yura karena mendengar keributan. Nadia yang mengira mengira sepupunya itu membutuhkan bantuan Ia pun langsung masuk ke dalam kamar Yura


"Shena, apa kau butuh bantuan?!" tanya tanya Nadia

__ADS_1


"Iya aku butuh bantuan," jawab Yura tak sengaja.Ia lupa jika dirinya sedang menertawakan sang suami terlanjang sambil menenangkan Nessa.


"Mommy tunggu duluan jangan kau suruh dia masuk aku tak memakai handuk ku!"


Leon kelabakan mencari cara agar tangannya bisa mengenakan handuk, tapi Nessa sama sekali tak mau lepas hingga junior bergelantungan tanpa sangkar segitiganya.


bukannya menolong, Yura justru tak berhenti tertawa melihat Leon yang kelabakan.


'Sheina aku masuk ya !"Nadia meminta ijin .


"Jangan mas_!"Leon bermaksud menahan Nadia tapi terlambat.


"Aw!! teriak Nadia sambil menutup matanya.


"Astaga! Aku ternoda!"Seru Nadia.


"Sudah ku bilang jangan masuk !" teriak Leon setengah emosi.


Sementara Yura bukannya menolong ia terus tertawa hingga tubuhnya lemas .


"Mommy! berhentilah tertawa !" seru Leon dengan emosi


"Haha aku mau berhenti menertawakan mu, tapi tak bisa berhenti tertawa daddy !"seru Yura.


Kebetulan Nyonya Widya juga mendengar keributan yang terjadi di kamar itu, suara tawa bercampur dengan suara tangisan Nessa.


Nyonya Widya juga ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Astaga Leon ! kau tidak punya malu rupanya!" teriak Nyonya Widya sambil menutup matanya.


"Mommy! tolong aku, Nessa yang melorotkan handuk ku!" Leon mengadu seperti ingin menangis


Nessa terus saja menangis hingga membuatnya stress.


Sementara Yura masih terpingkal-pingkal tertawa di sudut kamar mandi.


Hahaha hahaha


Nyonya Widya masuk kedalam kamar mandi tersebut dengan menutup matanya. Ia berjalan secara perlahan untuk menghampiri Leon, sesekali ia mengintip agar tak tersandung.


Setelah berada di hadapan Leon, Nyonya Widya pun meraih Nessa dari tangan Leon.


Di tangan Nyonya Widya, Nessa langsung berhenti menangis.


"Huh, Nessa, kamu ini paling suka ngerjain Daddy mu, waktu hamil kau suruh daddy mu pakai lipstik dan bra, sekarang sudah lahir kau buat daddy mu terlanjang-lanjang begini," omel Nyonya Widya.


"Jangan dipertegas dong Mommy aku jadi malu," sahut Leon sambil menyimpul handuknya.


Yura keluar dari kamar mandi masih dalam keadaan tertawa.


Ia tak bisa membayangkannya suaminya yang memiliki kekuasaan dan perkasa dalam menghadapi musuh-musuhnya. Justru keteteran ketika menghadapi putrinya yang berusia tiga bulan itu.


***


Nadia keluar dari kamar tersebut sambil bergidik ngeri, ketika membayangkan belalai gajah milik Leon yang besar dan panjang itu bergelantungan dan bergoyang-goyang.


"Astaga! apa punya mas Zein sebesar itu juga ya, aku jadi ngeri," cetus Nadia sambil bergidik.


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


.


__ADS_2