
Keadaan tuan Melky mulai membaik setelah satu hari dirawat di ruang ICU.
Dengan perlahan ia membuka kelopak matanya.
"Daddy," ucap Leon dengan senyuman.
Seperti baru saja melewati badai, Leon tersenyum dengan sejuta bahagia.
"Daddy, daddy katakan sesuatu pada ku, daddy."
Tuan Melky menatap sayu ke arah Leon.
"Leon," ucapnya sangat lirih.
"Syukurlah Daddy!"
Karena tuan Melky telah sadar, Leon pun memanggil dokter .
Setelah memeriksa keadaannya,dokter menyatakan jika tuan Melky bisa di pindahkan ke ruang perawatan.
Beberapa jam setelah diobservasi di ruang ICU, kini tuan Melky berada di kamar perawatan.
Agar sang istri tak merasa khawatir, Leon menghubungi Yura tentang kabar bahagia itu.
"Hallo Sayang," sapa Leon
"Iya bagaimana dengan keadaan daddy?"tanya Yura dalam sambungan teleponnya.
"Daddy sudah berada dalam ruang perawatan."
"Oh, kalau begitu syukurlah. Aku juga sudah diperbolehkan untuk pulang dan istirahat di rumah."
"Baiklah, nanti aku minta Zein menggantikan aku sebentar menjaga daddy, aku yang akan menjemputmu ," pungkas Leon.
Mereka pun menutup teleponnya.
Sebelum menjemput sang istri Leon menghampiri tuan Melky. Saat itu wajah tuan Melky tampak begitu sedih .
"Daddy," sapa Leon lirih.
Tuan Melky menatap Leon dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Daddy Kenapa? Apa ada sesuatu yang daddy pikirkan?" tanya Leon dengan hati-hati.
Tuan Melky mengerucutkan bibirnya mencoba untuk tak menangis. Namun bibirnya terlihat masih bergetar.
"Leon, daddy menyayangimu."
Leon tersenyum.
"Aku juga sayang pada daddy." Leon memeluk tuan Melky.
Saat itu tuan Melky mulai menangis ia tak mampu lagi untuk membendung air matanya.
Hiks hiks
"Daddy, daddy kenapa?"tanya Leon yang melihat tuan Melky menangis dengan begitu emosional.
"Maafkan daddy Leon," ucap tuan Melky lirih.
Hiks hiks hiks.
"Maaf ? Tapi kenapa? Daddy salah apa ?" Leon bertanya dengan nada bicara yang lembut.
Tuan Melky sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Namun bibirnya terasa begitu berat untuk mengatakan hal itu.
" Sudah daddy istirahat saja. Jangan pikirkan hal yang macam-macam. Daddy baru saja sadar dari koma."
Leon mengusap punggung daddynya. Saat itu tuan Melky merasa sedikit tenang.
Sebenarnya Leon ingin menanyakan sesuatu kepada tuan Melky, kenapa sang daddy sampai terkena serangan jantung.
Dari rekaman CCTV pun tak ada yang mencurigan. Tuan Melky terlihat kaget ketika membuka pintu kamar Wana
Tak ingin memperburuk keadaan, Leon menyimpan rapat pertanyaan yang menggantung di benaknya tersebut .
Setelah keadaan tuan Melky sudah memungkinkan, barulah ia akan bertanya.
Melihat keadaan tuan Melky yang cukup tenang. Leon mengutarakan maksud hatinya.
"Daddy, saat ini Yura berada di rumah sakit. Daddy tau kenapa?" tanya Leon.
Tuan Melky menatap lekat ke arah Leon. Seolah menanti penjelasan Leon.
"Daddy, Yura kembali hamil."
"Hamil ?" Tuan Melky bergumam.
__ADS_1
"Iya daddy. Sebentar lagi daddy akan punya cucu. Dan aku janji, kali ini aku akan menjaga istriku dengan baik."
Tuan Melky tersenyum simpul.
Meski merasakan bahagia mendengar berita itu. Namun terasa ada yang mengganjal membuat kebahagiaan tak seperti kebahagiaannya ketika pertama kali mendengar berita kehamilan menantunya.
"Daddy, apa aku boleh menjemput Yura ? Biar Zein yang akan menjaga daddy selama kepergian ku," ucap Leon.
"Iya pergilah."
"Baik Daddy, terima kasih."
Tuan Melky menatap punggung Leon yang perlahan meninggalkannya.
"Leon ," panggil Tuan Melky kembali.
"Iya daddy.'?"Leon kembali melangkahkan kakinya menghampiri tuan Melky.
"Leon, dimana Wana ?"tanya tuan Melky lirih.
"Wana ?"
Tuan Melky mengangguk lirih.
" Wana ada di rumah daddy. Apa daddy mau aku panggil dia untuk menjaga daddy?" tanya Leon menyelidik
"Tidak perlu. Pastikan dia tidak pergi," imbuh tuan Melky dengan suara yang lirih.
"Memangnya kenapa daddy? Apa Wana menyakiti daddy?"tanya Leon semakin penasaran.
Mendengar pertanyaan Leon bukanya menjawab, tuan Melky kembali menangis.
Kali ini ia bahkan menangis tersedu-sedu. Leon semakin kaget, karena selama ini ia tak pernah melihat Daddynya menangis. Tuan Melky menangis dengan rasa sesal yang amat dalam.
"Sudah daddy, daddy tak perlu menjawab pertanyaan ku. Daddy istirahatlah. Sebentar lagi Zein akan menggantikan aku menjaga daddy."
