Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Kebahagiaan Yang sempurna


__ADS_3

"Nang Ning Nang Ning Nung, cucu Opa sayang."


Seolah tak pernah puas tuan Melky menimang cucunya itu.


"Gantengnya cucu Opa, pasti karena mirip dengan wajah Opa, iyakan Sayang," ucap tuan Melky pada bayi munggil yang sedang tidur itu.


Leon dan Yura saling melemparkan senyum.


"Daddy! Gak capek apa gendong cucu terus ?"tanya Nyonya Widya. Karena sudah satu jam orang tua itu menggendong cucunya.


"Gak capek, aku masih ingin memeluk cucu ku," sahut tuan Melky.


"Lihatlah sayang, daddy bahagia sekali ya ?" tanya Leon sambil menyuapi Yura makan.


"Iya, rasanya tak tega mengambil bayi kita dari tangannya. Padahal aku kasihan pada daddy, takut dia merasa kelelahan." 


"Biarkan saja dulu. Daddy memang sudah lama ingin menggendong cucu dan akhirnya kesampaian juga. Lihat lah bahkan ia lupa untuk makan siang dan minum obat," tukas Nyonya Widya.


Mereka bertiga tersenyum melihat tuan Melky yang bicara sendiri ketika menimang bayi mereka.


Ketika sedang asik menimang cucunya. Bayi itu kembali menangis.


Oek oek…tangisan bayi itu kencang. Tuan Melky pun panik.


"Aduh, Leon anak mu nangis lagi. "


"Haha, mungkin dia haus Daddy berikan saja pada Yura, biar dia menyusuinya."


Karena Yura belum bisa menyusui Widya membantu membuatkan susu formula untuk bayi mereka.


Bayi mungil itu pun di baringkan di samping Yura. 


Akhirnya setelah satu jam lebih, Yura bisa kembali mendekap putranya yang munggil.


Leon berada di samping bayinya. Ia menatap haru pada sosok mungil tersebut.


"Sayang, kita gak usah program menunda hamil ya, aku mau kamu langsung hamil lagi, cetus Leon.


"Ih kamu tuh ya, sakitnya saja belum hilang, kamu sudah minta aku hamil lagi." Yura mengkerucutkan bibirnya.


Leon langsung menyambar bibirnya istrinya.


Cup…


"Aku suka kalau lihat kamu marah, tambah cantik."


"Hm.."


Yura mengkerucutkan bibirnya.


"Iya Yura setelah ini, kamu hamil lagi saja, daddy ingin lihat cucu kedua daddy," cetus tuan Melky dengan penuh semangat.


"Huh Daddy , ayah dan anak sana saja! emangnya aku kucing setiap tahun beranak terus," dengus Yura.


"Haha, banyak anak, banyak rejeki," sahut tuan Melky, ia pun tertawa.


Yura hanya tersenyum melihat ayah mertuanya yang terlihat begitu bahagia. Bahkan hal kecil saja tuan Melky tertawa lepas.


"Iya daddy, asal daddy bahagia, tahun depan aku program hamil lagi. Tapi daddy harus rajin berobat ya," sahut Yura.


"Oh iya dong, semoga saja dengan terapi daddy bisa berjalan lagi . kamu memang menantu terbaik daddy," sanjung daddy.


"Bukan yang terbaik daddy, tapi menantu daddy satu-satunya," cetus Yura.


"Iya yang terbaik dan satu-satunya."


.Tuan Melky pun tertawa lepas


Mereka semua ikut tertawa karena terbawa suasana bahagia yang tuan Melky rasakan.


l***


Waktu sudah mendekati magrib.


Leon sedang menelpon tuan Hideki untuk menyampaikan kabar gembira atas kelahiran putra mereka.


"Wah aku ingin lihat cucu ku, tak terasa aku suda jadi kakek-kakek ," ucap tuan Hideki,dalam bahasa Indonesia yang masih belibet.

__ADS_1


"Haha , iya tuan. Anda kini sudah jadi kakek-kakek. Syukurlah jika anda sadar." 


