Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Hamil


__ADS_3

Sebulan setelah menikah, Nadia mulai merasakan mual-mual di pagi hari.


Uek uek..


Zen yang sedang memakai pakaiannya mendengar suara Nadia yang muntah di kamar mandi mereka,segera saja ia menghampiri istrinya itu.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Zen


"Nggak tahu Mas, aku sekarang suka mual dan muntah di pagi hari," ucap Nadia sambil membersihkan wajahnya.


"Jangan-jangan Kamu hamil Sayang," ucap Zain sambil menarik tisu dan mengelap bagian wajah Nadia yang basah.


"Mungkin," ucap Nadia


"Ya, semoga sajalah, aku nggak ikut ngidam parah seperti Tuan Leon," ucap Zein


"Ngidam parah, memangnya seorang suami bisa mengidam Ketika istrinya hamil?"


"Bisa dong."


"Waktu istri bos ngidam, kamu tau gak si tuan Leon jadi feminim, aku pernah gak sengaja lihat di membawa cermin, semua barang-barangnya di ganti warna pink, mulai dari dompetnya, ballpoint, dan hampir semuanya. Yang lebih parah lagi, kalau ada waktu senggang, bos Leon malah baca novel online, pakai acara nangis-nangis gitu. Sudah gitu suka ngambek lagi," ucap Zen.


"Haha yang benar saja," cetus Nadia.


Benar dong, dan itu kejadian langka banget. Sayangnya aku gak berani mengabadikannya.


Di belahan dunia lainnya Leon tengah menikmatinya minumannya, saat itu ia tersentak.


Huk uhuk


"Kenapa Daddy?"tanya Yura.


"Pasti ada yang lagi gibahin aku mommy sampai aku tersentak," sahut Leon.


"Siapa?"


"Mana aku tahu, uhuk uhuk."


***


"Ayo kita ke rumah sakit untuk periksa."


"Iya Mas, Ayo."


Nadia dan Zen menuju klinik, Zen begitu yakin jika istrinya tersebut hamil.


Nadia menyandarkan kepalanya di bahu kekar Zein sambil menggigit ujung kukunya.


Mereka berdua deg-degan.


Sesampainya di klinik, Nadia langsung memeriksa dirinya.


"Selamat ya Nyonya Anda positif hamil," ucap bidan tersebut.


"Alhamdulillah, " Zen langsung menghambur memeluk istrinya.


"Terima kasih Buat kalau begitu kami permisi ya," ucap Nadia.


Zen dan Nadia berada di dalam mobil.


Nadia tersenyum-senyum sambil mengusap perutnya itu.

__ADS_1


"Mas kamu ingin anak kita perempuan atau laki-laki?"


"Terserah, yang penting sehat saja."


"Aku juga begitu, yang penting mereka sehat saja aku bahagia loh Mas bisa memiliki keluarga yang utuh Semoga nasib anak kita tidak sama dengan nasib aku," ucap Nadia dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Enggak lah sayang aku akan menjaga kamu dan anak-anak kita, aku janji akan membuat keluarga kita bahagia selamanya."


"Iya Mas, aku percaya kok," ucap Nadia sambil mencium pipi suaminya keduanya pun saling melempar senyum mesra.


Zen mengacak rambut istrinya kemudian cium pucuk kepala Nadia dengan lembut .Hari ini mereka benar-benar merasakan kebahagiaan yang sempurna.


Setelah dari klinik mereka memilih membagikan kabar bahagia itu pada keluarga Leon


"Halo selamat pagi semuanya," sapa Nadia ketika melihat keponakannya berkumpul di pagi hari yang cerah itu di teras rumah.


"Hallo Onty," sapa Sheon.


"Kamu Kok belum sekolah Sayang ?"tanya Nadia pada Sheon.


"Bukannya hari ini aku, mau mengambil raport," ucap Seon.


"Oalah Onty sampai lupa, ayo pergi sama Onty saja," usul Nadia


"Mau onty, Ayo kita pergi," sahut Sheon.


"Tunggu dulu dong 0nty punya berita baik nih yang ingin Onty sampaikan untuk kalian semua," ucap Nadia.


"Kabar baik apa tuh?" tanya Yura antusias.


"Kabar baiknya, sekarang aku hamil!" ucap Nadia.


"Hamil!" berarti Onty bakalan punya dedek bayi seperti mommy?!"tanya Sheon.


"Mau banget onty," sahut Sheon.


"Wah, Selamat ya Nadia kami semua ikut senang," ucap Yura


terima kasih semuanya ucapkan Nadia.


