Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Kabar Bahagia


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Yura terbangun duluan sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya di atas tempat tidur.


Haha, Yura tertawa kecil ketika melihat sang suami yang kini tertidur pulas di sampingnya.


Entah kenapa ketika teringat akan hal bodoh yang dilakukan oleh Leon semalam, ia selalu tak bisa menahan tawanya.


Leon tersadar ketika mendengar tawa cekikikan dari Yura.


Yura segera  menutup rapat mulutnya.


"Sayang kau kenapa tertawa ? Ada yang lucu?" tanya Leon curiga 


"Ah gak kok Sayang," kilah Yura sambil merebahkan tubuhnya kemudian memeluk suaminya.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"


"Iya, lumayan," sahut Leon.


Yura tersenyum menatap Leon, masih terbayang di pelupuk matanya wajah sang suami yang mirip seperti badut dengan lipstik yang belepotan.


"Kau mentertawakan ku ya?" tanya Leon mendelik.


"Ah tidak kok Sayang.  Mana mungkin aku menertawakanmu, itu semua kan bukan ke inginan mu," ucap Yura sambil tersenyum lagi, ia kembali menggigit bibirnya agar tak tertawa.


"Tuh kan, kau pasti tersenyum karena mengingat kejadian semalam kan ?" dengus Leon.


"Gak Kok. Aku justru bahagia punya suami seperti mu," cetus Yura sambil tersenyum.


"Bahagia kenapa?"tanya Leon.


"Karena kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku terpingkal-pingkal semalaman, haha " Yura bangkit dari tempat tidurnya.


Iya kembali tertawa mengingat kejadian tadi malam.


"Sayang! Awas saja kau beritahu orang lain ya !" Ancam Leon.


"Gak dong, mau taruh dimana wajah suami ku yang ganteng itu jika mereka tau setiap malam suami ku mengenakan lipstik dan pakaian dalam ku ! Haha ha." Yura menyahut sambil menuju kamar mandi.


Di kamar mandi Yura kembali tertawa terpingkal-pingkal dan hal itu membuat Leon kesal.


Ha haha.


"Apa aku selucu itu ?" guman Leon sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Haha haha suara tawa itu terdengar lagi di sela-sela suara kucuran shower.


Saking tak bisa berhenti tertawa ,Yura sampai tersedak oleh air pancuran shower.


huk uhuk ehek


Namun, selesai tersedak Yura kembali tertawa, seolah perutnya di kocok oleh sesuatu.


Dengan kesal Leon bangkit dan langsung menghampiri kamar mandi.


Sesekali masih terdengar tawa Yura di sana.


Haha haha.


Tok tok tok….


Pintu kamar mandi di gedor.


"Sayang ? Berhentilah menertawakan ku!" teriak Leon dari luar kamar mandi.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka.

__ADS_1


"Haha maaf Sayang, aku juga ingin berhenti tertawa. Namun, jika teringat kejadian semalam perut ku aku tak bisa berhenti tertawa , haha." Yura keluar dari kamar mandi masih dengan tertawa.


Leon menatap kesal kecarah istrinya yang masih tertawa seolah mengejeknya, tapi akhirnya ia hanya bisa pasrah dan membiarkan istrinya itu tertawa sampai puas .


"Tertawalah sampai kau puas !"


***


Waktu berlalu dengan cepat, Yura dan Leon akhirnya bisa mengatasi gangguan kecil yang mereka hadapi ketika masa kehamilan Yura.


Meski selalu meng isengi suaminya. Namun Yura selalu mendukung suaminya tersebut.


Kini Yura telah melewati trimester kedua dan sebentar lagi memasuki trimester ketiga.


Keadaan sang suami pun sudah kembali normal.


Kehamilan Yura kali ini tak terlalu membebaninya. Yura tetap aktif bekerja seperti biasanya.


Karena kesibukannya,Yura tak sempat memeriksakan kehamilannya. Namun sudah beberapa hari ini tiba-tiba Yura merasakan begitu cepat lelah dan kesulitan untuk melakukan aktivitas.


Kali ini dengan sedikit memaksa, Yura pun memeriksa kandungannya.


Perut Yura begitu besar, tak seperti kehamilannya yang pertama.


"Sudah siap Sayang ?" tanya Leon.


"Sudah, tolong dong Sayang." Yura mengulurkan tangannya ke arah Leon, karena perut buncitnya membuatku kesulitan untuk berdiri.


