
Sebulan sudah Nadia bekerja di rumah itu. Leon dan Yura pun menyukai cara kerja gadis itu.
Selain penurut, Nadia juga memiliki attitude yang baik.
Usia kandungan Yura memasuki tujuh bulan, ia sendiri sudah merasa kesulitan untuk bergerak dan mengangkat tubuh karena perutnya yang terlalu buncit
Namun, meskipun begitu setiap pagi harinya ia akan membantu suaminya untuk memakaikan jas dan dasi.
"Sayang, berapa lama kamu akan pergi ke luar kota?" tanya Yura sambil menyimpulkan dasi.
"Mungkin besok aku sudah pulang. Kamu jaga diri baik-baik ya," ucap Leon sambil mencubit pipi istrinya.
"Iya Sayang, kamu juga jaga diri baik-baik. Jangan macam-macam, mentang-mentang istri hamil, terus cari selingkuhan di luar."
"Haha, gak lah. Sudah bosan jajan aku, jadi gak tertarik lagi. Cuma kamu yang mampu membuat aku bergairahnya," ucap Leon sambil mengecup bibir istrinya.
Hm.
"Sudah selesai. "
"Ok,kalau begitu aku pergi dulu ya ?"
Leon mengecup pucuk kepala istrinya dengan lekat, kemudian mencium seluruh area wajah Yura, mulai dari wajah, kening bibir dan matanya.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang. Ingat jangan lupa makan dan istirahat yang cukup."
"Oke aku pergi dulu."
***
Siang harinya Nadia menghampiri Yura di kamarnya.
"Nyonya sudah waktunya makan siang. Nyonya mau makan di meja makan atau saya antar ke tempat tidur?"
"Duh... kamu bawa kemari saja ya, saya lagi males ," sahut Yura.
"Baik Nyonya."
Nadia keluar dari ruangan tersebut kemudian dalam beberapa saat ia kembali lagi dengan membawa nampan berisi makan siang sang Nyonya.
Sambil menunggu Yura makan siang, Nadia membereskan ruangan kamarnya mengumpulkan pakaian kotor dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Setelah selesai, Nadia membereskan nampan, kemudian keluar dari kamarnya.
Setengah jam setelah makan siang, Yura tiba-tiba merasakan kontraksi pada perutnya.
"Akh! Kenapa tiba-tiba perutku mengalami kontraksi ?"
Yura meraih handphone kemudian menghubungi Nadia.
"Halo Nyonya."
"Aduh Nadia, perutku sakit sekali!"
"Iya sebentar Nyonya,saya segera ke sana!"
"Aduh sakit sekali!" ringis Yura.
Nadia menghampiri nyonya Widya untuk memberi tahu keadaan Yura.
Kemudian mereka sama-sama menghampiri Yura.
Setibanya di kamar Yura, Keadaannya sudah begitu memprihatinkan.
Yura mengerang kesakitan.
"Akh ! Mommy tolong mommy !sakit sekali! ," ucap Yura lirih.
"Astaga Yura, kenapa tiba-tiba kamu begini. Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Widya.
__ADS_1
"Akh ! Mommy sepertinya aku sebentar lagi akan melahirkan," sahut Yura sambil mengerang kesakitan.
Sekujur tubuhnya dibasahi dengan keringat .
Nyonya Widya coba untuk menenangkan Yura.
"Atur napas kamu dulu, kemudian keluar dengan perlahan."
Yura coba mengikuti instruksi tersebut.
"Nadia kamu panggil pak Bowo, bawa kursi Roda untuk Yura!" titah nyonya Widya.
"Baik Nyonya."
***
Berapa saat kemudian Nadia dan pak Bowo tiba, mereka pun langsung membawa Yura turun ke lantai bawah.
Semenjak kehadiran tuan Melky, Leon sudah membangun lift khusus di rumah mereka . Mereka pun turun menggunakan lift .
Tiba di lantai dasar mereka langsung membawanya menuju rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada Yura mommy?!"tanya tuan Melky yang ikut panik.
"Yura sepertinya akan segera melahirkan daddy, mommy pergi dulu menemani Yura ke rumah sakit."
"Iya mommy."
Sheon menghampiri Yura.
"Oma, mommy kenapa?!"tanya Sheon sedih.
"Mommy mau melahirkan, Sheon jangan nakal, jaga Opa ."
"Nadia, kamu jaga Sheon. Dan suruh bi Sumi yang mengurus Opa."
Yura pun dibawa naik ke dalam mobil.
Yura semakin lemas, semakin lama kontraksi yang di perutnya terasa semakin sering dan semakin sakit.
