
Shasa berjalan dengan menyeret langkahnya menuju ruangan di mana ibunya dirawat, lututnya terasa begitu sakit.
Sesekali ia meringis, karena merasakan sakit pada bagian lututnya.
"Shasa!"teriakan seseorang menghentikan langkahnya.
Shasa langsung menoleh ke arah belakang.
"Sheon,"gumamnya lirih.
Sheon mempercepat langkahnya menghampiri Shasa.
setelah saling berhadapan, keduanya bergeming untuk beberapa saat.
Sheon melepas topi hitam yang Shasa gunakan.
Benar saja, gadis yang dihadapannya adalah teman kecilnya, meski wajah Shasa sedikit berubah.Namun Sheon tetap mengenal wajah itu.
Shasa kembali menundukkan wajahnya.
"Kenapa kamu tak bilang, jika kau adalah Shasa."
"Aku pikir kau tak akan ingat lagi padaku tapi."
" Dari mana kau tahu jika aku Shasa?" tanyanya lagi.
Sheon menunjukkan kalung itu padanya.
Shasa meraba bagian dadanya, memang benar kalung itu terlepas dari lehernya.
Sheon kembali memasangkan kalung itu.
Shasa kembali menundukkan wajahnya.
"Ayo kita ke ruangan ibumu," ajak Sheon.
Sheon menarik tangan Shasa kemudian meletakkan di atas bahunya, ia menopang tubuh Shasa agar bisa berjalan.
Keduanya saling melempar senyum.
"Kenapa kau harus bekerja jadi OB Sha?"tanya Sheon.
"Perusahaan ayahku bangkrut, ia meninggalkan banyak hutang. Untuk membayarnya, aku dan ibu terpaksa menjual semua aset yang kami miliki, tapi itu belum cukup, aku terpaksa berhenti kuliah untuk membiayai ibuku."
"Kenapa kamu nggak bilang sih sama aku, kita kan teman."
"Aku pikir setelah 20 tahun kau akan lupa padaku."
"Nggak lupa lah, bukannya kita sudah berjanji akan selalu menjadi teman aku masih menyimpan cincin pemberianmu," ucap Sheon.
Shasa tersenyum.
"Ternyata waktu tak pernah mengubahmu Sheon,kau tetap Sheon yang dulu, yang selalu menerima keadaanku."
"Hahaha, kuharap Shasa sayang sekarang, tak cengeng seperti yang dulu itu," ucap Sheon sambil tersenyum.
Shasa menatap Seon dengan bola mata yang berpendar dan berkaca-kaca sejenak mereka berhenti berjalan.
"Hidup telah mengajarkanku segalanya, menangis takkan menyelesaikan masala. Aku harus kuat menjalani ini, aku adalah tulang punggung keluargaku, ibuku bertumpu padaku, jika aku lemah, lalu pada siapa kami akan bersandar, karena ayahku sudah tiada."
"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tak perlu membujukmu dengan permen dan coklat lagi," ucap Sheon dengan nada bercanda.
Haha mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
mereka tiba di sebuah ruangan ruang perawatan kelas 3.
Tante Neti menghampiri Shasa.
"Loh Shasa, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa Tante, tadi aku buru-buru jadi tertabrak mobil. Bagaimana keadaan mama?" tanya Shasa.
"Mama kamu sudah ditangani, saat ini ia dipasang alat bantu pernapasan."
"Baiklah Sha, karena kamu sudah ada di sini, tante pamit pulang dulu ya."
"Oh, Iya Tante terima kasih ya."
Shasa dan Sheon menghampiri ibunya.
Dilihatnya wajah bu Diah yang sembab.
Bu Diah akhir-akhir ini memang sering menangis meratapi nasib Shasa Yang Malang. Apalagi ia selalu merasa tertekan karena selalu diburu oleh penagih hutang.
"Mama," lirih Shasa ketika melihat wajah Bu Diah yang tengah tertidur lelap.
"Mama kamu sakit apa Sha?" tanya Sheon.
"Mamaku sebenarnya nggak sakit, cuma mungkin karena ...."
Shasa menghentikan kata-katanya karena mendengar dering suara handphone Sheon.
Sheon langsung merogo aku celananya dan meraih handphone tersebut.
"Halo mommy."
"Sheon kamu di mana Nak, kamu sudah ditungguin nih."
"Oh ya, kalau begitu mommy tunggu ya."