"Wah Zein, Cepet juga, baru satu bulan sudah jadi saja," sahut Leon.


"Gimana nggak cepat setiap malam digarap ya kan Nadia?"tanya Yura


"Hehehe iya, tau aja."


***


setelah sarapan bersama ,Nadia membawa Sheon ke sekolah.Kali ini Nadia akan mewakili Yura untuk mengambil raport Sheon.


Setelah beberapa orang mengambil raport kini tibalah nama Sheon yang dipanggil.


Nadia dan Zain menghampiri meja wali kelas.


"Selamat ya bu, Sheon mendapat peringkat pertama, selain cerdas Sheon termasuk siswa yang aktif dan memiliki kepribadian yang baik. bahkan Sheon tak segan mengajari temannya yang kurang mengerti."


"Iya Buat keponakan saya memang seperti itu kepeduliannya memang tinggi. Di rumah Ia juga sering membantu mengasuh adik-adiknya karena kedua orang tuanya yang sibuk," ucapnya Nadia.


"Oh kalau begitu Selamat ya Sayang kamu dapat juara 1 dan Ini hadiah untuk kamu," ucap wali kelas tersebut sambil menyodorkan raport dan bingkisan kecil untuk Sheon.


"Terima kasih ya Bu," ucap Sheon sambil mencium punggung ke tangan wali kelasnya.

__ADS_1


"Anak manis," ucap ibu wali kelasnya sambil mengacak rambut Sheon.


"Terima kasih ya bu kalau begitu kami permisi," ucap Nadia


"Ayo sayang, kita pulang. ajak Nadia sambil meraih tangan kecil Sheon.


"Tunggu Onty, Aku mau mencari seseorang," ucap Sheon.


"Kamu menunggu siapa sayang?" tanya Nadia.


Sheon mengedarkan pandangannya sambil cengat celinguk mencari keadaan seseorang.


"Nah itu dia orangnya onty ," tunjuk Sheon.


Sheon menghampiri Sasha..


"Hai Sha, sapa Sheon."


"Hai Seon, kamu sudah ngambil rapot?" tanya Shasa.


"Iya, ini baru mau ambil."


"Shasa setelah lulus dari sini, kamu mau melanjutkan sekolah ke mana?" tanya Sheon.


"Sepertinya aku tidak akan sekolah di sini lagi, aku akan pindahkan" ucap Sasha dengan bibir yang mengerucut dan wajah yang tertunduk.


"Yah, kalau kamu pindah berarti kita nggak bisa bertemu lagi dong,"ucap Seon dengan raut wajah sedih.


"Iyaa Sheon, aku harus mengikuti kedua orang tuaku ,yang pindah ke luar kota."


"Kamu kembali lagi ke kota ini kapan?" Tanya Sheon dengan wajah yang sedih.


'Gak tahu, Aku nggak tahu kapan lagi kembali lagi ke kota ini," ucap Shasa.


kedua bocah itu sama-sama terlihat sedih.


"Ya sudah, karena aku tak punya apa-apa untuk kenang-kenangan, aku beri kalung ini deh." Sheon kemudian melepaskan kalung emas yang bertulis namanya, kemudian memberikannya pada Shasa.


Shasa meraih kalung itu. "Terima kasih ya Sheon, Aku takkan melupakanmu," ucap Shasa sambil memakai kalung itu.


"Ini aku juga punya kenang-kenangan untuk kamu," ucap Shasa sambil melepas sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Aku juga punya ini untuk kamu sebagai kenang-kenangan, kamu simpan ya ," ucap Sasa sambil menyodorkan cincin mungil itu .


"Iya aku akan jaga cincin ini," ucap Sheon sambil menggenggam cincin tersebut.


Mama Sasa datang menghampiri mereka.


"Ayo Sha kita pulang."


"Sheon Aku pulang dulu ya, dah Selamat tinggal," ucap Shasa dengan sedih.


"Dah selamat tinggal juga," ucap Sheon dengan sedih, mereka pun saling melambaikan tangan.


Nadia menghampiri keponakannya itu.


"Siapa dia Sheon?" tanya Nadia.


"Dia temanku onty, aku sedih karena dia pindah dari kota ini kamu jadi tidak bisa bermain bersama-sama lagi," ucap Sheon dengan suara yang parau menahan tangisnya.


"Ya sudah suatu saat nanti pasti kamu akan bertemu dengannya. Ayo kita pulang Nak," ajak Nadia.

__ADS_1


Selama di dalam mobil Sheon hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Ia begitu sedih karena tak lagi bisa bermain bersama Shasa.


bersambung dulu ya gengs


__ADS_2