Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Kenyataan


__ADS_3

Leon keluar dari harem dengan perasaan yang bercampur baur. 


"Berani sekali ia mengatakan jika dia adalah ibuku. " Sambil berjalan Leon menggerutu.


Kemudian ia kembali menuju rumah sakit .


Dalam perjalanan,Leon melihat bungkusan yang diberikan oleh Wana kepadanya.


"Tapi kenapa Wana berani menantang ku dengan melakukan uji tes DNA," batin Leon.


Ada keraguan di hati Leon.


***


Tuan Melky terbangun dan mendapati Zein yang duduk di sampingnya.


"Zein, " panggil tuan Melky lirih.


"Iya, Tuan ada apa?" 


"Dimana Leon ?"tanya tuan Melky lirih.


"Tuan sedang menjemput dan mengantarkan istrinya, Tuan."


"Ehm, begitu."


Tuan Melky menatap langit-langit kamarnya. Kemudian ia menoleh ke arah Leon.


"Zein, ada yang ingin ku katakan pada mu," ucap tuan Melky dengan terbata-bata.


"Iya, katakan saja tuan. Saya siap jadi pendengar."


"Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini langsung pada Leon, tapi aku tak sanggup mengatakan padanya langsung. "


"'Tentang apa Tuan ?"tanya Zein.


Bola mata tuan Melky mulai berkaca-kaca kembali.


"Ini tentang kelahiran Leon."


"Kelahiran tuan muda?"


"Leon tak pernah tahu jika Hilda Damayanti bukanlah ibu kandungnya."


Zein sedikit kaget.


"Begitu kah Tuan ?"


"Iya Zein, istriku mandul, tapi kami begitu ingin memiliki anak. Karena itulah kami meminta seorang wanita untuk jadi ibu pengganti. "


"Sayangnya, sel telur istri ku juga mengalami masalah karena penyakitnya. Jadi kami memutuskan untuk melakukan prosedur inseminasi."


"Jadi kalau begitu, tuan muda bukanlah anak dari Nyonya Hilda?"


"Iya ,Zein. Aku merasa bersalah pada putra ku. Selama ini kami telah membohonginya. Kami juga telah memisahkan Leon dari ibu kandungnya. Hingga Leon tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, karena sebenarnya Hilda membencinya."


"Lalu, siapa ibu kandung tuan muda? " tanya Zein.


Bola mata tuan Melky kembali berkaca-kaca.


"Ibu nya  saat ini ternyata berada di dekatnya."


Leon masuk, ketika melihat tuan Melky tengah berbincang pada Zein. Karena Leon penasaran dengan pembicaraan mereka, secara diam-diam ia masuk menghampiri tuan Melky yang masih tak menyadari kedatangannya.

__ADS_1


"Siapa ibu kandung ku Daddy?"tanya Leon dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Kedua orang itu pun menoleh ke arah Leon.


"Leon," gumam tuan Melky.


"Siapa ibu kandung ku, daddy?" tanya Leon. Saat itu juga hati Leon terasa hancur.


Baru saja Wana mengatakan jika ia adalah wanita yang melahirkannya.


Tuan Melky bergeming.


Bola mata Leon berkaca-kaca,


" Katakan daddy, apakah benar Wana alias Widya Natasha itu ibu kandung ku ?"tanya Leon dengan setitik bulir bening menetes di pipinya.


Tuan Melky ikut meneteskan air matanya,sambil berupaya menggapai tangan Leon.


"Maafkan daddy, Leon. Daddy terpaksa berbohong pada semua orang tentang dirimu."


Leon menarik napas dalam-dalam. Ia coba untuk bersikap tenang.


"Jadi benar, jika Wana itu adalah ibu kandung ku ?"tanya Leon mempertegas .


"I-iya Leon," sahut tuan Melky dengan lirih .


Seperti jatuh dari ketinggian, perasaan Leon  begitu sakit dan syok. 


"Pantas saja mommy tak pernah peduli padaku," gumamnya.


Leon menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang begitu sedih. 


Sejak dulu ia mendambakan kasih sayang seorang ibu. Namun Hilda tak pernah bersikap hangat terhadapnya .


"Leon maafkan daddy yang tak pernah bercerita, mungkin jika saja kejadian itu tak pernah terjadi, sampai daddy mati pun rahasia ini tak akan pernah terbongkar. Maafkan daddy yang telah egois memisahkanmu dengan ibu kandungmu sendiri, hiks hiks hiks."


Tuan Melky menangis kembali.


