Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Tersembunyi


__ADS_3

Wajah Leon menegang.


"Menjauh dari lokasi proyek. Pasti ada yang ingin berniat jahat dan mencelakai pekerja kita."


"Baik Tuan. Saya hubungi polisi, sebentar lagi mereka akan tiba."


"Iya Zein, kosongkan lokasi. Untuk Sementara proyek di tutup sampai keadaan benar-benar aman !"


"Baik Tuan."


***


Leon menghela nafas beratnya. 


Wajah bahagia Leon seketika terlihat murung.


"Ada apa Leon ?"tanya Nyonya Widya ketika melihat perubahan ekspresi dari wajah putranya.


"Ada yang ingin mencelakai pekerja ku di lokasi proyek mommy, mereka ingin menghancurkan proyek. Beruntung Zein memeriksa lokasi proyek sebelum dilakukan penggalian," ucap Leon sambil mengusap wajah kasarnya.


Huh! 


"Astaga! Kenapa sepertinya masalah datang bertubi-tubi menghampiri kita Leon?"


"Entahlah mommy, aku rasa ada yang tak senang dengan ku, aku memang memiliki banyak musuh. Sampai aku tak tahu mana musuh dan yang mana teman."


"Untung saja tak terjadi sesuatu pada mu Leon, mommy tak bisa membayangkannya."


"Iya mommy. tapi ada banyak para pekerja di sana."


"Daddy, jadi tidak? Kita lihat dedek bayi ?"tanya Sheon.


"Ehm Ayo, kita lihat dedek bayinya."


Leon masuk ke dalam ruangan perawatan intensif khusus bayi baru lahir.


Mereka hanya bisa melihat bayi tersebut melalui dinding kaca.


Leon menggendong Sheon agar putra sulungnya itu bisa melihat melalui kaca.


"Adek Sheon yang mana daddy?"tanya Sheon ketika melihat beberapa bayi berada di dalam tabung kaca .


"Itu dua adik Sheon," tunjuk Leon ke arah tempat tidur bayi yang bertuliskan bayi Nyonya Leon Sebastian.


"Ih lucunya dedek, kapan kita bisa gendong sedekah daddy?"tanya Sheon.


"Sebentar daddy tanya pada suster."


Leon langsung menghampiri suster yang berada di ruang penjagaan.


"Suster berapa lama kedua bayi saya bisa keluar dari inkubator?"


"Tergantung kondisinya ya, Tuan. Paling cepat seminggu sampai dua Minggu," jawab suster tersebut.


"Oh begitu."


"Iya Tuan."


"Baiklah berapa kali sehari kami bisa melihat keadaan bayi kami ?"


"Untuk melihatnya sementara hanya sebatas di dinding kaca saja Tuan. Karena bayi prematur begitu rentan terhadap virus dan penyakit. Apalagi paru-paru bayi tersebut belum tumbuh dengan sempurna ketika lahir."


"Ehm baiklah. Terima kasih suster."


"Sama-sama Tuan."


Setelah melihat keadaan bayinya Leon membawa sang putra menemui Yura.


"Sheon kamu di sini, daddy keluar sebentar ada urusan,"  ucap Leon pada Shoeon.

__ADS_1


"Iya daddy."


"Leon kamu mau kemana?" tanya Nyonya Widya.


"Aku mau menghubungi Zein. ingin tahu perkembangan kasus di proyek. Aku khawatir terjadi yang tak di inginkan di lokasi proyek itu. Karena ada ribuan nyawa yang menjadi taruhan disana," ucap Leon dengan nada sedihnya.


Leon keluar dari ruangan tersebut kemudian menghubungi Zein.


"Bagaimana Zein ?"


"Lokasi sudah steril Tuan. Kami menunggu perintah selanjutnya."


"Kalian pulang saja, urus para karyawan yang sudah tiba di lokasi, sediakan Transportasi untuk mereka."


"Baik Tuan."


"Leon menghela nafas, hari ini ia mengalami begitu banyak kerugian karena peristiwa tersebut. Namun, ia bersyukur tak sampai jatuh korban."


***


Reymond berada di sambungan teleponnya.


"Apa? Kenapa bisa gagal lagi ! Bodoh!"


Reymond terlihat begitu kesal.


Ia melempar handphone tersebut ke atas meja.


'Harusnya proyek itu memakan banyak korban, agar Leon Sebastian itu dituntut !"


Brak.. Reymond membanting apa saja.


"Sudah keluar uang banyak, tapi gagal !" 


Reymond menjambak rambutnya karena frustasi. Ia tak habis pikir karena begitu sulit menyingkirkan Leon.


