Pewaris Untuk Tuan Kejam

Pewaris Untuk Tuan Kejam
Takdir


__ADS_3

Nathan mendengar percakapan antara Sheon dan Yura, ketika ia hendak masuk ke dalam kamar Yura.


"Apa ternyata aku bukan anak mereka," gumam Nathan dengan air mata yang menetes.


Nathan tak akan percaya, jika ia tak melihat dengan mata kepala dan mendengar dengan telinganya sendiri.


karena syok dan tak bisa menerima Nathan segera melangkah dari tempat itu. Namun tongkatnya terjatuh akibat dirinya yang tergesa-gesa, begitupun Nathan yang tersungkur karena tubuhnya berdiri tidak seimbang.


"Nathan!" panggil mereka semua, mereka pun berlari menghampiri Natan yang terlihat syok.


"Nathan kamu Kenapa Nak?" tanya Yura sambil memeluk Natan.


Saat itu bola mata-mata sudah memerah.


Mereka semua mengelilingi Nathan, Leon mengambil tongkat Nathan kemudian menyerahkannya.


"Nathan Apa yang kau lakukan di sini ayo bangkit sayang," ucap Leon seraya menyerahkan tongkat Nathan.


Air mata Nathan terus mengalir dan mereka tahu jika Nathan telah mendengar percakapan mereka tersebut.


"Mommy, Apakah yang aku dengar, itu adalah kebenaran, jika aku ini bukan anak kandung kalian?" tanya Nathan dengan perasaan yang kecewa.


"Nathan, hiks hiks ," tangis Yura sedih


Mereka semua saling memandang dan terdiam beberapa saat.


"Benarkan Mommy, jika aku ini bukan putra kalian?" tanya Nathan sekali lagi bulir bening mulai menetes di pipi, bibirnya pun ikut bergetar saat itu.


Yura sebenarnya belum siap untuk mengatakan ini. ia tak tega melihat Nathan yang terlihat begitu terluka.


"Nathan, bukan seperti itu Nak." Yura masih bingung untuk menjelaskan kepada Nathan mengingat kondisi Nathan yang belum stabil pasca kecelakaan yang menimpanya.


"Lalu apa yang kudengar tadi tidak benar?" tanya Nathan lagi.


Bola mata Nathan berpendar melihat sekelilingnya. saat itu ia masih menunggu jawaban yang pasti dari pertanyaannya.


Semua hanya bisa diam.


"Ayo! jawab pertanyaanku?" tanya Nathan Ia pun menangis.


"Jadi benar, aku ini bukan anak kalian," tanyanya lagi ketika melihat mulut mereka semua terkunci.


Yura tak mampu menahan air matanya Ia pun langsung menghambur memeluk Nathan kembali.


keadaan di sekitar tempat itu begitu tegang dengan emosi yang menyala-nyala,sedih, kecewa dan marah berbaur jadi satu.


Sheon dan Shasa hanya bisa terdiam sambil ikut meneteskan air matanya melihat Nathan yang sepertinya tak mampu menerima kenyataan.


"Siapa bilang kamu bukan putra kami Nathan, kamu putra kesayangan mommy. 2 tahun kamu menyusu dengan Mommy, tidur dalam dekapan mommy, dan sekarang kamu bilang jika kamu bukan putra mami?"


"Iya mommy, aku memang dibesarkan di sini, tapi aku bukan putra kalian kan? bukan darah daging kalian kan?" tanya Nathan dengan penuh emosi dia pun menangis terisak seperti anak kecil.


"Iya Nak, kamu memang bukan lahir dari rahim Mommy, kamu dan kembaran Nessa, tertukar di rumah sakit."


"Tapi kami akan selalu menyayangi kamu Nathan, kami tidak peduli meskipun kau bukan putra kandung kami, yakinlah Nathan, kasih sayang kami terhadapmu tak pernah luntur sedikitpun," ucap Yura sambil menangis memeluk Nathan.


"Kami tahu, semua ini sejak kamu menjalani operasi, tapi kamu lihat kan ? tak sedikitpun perasaan kami berubah terhadap kamu," tutur Yura masih dengan memeluk Nathan.


Nathan masih menangis sambil menahan gemuruh di jiwanya.

__ADS_1


Sesuatu yang tak pernah Ia bayangkan sama sekali, kini terjadi pada dirinya.


Nathan masih menangis tersedu-sedu kalau itu.


Leon menghampiri Nathan kemudian menariknya dari pelukan Yura.


"Siapa bilang kamu bukan putra Daddy? kamu putra Daddy, kebanggaan Daddy. Ingatlah betapa Deddy mengkhawatirkan kamu, apa itu belum cukup menyatakan hubungan diantara kita?" tanya Leon.


"Apa kau tak bisa melihat kasih sayang yang tulus yang kami berikan padamu?" tanya Seon sambil memeluk Nathan.