***


Krekk.. pintu harem terbuka saat itu Wana melepaskan kunciran rambutnya. Melepaskan kacamata tebalnya. 


Leon melihat wanita itu dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Leon ," lirih Wana.


Leon mempercepat langkah kakinya yang terasa berat.


Tanpa diduga ketika berhadapan dengan Wana, pria yang biasanya bersikap angkuh dan arogan itu langsung berlutut sambil memeluk kaki Wana.


Hiks hiks, tanpa mampu berkata-kata Leon menangis memeluk betis Wana


"Mommy," panggil Leon lirih berkali-kali.


Wana tersenyum dan ikut menangis tanpa bisa berkata-kata. Keduanya larut dalam gejolak emosi.


Leon sendiri tak menyangka wanita yang biasanya ia perintah dan menjadi babu dalam rumahnya sendiri ternyata adalah wanita yang membuatnya terlahir di dunia ini.


" Hiks hiks. Berdirilah putraku,"ucap Wana di sela-sela Isak tangisnya.


Dengan tubuh yang gemetar, ia berdiri .


Wana kembali menangis melihat bayi mungil yang dulu dilahirkannya kini telah menjadi sesosok pria perkasa.

__ADS_1


"Leon, " ucap Wana sambil memeluk putranya.


Keduanya pun menangis haru.


Beberapa saat saling mendekap. Baru kali ini Leon merasakan kembali pelukan hangat seorang ibu setelah meninggalnya sang pengasuh.


"Kenapa mommy tak mengatakan hal itu sejak dahulu ?"tanya Leon.


"Banyak peristiwa terjadi dalam hidup kita Leon. Dan takdir baru mempertemukan kita kembali. Namun saat itu, aku belum bisa mengatakan kebenaran ini. Mungkin tak ada yang akan percaya dengan kata-kata ku. Tapi aku yakin suatu saat nanti, kebenaran pasti akan terungkap," ucap Wana sambil mengusap punggung putranya.


Sudah lama sekali ia ingin memeluk putranya itu, setiap hari ia menunggu datangnya saat ini. 


Setelah emosi dan rasa haru mereka mereda. Mereka pun duduk untuk bicara dari hati ke hati.


Leon dan Wana kemudian duduk bersama di atas tempat tidur.


Wana membaringkan kepala Leon di atas pangkuannya kemudian mengusap kepala pria tampan itu dengan penuh kasih sayang.


Sesekali bulir bening menetes di pipinya.


Sambil menghapus air mata, Wana menceritakan bagaimana pertemuan dengan nyonya Hilda.


Wana juga menceritakan suka dukanya ketika mengandung Leon. Hingga ia melahirkan dan mereka pun harus terpisah.


Wana juga memperlihatkan bekas luka jahitan akibat di tusuk oleh Hilda. Bagaimana dirinya harus berkali-kali mengganti identitas agar bisa bertemu dengan Leon.


Ketika Wana menjadi Natasha, ia memang tak pernah bertemu Leon. Karena Leon yang tinggal di luar negri.


Karena itu ia datang kembali, selain untuk merawat tuan Melky, ia juga ingin melihat Leon dari dekat.


Terkadang kedua orang tersebut sama-sama berurai air mata, terkadang juga keduanya tersenyum bahkan tertawa. 


Sejenak Leon menikmati waktunya bersama Wana, karena kini ia merasa waktunya tak hanya milik istri dan juga daddynya, tapi kini ia memiliki seorang ibu yang juga butuh waktu bersamanya.


***


Yura berada di kamarnya. Sudah berkali kali ia menelpon.


"Sumi, coba hubungi suamiku kembali. "


Bruk …pintu terbuka tiba-tiba saja, Leon datang bersama Wana


Yura menatap heran kedua orang yang datang menghampirinya.


Leon mendekati Yura. 


" Mommy duduklah, " ucap Leon sambil menepuk tempat tidur Yura.


Yura dan Sumi tercengang mendengar panggilan Leon kepada Wana.


" Maaf aku tak menjawab teleponmu tadi. Karena ada urusan," ucap Leon sambil mengusap perut Yura.


"I-iya, tak apa," jawab Yura sambil memandang ke arah Leon dan Wana secara bergantian.


"Mommy, sentuhlah perut istri ku. Ada calon cucu mu di dalam rahim istriku," ucap Leon sambil mengarahkan tangan Wana ke perut Yura.


"Mommy, itu berarti Wana adalah ..."


Bersambung gengs. 


sambil menunggu author up ada rekomendasi Novel keren nih.


__ADS_1



__ADS_2