Sheon menghampiri Shasa.
"Shasa, maaf aku harus pulang. Aku sudah ditunggu."
"Iya terima kasih ya Sheon."
"Iya Sha, sama-sama."
Sheon keluar dari ruangan itu kemudian menghampiri kasir. Sheon membayar semua tagihan perawatan ibunda Shasa, dia juga meminta agar Bu Diah dipindahkan di ruang VIP.
Setelah itu, Sheon keluar dari rumah sakit itu, menghampiri Yura yang telah menunggunya.
Shasa duduk di samping ibunya karena ia juga lelah. Ia pun merebahkan kepalanya di atas tempat tidur, bu Diah merasakan kehadiran Shasa Ia pun membuka matanya.
"Shasa," gumannya lirih.
Shasa membuka mata dan melihat ke arah bu Diah.
"Mama sudah sadar?" tanya Shasa sambil mengusap kening bu Diah.
hiks hiks Bu Diah menangis.
"Mah kenapa menangis sih?"
"Mama nggak ada gunanya hidup di dunia ini Sha, mama hanya nyusahin kamu. Bawa saja Mama keluar dari rumah sakit ini, nggak usah diobatin kita nggak punya uang Nak," tutur bu Diah dengan sedih.
"Nggak usah bicara seperti itu Mah, Shasa punya uang kok."
__ADS_1
Shasa menunjukkan sejumlah uang yang diberi oleh Sheon.
"Shasa, kamu dapat uang dari mana sebanyak itu?"tanya bu Diah ragu.
"Oh tenang saja, tadi Shasa ditabrak mobil tapi nggak papa, dan orang itu memberi Shasa uang sebagai kompensasi. Dia pun mengantar Shasa ke rumah sakit ini."
Bu Diah melihat Shasa dari atas sampai bawah, putrinya itu memang terlihat baik-baik saja hanya siku-nya yang terlihat lecet dan berdarah.
"Permisi!" suster datang menghampiri ruangan bu Diah .
keduanya menoleh ke arah suster
"Permisi ya Bu, ibu akan dipindahkan ke ruangan super VIP."
Bukan main kagetnya bu Diah dan Shasa.
"Ke ruangan super VIP?!"tanya Shasa kaget.
hiks hiks bu Diah kembali menangis.
"IBu nggak mau dipindahkan ke ruangan super VIP, ruangan itu kan mahal hiks." tangisnya sedih. Ia takut membebani putrinya itu.
"Tenang saja Bu, semua perawatan ibu sudah dijamin oleh seseorang," ucap Suster itu.
"Seseorang?! siapa?"tanya bu Diah.
"Maaf Bu, beliau tidak mau memberi identitasnya."
Sheon batin Shasa.
Ayo saya bantu Kita pindah ke ruangan super VIP.
"Pasti ini dari tuan Rama," ucap bu Diah.
Semoga saja tidak, Aku tak ingin semakin berhutang budi pada orang itu, batin Shasa.
***
Sheon tiba di tempat pertemuan yang sudah Ia janjikan. ternyata tak hanya dirinya Nadia dan Zain juga hadir di sana.
"Maaf semua, aku terlambat,"ucap Sheon.
"Iya kamu memang sudah terlambat pertemuan, tapi berhubung kita berkumpul di sini ada sesuatu yang ingin Mommy bicarakan."
"Apa itu?" tanya Sheon.
Sheon menatap keempat orang itu secara bergiliran.
"Begini sayang,mommy daddy,onty dan juga Om sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Raisa," ucap Yura dengan tegas.
"Raisa?!"Sheon benar-benar kaget.
"Iya Raisa."
"Tapi Raisa itu sudah seperti adikku sendiri bagaimana mungkin aku menikahinya?"
"Iya dia seperti saudara bagimu, tapi bukan saudaramu, dan mommy yakin nggak ada perempuan yang lebih baik untukmu daripada Raisa," ucap Yura.
Sheon kembali menatap keempat orang itu secara bergantian.
"Iya Sheon, Onty setuju sekali jika kamu menikah dengan Raisa," imbuh Nadia.
Ke-empat orang tersebut pun tersenyum mereka terlihat bahagia. Sehingga ia tak sanggup untuk mengatakan kata tidak.
__ADS_1
bersambung gengs hari ini otor up gila-gilaan so tetap stay tune ya, jangan lupa dukungannya thank you.