"Hey! Kau berani mengatai ku ! Tunggu lah nanti aku ke Indonesia. Akan ku hajar kau habis-habisan dengan samurai!"


"Haha jangan begitu tuan Hideki, bagaimanapun juga aku ini suami dari keponakan mu."


"Untung saja kau suami dari keponakan ku, jika tidak nyawamu jadi korban samurai ku" cetus tuan Hideki dengan nada bercanda.


"Baiklah, sampaikan pada Sheina jangan beri nama putra kalian terlebih dahulu sebelum aku datang, " imbuhnya lagi .


"Oh, begitu ? baiklah."


"Tentu saja, untuk mengenang kakeknya aku akan memberi nama keluarga ku pada nama bayi kaian. "


"Wah putraku sungguh beruntung.x


" Tentu saja, Katakan pada keponakan ku, besok aku akan datang dengan jet pribadi."


"Baiklah terimakasih Tuan. Kalau begitu aku tutup teleponnya."


Leon menutup teleponnya kemudian menghampiri Yura.


***


Nyonya  Widya membereskan barang-barang.


Sementara tuan Melky masih saja menimang cucu kesayangannya


"Daddy, sudah malam. Ayo kita pulang," ajak Nyonya Widya.


"Sebentar dulu mommy. Daddy masih kangen dengan cucu daddy," sahut tuan Melky .


Pria tua itu masih asik menggendong cucunya.


"Ayolah daddy, kita pulang dulu. Daddy pasti butuh istirahat."


"Benar itu daddy, nanti di rumah daddy masih punya banyak waktu untuk bermain dengan cucu daddy. Paling-paling besok kami sudah pulang," bujuk Yura.


"Oh baiklah, kalau begitu."


Leon menghampiri tuan Melky, kemudian meraih bayinya dari tangan tuan Melky.


"Opa pulang dulu ya Cu, besok Opa datang lagi, kita main lagi," ucap tuan Melky dengan Vibra sedih.


Leon dan Yura saling melempar senyum.


"Iya daddy, daddy tak perlu khawatir, Setelah aku sehat dan kembali ke kantor, maka putraku akan ku titipkan pada kalian berdua," ucap Yura.


"Tidak Sayang. Kau tak perlu bekerja, jaga saja putra kita. Biar aku yang mengurusi perusahaan mendiang ayah mu."


"Ah Sayang, jangan egois begitu. Aku bisa membagi waktu kok."


"Iya Leon, biarkan saja istri mu bekerja, biar Opa dan Oma yang menjaganya," sahut tuan Melky.


Ehm, Yura tersenyum karena ada yang membelanya.


***


Malam harinya. Yura terlelap sambil memeluk putra kecilnya.


Sementara Leon harus tetap terjaga menjaga putra mereka.


Secangkir cappucino dan laptop yang menyala menemaninya.Meski sedang bekerja,tapi perhatikan Leon tetap terfokus pada sang putra.


Setiap dua jam sekali, ia harus membuatkan susu untuk bayinya.


Leon tengah memeriksa berkasnya, kini pekerjaannya bertambah. Selain mengurusi perusahaan yang memiliki banyak cabang dari berbagai bidang usaha, semenjak sang istri hamil besar Leon lah yang mengurusi perusahaan mendiang ayah mertuanya.


kebetulan juga, perusahaan Ryota tersebut bekerja sama dengan perusahaannya.


Dengan cahaya yang temaram. Leon memaksa matanya agar tetap terjaga.


Sejak Yura kembali ke pangkuannya, Leon jarang bergadang. Ia pun sudah meninggal kebiasaan buruknya yakni minum-minum keras dan clubing.


Bagi Leon kehidupan yang ia jalani sudah sangat sempurna. Memiliki keluarga sempurna, ada mommy dan daddy yang selalu perhatikan dan memberikan kasih sayangnya.


Ada pula anak istri tempatnya mencurahkan kasih sayang dan cinta6.

