Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Sakit


__ADS_3

Setelah mengantar putra mereka sekolah, Leon langsung mengantar istrinya ke kantor.


Mereka pun tiba di gedung perkantoran PT Ryota. 


Yura melepaskan Seat Belt nya.


"Sayang, aku turun dulu ya. "


"Aku ikut mengantarkan kamu ke ruangan kamu."


" Emangnya kamu gak kerja ?" dengus Yura.


Yura merasa semakin Hari sang suami semakin protektif saja.


"Memangnya aku gak boleh ikut mengantar kamu ke ruangan mu ?" Leon balik bertanya.


"Bukannya gak boleh Sayang. Nanti jam sembilan aku ada meeting dan sesampainya di ruangan aku harus prepare bersama Arman."


"Ya sudah aku ikut kamu saja preparenya," sahut Leon.


"Astaga! Kamu ini kenapa sih Sayang? Seperti gak percaya aku gitu sih. "Yura merasa kesal.


Yura membuka pintu mobil kemudian keluar yang diikuti oleh Leon.


Leon langsung merangkul istrinya ketika hendak masuk ke dalam gedung itu.


"Sayang, gak usah norak gitu kenapa sih? Biasa saja jalannya," dengus Yura sambil menepis tangan Leon.


"Biarin saja, emang kenapa. Kita kan suami istri."


Yura menggeleng kepalanya, entah kenapa belakang ini sang suami berubah. Leon seperti anak kecil yang kekurangan perhatian dan kasih sayang. Leon juga semakin protektif saja.


"Selamat pagi Nyonya. Selamat pagi Tuan, " sapa para karyawan dan Karyawati yang melintas .


"Selamat pagi juga," sahut Leon dengan senyum.


Yura memutar bola mata, 'Sejak kapan suami ku ini jadi sosok yang ramah.'


Mereka pun masuk kedalam lift untuk sampai di lantai tiga dimana ruangan Yura berada.


Kedatangan Yura langsung disambut dengan Arman sang asisten.


"Pak Arman, berkasnya sudah siap ?"tanya Yura


"Iya Nyonya," sahut Arman sambil melirik ke arah Leon.


"Ayo kita mulai saja preparenya."


"Baik Nyonya."


Arman membuka laptopnya ia coba menjelaskan kepada Yura materi apa yang akan mereka dapatkan nantinya.


Namun gerakan Arman terbatas karena kehadiran Leon.


Leon terus saja mengawasi Arman hingga membuat pria tiga puluh lima tahun tersebut menjadi insecure.


Saking gugupnya Arman jadi terbata-bata saat menjelaskan kepada Yura, karena merasa seperti sedang di intimidasi oleh Leon.


Yura menyadari akan hal itu langsung menggambil keputusan.


"Sayang! Kamu gak ke kantor ?" tanya Yura sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa.


"Nunggu kamu selesai prepare. Aku gak suka saja kamu berduaan dengan asisten kamu ini," ucap Leon dengan tegas.


Arman menundukkan kepalanya.


Karena tak ingin suasana menjadi semakin tak nyaman. Yura mendekati Leon.


"Sudah ! Sudah ! Kau tak bisa begitu sayang. Ini urusan pekerjaan, bukan urusan pribadi. Ayo sekarang kau kembali ke kantor mu.Aku bisa jaga diriku sendiri, percaya lah" pinta Yura dengan sedikit membujuk.


"Tapi sayang, kau istri ku dan aku tak suka jika seseorang berada di antara kita ."

__ADS_1


"Tak akan ada seseorang di antara kita, Sayang. I love you, " ucap Yura dengan tegas bahkan di depan Arman.


"Ehm baiklah aku akan ke kantor," ucap Leon sambil mencium kening istrinya.


"Hati-hati," ucap Yura sambil tersenyum.padahal ia begitu  kesal dengan suaminya tersebut.


Yura melambaikan tangan ke arah Leon.


'Huh akhirnya dia pergi juga' batin Yura.


"Ayo pak Arman kita lanjutkan preparenya."


***


Leon keluar dari kantor itu dengan pengawalan ketat.


Seseorang berada di dalam mobil, di seberang jalan raya


"Itu dia Leon Sebastian, seseorang yang menghancurkan ku," ucap seorang pria yang menggunakan kaca mata hitam.


Leon masuk ke dalam mobil.


"Ikuti mobilnya awasi saja dia."