Leon membantu sang istri. Yura berdiri di depan cermin rias melihat dirinya yang terlihat begitu bulat.


"Hiks hiks, kenapa aku jadi seperti bola plastik seperti ini sih, kembang dan bulat," keluh Yura dengan nada yang hampir menangis.


"Sudahlah Sayang, seperti apa pun dirimu, akan tetap cinta kok, dimata ku " ucap Leon sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Benarkah Sayang ?"tanya Yura.


"Hm aku jadi makin cinta sama kamu," ucap Yura sambil membalikkan tubuhnya kemudian menggelayut manja .


"Aku juga," balas Leon sambil mengecup bibir istrinya.


"Sudah sekarang kita pergi ke dokter kandungan, kali ini jangan ada drama lagi, ya ?"


"Iya, Sayang ."


Dengan terpaksa Yura pun menuruti suaminya itu.


Dengan hati-hati Leon menuntun Yura agar biasa menuruni anak tangga.


Tiba di lantai bawah ia langsung di sambut oleh Sheon.


"Mommy, daddy, mau pergi ya ?"


"Iya Sayang, kamu mau ikut ?"


"Mau !" Seru Sheon.


"Ya sudah ayo."


Mereka pun berangkat bertiga.


***


Di dalam mobil Yura duduk di samping suaminya. Sementara Sheon duduk di bagian belakang.


"Mommy kita mau kemana?"

__ADS_1


"Kedokter kandungan."


"Mommy, apa sebentar lagi mommy akan melahirkan ?"


"Belum sayang, sekitar tiga bulan lagi."


"Yah masih lama."


"Sayang kok perut kamu besar sekali ya, jangan-jangan kamu mengandung anak kembar?" tanya Leon sambil meraba perut istrinya.


"Ehm mungkin, sejak memasuki trimester kedua aku sudah mulai lelah. Bawaan males saja."


"Sebaiknya kamu istirahat sampai melahirkan."


"Gak bisa begitu Sayang. Aku harus bekerja." 


"Sudahlah biar aku yang menggantikanmu. Kau tak ingin terjadi sesuatu pada bayi kita kan Sayang?" tanya Leon.


"Iya Sayang."


"Ehm baiklah aku menurut saja. "


"Begitu dong. "


"Oh ya Sayang, apa kau butuh asisten pribadi untuk membantu kegiatan mu di rumah ?"


"Boleh juga Sayang. Setelah melahirkan aku juga butuh asisten kan ?   Kasihan Bi Sumi dan mommy. Mommy dan bi Sumi sudah berumur  mereka pasti kerepotan jika mengurus bayi kita dan Sheon."


"Oke nanti aku cari asisten untuk kamu."


"Tapi jangan yang muda dan cantik ya? Nanti, bukannya mengurus aku, malah menggoda kamu," cetus Yura.


"Haha, Gak ada yang sama seperti kamu sayang. Cuma kamu dan keluarga kita yang aku cintai," ucap Leon sambil meraih telapak tangan istrinya kemudian menciumnya.


Sheon yang duduk di di belakang sampai tersipu-sipu mendengar rayuan maut Daddynya.


***


Mereka pun tiba di rumah sakit. Yura berbaring untuk melakukan pemeriksaan.


"Wah selamat anda mengandung anak kembar," ucap dokter tersebut.


"Kembar Dok?"


Alangkah senangnya Yura dan Leon saat itu.


"Lalu kembar perempuan atau kembar laki-laki dokter?" tanya Leon.


"Masih belum bisa dipastikan karena posisi bayinya menyamping."


Leon dan Yura tersenyum bahagia.


"Tak peduli apapun jenis kelamin janin mereka, kami akan tetap berbahagia dok," ucap Yura.


"IYa Bu, sebaiknya anda lebih banyak beristirahat. Karena mengandung anak kembar memiliki resiko kelahiran premetur yang cukup tinggi di banding dengan persalinan normal. "


"Denger tuh Sayang. Mulai sekarang kamu harus istirahat bekerja," sahut Leon.


"Iya, aku juga tak ingin terjadi sesuatu pada kandungan ku. Mereka lebih berharga dari segala-galanya."


"Syukurlah, kalau kau menyadari."


Setelah pemeriksaan mereka keluar dari ruangan dokter.


"Ayo cepat pulang Sayang. aku tak sabar menyampaikan berita baik ini pada daddy," ucap Yura dengan penuh semangat.

__ADS_1


Bersambung dulu ya gengs.


__ADS_2