Karena keadaan tuan Melky yang terlihat trauma, Leon menunda untuk menjemput sang istri, menunggu sampai tuan Melky tertidur.
Setelah tidur ,ia pun meminta Zein untuk menggantikan posisinya.
Setelah Zein datang, Leon segera menghampiri rumah sakit tempat dimana Yura dirawat.
***
Leon tiba di ruangan perawatan sang istri. Kehadirannya di sambut hari oleh Yura yang kini mulai merindukannya.
"Tidak apa-apa. Bagaimana keadaan daddy."
" Daddy sudah siuman. "
"Kalau begitu, ayo kita segera pulang. Aku khawatir jika meninggalkannya terlalu lama."
"Sumi, barang-barang yang mau di bawa pulang sudah siap?".
" Sudah tuan. "
"Ayo sekarang kita pulang."
Leon menggendeng sang istri selama berjalan melewati koridor. Saat itu Yura memang terlihat masih lemah.
***
Mereka pun tiba di parkiran. Setelah memasukan semua barang-barang. Mereka segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Sebenarnya aku ingin menjenguk daddy," ucap Yura.
"Untuk sementara jangan dulu. Kau beristirahat saja di rumah "
"Sumi, nanti kau jaga nyonya dengan baik ya. Aku percayakan dia padamu. "
"Baik tuan. "
"Oh iya Sumi, karena kau sudah lama bekerja dengan keluarga ku, apa kau tahu siapa itu Widya dan Natasha?"tanya Leon.
Bukan main nya kagetnya Sumi ketika ditanya oleh Leon.
Suara hening beberapa saat.
"Kamu ingat gak Sumi ?" tanya Leon lagi.
"Ehm ehm. Saya ingat Natasha saja tuan. "
"Ehm kalau begitu, siapa itu Natasha?"tanya Leon.
"Natasha itu perawat yang merawat Nyonya Hilda sebelum Nyonya Hilda meninggal."
"Kalau Widya ? kamu beneran gak tau ?" tanya Leon dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Deg …
Tiba-tiba saja wajah Bu Sumi memucat.
"Tau tidak ?!" Bentak Leon ketika Sumi hanya bergeming.
Tentu saja Sumi tahu siapa itu Widya, ia tahu dari ibunya yang merawat Leon sejak bayi.
" Gak tau Tuan ," cetus Sumi karena tak ingin mendapatkan masalah.
"Gak tau ya jawab dong, jangan diam saja !" Sergah Leon dengan sedikit emosi.
"Maaf Tuan, tadi saya coba mengingat, karena itulah saya diam ."
"Memang kenapa sih Sayang ?"tanya Yura penasaran.
"Saat Daddy tak sadar, ia terus memanggil tiga nama itu. Wana Widya dan Natasha, karena itulah aku penasaran."
***
Mobil melaju menuju kediaman keluarga Jonson.
Setibanya di sana, Leon langsung mengantar sang istri menuju kamarnya.
"Beristirahatlah sayang. Maaf aku harus meninggalkanmu lagi," ucap Leon sambil mencium dan mengecup bibir Yura.
"Iya sayang, tak apa."
"Sumi,Jaga istri ku. Kau harus berada di sampingnya selama dua puluh empat jam."
"Baik Tuan."
"Jangan biarkan siapa pun masuk, dan berhati-hati terhadap Wana!" Ucap Leon dengan penuh penekanan di akhir kalimat."
Setelah memastikan istrinya dalam keadaan aman, Leon menghampiri Harem.
Sebenarnya sudah puluhan tahun Leon tak pernah menjamah ruangan tersebut.
Di luar ruangan ada dua orang bodyguard yang menjaga kamar tersebut.
"Buka pintunya!" titah Leon.
Seorang pengawal pun membukakan pintu bagi Leon.
Kreak…. pintu terbuka.
Wana tersenyum menatap Leon yang datang menghampirinya.
"Apa kau mengenal Wanita bernama Widya dan Natasha?" tanya Leon tanpa basa-basi.
Wana hanya tersenyum lembut.
Melihat itu Leon menjadi kesal.
"Apa kau mengenal Widya dan Natasha?!"tanya Leon dengan suara membentak
"Tentu saja," ucap Wana sambil menghampiri Leon.
"Siapa mereka?!"
"Mereka adalah orang yang sama Leon."
"Orang yang sama, apa maksudmu ?!" tanya Leon semakin tak mengerti.
"Widya Natasha itu adalah ibu yang telah melahirkanmu ke dunia ini."
Seketika Leon memperbesar pupil matanya.
"Dia lah yang mengandungmu selama sembilan bulan di kamar ini," imbuh Wana.
!Apa maksudmu ? ibuku adalah Hilda !"
Wana memberikan sebuah kantong transparan yang berisi beberapa helai rambut .
"Ini rambut milikku Leon, coba saja kau bandingkan DNA ku dengan DNA milik mu,kau akan temukan kebenarannya. Kau akan tahu jika darah lebih kental dari pada air."
Wana meraba wajah tampan putranya dengan bola mata yang berbinar. Namun Leon membalasnya dengan tatapan tajam sambil bertanya "Apa maksudmu?"
" Mungkin kau tak akan percaya, jika aku adalah ibu yang sudah mengandung mu dan melahirkanmu kedunia ini. Di dalam darahmu juga mengalir darah ku," ucap Wana dengan bibir yang bergetar. Akhirnya ia punya keberanian untuk menyatakan kebenaran itu.
Leon kembali menepis tangan Wana.
"Dasar wanita sinting ! Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu!"
Leon berlalu meninggalkan Wana yang masih menatap sedih ke arahnya.
Bersambung gengs.
__ADS_1