***


Leon tiba di kantornya.


"Zein ada jadwal apa hari ini ?" tanya Leon sambil menarik selembar berkas yang ada di atas mejanya.


"Gak ada yang penting Tuan. Ini semua berkas sudah saya periksa dan tinggal tuan tanda tangani."


"Proposal kita untuk PT Cemerlang sudah kamu kirim Zen?" 


"Sudah Tuan. "


Tiba-tiba Leon merasakan mual. 


Uek …uek…


Leon tiba-tiba merasakan semakin mual dan hendak muntah.


Zein bergidik mendengar Leon yang terus saja muntah di kamar mandi.


"Kenapa tiba-tiba tuan muntah-muntah?" Zein bermonolog.


Uek uek...di dalam kamar Leon tak berhenti muntah-muntah.


"Aneh kok tuan muntah-muntah sih seperti orang ngidam saja." gumam Zein.


Setelah puas muntah, Leon merasakan tubuhnya seperti meriang.


Wajahnya pun dipenuhi dengan keringat.


"Anda kenapa Tuan ?"


"Gak apa-apa." Leon menghapus keringat dingin yang ada di wajahnya.


Kemudian ia duduk di kursi kebesarannya.


Zein melihat ada yang tak beres dari Leon.


'Tuan, wajah anda pucat sekali."


"Sebaiknya anda pulang, beristirahat saja."


"Percuma pulang, istri ku juga gak ada di rumah."


Leon kembali merasakan perutnya yang kembung ia pun berasa hendak muntah. 


Dengan segera Leon berlari ke kamar mandi kemudian ia kembali muntah. 

__ADS_1


Zein tetap setia menunggu tuannya sampai keluar kembali.


Dan begitu seterusnya. 


Hingga Leon merasa tubuh begitu lemas.


Karena Leon yang tak berhenti muntah, Zein berinisiatif membawa Leon kerumah sakit .


Iya takut si bos mengalami keracunan makanan.


***


Pukul dua belas siang Yura dan Arman keluar dari ruang rapat. Kemudian Yura kembali mengaktifkan data seluler yang sempat dinonaktifkannya sebelum rapat.


Puluhan panggilan tak terjawab pun memenuhi notifikasinya.


"Bang Zein ? Kenapa ya menelpon ?"


Yura menelpon Zein balik dan tersambung.


"Halo Nyonya," sapa Zein.


"Iya bang Zein. Ada apa ?"


"Tuan sekarang berada di rumah sakit Nyonya."


"Rumah sakit? Memangnya suami saya kenapa Bang ?" tanya Yura panik.


"Tuan Leon tiba-tiba saja muntah Nyonya, tubuhnya lemas karena dehidrasi. Jadi saya memutuskan untuk membawa tuan ke rumah sakit "


"Oh baiklah saya segera ke sana!"


***


Karena tak membawa sopir pribadi Yura meminta Arman untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit Yura langsung menghampiri Leon yang terbaring.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Yura dengan khawatir.


"Aku muntah-muntah, perut ku terasa kembung, pokoknya gak enak banget ."


"Apa kamu salah makan sesuatu?"


"Gak ada, aku sarapan seperti biasanya."


"Ehm apa dokter mengatakan sesuatu?" tanya Yura pada Zein.


"Gak Nyonya. Tuan juga tak mengalami keracunan. Tapi tuan sebelumnya tak pernah seperti ini "


Yura tersenyum ke arah suaminya.


"Ehm mungkin kamu kurang perhatian kali ya ? makanya mau cari perhatian aku ?"


Yura mencolek hidung Leon.


Leon menarik tangan Yura kemudian menciumnya


"Mungkin saja. Selama ini kita sama-sama sibuk, jadi tak punya waktu berdua. Mungkin dengan aku sakit begini, kita jadi bisa istirahat bersama. Menghabiskan waktu bersama," ucap Leon sambil mencolek hidung Yura.


"Ehm , mungkin juga. "


"Iya Sayang, hari ini aku akan cuti bekerja dan seluruh waktuku hanya untuk kamu," ucap Yura sambil mencium pipi suaminya.


"Ehm, begitu dong. "


Leon merentangkan tangannya agar Yura memeluknya.


Mereka pun berpelukan dengan sejenak.


Ehm kira-kira Leon kenapa ya para reader. maafkan kalau ada typo ya

__ADS_1


__ADS_2