
Leon berada di ruang kerjanya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan pintu pun terbuka
Seorang gadis cantik datang menghampirinya kemudian memeluknya dari belakang
Gadis cantik itu mencium pipinya, Leon tersenyum.
"Pasti ada maunya," terka Leon.
"Daddy tahu saja," Nessa pun melepas rangkulan tangannya yang menyilang di dada Leon.
"Kamu mau minta apa, sudah punya mobil mewah, fasilitas mewah apalagi sih yang mau di minta?" tanya Leon
"Jangan bilang kamu minta Daddy ijinin kamu untuk pacaran ya? Daddy nggak akan izin kamu pacaran dulu ," imbuhnya.
"Ih jadi bukan begitu daddy. Aku hanya butuh bantuan dari Daddy."
"Bantuan apa?"tanya Leon
"Aku mau Daddy menerima temanku bekerja menjadi staf di salah satu perusahaan Daddy."
" Maksudmu?"
"Iya aku punya teman, beberapa hari yang lalu ibunya meninggal dan untuk membiayai hidup keluarganya dan membayar hutang pengobatan ibunya, dia harus bekerja keras membanting tulang."
"Aku jadi kasihan dengannya, dengan gaji tak seberapa ia bekerja keras hingga harus cuti kuliah, padahal dia itu anak yang cerdas Daddy, dia salah satu mahasiswa terbaik di kampusku,"
"Ehm, apa karena itu?"
"Iya Daddy, aku sudah janji mau bantuin dia. Please, Daddy beri dia pekerjaan dan jabatan yang strategis di perusahaan Daddy, agar ia bisa membayar lunas hutangnya dan memenuhi kebutuhan adik-adiknya," Bujuk Nessa.
"Haha Sayang, kalau mau jabatan strategis, dia itu harus punya pengalaman atau pendidikannya minimal S2."
"Kalau dia saja baru masuk kuliah, tentu kompetensinya nggak akan sebanding dengan jabatan yang strategis."
"Ah Daddy, dia kan bisa belajar. Please, berilah dia kesempatan."
"Itu namanya nepotisme, dan Daddy anti dengan yang begituan."
"Ya sudahlah, kalau nggak bisa jabatan strategis Daddy kasih saja sesuai dengan pendidikannya, tapi gajinya seperti jabatan yang bagus ya Daddy ya," pinta Nessa dengan memelas.
"Nggak bisa gitu dong sayang, semua itu ada aturannya. Karena urusan gaji bukan Daddy yang pegang."
"Ih Daddy, kok gitu sih, Daddy kan CEO di perusahaan ini, please ya Daddy."
Nessa memohon berkali-kali, seperti biasanya Leon selalu kalah dan menuruti permintaan putrinya itu.
"Ya sudahlah, bawa saja dia kemari Daddy lihat potensinya dulu, bisa di tempat kan dimana dia," ucap Leon.
"Wah, terima kasih Daddy," ucap Nessa dengan girang. Ia mencium pipi Leon di kanan dan kirinya.
Setelah itu Nessa kembali ke luar.
"Dasar anak manja! tapi salah ku juga yang selalu memanjakannya." Leon bermonolog
Setelah dari kantor Leon Nessa bermaksud menemui Irgi.
***
Setibanya di rumah Irgi, Nessa melihat Irgi sedang dipukuli oleh seseorang, sementara adik-adiknya menangis melihat kakak mereka di hajar.
"Loh gak mau melakukan tugas yang di berikan oleh tuan Reymond! Tapi Lo juga gak mau bayar hutang ke kita! Rasain loh!"
"Bukan begitu Om, saya sedang berusaha untuk bayar hutang! Tapi baru bisa mengumpulkan sedikit uang, karena ibu saya juga baru meninggal!"seru Irgi yang coba menahan pukulan pria tersebut.
"Ah banyak alasan!"
Bugh! Satu bogem mentah mendarat ke wajah Irgi!
"Mas Irgi!" Kedua adik Irgi menangis saling memeluk, gak tega melihat kakaknya yang dihajar preman itu.
"Berhenti!" teriak Nessa sambil berlari menghampiri Irgi.
Tetangga mereka, sebenarnya melihat kejadian itu. Namun Mereka takut untuk menolong Irgi.
Pria itu langsung menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Nessa.
"Apa apaan ini?!" tanya Nessa dengan nafas yang terengah-engah.