Keringat dingin pun mengucur deras di tubuhnya, hingga daster yang ia kenakan menjadi basah.
"Akh! Mommy sakit sekali!"
"Iya mommy tahu, tapi kamu harus kuat, demi anak kamu. Sebentar lagi kita juga sampai."
Di dalam mobil, Nyonya Widya berusaha menghubungi nomor Leon, namun tak pernah tersambung.
Panggilan selalu saja berada di luar jangkauan.
"Aduh,Leon susah di hubungi lagi," gerutu nyonya Widya karena kesal .
Yura terus saja meringis menahan sakit. Saat itu ia sendiri dalam keadaan panik.
"Mommy sakit sekali mommy! Aku sudah tak tahan,"rengek Yura sambil menangis.
"Sabar Nak, mommy yakin kamu bisa melaluinya."
"Iya mommy."
Beberapa kali Yura ingin mengejan. Namun ia tahan.
"Aduh pak cepat sedikit, menantu saya sudah ingin melahirkan!"
"Iya Nya."
Mobil melaju membelah jalan raya , beruntung jalanan tersebut cukup sepi.
Karena keadaan daruratnya sangsupir pun membawa Yura ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Meski dengan fasilitas seadanya. Yang terpenting sang Nyonya mendapatkan pertolongan medis
Sesampainya di rumah sakit Yura langsung mendapatkan pertolongan.
Dokter menghampiri Nyonya Widya setelah selesai memeriksa.
Yura masih meringis menahan rasa sakit.
"Pasien mengalami kontraksi. Namun belum ada tanda-tanda pembukaan pada jalan lahirnya. Karena itu saya menyarankan untuk mengambil tindakan pembedahan untuk menyelamatkan nyawa bayi dan ibunya," ucap dokter tersebut pada Yura.
Nyonya Widya semakin gugup, pasalnya ia takut terjadi sesuatu pada menantunya tersebut. Sementara Leon belum bisa dihubungi.
"Bagaimana Nyonya?" tanya dokter ketika lawan bicara diam sesaat.
"Iya dokter, saya ibu mertuanya. Lakukan saja apa yang menurut dokter yang terbaik."
"Baiklah, silahkan urus administrasi. Nanti tandatangani saya surat persetujuan operasi."
"Iya dokter ."
Mau tak mau Nyonya Widya menyetujui prosedur operasi tanpa persetujuan Leon .
Sambil berjalan menuju ruang administrasi Nyonya Widya belum juga berhasil menghubungi Leon.
Ia pun mengirim pesan singkat kepada sang putra.
Yura dalam keadaan setengah sadar ketika dirinya di dibawa menuju ruang operasi.
Perasaan takut dan cemas ia rasakan dalam keadaan setengah sadar.
Beberapa saat kemudian Yura merasakan tubuhnya di pindahkan ke tempat tidur yang berbeda. Karena terlalu lemah, Yura tak kuasa lagi untuk meronta ataupun berteriak kesakitan.
Yura masih merasakan getaran dari tempat tidurnya yang terasa di dorong. Kemudian ia merasakan berada di ruangan yang begitu dingin.
'Ya Tuhan selamatkan lah aku dan bayi ku,' batin Yura.
'Sayang kau dimana?' batin Yura ingin menangis.
Beberapa saat kemudian ia merasa sebagian tubuhnya terasa kebas, sebuah benda tajam dan dingin terasa menyayat bagian perutnya.
***
Sheon menatap sedih kepergian mobil yang membawa Yura.
'Ya Tuhan semoga mommy dan adek ku selamat.' batin Sheon dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Nadia menghampiri Sheon yang terpaku di depan pintu.
"Sheon, ayo masuk!"
Sheon pun menurut perintah Nadia
" Kamu main dulu ya sama Opa, onty mau berberes-beres di kamar mommy. Mau siapin baju ganti untuk mommy," ucap Nadia sambil menyentuh dagu Sheon.
"Iya Onty."
Nadia tersenyum menyeringai. Kemudian ia naik ke lantai atas . Setibanya di kamar Yura, Nadia merogoh benda pipih di saku kemejanya.
Nadia menghubungi seseorang.
"Bos, eksekusi berhasil dilakukan,'' ucap Nadia pelan dengan senyum licik di sudut bibirnya.
"Bagus, kau tetap berada di sana untuk mengintai apa yang terjadi selanjutnya. Haha ha."
"Ehm."
Nadia kemudian kembali menyimpan handphonenya dan kembali merapikan tempat tidur Yura..
Bersambung dulu gengs. jangan lupa dukungannya untuk karya receh otor
__ADS_1