Untuk meyakinkan Nathan, Mereka pun menghampiri Natan dan memeluknya tak terkecuali Shasa.


"Kita adalah suatu keluarga Nathan dan selamanya akan menjadi keluarga," ucap Yura.


Tangisan Nathan tenggelam dalam dekapan orang-orang yang begitu menyayanginya.


***


Nessa dan Irgi berboncengan dengan menggunakan motor.


Tiba-tiba saja Irgi berhenti di tengah jalan.


"Kenapa berhenti?" tanya Nessa.


Irgi kemudian melepas jaket yang dipakainya.


"Kamu pakai jaket saja, mungkin kamu nggak terbiasa dengan sinar matahari," ucap Irgi.


"Baiklah."


Nessa pun memakai jaket Irgi. Wangi maskulin masih menempel di jaket tersebut.


Sebenarnya Nessa juga tak tahu apa tujuan Irgi mengajaknya jalan-jalan, begitupun Irgi, Ia tak tahu apa yang harus dibicarakannya pada Nessa nanti.


Yang jelas, ia harus mendekati Nessa dan harus bisa mengambil hatinya.


Sepanjang perjalanan Irgi melamun.


"Gadis ini tak seperti yang kusangka, ternyata hatinya begitu baik dan lembut tak seperti orang kaya yang pernah ku kenal," batin Irgi.


"Jangan sampai aku jatuh cinta duluan padanya. Selain kaya, dia juga cantik dan baik hati, sangat sempurna.


Sementara aku ini. .. Ah sudahlah aku memang tak pantas untuknya," batin Irgi


Sekitar 20 menit Mereka pun tiba di sebuah cafe yang cukup besar.


Para pegawai cafe heran melihat Nesya yang dibonceng dengan menggunakan motor bebek biasa.


" Irgi, kamu tahu nggak, siapa pemilik cafe?" ini tanya Nessa.


"Mana aku tahu ," sahut Irgi dengan ketus.


"Cafe ini tuh punya sepupu mommy aku," cetus Nessa.


"Kita masuk sekarang, atau tunggu Tiara saja?"tanya Nessa lagi


"Terserahlah."


Irgi meraba smartphone jadulnya karena merasa ada getaran pada telepon genggam tersebut.

__ADS_1


"Halo?" sapa Irgi Pada sambungan teleponnya.


" Mas Irgi , sebaiknya kamu cepat ke sini Mas!"


"Memangnya ada apa?" tanya Irgi yang ikut panik.


"Ibu Mas, keadaan ibu semakin parah kini dia masuk dalam ruang ICU."


"Ibu," lirih Irgi seketika wajah Irgi memucat.


Irgi langsung memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.


"Nessa, maaf aku harus ke rumah sakit ibu aku dalam keadaan darurat," ucap Irgi.


"Rumah sakit?"


Irgi tak menjawab pertanyaan Nesya Iya langsung berlari kecil menghampiri motornya.


"Irgi aku ikut!" seru Nessa.


Irgi mengangguk kemudian menyerahkan helmnya kepada Nessa Mereka pun langsung berputar arah.


"Woi, kalian mau ke mana,?" tanya Tiara yang baru saja tiba di kafe itu.


"Lo bawa saja mobil gue! gue ada urusan sama Irgi ,"sahut Nessa.


"Ah sialan, Baru juga sampai ah disuruh pergi lagi, ngopi dulu ah," ucap Tiara.


Meski buru-buru Irgi tak membawa motornya dengan laju, karena ia tahu sedang membawa penumpang yang sangat berharga.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di antara mereka. Nisa melingkarkan lengannya di perut Irgi.


15 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit


Dengan tergesa-gesa keduanya berjalan menuju ruang ICU.


Irgi menghampiri saudaranya yang sedang menangis.


"Bagaimana keadaan ibu? di mana ibu sekarang?"


"Hiks hiks ibu sudah meninggal Mas," tutur Dinda adik Irgi.


Seketika Irgi belutut karena gemetaran Iya pun tak lagi kehilangan sosok yang selama ini membantunya..


Nessa membelalakkan bola matanya mendengar berita duka itu.


"Ibu, " tangis Irgi dengan lirih.


Kedua saudara itu pun saling memeluk.


'Mas Irgi!" panggil salah adik Irgi yang bungsu Ia langsung memeluk Irgi dan menangis.


"Sekarang kita tak punya ibu lagi Mas," ucap Dinda ketika mereka saling merangkul berpelukan dan menangisi kepergian ibunda mereka tersebut.


Momen tersebut begitu haru dan menggetarkan jiwa.


Hingga Nessa juga ikut bersedih melihat pemandangan yang menyayat hati itu.


ketiga saudara itu bersimpuh sambil menangis sedih karena ditinggal sang ibunda.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya 🙏


__ADS_2