Pria tersebut langsung berdiri.
"Jangan ikut campur! Dia telah meminjam uang sebesar 10 juta ke bos kami dan belum bisa melunasinya."
"Tapi kenapa harus dipukuli?!"
"Jika begitu, saya akan bayar sekarang hutang Irgi," ucap Nessa sambil mengeluarkan handphonenya.
"Kalau begitu saya transfer sekarang! Mana nomornya?!
Pria itu memberikan nomor rekening kepada Nessa.
__ADS_1
"Sudah saya transfer ya! Sekarang anda pergi dari sini!"
Pria itu menagih hutang ke Irgi karena Irgi menolak misi yang diberikan oleh Raymond kepadanya.
Bagaimana tidak menolak , Irgi dipaksa untuk memacari Nessa dan merusaknya dengan memberikan minuman perangsang kepada Nessa.
Setelah laki-laki itu pergi, Nessa menghampiri Irgi.
"Ayo Gi, aku bantu," ucap Nessa sambil menarik tangan Irgi.
"Mas Irgi hiks."
Sarah dan Dinda kemudian berlari dan memeluk Irgi.
"Sudah mas gak apa-apa," ucap Irgi sambil mengusap punggung kedua adiknya.
"Kami takut pria itu datang lagi dan memukul mas Irgi, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Mas Irgi,hiks," tangis Sarah yang seperti ketakutan sambil memeluk Irgi semakin erat.
"Iya gak apa-apa, sudahlah tenang jangan nangis lagi, malu dong sama kak Nessa!"
Sarah dan Dinda melepaskan pelukannya.
"Ayo Nessa masuk dulu ya!"
"Iya Gi."
***
Nessa dan Irgi duduk di ruang tamu begitupun Sarah dan Dinda.
"Gi, aku sudah bilang pada Daddy ku tentang pekerjaan di perusahaan Daddy."
Irgi tertunduk.
"Aku gak mau merepotkan kamu Ness, kamu sudah terlalu baik."
"Gak lah, Gi. Gak repot kok."
"Terima kasih ya Ness," ucap Irgi sambil tersenyum.
"Nah gitu dong."
"Kalau gitulah bagaimana jika kalian semua siap-siap ! karena kak Nessa mau ajak kalian jalan-jalan ke mall!"seru Nessa.
"Ke Mall kak?!" Sontak saja Sarah bangikit dari kursi tempat duduknya.
"Iya kita ke Mall, kalian mau belanja beli baju baru ,sekalian makan-makan?!"
***
Irgi dan adik-adiknya akhirnya mengikuti Nessa, sebenarnya keadaan Irgi tak begitu memungkinkan akibat wajahnya yang lebam dan sedikit bengkak akibat pukulan preman tadi.
Di mall Nessa mengajak mereka berbelanja pakaian.
"Gi, sini!"
"Apa Ness?"
"Karena besok kamu akan bekerja kamu pilih beberapa kemeja- kemeja untuk kamu kerja," ucap Nessa.
"Ah gak lah! Aku kan masih punya kemeja yang biasa digunakan untuk kuliah."
"Beda dong Gi! Sudah kamu pilih saja beberapa kemeja yang cocok, aku yang bayar, nanti setelah kamu kerja dan gajian, kamu ganti uang aku," tawar Nessa.
Irgi berpikir sejenak.
"Iya deh."
Setelah berbelanja sepuasnya, Nessa mengajak adik-adik Irgi untuk makan di sebuah restoran yang ada di mall tersebut.
"Kak Nessa, terima kasih ya sudah di traktir makan,aku gak pernah makan enak seperti ini," cetus Sarah sambil mengunyah ayam bakar di mulutnya.
"Iya, nanti kalau mas Irgi sudah kerja dan gajian, kita akan sering-sering makan di sini ya. Iya kan Gi?" tanya Nessa.
"Asik! Aku bisa makan enak lagi dan beli baju bagus lagi dong," seru Sarah.
Irgi tersenyum sambil mengacak rambut adik bungsunya.
"Iya, kalau mas sudah dapat kerja yang tetap,kita akan sering-sering jalan-jalan dan makan-makan enak!"
"Asik, sayang ibu sudah gak ada ya, kalau ada ibu pasti ikut senang," tutur Sarah yang tiba-tiba jadi sedih.