Brak ... Reymond kembali membanting apa saja yang ada di atas mejanya untuk melampiaskan perasaan kesalnya.


Reymond memikirkan satu cara kemudian ia tersenyum menyeringai.


***


Karena Yura sudah ada yang menjaga, tuan Melky dan Nyonya Widya memutuskan untuk membawa Sheon.


Mereka tiba di rumah itu. Nyonya Widya langsung mencari keberadaan Nadia untuk membantunya mengurusi Sheon.


"Nadia ! Nadia !" 


Seru Nyonya Nadia sambil menuju kamar Nadia.


"Nadia! Nadia!"


Tak ada juga sahutan dari Nadia.


"Kemana tuh orang?!"


"Sumi! Sumi !" panggil Nyonya Widya.


Beberapa saat kemudian Sumi datang menghampiri Nyonya Widya.


"Apa apa Nyonya besar ?"


"Dimana Nadia?" tanya Nyonya Widya.


"Ehm Nadia tadi ijin pulang Nyonya, katanya ma.anya sakit parah," ucap Bi Sumi.


"Apa? Dia tak ijin pada ku?" tanya Nyonya Widya.


" Iya Nya, tadi saya coba telepon anda beberapa kali, anda tak mengangkatnya." 

__ADS_1


" Ehm ya sudahlah, mungkin ibunya memang lagi sakit, nanti saya telpon dia."


Nyonya Widya pun menghampiri Sheon.


"Sayang, kamu makan dan mandi sama bi Sumi ya, Onty Nadia pulang, katanya ibunya sakit keras." 


"Iya Oma ."


"Ayo sana mandi. Oma mau urus Opa, kasihan Opa sudah lelah."


Nyonya Widya pun mendorong kursi roda tuan Melky.


****


Nadia tiba di rumah kontrakannya.


Matanya terlihat sembab.Ia membuka pintu rumahnya.


"Nadia ! Kamukah itu Nak ?" Suara lirih terdengar dari dalam kamar sempit.


"Iya Ma, Nadia sudah pulang Ma," sahut Nadia menghampiri seorang wanita yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Lama sekali kamu pergi Nak,Mama khawatir hiks." Wanita itu terlihat kurus dan layu, wajahnya terlihat pucat.


Bruk …terdengar pintu rumah dibuka.


Nadia ketakutan.


"Kenapa kamu pulang? Tugasmu sudah selesai?!" tanya seorang pria berwajah brewokan.


"Iya Pa, tugasku sudah selesai. Sekarang Papa pergi lah, kami tak butuh uang dari Papa, hiks."


Pria tua itu langsung menjambak rambut Nadia.


"Apa kau bilang?! Kau tak membutuhkan ku lagi!" 


"Iya Pa, kenapa papa datang pada kami lagi? Padahal hidup kami lebih tenang tanpa Papa." 


Hiks hiks


"Apa katamu, kalian berani meninggalkan ku selama bertahun-tahun, kau bahkan berani mengganti nama mu!"seru pria yang ternyata adalah Welly.


"Akh! Sakit Pa! Lepaskan!"rintih Nadia.


"Bang! Jangan terlalu keras pada Nadia! Kasihani Dia! "


"Hey wanita tak berguna, sebaiknya kau diam saja! "Cecar Welly.


"Bang! Bagaimana pun Nadia adalah putrimu! Kenapa kau tega berbuat kejam terhadap kami!"


"Iya Pa ! Aku sudah melakukan semua yang Papa perintahkan, sekarang pergilah menjauh dari aku dan mama, jika Papa tak bisa memberi ketenangan dalam hidup kami, setidaknya jangan menyusahkan kami. Aku dan mama sudah tersiksa karena sikap Papa, karena itulah kami pergi."


Plak! 


Satu tamparan mendarat di wajah Nadia.


"Aku tak akan melepaskan kalian berdua. Ingat kau harus tetap bekerja untuk ku ! Jika tidak, akan kubunuh mama mu yang sakit-sakitan itu!" Ancam Welly sambil mendorong tubuh Nadia hingga membentur tempat tidur ibunya.


Hiks hiks Nadia menangis memeluk wanita lemah itu.


"Mama, aku sudah melakukan kesalahan besar, aku di paksa Papa untuk meracuni seseorang, Hiks hiks. "


"Hiks benarkah itu Nak ?tapi kenapa kamu mau ?" 


"Karena aku tak punya pilihan,Papa mengancam akan membunuh mama jika aku tak melakukan hal itu, hiks hiks." 


"Ya Tuhan kenapa kita harus bertemu Papa mu lagi, padahal kita sudah hidup tenang tanpa Papa mu," tangis wanita itu lirih.


Bersambung dulu gengs.

__ADS_1


__ADS_2