__ADS_1


Oek…


Bayi mereka mulai bergerak. Sebagai ayah siaga, ia segera meraih botol susu yang berisi susu formula hangat.


"Cup cup sayang. Haus ya ?" 


Agar sang istri tak bangun, Leon mengangkat tubuh mungil bayinya kemudian menggendongnya.


Dengan sabar Leon menunggu baby boy-nya itu hingga habis menyusui.


"Sayang, kamu lapar ya ?"tanya Leon.


Sesekali ia tersenyum melihat bayinya yang begitu rakus menyedot susu formula.


"Uih jagoan Daddy, minum susu yang banyak ya, biar cepat besar. Agar bisa membantu daddy mengurusi perusahaan daddy," tuturnya sambil mencium putranya itu.


Leon menggendong bayinya sambil menyanyikan sang bayi lagu Nina bobo' seketika ia terkenang masa kecilnya ketika dalam ayunan. Sang pengasuh selalu menidurkan dengan lagu itu.


Setelah beberapa saat bayinya pun terlelap, kemudian ia kembalikan bayi tersebut di samping Yura.


Leon mendaratkan kecupan di pipi bayinya. Kemudian menciumi kening sang istri yang tertidur dengan pulas.


Sepanjang malam Leon berjaga, seperti sudah terjadwal, setiap dua jam sekali sang bayi selalu terbangun.


Dan Leon selalu melakukan hal yang sama.


Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Yura membuka matanya.


"Sudah bangun mommy?"tanya Leon sambil menggendong putra mereka.


"Ehm, Sayang kamu gak tidur ?"tanya Yura dengan suara lirih.


"Kalau aku tiduran siapa yang mau jaga kalian berdua?"


"Ehm iya juga sih. "


"Yah sudah, jika baby boy-nya sudah tidur, kamu istirahat saja. "


"Nanti saja setelah urusan kamu selesai saja, "


.Iya deh terserah kamu. Tapi kamu pasti lelah,sudah dua hari menggendong terus


Leon meletakkan bayinya yang sudah tertidur di atas tempat tidur.


"Mau aku temani ke kamar mandi?"tanya Leon .


"Gak lah, nanti kamu bisa khilaf," ucap Yura dengan nada bercanda.


"Gak lah, mana mungkin aku menyakiti kamu."


"Haha, bercanda kok Sayang. Aku sudah bisa bangun kok. Kamu jaga putra kita saja."


"Baiklah, Hua," sahut Leon sambil menguap.


Leon meletakkan bayinya di atas tempat tidur. Ia sengaja tak meletakkan bayinya di dalam box.


***


Sekitar lima belas menit Yura keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Leon yang terbaring sambil memeluk putra mereka. 


Ia pun menghampiri keduanya.


"Ehm, manisnya " ucap Yura ketika melihat ayah dan anak itu terlelap dengan wajah yang damai.


Yura mendekat kearah Leon.


"Tidurlah Sayang, terimakasih karena telah menjaga putra kita selama aku beristirahat. Sekarang waktunya, kau untuk istirahat," ucap Yura sambil mengusap kepala suaminya. Kemudian ia mencium pipi Leon sebagai ungkapan terima atas pengertiannya.


Semalam beristirahat membuat Yura menjadikan lebih Segaran itu semua karena pengertian sang suami yang tak mau membiarkan ia terbangun.


Ini adalah hari kedua ia menjadi seorang ibu. Yura tersenyum melihat suami dan anaknya.


"Terimakasih kasih Tuhan karena mempertemukan ku dengan suamiku. Meskipun aku sempat menganggapnya seperti iblis, kini aku sadar jika dia adalah malaikat dalam wujud manusia," ucap Yura dengan bola mata yang memerah karena haru.


Kemudian ia menoleh ke arah baby boy-nya.


"Ehm lucunya malaikat kecil ku," ucap Yura , kemudian ia mencium bayinya  yang terlelap.

__ADS_1


Oek ..


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2