"Sudah, di sana ibu juga sudah bahagia," sahut Dinda membujuk Sarah.
"Benarkah?"
"Iya, ibu pasti ikut senang melihat kita bahagia," cetus Dinda.
"Iya deh kalau gitu Sarah gak akan sedih lagi."
__ADS_1
Nessa tersenyum melihat kebahagiaan mereka semua di sore itu.
***
Keesokan harinya Irgi keluar dari kamarnya dengan menggunakan jas dan blazer yang ia beli di mall bersama Nessa.
"Mas Irgi ganteng sekali, pasti Kak Nessa bakalan makin cinta nih," cetus Sarah.
"Kamu ini ada-ada saja,"Sahut Irgi sambil duduk bersama mereka menikmati sarapan.
Setelah sarapan, Irgi berangkat dengan menggunakan motornya menuju sebuah gedung perkantoran.
Sesampainya di gedung tersebut, Irgi langsung menelpon Nessa.
"Halo Nessa, kamu dimana?" tanya Irgi.
"Aku masih di perjalanan nih menuju kantor Daddy ku. Kamu sudah sampai?"
"Sudah, aku baru saja sampai."
"Wih semangat banget! kalau begitu Kamu tunggu saja di lobby 10 menit lagi aku akan sampai."
***
Benar saja, 10 menit kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan lobby.
Jantung Irgi berdetak kencang ketika melihat Nessa keluar berbarengan dengan seorang pria tampan dan gagah.
Tanpa ragu Nessa menggandeng tangan pria itu. Tentunya Irgi tahu siapa pria dewasa itu.
"Selamat pagi tuan dan tuan putri," ucap penjaga pintu masuk.
Nessa memberi isyarat kepada Irgi agar mengikutinya.
Mereka naik lift bersama, di dalam lift tak ada pembicaraan apapun antara Nessa dan Leon, mungkin karena mereka sungkan karena kehadiran orang asing.
Pintu lift terbuka, ketiganya keluar dengan hampir bersamaan.
Nessa menginstruksikan agar Irgi terus mengikutinya menuju sebuah ruangan bersama Leon.
***
Di dalam ruangan, Leon langsung duduk di kursi kebesarannya sementara Nessa berdiri di samping ayahnya.
Dengan gemetar Irgi masuk menghadap Leon.
"Silakan duduk," ucap Leon.
Irgi duduk di kursi yang ada di hadapan Leon dengan tangan yang sedikit gemetar karena grogi.
Leon mengamati wajah pria itu.
Irgi memiliki bola mata kecoklatan dan bulu mata yang lentik persis seperti bola mata dirinya.
Selain itu potongan rambut Irgi juga tak jauh berbeda dengan dirinya.
Leon semakin mengamati wajah pria yang ada di hadapannya, sementara Irgi menjadi insecure karena terus ditatap oleh Leon.
Jika diperhatikan, wajah Irgi dengan seksama, wajah itu seperti wajah dirinya ketika masih remaja.
Bola mata Leon memerah seketika entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang ketika melihat Irgi yang ada di hadapannya.
Hm Nessa berdehem, "Jangan diliatin terus dong Daddy, kasihan dia, jadi grogi gitu," cetus Nessa.
Leon berhenti menatap Irgi dan bersikap biasa saja.
Sementara Irgi masih tertunduk, rasanya ia tak kuasa melihat pria yang terkenal dengan kekuasaannya tersebut.
"Siapa nama kamu?" tanya Leon.
"Hm nama saya Irgi Fahlevi tuan," ucap Irgi dengan bibir gemetar.
"Irgi," lirih Leon.
Deg.. jantung Leon berdetak dengan kencang.
Leon kembali menatap ke arah Irgi.Membuat Irgi semakin grogi. Bahkan Irgi tak mampu melihat pria yang ada di hadapannya itu.
"Kamu bawa CV kamu?"tanya Leon.
"Iya Tuan," jawab Irgi sambil menyodorkan CV miliknya.
Leon bergegas membuka amplop coklat tersebut. Seketika bola matanya membulat sempurna ketika membaca Curriculum Vitae milik Irgi.
Bersambung dulu ya gengs. Maaf banget akhir-akhir ini author sibuk jadi gak setiap hari update.
Sambil nunggu author up date siapa tau mau mampir ke kisah author yang terbaru he he.
__ADS_1